Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Are you okay?


__ADS_3

Setelah menjemput Nyai Hamidah, Ning Sabina, dan Gus Fakih, Faris dan Aisha kembali melajukan mobilnya untuk mendapatkan vaksin sebagai calon jemaah umroh. Karena memang masalah paspor, tiket dan visa sudah diurus oleh Faris di muka, dan memang visa baru akan bisa keluar setelah tiket didapat.


Meski keduanya sama-sama dokter yang tentunya sudah ahli terhadap hal itu, tapi mereka tidak bisa sembarangan melakukan vaksin itu sendiri, karena memang semua itu sudah diurus oleh travel yang akan memberangkatkan mereka, tempat mendapatkan vaksinnya pun ditentukan, yakni di asrama haji dekat islamic centre Surabaya.


Setelah menyerahkan persyaratan untuk vaksin ke klinik di asrama haji, Faris dan Aisha baru bisa mendapatkan formulir untuk mendapatkan vaksin, dalam formulir itu harus diisi juga nama travel dan tanggal keberangkatan umroh.


Di sana mereka mendapatkan dua vaksin, vaksin meningitis dan vaksin influenza. Dan bagi Aisha, ada tambahan pemeriksaan kehamilan melalui test urine.


Mereka sengaja melakukan vaksinasi sejak dini, karena vaksin baru mulai bekerja sebagai antibodi setelah minimal sepuluh hari setelah disuntik.


“Mau langsung pulang Yang?” tanya Faris setelah menutup pintu mobil dan duduk di depan kemudi.


“Em emang mau kemana dulu?”


“Kirain Ica mau kemana dulu gitu, kan banyak barang yang belum kita siapin juga buat berangkat nanti,” jawabnya mulai menyalakan range rover-nya.


“Kayaknya langsung pulang aja deh Bang, kasian kan Bukde sama Ning Sabina di rumah kalo kelamaan nunggu. Masa didatengin malah kitanya pergi-pergi.”


“Ok, siap Ibu negara,” jawab Faris membuat Aisha sontak tergelak mendengar panggilan baru itu.


“Tapi kita makan dulu yah? Kita kan belum makan apa-apa dari pagi tadi,” imbuhnya mulai menjalankan mobilnya.


Ponsel Aisha yang tergeletak di atas dashboard mobil bergetar menandakan panggilan masuk. Aisha menempelkan ponsel itu ke telinganya dan menjawab salam.


“Ah iya Bu, dianter sama orang rumah kan?”


“....”


“Ya udah Ibu hati-hati ya, kalo ada apa-apa kabarin Aisha. Waalaikumsalam.”


“Dari Ibu Yang?” tanya Faris saat Aisha sudah mengakhiri panggilannya.


“Iya, katanya Ibu mau pulang dulu, tiba-tiba ada urusan yang harus Ibu handel tentang klien.”


“Dianter sama orang rumah kan?”


“Tadi katanya udah dijemput sama asisten Ibu sih.”


Faris hanya manggut-manggut sambil ber-oh ria.


Faris memarkirkan mobilnya di salah satu mall tak jauh dari tempat mereka divaksin, mereka segera menuju ke food court yang terdapat di mall itu guna mengisi perut keduanya yang sejak tadi meronta minta diisi.


“Cantiknya mana Sayang.”


Aisha yang sedang menikmati makanannya sontak mengangkat wajahnya, pandangannya mengarah pada kamera yang Faris tunjukkan kemudian tersenyum mengangkat dua jarinya pada pipi kirinya.


“Kok lama sih? Udah belum Bang?” tanya Aisha yang merasa mulai pegal berpose.


“Apa sih orang ini dari tadi video,” jawab Faris sontak terbahak karena berhasil menjaili istrinya.


“Abang!” teriak Aisha mengerucutkan bibirnya sebal.


Hal itu sontak mengundang perhatian pengunjung lain di sana, termasuk segerombolan gadis remaja yang berada di sudut ruangan tak jauh dari tempat Faris dan Aisha.


