Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Bukan aku pemenangnya


__ADS_3

Aisha sudah berada di halaman parkir pesantren bersama Maya juga Rini yang telah kembali ke pesantren setelah acara lamaran tempo hari.


Hari ini memang waktunya Aisha boyong dari pesantren untuk mempersiapkan acara pernikahannya dengan Faris bulan depan.


Paman Aisha tampak keluar dari ndalem dengan seorang pria tampan yang tempo hari  baru saja meminang Aisha.


"Mba pamit yah Rin, Mba minta maaf jika Mba ada salah, juga terima kasih selama ini sudah banyak membantu Mba di sini," tutur Aisha merengkuh bahu Rini.


"Mba Aisha gak pernah punya salah apapun sama Rini Mba, Rini ikhlas kok kalo memang ustadz Faris memilih Mba Aisha," jawab Rini terkekeh.


"Nanti kita bicara lagi, Mba harus pulang sekarang. Jangan lupa hadir nanti di pernikahan Mba yah?" ujar Aisha saat melihat Faris sudah menutup pintu bagasinya.


"Siap Mba! Rini pasti hadir."


Setelah selesai membereskan barang-barang Aisha ke dalam mobil, Aisha berpamitan pada keluarga pesantren kecuali pada Gus Hasan yang memang belum pulang dari Mesir, lalu diikuti oleh Maya, paman Aisha, juga Faris.


***


Setelah beberapa hari  kepulangan Gus Hasan dari Mesir, ia belum melihat sosok yang akhir-akhir ini menjadi prioritas dalam doanya.


Gus Hasan ingin bertanya pada Ning nya, tapi khawatir nanti ia malah menggodanya. Bertanya pada Uminya lebih tidak mungkin lagi.


Akhirnya Gus Hasan memberanikan diri untuk bertanya pada teman sekamar Aisha, siapa lagi jika bukan Rini.


Beruntung Gus Hasan tak perlu bersusah payah untuk bertemu Rini, karena hampir setiap hari Rini pasti akan membantu keperluan ndalem di dapur.


"Rini," panggil Gus Hasan setelah memastikan bahwa situasi di ndalem cukup memungkinkan.


"Astaghfirullah Guse ...." jawab Rini yang terkejut sambil mengusap-ngusap dadanya.


"Emmm ... saya mau bertanya boleh?" jawab Gus Hasan tampak ragu.


"Tanya apa nggeh Gus? tumben sekali?"


"Apa Aisha sedang sakit? Soalnya beberapa hari ini saya nggak lihat dia."


"Lah Guse beneran ndak tahu?"


"Memangnya ada apa?"


"Mba Aisha kan sudah boyong dari pesantren Gus."


"Maksud kamu?"


"Mba Aisha sudah berhenti, kan mau mempersiapkan pernikahannya."


"Pernikahan Aisha maksud kamu?" tanya Gus Hasan yang semakin tak mengerti dengan penjelasan Rini.


"Nggeh Gus, beberapa hari setelah Guse pergi, ustadz Faris ke pesantren menyatakan pinangan nya pada Mba Aisha. Bahkan Pak Kyai sendiri yang menjadi wali dari ustadz Faris.


"Mas Faris maksud kamu? Sepupu saya?" Gus Hasan nampak terkejut mendengar pernyataan Rini. Matanya terpejam, mencoba untuk tetap tenang di hadapan Rini.


"Nggeh Gus." jawab Rini lagi.


"Kenapa bisa mendadak seperti itu?"


Kali ini Rini hanya menjawab dengan gelengan.


"Kamu kan dekat sama Aisha, apa dia nggak cerita?"


"Mohon maaf Gus, saya ndak tahu karena waktu itu saya sedang pulang kampung. Mba Aisha hanya cerita jika beliau dan ustadz Faris memang sudah bersahabat lama, Mba  Aisha yang pergi meninggalkan ustadz Faris untuk mengasingkan diri di pesantren ini," tutur Rini sedikit menjawab rasa penasaran Gus Hasan.


"Berarti waktu itu ketika Mas Faris ke sini mereka saling bertemu?"

