Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Kita senasib


__ADS_3

Mentari semakin meninggi, membuat hawa panas kian merasuk mengalahkan energi kipas angin dan AC pendingin yang ratusan jumlahnya terpasang memenuhi dinding Masjidil Haram, namun hal itu tak sedikit pun mengurangi kekhusyuan lautan manusia yang tengah bertasbih dalam satu arah.


Akhirnya Faris dan Aisha berhasil melalui tujuh putaran thawaf. Mengapa tujuh? Karena Nabi juga melakukannya tujuh kali, maka ibadah ini bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan apa alasannya.


Selesai dengan thawaf, Faris, Aisha, dan rombongan melakukan sholat di tepi pelataran Ka'bah, juga meminum air zam-zam yang sudah banyak tersedia di sana. Nabi dulu juga meminum air zam-zam setelah melaksanakan thawaf, karena memang banyaknya keringat yang mengucur dikhawatirkan akan memicu dehidrasi.


Acara berikutnya adalah sai, berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah, seraya mengenang bagaimana sulitnya dulu Siti Hajar mendapatkan air untuk putranya, Ismail.


Namun ternyata saat ini yang namanya bukit Safa dan Marwah tidak lagi berbentuk bukit, melainkan sudah menjadi ruangan tertutup yang nyaman dan menjadi satu kesatuan dengan Masjidil Haram.


Wilayah Safa dan Marwah dengan lebar sekitar 20 meter dan panjang sekitar 405 meter itu harus dilalui jamaah bolak-balik sebanyak tujuh kali. Yang berarti para jamaah harus menapaki lintasan 2,835 kilo meter tanpa alas kaki.


Selesai dengan sa'i mereka berdoa, kemudian ditutup dengan menggunting sebagian ujung rambut (tahalul) menggunakan gunting yang sudah mereka kantongi masing-masing. Setelahnya mereka bisa kembali ke kamar hotel masing-masing.


Alhamdulillah umroh wajib hari pertama berjalan dengan semestinya, tanpa ada halangan suatu apapun.


Seraya menunggu Aisha yang masih bergulat dengan ritual mandinya Faris memilih untuk merebahkan badannya. Jika tidak mengingat bahwa kini mereka tengah menjalankan umroh, pasti Faris akan lebih memilih untuk bergabung dan mandi bersama dengan sang istri.


Namun ternyata letih yang dirasanya membuat netranya benar-benar terasa amat berat, seperti ada beban puluhan kilo unutk sekedar mempertahankannya agar tetap terjaga, ditambah empuknya kasur hotel dan sejuknya ruangan oleh AC pendingin membuat tubuh Faris benar-benar melayang ke alam bawah sadarnya.


***


Matahari sudah hampir kembali ke peraduannya, namun Karina tak langsung pulang selepas mengantar Azka ke Bandara. Karina justru melangkahkan kakinya pada salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar di sekitar Bandara.


Ia berniat membeli beberapa jenis mainan untuk Rafa bermain selama dia tinggal di rumahnya, mengingat Rafa mungkin akan bosan karena di rumahnya sama sekali tak ada barang-barang anak.


Dengan dibantu Mba Sani, Karina mendorong stroller Rafa menuju stand mainan anak-anak, sedangkan troli belanjaan dibawa oleh Mba Sani.


Dan lihatlah, Karina hampir membeli semua aneka mainan yang ada di stand itu, bahkan kini bukan hanya Mba Sani saja yang mendorong trolinya, melainkan sudah dibantu beberapa SPG di stand itu.


“Nona, ini nggak salah sebanyak ini belanjaannya?” tanya Mba Sani yang terheran-heran dengan tingkah nona muda yang kini tengah dekat dengan tuannya.


“Oh masih ada yang kurang ya Mba? Atau mainan Rafa biasanya emang lebih banyak? Atau aku beli aja semuanya?” ujar Karina dengan masih memilah-milih beberapa jenis mainan di rak yang tersisa.


“Nona ada niat buat toko mainan di depan komplek ya? Kalo cuma buat main Den Rafa, yang ada Den Rafa nya malah bingung mau main yang mana dulu Non,” tutur Mba Sani benar-benar dibuat terkejut dengan kekayaan calon nyonyanya ini.


“Tuan Azka aja udah sultan, gimana jadinya kali nikah sama dewi yang satu ini?” gumam Mba Sani berangan-angan.


“Mba! Ini yang mana lagi?”


Seruan Karina sontak membuat Mba Sani terkejut dari lamunannya.

__ADS_1


“Astaga Non, ini udah lebih dari cukup. Den Rafa juga cuma seminggu kan di rumah Non. Udah ayo kita pulang,” ajak Mba Sani beralih mendorong stroller tuan muda ciliknya yang tetap anteng dengan mainannya.


“Ih Mba Sani gimana nanti kalo ternyata Rafa bosen karena mainannya yang gitu-gitu aja? Terus dia rewel inget bapaknya, gimana hayoh?” ujar Karina sedikit berlari menyamai langkah Mba Sani yang sudah lebih dulu ke meja kasir.


“Nggak bakal Non! Saya jamin.”


“Awas ya Mba Sani!”