“Sumpah tuh cowoknya bikin salfok.”


“Itu pacar atau istrinya yah?”

__ADS_1


“Demi apa gue rela deh jadi yang ke dua.”


Aisha yang mendengar celotehan gadis-gadis itu sontak semakin sebal karena suaminya menjadi tontonan.


“Sayang, diabisin dulu yuk makanannya biar cepet pulang,” ujar Aisha cukup keras tiba-tiba menyuapkan makanannya pada Faris.


Faris yang sedang menatap layar ponselnya sontak membuka mulutnya dengan alis yang saling bertaut bingung melihat tingkah istrinya.


“Eh liat, ceweknya cantik juga yah.”


“Dih masih cantikan gue lah.”


Faris yang kini mengerti kenapa Aisha tiba-tiba memanggilnya ‘Sayang' bahkan di tempat umum pun sontak menarik kedua sudut bibirnya melihat istrinya yang nampak tengah cemburu.


“Jadi Humairaku lagi cemburu sama gadis-gadis itu nih?” bisik Faris memajukan wajahnya.


“Dih nggak lah, Ica mah udah kebal sama anak-anak kayak gitu,” jawabnya menyuapkan kembali makanannya.


“Kita pulang ya Sayang, apa mau belanja dulu?” tanya Faris sedikit mengeraskan suaranya hingga segerombolan gadis-gadis di sudut ruangan bisa mendengarnya, membuat mereka berdecak kecewa.


Aisha sontak tersenyum lalu bangkit dari duduknya, menautkan jemarinya pada sangat suami yang sudah berdiri di hadapannya.


***


Di sudut ruangan apartemen yang sangat luas dan megah di pusat kota Istanbul, Faisal tengah terisak sendirian, air mata yang mungkin memperlihatkan kelemahannya sudah sejak tadi membasahi wajahnya yang semakin terlihat tampan seiring bertambah usianya.


Tubuhnya luruh ke lantai, bersandar di depan lemari, tangannya bergetar menggenggam erat kotak hitam di pangkuannya.


Sebuah topi bergambar kartun kesukaannya yang sudah nampak usang masih tersimpan rapi di dalam kotak itu.


“Allohumaghfirlahum ...,” lirihnya memegangi dadanya sendiri yang terasa sangat sesak


“Kamu kok nggak ngomong kalo kakak yang sering kamu ceritain adalah Kak Faisal sih?”


Gus Hasan yang tengah menyantap makanannya menatap Ayla yang nampak lahap menyantap makan siangnya.


“Ya mana aku tau kalo Faisal yang kamu kenal adalah kakakku. By the way, gimana kalian saling kenal?” ujar Ayla sambil tetap mengunyah makanannya.


“Kan tadi aku udah jelasin kalo dia salah satu tutorku di kelas Tomer.”


“Ya maksud aku lebih detailnya gimana? Nggak mungkin kan kalian tiba-tiba kenal cuma karena Kak Faisal tutor kamu,” sungut Ayla merasa kesal.


“Waktu itu aku nggak sengaja nemuin pena Kak Faisal, terus tiba-tiba dia jawab aku pake bahasa Indonesia, ya aku kaget soalnya Kak Faisal bener-bener kayak orang Turki asli, nggak nyangka dia berdarah campuran.”


Ayla yang mendengarkan penuturan Gus Hasan justru terbahak hingga tersedak makanannya sendiri.


“Liat orang keselek seenggaknya bantuin kasih minum kek, ini malah no respon.” Ayla merasa geram pada Gus Hasan yang hanya menontonnya terbatuk-batuk.


“Lah orang itu airnya juga udah di depan kamu kok,” bela Gus Hasan kembali menyantap makanannya.


“Hishh pantesan salju di puncak Jaya Wijaya terancam mencair, esnya aja pindah depan gue,” gumam Ayla lirih.


