Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Dokter cantik pemberani


__ADS_3

Usai menyaksikan hasil rekaman kamera cctv yang berdurasi dua puluh menit itu, semua yang ada di dalam ruangan Faisal sontak berdecak kagum setelah menyaksikan aksi heroik seorang dokter cantik asal Indonesia, yang tak lain adalah Aisha. Namun tidak dengan Ayla, gadis itu hanya berdiam diri tanpa reaksi.


Jika boleh memilih, mungkin Ayla tidak akan pernah menerima bantuan Aisha saat itu, namun sayangnya nyawa sang kakak lah sebagai taruhannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, demi sang kakak Ayla rela meredam egonya lebih dulu.


“Astaga, Mami baru liat ada cewek seberani itu Ba.” Ajeng sudah berulang kali menyatakan kekagumannya saat menyaksikan langkah demi langkah yang Aisha lakukan dalam misi penyelamatannya, walau sesekali Ajeng menutup matanya karena merasa ngilu melihat prosesnya.


“Baba juga Mi, dia bahkan nggak memikirkan keselamatannya sendiri, padahal bisa aja kan kita tuntut dia atas perlakuan di luar prosedur, apalagi kalo sampe terjadi apa-apa sama Faisal,” ujar Abbas yang sama kagumnya dengan sang istri.


“Tapi kan Isal nggak apa-apa Ba, Mi. Dia malah berhasil nyelametin nyawa Isal kan? Coba aja kalo tadi cuma nungguin tim medis yang entah kapan datang, mungkin sekarang kalian bukan di sini, tapi di depan kuburan Isal.” Faisal berujar terdengar seolah membela gadis yang sudah menyelamatkan nyawanya.


“Iya iya Baba ngerti kok, kita harus berterima kasih sama dia malahan. Kayaknya kamu takut banget kalo dia kenapa kenapa, apa kalian udah saling kenal?” tanya Abbas yang merasa jika putranya begitu khawatir terhadap keadaan gadis itu saat ini.


“Cuma pernah ketemu beberapa kali aja sih Ba, tapi Isal sih nggak terlalu kenal juga.


Tuh Ayla yang udah banyak tau tentang dia, soalnya dia kan kakak ipar dari temennya Ayla yang orang Indonesia.”


“Hah beneran Ay? Mami kira dia masih gadis, padahal Mami udah pro banget kalo dia jadi mantu kita ya Ba,” tutur Ajeng yang begitu menyayangkan status Aisha yang ternyata sudah tak lagi sendiri.


“Hah buat Kak Isal maksudnya? Big no! Ayla nggak mau ya punya ipar kayak dia,” ujar Ayla terkejut yang tanpa sadar menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Aisha.


“Loh memangnya kenapa? Kamu sudah tau dia orangnya gimana Ay? Kok kayak nggak suka banget sih sama dia.” Kini justru Abbas yang mulai penasaran.


“Ihhh pokoknya nggak mau! Lagian kan dia udah punya suami juga, masa Kakak mau jadi perebut bini orang sih,” alibi Ayla tak ayal membuat semuanya tergelak.


“Ya kalo yang direbutin modelnya kayak dia mah Kakak juga bakal tetep maju Ay, cuma dianya mau apa enggak diperjuangin?” gurau Faisal yang membuat Ayla semakin bersungut-sungut.


“Iya cantik sih … tapi bekasan orang. Hih …,” ujar Ayla menyebikkan bibirnya.


“Hush nggak baik ah jelek-jelekkin orang kayak gitu. Keliatannya dia gadis baik kok, buktinya saja sampai saat ini gadis itu tidak menampakkan diri, mungkin jika orang lain, dia sudah memeras keluarga kita dengan alasan pertolongan yang sudah diberinya,” tutur Abbas yang langsung dibenarkan oleh sang istri.


“Tapi kita butuh ketemu sama dia Sal, bagaimana pun kan dia sudah menyelamatkan kamu.”

__ADS_1


“Iya Ba, biar nanti Isal coba suruh orang buat cari tau keberadaannya selama di sini.”


“Oh atau kamu tanya aja Ay sama temen kamu, mereka kan sodaraan, pasti tau dong dimana tempat tinggal gadis itu sekarang,” usul Ajeng yang seketika membuat Ayla menganga.


“Bener tuh Ay, kalo Kakak yang nanya ke Hasan kan kesannya takut gimana gitu, soalnya kan dia istri sepupunya,” tutur Faisal menguatkan usul sang ibu yang sontak langsung mendapatkan pelototan dari Ayla.


“Ihh apa sih, Ayla nggak deket sama Hasan. Nggak ah, Kakak cari tau aja sendiri. Lagian biar orang-orang Kakak ada kerjaan juga,” tukas gadis itu langsung melengang keluar dari ruang rawat Faisal saat ini.


