
“Atas nama siapa ya Pak?” tanya seorang petugas bagian tiketing di Bandara.
“Aisha Ameera Al-Insani,” ujar salah satu personil white evil yang ditugaskan untuk menyusuri seluruh kota dan catatan transportasi keluar masuk di kota itu.
Deg, petugas itu langsung termangu mendengar nama yang disebutkan, ia segera merogoh ponselnya untuk melihat nama wanita yang kemarin sempat berpesan untuk merahasiakan keberangkatannya. Dan benar saja, nama yang baru saja disebutkan sama persis dengan nama wanita yang berpesan kemarin.
“Sepertinya Mba kemarin beneran dalam bahaya,” batin sang petugas yang sedikit was was setelah melihat beberapa pria berpakaian serba hitam yang tak lain adalah personil white evil lainnya berdiri dengan tegap di depan pintu masuk.
“Sebentar ya Pak, saya cek dulu.” Sang petugas pun berpura-pura mencari nama di monitor komputernya untuk mengelabui lelaki berpakaian hitam di depannya itu.
Sedangkan personil white evil itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang petugas.
Setelah beberapa saat berpura-pura mencari nama yang disebutkan, sang petugas pun memberanikan diri untuk membuka suara.
“Mohon maaf Pak, tapi nama yang anda cari tidak ada dalam daftar penerbangan maskapai manapun,” tutur sang petugas sedikit bergetar karena khawatir ketahuan jika dirinya berbohong.
“Terima kasih.” Hanya kalimat itu yang keluar sebelum akhirnya pria berpakaian serba hitam dan rombongannya melangkah keluar dari bagian tiketing Bandara.
“Apa mbak yang kemarin seorang buronan atau korban penculikan yah?” Kini petugas di bagian tiketing yang baru saja kedatangan pri berpakaian hitam jadi bertanya-tanya sendiri tentang customernya atas nama Aisha kemarin.
Di tempat lain, Faris dengan semangat tengah menuruni anak tangga di rumahnya setelah mendapat laporan jka hari ini white evil ingin menghadap untuk melaporkan hasil kerja mereka, wajah Faris tampak berbinar berharap salah satu dari mereka ada yang memberinya kabar gembira.
“Katakan apa yang kalian dapatkan,” ujar Faris dengan gagah saat seluruh personil white evil sudah berkumpul di halaman rumahnya.
“Mohon maaf Tuan, dari hasil pencarian kami sejak kemarin, kami tak menemukan tanda apapun mengenai keberadaan Nyonya. Seluruh data transportasi di kota ini pun sudah kami periksa, dan tidak ada satu pun keberangkatan atas nama Nyonya, Tuan,” tutur salah seorang dari mereka dengan wajah menunduk tak berani menatap wajah Tuannya dengan kegagalan yang mereka bawa.
“Bandara sudah kalian periksa?” tanya Faris mencoba menahan rasa kecewanya.
“Siap sudah, Tuan,” ujar mereka lantang bersamaan.
“Ok terima kasih, kalian boleh pergi.” Kini Faris benar-benar tak mampu lagi menutupi rasa kecewanya, ia kembali melangkah gontai memasuki kamar.
“Ya Allah … sebenernya kamu kemana Sayang? Kenapa kamu harus ninggalin Abang kayak gini?”
Tubuh Faris kini sudah kembali luruh ke lantai kamarnya, ia benar-benar sudah tak tahu lagi harus mencari istrinya ke sudut mana.
__ADS_1
Tampaknya Aisha pun sudah menyiapkan dengan matang mengenai kepergiannya, termasuk segala kemungkinan yang akan suaminya lakukan untuk mencari keberadaannya.
Di belahan bumi lain, Aisha baru saja sampai di apartemen yang ibunya beritahukan saat seorang pengacara yang sengaja ia minta untuk mengurus gugatan perceraiannya menghubunginya.
“Hallo … selamat pagi, apa benar ini dengan Mba Aisha putri dari Ibu Maya?” Suara bariton dari sebrang menyapa telinga Aisha yang baru saja menginjakkan kaki di kota dua benua itu.
“Iya betul saya Aisha Ameera Al-Insani yang ingin Bapak tangani mengenai kasus rumah tangga saya,” jawab Aisha sedikit bergetar karena keputusannya.