Akhirnya Karina mengalah, mengikuti apa yang sang pengasuh katakan.


***


Sesuai dengan harapan Faris dan Aisha, umroh hari pertama, ke dua dan ke tiga berjalan dengan lancar.


Hari ini adalah hari terakhir mereka di Mekkah, maka thawaf wada (thawaf perpisahan) dijadwalkan pagi ini lalu mereka akan langsung berangkat menuju Madinah.


Maka sebelum berangkat ke Madinah, Faris dan Aisha berniat untuk mengeksplore Masjidil Haram. Mereka berniat untuk mengambil kamera ke kamar hotel setelah melakukan thawaf wada, namun tiba-tiba langkah mereka terhalang oleh beberapa orang yang memenuhi lorong menuju kamarnya.


“Ah Alhamdulillah itu ada dokter Faris dan istrinya,” ujar Pak Said tergopoh menghampiri Faris dan Aisha yang terlihat bingung dan langsung menggiring keduanya ke arah kerumunan.


“Pak Faris dan istrinya ini keduanya dokter Kek. Pak Faris tolong dibantu yah adek ini.” Pak Said sebagai ketua rombongan tampak panik melihat salah satu jamaahnya ada yang terluka.


“Pak dokter, Bu dokter, tolong cucu saya yah,” ujar Kakek itu menghampiri dan memegang lengan Faris penuh harap.


Deg, Aisha mematung di tempatnya seketika saat melihat siapa yang butuh pertolongannya dan sang suami.


“Anak ini lagi,” gumam Aisha masih berdiri di tempatnya.


“Sejak kapan ini mimisannya Kek?” tanya Faris mencoba melihat kondisi sang anak.


“Baru kali ini Dok, tapi dari tadi darahnya terus keluar, jadi saya panik,” tutur sang kakek.


“Sayang tolong ambilin kotak medis kita di kamar yah.” Faris menoleh pada sang istri yang berdiri tepat di sampingnya.


“Iya Bang, bentar Ica ambilin.”


Dengan sedikit berlari Aisha lantas bergegas ke kamarnya, mengambilkan apa yang suaminya butuhkan. Sedangkan Faris sudah membopong sang anak ke kamar kakeknya.


“Namanya siapa Sayang?” tanya Aisha seraya membersihkan darah yang terus saja mengalir.


“Farhan, Tante,” lirih sang anak tampak begitu sopan, membuat Aisha melebarkan senyum manisnya.

__ADS_1


“Sekarang coba Farhan liat ke atas, biar Om obatin dulu hidungnya ya,” ujar Faris lantas meneteskan minyak zaitun ke hidung Farhan.


“Sayang, tolong vitamin C.”


Dengan sigap Aisha menyediakan seperti yang suaminya intruksikan.


“Diminum dulu ya Farhan, biar cepet sembuh.” Dengan telaten Aisha membantu Farhan meminum vitamin C yang sudah diraciknya.


“Tadi Farhan abis ngorek idung ya?”


“Iya Om, soalnya tadi rasanya idung Farhan kering banget,” ujar Farhan dengan polosnya.


“Nanti-nanti jangan dikorek lagi ya, kalo Farhan ngerasa kering, basahi aja sama air zam-zam,” tutur Faris lembut membelai kepala Farhan.


Aisha tersenyum melihat perilaku sang suami yang nampak sangat kebapakan, nampaknya mereka harus lebih ekstra berusaha agar segera mendapatkan seorang putra.


“Buat yang lainnya juga, nanti jika merasa hidungnya kering, tolong jangan asal dikorek ya Pak, Bu. Cukup basahi saja dengan air zam-zam. Karena di sini kelembaban udaranya memang sangat tipis, jadi wajar saja bila hidung merasa selalu kering. Jangan lupa vitamin C jangan ketinggalan ya,” tutur Faris memberikan pengertian pada jamaah lain yang turut ada.


“Baik Pak dokter,” ujar mereka bersamaan sebelum akhirnya keluar dan kembali ke kamar masing-masing.


“Terima kasih ya Pak dokter dan Bu dokter sudah membantu cucu saya,” ujar sang kakek.


“Sama-sama Kek.”


“Kakek sama Farhan cuma berdua aja umroh nya Kek?”


Tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja bibir Aisha, rasa penasarannya sejak kemarin tidak dapat dibendungnya.


“Betul Bu dokter, kami hanya berdua saja, karena kami memang hanya tinggal berdua. Orang tua Farhan sudah tiada sejak umurnya tiga tahun.”


“Innalillahi.”


Rasa iba seketika menjalari Faris dan Aisha, bagaimana bisa anak sebelia ini sudah harus kehilangan kedua orang tuanya, padahal anak seusia Farhan sangatlah membutuhkan kasih sayang dan perhatian orang tua.


Hal itu lantas mengingatkan Faris dan Aisha pada orang tua mereka masing-masing, Aisha bahkan tidak sempat melihat rupa ayahnya saat dilahirkan ke dunia, tapi beruntung ia masih memiliki sosok ibu yang luar biasa.


***


Yeyyy ketemu lagi sama bocah itu alias Farhan...


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya


buat nyemangatin author ya readers tersayang...


__ADS_2