“Aku bisa denger yah.” Gus Hasan yang memang masih bisa mendengarnya sontak mengalihkan pandangannya pada gadis yang tampak kesal di depannya.


***


“Assalamualaikum.”

__ADS_1


Faris dan Aisha melangkah masuk ke rumah dengan jemari keduanya yang saling bertautan.


Namun seketika Aisha menghentikan langkahnya lantas membulatkan netranya sempurna, begitupun dengan Faris yang sontak mematung di tempatnya dengan jakun yang naik turun karena susah payah menelan salivanya.


Nyai Hamidah dan Ning Sabina nampak sangat antusias menyambut keduanya dengan setumpuk barang yang sudah tertata rapi memenuhi ruang keluarga rumah Faris.


“Surprise! Kalian suka nggak?” tanya Ning Sabina membuyarkan keterkejutan Faris dan Aisha.


“Semua ini buat apa Bukde?” tanya Faris penasaran.


“Ya buat calon cucu Bukde lah, ya kan Ning?”


Ning Sabina sontak mengangguk dengan semangat, mengiyakan ucapan Uminya.


Faris dan Aisha kompak hanya tersenyum kikuk menggaruk pelipis yang tak gatal. Keduanya bergerak kaku saat Ning Sabina menggiring keduanya untuk duduk di sofa.


“Gimana Le, Nduk? Kalian suka to? Semuanya kita yang pilihkan,” tanya Nyai Hamidah menyusul ketiganya merebahkan diri di atas sofa.


Faris dan Aisha menatap setiap barang-barang yang tertata rapi di depannya. Beberapa tumpuk pakaian bayi dengan berbagai macam jenis, satu set alat makan bayi, tempat tidur bayi, kereta dorong bayi, dan banyak lagi perlengkapan bayi yang mereka sendiri belum paham apa namanya. Semuanya bertemakan hijau dan putih.


“MasyaAllah Bukde, ini banyak banget mau buat apa coba? Emang siapa yang hamil?” tanya Faris seraya meneliti satu per satu barang-barang di hadapannya.


“Ya Aisha lah Ris, ya kan Mi?”


“Ya iya to Le.”


Aisha yang mendengarnya sontak kembali membulatkan netranya, seketika napasnya seakan tercekat di tenggorokan.


“Emang Ica hamil Sayang?” tanya Faris memastikan.


Aisha sontak menggeleng.


“Perutnya aja masih rata Bukde. Tadi waktu divaksin juga abis tes urine dan hasilnya negatif.”


Lagi-lagi Faris mencoba memastikan dengan mendekatkan wajahnya di depan perut sangat istri yang memang masih sangat datar.


“Ya ndak apa-apa, kan biar jadi doa juga Le.”


“Iya sih aamiin kalo gitu, tapi apa ini nggak terlalu cepet juga Bukde?”


“Hah terlalu cepet? Jangan bilang kamu belum itu sama Aisha. Sha coba cerita sama Mba.”


Ning Sabina tampak penasaran dan langsung mendekati Aisha yang masih mematung di tempatnya.


“Apaan sih Mba, maksudnya semua barang-barang ini apa nggak kecepetan kalo disiapin dari sekarang, lagian kan kalau pun Aisha hamil, kita kan belum tau jenis kelaminnya apa sebelum empat bulan,” tutur Faris menengahi.


“Eits kamu ndak usah khawatir, kita belinya sepasang kok, cewek juga cowok,” jawab Nyai Hamidah menunjukan sepasang pakaian bayi couple.


Faris menepuk jidatnya sendiri saat melihat reaksi Bukde dan Kakak sepupunya itu. Ia menggelengkan kepalanya sambil menyangganya di sisi sofa.


Aisha menatap ke arah suaminya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ditebak. Mata itu seperti mengisyaratkan kecemasan pada diri istrinya. Tentu saja Faris merasa tak enak hati pada istrinya, ia takut perbuatan Bukde dan kakaknya ini justru akan membebani Aisha.


***


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2