“Lah kenapa adekmu Sal?” tanya Abbas yang melihat putrinya seperti sangat kesal.


“Biasa Ba … anak muda. Pasti ada cekcoknya, lagi nggak akur kali sama Hasan, temennya,” alibi Faisal mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi antara sang adik dengan Hasan dan juga Aisha.


“Ya udah kamu istirahat dulu ya Sayang, Baba sama Mami keluar dulu. Biar nanti orang-orang kita yang suruh jaga di depan,” ujar Abbas memberi kesempatan untuk putranya beristirahat.


“Nggak usah lah Ba, lagian Isal juga udah aman kok.” Faisal menolak penjagaan yang diberikan sang ayah.


“Sayang, kita kan nggak tau motif apa yang dilakuin pelaku yang udah nyelakain kamu. Mana tau kan kalo dia balik lagi dan sampe mantau kamu yang lagi tergeletak kayak gini,” tutur Ajeng mencoba memberi pengertian terhadap putranya.


“Tolong jangan buat Mami sama Baba tambah khawatir ya,” imbuhnya yang hanya bisa membuat Faisal mengangguk.


***


Pagi ini, Faris masih bermalas-malasan di atas kasurnya. Ia bahkan sudah menyemprotkan parfum yang biasa dikenakan Aisha ke seluruh penjuru ruangan kamarnya, termasuk seprai dan bantal tempatnya merebahkan diri saat ini. Biar saja dirinya dianggap gila atau pun susah move on, karena memang pada kenyataannya ia sudah tergila-gila pada sosok Aisha.


Hari ini ia hanya ingin menunggu informasi dari pengacaranya yang saat ini tengah mengurus sidang pertama dari gugatan Aisha, begitupun dengan Roger yang ia harap bisa membawa hasil sesuai yang diinginkannya.


Tok … tok … pintu kamarnya tiba-tiba diketuk.


“Siapa?” tanya Faris tanpa bangkit dari atas pembaringannya.


“Bapak, Mas,” ujar seseorang dari balik pintu. Faris tahu betul seseorang yang memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’ hanyalah Pak Toni.

__ADS_1


Pak Toni memang terkadang memanggil Faris hanya dengan sebutan nama, terkadang pula menggunakan sebutan ‘Mas’.


“Bila Bapak menggunakan sebutan ‘Mas’ itu karena Bapak menghormatimu sebagai putra dari Tuan Abdullah. Dan ketika Bapak memanggilmu hanya menggunakan nama, berarti saat itu Bapak tengah merasa kamu seperti putra Bapak sendiri,” tutur Pak Toni kala Faris pernah menanyakan perihal itu.


“Hmm astaghfirulloh … nggak bengek kamu Le?” tanya Pak Toni yang langsung menutup hidungnya ketika aroma menyengat menyapa indra penciumnya kala pintu dibuka.


“Justru aku lagi ngerasa Aisha ada di sini Pak,” seloroh Faris masih di atas pembaringannya sambil memeluk bantal guling.


“Ya salam … eling kamu Le, jangan terlalu dipikirkan.”


“Istri saya ilang gimana saya nggak kepikiran Pak? Terus tiba-tiba ngirimin surat gugatan begitu, apa saya nggak stres coba?” ujar Faris mengacak rambutnya frustasi.


“Semuanya sudah ada yang mengatur, jangan pernah berburuk sangka pada Tuhanmu. Allah itu Maha Baik … bagaimanapun sakitnya, jalani dengan ikhlas, nikmati saja alurnya, waktu pasti perlahan akan mengobati perih di hati. Bapak yakin Broto pasti bisa diandalkan.”


“Nikmat sekali Pak … sampe-sampe Faris nggak tau lagi gimana caranya meneruskan hidup kalo Aisha bener-bener menghilang dari dunia Faris.”


“Kamu pasti mampu, tidak ada cobaan melainkan sesuatu yang lebih baik terselip dibaliknya,” ujar Pak Toni mencoba memberi semangat baru untuk Faris.


Pak Toni menyerahkan sebuah map dengan beberapa berkas di dalamnya, “Lusa jadwal pengecekan proyek kit di Ankara, mau Bapak atau kamu yang berangkat?”


“Belum tau Pak, Faris masih nggak bisa mikir apa-apa selain Aisha,” ujar Faris lemah sambil membaca berkas yang disodorkan Pak Toni.


“Ya sudah, Bapak tunggu jawabanmu besok.” Pak Toni pun kembali setelah Faris membubuhkan beberapa tanda tangannya pada berkas yang diberikannya.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


 


 


__ADS_2