__ADS_1


"Ndak Gus, Mba Aisha tidak tahu jika ustadz Faris keponakan Pak Kyai adalah Faris yang sama dengan sahabatnya yang ia tinggalkan."


"Lalu bagaimana caranya tiba-tiba Mas Faris melamar Aisha?"


Lagi-lagi Rini menjawab dengan gelengan.


"Mohon maaf Gus saya ndak tahu."


"Oh ya sudah, terima kasih jawabannya. Kamu lanjutkan pekerjaanmu, saya permisi," tutur Gus Hasan meninggalkan Rini yang masih termangu di tempatnya.


"Sepenting itukah Mba Aisha bagi Gus Hasan? Hingga dia menyelinap untuk bertanya langsung pada santriwati? Bahkan lupa untuk mengakhiri percakapan dengan salam," Rini membatin.


***


Sepanjang perjalanan dari dapur, pernyataan Rini tentang Aisha selalu terngiang di benaknya. Dadanya bergemuruh menahan sesak, hatinya sakit tapi tak bisa diungkapkan.


Ning Sabina yang mendapati adiknya tengah berjalan gontai dari arah dapur sontak menghampirinya.


“Kok tumben dari dapur San?” tanya Ning Sabina mengejutkan Gus Hasan.


“Em … anu Hasan habis ngambil minum Mba,” jawab Gus Hasan sekenanya, ia tak sepenuhnya berbohong, karena memang benar ia baru saja mengambil air minum.


“Minum kan ada di meja makan,” jawab Ning Sabina dengan tatapan menyelidik.


“Hasan lagi pengen aja minum air yang dimasak Mba, kan di meja adanya air galon,” jawab Gus Hasan meyakinkan Ning Sabina.


Ning Sabina hanya manggut-manggut mengiyakan Gus Hasan.


“Mba …,” panggil Gus Hasan menghentikan langkah Ning Sabina yang hendak berlalu.


“Ada apa?”


“Mas Faris sudah mau menikah?” tanya Gus Hasan tiba-tiba.


“Astaghfirullah … Mba sampe lupa ngomong sama kamu. Abah sama Umi belum ngomong juga?”


“Iya, Faris tuh memang mau menikah sama dokter Aisha yang mondok di sini.”


“Kenapa tiba-tiba?” tanya Gus Hasan seolah takt ahu tentang hubungan Faris dan Aisha.


“Bukan tiba-tiba sebenarnya. Aisha pernah cerita kalo ternyata Faris dan Aisha tuh udah sahabatan lama, sejak kuliah kalo gak salah.”


Flashback on


“Aisha, kan Mba sudah bilang, kalo ada apa-apa jangan dipendam sendiri. Barangkali Mba bisa bantu kalo kamu cerita,” tutur Ning Sabina yang melihat Aisha selalu merenung seusai solat malamnya.


Aisha hanya tersenyum menanggapi pernyataan Ning Sabina, senyum yang terlihat dipaksakan.


“Apa boleh Aisha cerita Ning?” tanya Aisha ragu.


“Kapan pun Aisha.”


“Aisha datang ke pesantren ini ingin menenangkan diri Ning, memperbaiki diri Aisha. Sudah terlalu banyak kejadian yang membolak-balikan kehidupan Aisha di masa lalu,” tutur Aisha parau.


“Apa ini berkaitan dengan dia yang telah meninggalkan Aisha di masa lalu?”


Aisha menjawab dengan gelengan.


“Tentang Azka, Insya Allah Aisha sudah ikhlas Ning.”


“Lalu?”


“Aisha memiliki sahabat, namanya Faris. Dia salah satu orang yang menjadi saksi kisah Aisha dengan Azka. Dia benar-benar orang yang tulus, selama ini dialah yang selalu menemani Aisha dalam kondisi apapun, bahkan ketika Azka kembali dengan semua kepahitan. Hingga suatu hari Aisha mengetahui jika ternyata selama ini Faris mencintai Aisha, dia mencintai Aisha tanpa syarat. Aisha yang buta waktu itu sampe gak bisa liat pengorbanan juga perjuangan Faris selama ini. Aisha yang terlalu egois pada hati dengan menutupnya hanya untuk satu nama. Hingga Aisha pergi ke pesantren ini tanpa sepengetahuannya.”

