Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Ica nggak sendirian


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)


___________


“Abang mandi dulu, biar Ica buatin sarapan,” ucap Aisha setelah memaksa Faris agar tetap berangkat ke Ankara mengurus proyeknya.


“Nggak perlu, Sayang. Aroma bahan-bahan di dapur pasti bakal bikin Ica mual lagi. Kita pesen dari luar aja ya?” tawar Faris yang akhirnya diangguki istrinya.


“Iya deh. Kalo gitu biar Ica siapin baju Abang selagi Abang mandi,” sahutnya. Tak lupa Faris mengecup puncak kepala Aisha dulu sebelum berlalu menuju kamar mandi.


Melihat suaminya sudah menghilang di balik pintu, Aisha segera meraih ponselnya, memesan beberapa makanan yang akan menjadi santapan mereka pagi ini. Tak banyak yang ia pesan, hanya makanan Turki sederhana yang dirasa cocok menemanin sarapan mereka pagi ini.


Selesai dengan pesanannya, Aisha bangkit dan mulai memilah pakaian yang cocok untuk dikenakan suaminya hari ini. Dan beberapa baju ganti mengingat jarak Istanbul-Ankara bukanlah jarak yang dekat.


Belum selesai dengan kegiatannya, tiba-tiba rasa mual kembali menyerang. Terpaksa Aisha harus berlari menuju kamar mandi di kamar sebelah dan kembali memuntahkan isi perutnya yang dirasa sudah tak terisi apa-apa, terbukti dari cairan kuning yang hanya keluar dari kerongkongannya. Menyisakan rasa pahit yang membuat Aisha sampai terpejam menahannya.


Kran air di sana Aisha nyalakan. Berharap derasnya air mampu meredam suaranya yang tengah terus-terusan kembali muntah. Ia tidak ingin sampai suaminya mendengar jika ia kembali mual dan muntah yang akan berimbas pada keberangkatannya pagi ini.


Merasa cukup baik, Aisha kembali dan mendapati suaminya belum kunjung keluar menyelesaikan ritual mandinya. Aisha akui memang suaminya itu tergolong cukup lama jika sudah berurusan dengan air. Sambil menunggu, Aisha memutuskan untuk beranjak ke dapur membuat susu dan coklat panas untuk suaminya selagi menunggu makanan yang mereka pesan datang. Setelah kembali muntah, Aisha benar-benar merasa lemas, dan ia butuh asupan. Setidaknya meski hanya segelas susu ibu hamil.


****


Kamar apartemen bergaya eropa itu tampak kosong saat Faris keluar dari kamar mandi. “Sayang?” Faris mencoba memanggil istrinya. Hening, tak ada jawaban.


“Ica?” panggilnya lagi saat melangkah ke balkon karena mengira istrinya mungkin ada di sana untuk menghirup udara pagi.


Kosong. Tak nampak sesosok bayangan pun disana.


Sedangkan yang dicari justru kini tengah menyangga dagunya di atas meja pantry di dapur, menunggu air yang dimasaknya mendidih.

__ADS_1


“Kenapa masak, hm?” tegur Faris saat mendapati kompor di dapurnya menyala.


Aisha mendongak, mendapati suaminya yang tampak lebih segar dengan rambut setengah basahnya. “Cuma masak air, Bang. Ica mau bikin susu sama coklat panas buat Abang,” sahutnya yang hampir bangkit karena menebak jika airnya pasti sudah mendidih.


“Kan bisa nunggu Abang selesai mandi, Sayang.” Lelaki itu tetap memprotes karena khawatir pada istrinya.


“Tangan Abang cuma dua, kelamaan kalo apa-apa nungguin Abang,” sahutnya kembali yang tiba-tiba langkahnya tertahan.


“Biar Abang yang lanjutin. Ica tinggal duduk dan liatin Abang aja,” ujar Faris meraih lengan istrinya dan menuntun Aisha untuk kembali duduk di meja pantry.


Sesuai dugaan Aisha, air itu mendidih saat Faris menghampirinya. Faris menuangkan air tersebut pada susu dan serbuk coklat yang sudah ditakar masing-masing di gelasnya. Lalu membawanya ke meja dan meletakkannya di hadapan Aisha.


Aisha mendongak dan menatap Faris dengan senyumnya, “Makasih suamiku yang selalu tampan,” ucapnya gemas membuat Faris justru tergelak.