“Baik Mba saya akan segera mengurus surat kuasanya. Tapi sebelum itu, bisa Mba jelaskan terlebih dahulu alasan yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga anda sampai anda ingin mengajukan gugatan terhadap suami? Untuk memudahkan saya mendaftarkan dan membuat gugatan cerai Mba.”
Dengan menahan sesak dan isaknya, Aisha mencoba menjelaskan semuanya yang telah terjadi dalam rumah tangganya.
“Apa dalam mediasi nanti tidak apa jika saya tidak bisa hadir Pak? Karena saat ini posisi saya sedang di luar negeri.”
“Tidak perlu khawatir Mba, ketika sidang perdamaian penggugat boleh saja tidak hadir secara pribadi jika tengah bertempat di luar negeri dan dapat diwakili oleh saya sebagai kuasa hukum dari Mba Aisha.”
“Baiklah saya percayakan pada Bapak.”
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Mba, untuk sekarang cukup sampai di sini dulu Mba. Nanti akan saya kabari untuk perkembangan selanjutnya.”
Pak?”
“Mba Aisha
tenang saja, kerahasiaan data klien merupakan kewajiban saya sebagai kuasa hukum dari Mba Aisha.”
“Baik Pak, terima kasih.” Sambungan telepon pun diputus.
Tring … sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya setelah panggilannya bersama pengacaranya berakhir.
‘Ibu baru aja landing Sayang, kamu udah nyampe apartemen kan?’
‘Iya Bu baru aja nyampe’
Aisha langsung membanting tubuhnya ke atas pembaringan setelah membalas pesan dari ibunya, waktu yang tertera dalam ponselnya pun sudah menunjukkan pukul tiga dini hari yang berarti di Indonesia sudah pukul tujuh pagi, Aisha segera saja memejamkan netranya karena tubuh dan pikirannya benar-benar terasa lelah saat ini. Koper yang dibawanya bahkan masih berada di depan pintu dan belum sempat ia bongkar.
__ADS_1
Sekitar satu jam kemudian, pintu apartemennya diketuk, memaksa Aisha yang baru terlelap untuk kembali membuka mata dan melangkah ke arah pintu, ternyata yang datang adalah sang ibu.
“Lagi tidur ya Sayang?”
Aisha hanya tersenyum lantas mengangguk.
“Ya udah dilanjut, nanti Ibu bangunkan kalau solat subuh,” tutur Maya yang melihat wajah sendu putrinya.
“Nggak deh Bu, Aisha mau solat aja sekalian nunggu subuh,” tolak Aisha yang segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena sejak tadi ia belum sempat bersih-bersih.
“Apa Abang nyariin Ica, Bang? Apa Mba Sofia masih di rumah kita?” Aisha hanya membatin di atas sajadahnya dengan air mata yang kembali mengalir hanya dengan mengingat wajah pria yang beberapa hari ke depan akan berubah status menjadi mantan suaminya.
Sedangkan Maya yang baru saja keluar dari kamar mandi tak sengaja melihat putrinya yang semakin terisak di atas sajadahnya dengan tangan menengadah, direngkuhnya putrimsemata wayangnya itu dengan erat.
“Apa keputusanmu sudah bulat Nak? Ibu hanya nggak mau nantinya Aisha sampe nyesel di kemudian hari.”
Aisha hanya mengangguk dalam pelukan sang ibu, “Doakan yang terbaik buat Aisha ya Bu … Aisha selalu butuh doa-doa baik Ibu,” tuturnya sedikit tercekat karena sesak yang kian merebak.
“Ibu selalu doakan yang terbaik buat kamu, Sayang. Lupakan semua yang menurutmu menyakitkan, ada Ibu yang akan selalu mendukungmu Sayang.”
“Nanti siang kita ke makam Ayah ya Bu,” pinta Aisha mendongakkan wajahnya.
“Iya Sayang … kita ke sana ya.”
Setelah mendengar kabar yang white evil bawa, Pak Toni segera beranjak ke kamar Faris untuk melihat keadaan Tuannya itu. Dilihatnya wajah sendu itu kini tengah terlelap di atas pembaringan, entah benar terlelap atau hanya sekedar terpejam.
“Aisha, kamu kemana Nak? Suamimu benar-benar hancur tanpamu, ia begitu menyayangimu melebihi dirinya sendiri Nak." Air mata Pak Toni kini turut mengalir merasakan sakit yang tengah Faris rasakan.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1