
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
_____
Beberapa saat setelah merasa tubuhnya menapak, Ayla mencoba membuka mata karena dirasa tubuhnya tak merasakan sakit apapun.
Untuk sesaat Ayla terkejut saat mendapati seseorang merelakan lengannya menjadi bantalan untuk kepalanya hingga tak merasakan sakit. Namun keterkejutan itu berhasil diatasinya ketika sang pemilik manik teduh yang bisa dikatakan sebagai penyebab mengapa dirinya seperti ini tampak menatapnya.
Untuk beberapa saat kedua pasang manik coklat mereka saling menatap, menyelami masing-masing sorot yang mereka sendiri tak memahami artinya.
“Apa yang membuatmu hampir melakukan hal bodoh seperti tadi?”
Pertanyaan itu mampu membuat Ayla seketika tersadar dari sorot yang rasanya seperti menghipnotis dirinya, ia segera bangkit dan membenahi pakaiannya.
Menanggapi pertanyaan itu, Ayla hanya tersenyum miring, “Pertanyaan bodoh macam apa ini?” cibir Ayla karena gadis itu merasa jika pria dihadapannya pastilah tahu apa penyebab dirinya hingga segila ini.
“Apapun alasan dan masalahmu, mengakhiri hidup bukanlah solusi yang tepat.”
“Cih!” Ayla semakin memiringkan senyumnya, mendengar kalimat yang Gus Hasan lontarkan membuat hatinya semakin teriris, wajahnya memerah disertai mata yang nyaris menumpahkan tangis kekesalan akan pria di hadapannya.
Jemari lentiknya mengepal hingga buku-bukunya tampak memutih, Ayla mengangkat wajahnya, menatap manik coklat di hadapannya dengan sorot yang sulit diartikan.
“Apa memang semua lelaki seperti kamu? Menganggap remeh perasaan setiap wanita!?” Ayla memang mengatakannya dengan lembut, tapi terdengar seperti sebuah penekanan di setiap kalimatnya. Tanpa sadar bulir bening menyusup dari ujung netranya.
Gus Hasan semakin menyipitkan netranya, mencoba meraba-raba kemana arah pembicaraan gadis di hadapannya kini.
“Kamu pikir siapa yang sudah membuatku segila ini? Mengganggu hati dan pikiranku, membuatku cemas saat berhari-hari nggak tahu kabar tentangmu, Berengsek!” Napas Ayla memburu, jantungnya berpacu. “Menurutmu aku harus baik-baik saja saat harus mengetahui bahkan selalu menyaksikan jika lelaki yang aku sukai selalu memikirkan wanita lain yang bahkan kini juga merebut kakakku!?”
__ADS_1
Tiba-tiba Ayla semakin memajukan langkahnya, tentu saja dengan air mata yang semakin susul menyusul melintasi wajah cantiknya. Hal itu sontak membuat Gus Hasan pun memundurkan langkahnya.
“Katakan … apa yang harus kulakukan agar bisa membuatmu mencintaiku? Apa aku harus menjadi seperti Aisha?” gadis itu bertanya dengan penuh permohonan.
Mendengar itu Gus Hasan memejamkan netranya sejenak, dadanya bergemuruh berkali-kali mengucap istighfar.
“Jangan membuang waktumu untuk menungguku mencintaimu, karena aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan hatiku. Menunggu hanya akan membuatmu berharap, harapan yang tidak tercapai akan membuatmu kecewa. Dan aku, tidak ingin menjadi penyebab kecewamu itu.”
Lelaki itu segera meraih tasnya yang tergeletak lantas bergegas membawa langkahnya menjauhi gadis yang masih sibuk menahan amarah di dadanya.
“Lantas untuk apa tadi kamu mencegahku yang ingin mati!? Harusnya biarkan saja tubuhku hancur mengenaskan di bawah sana! Bukankah bagus kalau aku mati? Kamu nggak perlu lagi dihantui oleh cintaku yang semakin hari semakin besar untukmu, Hasan ….”
Pertanyaan itu mampu menghentikan langkah Gus Hasan, ia terhenti namun tak menoleh.
“Kamu memang wanita yang nyaris sempurna, tapi hatiku … tidak menginginkan kesempurnaan itu. Carilah lelaki yang jauh lebih baik dariku yang bukan siapa-siapa ini. Maaf ….”