____


Usai menghabiskan minuman mereka, Aisha kini tengah membantu suaminya berpakaian. “Ica jarang banget deh pasangin dasi Abang kayak gini,” tukas Aisha saat tengah mengikatkan dasi berwarna dongker di leher suaminya.


“Ya nggak gitu juga konsepnya, Abang.”


“Terus gimana dong?”


Alih-alih menyahuti obrolan suaminya, Aisha justru memejamkan matanya. Jemari lentiknya yang masih merapikan dasi Faris pun seketika terhenti. Entah kenapa tiba-tiba Aisha merasakan rasa mual yang mendadak menyengat di dalam perutnya. Sekuat tenaga Aisha berusaha menahan semua rasa tak nyaman itu. Ada wajah tampan suaminya di hadapannya. Dan dia tak ingin Faris melihatnya merasa kembali mual.


Tapi sayang, wajah letih menahan mual dan perubahan sikap itu tertangkap mata tajam Faris. “Sayang, kenapa? Are you okay?” tanya Faris cemas saat jemari Aisha hampir luruh dari dadanya.


Aisha hanya menggeleng sambil berusaha membawa langkahnya untuk duduk di sofa. Sontak Faris pun dengan sigap membantunya.


“Sayang, bilang sama Abang apapun yang Ica rasain,” ucap Faris saat Aisha tak berbicara sepatah katapun.


Tanpa bisa lagi ditahan, Aisha segera bangkit dan kembali berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi air karena ia yang baru hanya meminum susunya pagi ini.


“Hue … hue … hue.”

__ADS_1


Faris dengan cekatan memegangi tubuh istrinya dan berusaha menyingkirkan surai panjang sang istri yang menghalanginya.


Untuk kedua kalinya Aisha limbung di pelukan suaminya. Kakinya terasa begitu lemas setelah kembali mengeluarkan isi perutnya.


“Sayang.” Faris meraih wajah istrinya, mengusap sisa air mata yang masih membekas. Air mata itu bukan menandakan jika ia cengeng, karena siapapun ketika muntah pasti akan mengeluarkan air mata.


“Jangan lagi pura-pura baik-baik aja di depan Abang. Tolong bilang apapun yang Ica rasain ke Abang,” tutur Faris dengan lembut. Aisha hanya memejamkan matanya, tak sanggup menatap iris teduh suaminya.


Tiba-tiba seseorang membunyikan bel apartemen mereka. Dengan sigap Faris membopong Aisha lebih dulu ke pembaringan sebelum beranjak melihat tamunya. Rupanya itu adalah kurir pengantar makanan yang mereka pesan pagi ini.


Setelah menerima pesanannya, Faris segera membuka bungkusan itu dan memindahkannya ke piring bersama segelas air yang sudah ia siapkan di atas nampan untuk istrinya.


Langkah Faris yang datang membuat Aisha menoleh. Tampak dengan telaten suaminya menyiapkan makanan untuknya. Sebelum menyuapi istrinya, Faris lebih dulu mengendurkan ikatan dasi yang sudah terpasang rapi di lehernya. Tak lupa juga menggulung separuh lengan kemejanya hingga ke batas siku.


“Kenapa dilepas lagi dasinya, Bang?” tanya Aisha yang melihat itu.


“Apa lagi? Abang nggak akan berangkat ke Ankara hari ini.”


“Tapi Bang-“


“Sayang, plis … nurut yah kali ini?”


Aisha hanya menunduk, ia merasa bersalah karena tanpa sengaja sudah menghambat kegiatan suaminya. Padahal Faris sudah bersiap dengan dasi dan kemejanya, bahkan jasnya sudah Aisha siapkan pula di atas sofa.


“Maaf ya Bang. Gara-gara harus ngurusin Ica, Abang harus batal ke Ankara.”


“Hey Sayang, apa sih. Kok tiba-tiba jadi cengeng kaya gini istri Abang,” goda Faris sambil mengusap air mata yang mendadak mengalir dari kedua netra Aisha. Lalu dibawanya Aisha ke dalam pelukannya. Faris tak ingin membuat Aisha merasakan semuanya sendirian. Ia ingin menunjukkan kepada istrinya bahwa ia adalah suami yang layak untuk Aisha jadikan tempat bersandar. Juga … ia ingin menebus rasa bersalahnya yang tak bisa selalu ada pada saat  Aisha mengandung anak pertama mereka dulu.


Seperti yang dikatakan suaminya, Aisha pun entah kenapa memang merasa menjadi begitu sensitif sejak kehamilannya. Mungkin ini yang disebut dengan hormon bawaan si jabang bayi.


_______


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2