__ADS_1


“Jadi sampe sekarang dia gak tahu keberadaan Aisha?”


Lagi-lagi Aisha menjawabnya dengan gelengan.


“Aisha baru menyadari perasaan ini ketika dia benar-benar tidak hadir dalam hidup Aisha. Mungkin saat ini sudah terlambat untuk Aisha mengakuinya, karena sepertinya dia sudah sangat kecewa dengan keputusan Aisha.”


“Aisha, jangan simpan cinta Aisha dalam hati , karena hati itu berbolak-balik sifatnya. Tapi simpanlah cinta dalam doa, karena doa itu tercatat di langit untuk selamanya. Serahkan semuanya pada yang Maha membolak-balikan hati.”


“Astaghfirullah ….” Lirih Aisha seraya mengusap-ngusap dadanya.


“Seperti kisah Nabi Yusuf dan Putri Zulaikha, ketika Putri Zulaikha mengejar cinta Nabi Yusuf, Allah jauhkan Nabi Yusuf darinya. Namun ketika Putri Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datangkan Nabi Yusuf untuknya. Percayalah, jika kalian berjodoh, pasti Allah akan pertemukan kembali. Bagaimana pun caranya.”


Flashback off


“Allohu ….“ lirih Gus Hasan yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.


“Ternyata Mas Faris dan Aisha memang sudah saling mencintai ya Mba?” tanya Gus Hasan mencoba menahan sesak di dadanya.


“Itulah yang membuat kita semua terkejut, ternyata Faris yang selama ini membuat Aisha tersedu di setiap sujud panjangnya adalah Faris yang sama dengan yang kita kenal.”


“Lalu gimana caranya Mas Faris mengetahui keberadaan Aisha Mba?”


“Itulah yang namanya takdir, bahkan Aisha sendiri tidak tahu jika ternyata yang meminangnya melalui Abah adalah seseorang yang selama ini mengusik siang malamnya.”


“Masya Allah, memang yang namanya jodoh gak akan kemana ya Mba,” tutur Gus Hasan terlihat sewajar mungkin.


“Kalo gitu Hasan ke kamar dulu ya Mba, Hasan agak pusing. Mungkin masih jet lag,” tutur Gus Hasan mencari alasan.


“Ya sudah kamu istirahat.”


Gus Hasan melangkah gontai menuju kamar, terlebih setelah mendengar penuturan Ning Sabina tentang Aisha.


Ia menutup pintu kamar rapat-rapat, menguncinya agar tak ada yang tahu bagaimana keadaannya yang sesungguhnya.


Tubuh Gus Hasan terduduk di tepi ranjang, tangannya terkepal kuat meninju tembok, lalu menepuk-nepuk dadanya berharap sesak segera menghilang.


Ia mengusap ujung matanya, menghentikan parit yang mungkin akan memperlihatkan kelemahannya.


“Ternyata bukan dia yang merebutnya dariku, tapi aku yang terlalu buta untuk sekedar menelusuri perasaannya yang sesungguhnya. Jika saja islam tak melarang seorang pria mencintai wanita yang telah dikhitbah, mungkin aku akan mencoba kembali untuk memperjuangkannya,” lirih Gus Hasan dengan sesak yang tak kunjung menghilang.


Bersambung ….


Namamu pernah sengaja kusematkan dalam sujudku yang berkepanjangan


Begitupun kamu, ada nama yang selalu kau semogakan bersama harapan yang sengaja kau langitkan


Sayangnya, nama itu bukan aku


Tapi semuanya tentang kamu masih ada


Bahkan masih terlihat nyata


Meski Tuhan telah memutuskan takdir yang berbeda


Cinta selalu punya cara untuk dikenang


Dan aku selalu mengenangmu di setiap cara yang berbeda


Saat kau menyapa, saat itulah aku lekat untuk selamanya


Walau takdir tak berpihak padaku


Setidaknya biarkan aku mengenangmu

__ADS_1


~Hasan Fajrurraihan~


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….


__ADS_2