Lalu bagaimana sekarang? Harga dirinya sudah jatuh sejatuh-jatuhnya dihadapan lelaki yang ia kira akan mudah untuk ditaklukan. Kepada siapa dia harus mengadu kesakitannya ini? Keluarga? Apa yang bisa ia harapkan dari keluarganya? Satu-satunya kakak yang ia anggap saudara pun lebih memilih adik yang baru ditemuinya. Setidak berharga itukah dirinya di mata orang-orang?.
“Kenapa wajah setenang itu bisa membuat luka sesakit ini?”
Ayla semakin mengeratkan pelukan pada kedua lututnya, tangisnya semakin pilu terdengar terbawa desiran angin yang semakin menyusup ke permukaan kulit.
“Kamu kuat Ayla! Kamu kuat!” Kalimat itu terus terlontar, semakin pilu terdengar seiring dengan cengkeraman yang semakin kuat.
***
Gus Hasan menghentikan langkahnya di sebuah lorong yang tampak selalu senyap, menyandarkan punggungnya pada dinding yang jarang dilalui para mahasiswa di sana.
Ia menunduk, netranya mengembun. Teringat bagaimana perjuangannya untuk mencoba melupakan Aisha nyatanya tak kunjung usai.
__ADS_1
Pikirnya dengan melarikan diri ke negeri ini dan menyibukkan diri dengan belajar mungkin akan sedikit mengalihkan dunianya dari hiruk pikuk cinta. Siapa sangka, justru di tempatnya yang baru ia menemukan ujian baru.
Setelah mencoba berdamai dengan takdirnya, Gus Hasan pun mencoba perlahan membuka hati untuk yang seseorang yang datang. Nyatanya ketika seseorang itu benar datang, hatinya bagai membeku. Ia belum sanggup memberikan kesempatan bagi orang baru untuk menggantikan posisi Aisha yang masih bertakhta. Ia sendiri tak tahu sampai kapan ia akan terus seperti ini, ia hanya mengikuti kata hatinya, menjalani takdirnya.
“Apa perkataanku terlalu kejam untuk Ayla?” Ia bertanya pada dirinya sendiri.
“Aku nggak ingin semakin menyakitinya dengan memberikan harapan yang nggak mungkin aku kabulkan. Hati ini sudah terlanjur dipenuhi dengan nama Aisha.”
Gus Hasan sendiri merasa bingung dengan dirinya, kenapa hatinya tak sedikitpun tergerak dengan ungkapan perasaan Ayla, padahal gadis itu dengan sukarela mencintainya, tapi kenapa justru wanita yang sudah bersuami yang membuat hatinya selalu berdebar? Kenapa justru sesuatu yang tidak mungkin yang terus ia kejar?.
Lelaki dengan wajah sendu itu tahu jika bersanding dengan wanita pujaannya adalah suatu ketidakmungkinan, tapi sayangnya ia justru menyukainya.
Meski tak bisa memiliki, tapi biarlah semuanya mengalir sebagaimana mestinya, karena urusan hati memang tak bisa dipaksakan. Untuk saat ini dan entah hingga kapan, biarlah nama Aisha tetap menjadi seseorang yang meski tak mungkin ia miliki namun akan tetap tinggal di hati.
“Maafkan aku Mas … Aku mencintai istrimu.”
Setetes embun berhasil lolos saat ia kembali melangkah meninggalkan lorong senyap yang sudah bersedia mendengarkan setiap cerita pilunya.
Bayangan indah saat ia melewati hari dengan keberadaan Aisha di pondok milik abinya dulu mengiringi setiap pijakannya di atas bumi yang jauh dari tanah kelahirannya, bahkan tanpa sadar bayangan itu selalu berhasil menjadi salah satu penguat untuknya tetap bertahan.
Nyatanya bukan hanya Ayla yang sakit karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan, bahkan mendapatkan penolakan, tapi di sini … Gus Hasan pun merasakan sakit yang sama karena harus mempunyai rasa kepada istri orang. Ah kenapa hidup rasanya tak adil untuk mereka?.
***
Bersambung ....
Hay Gaesss Ayla dan Gus Hasan is back ...
Gimana? Nggak kalah menengangkan kan kisah mereka?
__ADS_1