Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Tengilnya Tuan Faris


__ADS_3

Gus Hasan terus memantau Ayla yang sesekali menjatuhkan kepalanya di pundak Gus Hasan, sepertinya Ayla benar-benar mabuk berat karena sekedar untuk menopang tubuhnya saja ia tak mampu.


Sejak tadi Ayla terus saja meracau tidak jelas, make up di wajahnya pun sudah tak karuan, air matanya terus mengalir, membuat Gus Hasan kebingungan sendiri.


“Apa kamu begitu sedih Ay? Dalam keadaan nggak sadar pun kamu terus-terusan nangis, sebenarnya kamu kenapa?” gumam Gus Hasan sambil sesekali menyeka air mata Ayla dengan tisu yang disediakan di taksi.


Tiba-tiba Ayla membuka matanya, menatap Gus Hasan dengan tatapan sendu. Tatapan keduanya sontak bertemu karena Ayla yang masih bersandar di bahu Gus Hasan membuat jarak wajah mereka sangat dekat.


‘Astaghfirullah’, berkali-kali Gus Hasan merapalkan kalimat istighfar sambil memejamkan matanya, bagaimanapun ia juga lelaki normal.


“San ….” Suara Ayla bergetar.


Samar-samar bahkan sangat pelan, namun Gus Hasan masih bisa mendengarnya, sontak Gus Hasan membuka matanya.


“Iya.” Gus Hasan mencoba menanggapi panggilan Ayla.


“Hump!”


Tiba-tiba Ayla menegakkan tubuhnya dengan tangan yang seperti menahan sesuatu di mulutnya, sepertinya Ayla hendak muntah.


“Master! Lütfen kenara çekin," ujar Gus Hasan pada sopir taksi. (Tuan! Tolong menepi sebentar).


Setelah mobil menepi Gus Hasan segera membantu Ayla mengeluarkan seluruh isi perutnya. Dengan tangan gemetar Gus Hasan mencoba memijat tengkuk Ayla untuk memudahkannya, ia benar-benar tidak tega jika hanya menyaksikan Ayla muntah tanpa melakukan apapun.


Setelah dirasa cukup, Gus Hasan kembali memapah Ayla ke dalam taksi karena Ayla benar-benar terkulai lemas, apalagi setelah ia memuntahkan seluruh isi perutnya.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, hingga taksi yang mereka tumpangi berhenti di halaman luas apartemen yang menjulang megah.


Gus Hasan segera merogoh ponselnya, menempelkan pada telinganya.


“Halo Kak, iya ini aku udah di lobi,” ujar Gus Hasan sambil mendudukan Ayla pada kursi yang tersedia di lobi apartemen.


Ting ….


Beberapa menit kemudian pintu lift terbuka, menampakkan sosok pria yang akhir-akhir ini Gus Hasan kagumi setelah kakak sepupunya di Indonesia.


“Astaghfirullah, kenapa Ayla bisa begini San?”


Faisal yang melihat keadaan adiknya yang tak sadarkan diri segera berlari ke arah Ayla dan  Gus Hasan.


“Aku juga nggak tau Kak, pas pulang dari Hagia Sophia dia baik-baik aja kok.”


“Terus gimana ceritanya kamu bisa nemuin Ayla San?” tanya Faisal mencoba memapah adiknya dan meminta bantuan Gus Hasan.


“Tadi pas aku tidur tiba-tiba pegawai club nelpon aku pake nomer Ayla, katanya Ayla mabuk berat dan mereka udah mau tutup,” jelas Gus Hasan apa adanya.


“Makasih ya kamu udah mau jemput Ayla, maaf jadi ngerepotin nih,” ujar Faisal memencet tombol lift menuju kamarnya.

__ADS_1


“Iya nggak apa-apa kok Kak.”


Tiba-tiba Ayla kembali meracau, air mata pun kembali menderas.


“Ya Allah sebenernya kamu kenapa sih Dek? Kenapa nggak cerita sama Kakak sih,” gumam Faisal menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Ayla.


“Terakhir kali dia kayak gini pas Baba sama Mamah berantem waktu itu, sekitar setahun yang lalu sebelum saya tinggal di sini. Sebenarnya Ayla gadis yang baik, saya yang nggak bisa jagain adik saya dengan benar.” Tanpa sadar Faisal menceritakan tentang keluarganya pada Gus Hasan.


“Baba …,” racau Ayla dengan suara yang tercekat.


“Iya Dek, ada apa sama Baba?” tanya Faisal menanggapi racauan adiknya.


Ting …, pintu lift kembali terbuka tepat di depan apartemen milik Faisal.


“Kalo gitu aku pamit dulu ya Kak,” ucap Gus Hasan setelah membantu Faisal merebahkan Ayla di kamarnya.


“Tunggu San.” Kalimat Faisal menghentikan langkah Gus Hasan yang sudah di ambang pintu.


“Kenapa Kak?”


“Kamu nginep di sini juga yah? Asisten rumah tangga saya kebetulan lagi cuti, saya nggak bisa kalo cuma berdua sama Ayla di sini,” jawab Faisal membuat Gus Hasan melongo.


“Loh?” tanya Gus Hasan bingung. Bukankah mereka Kakak beradik? Lalu apa salahnya?


***


Hayo ada apa nih sama Faisal? Bukannya mereka kakak beradik yah?


Apa Faisal takut kelepasan meski sama ade sendiri? wkwkwk


***


“Gimana Sha? Semalem tidur kalian nyenyak?” goda Ning Sabina saat Aisha baru saja turun untuk bergabung memasak.


“Hehe Alhamdulillah Mba, nyenyak banget,” jawab Aisha sedikit canggung karena kembali teringat adegan semalam bersama sang suami.


“Tuh kan apa Mba bilang, Umi tuh emang paling jago bikin yang gituan.” Aisha hanya menanggapinya dengan senyuman.


“Em makasih ya Bukde udah mau repot-repot bikinin jamu buat Aisha sama Bang Faris,” tutur Aisha sedikit canggung.


“Nggak repot kok Sha, kalo kalian mau Bukde bisa kok bikinin tiap hari malahan,” jawab Nyai Hamidah sambil menyalakan kran air untuk mencuci sayuran di tangannya.


“Hehe nggak usah repot-repot Bukde,” alibi Aisha halus.


“Tuh Sha, kapan lagi kan dibikinin yang gituan sama Umi.” Lagi-lagi Ning Sabina menggoda Aisha.


“Wih mau ada acara apa nih rame-rame masaknya?” tanya Faris membuat ketiganya menoleh.

__ADS_1


Ada rasa lega karena Aisha berhasil terbebas dari situasi yang benar-benar membuatnya merasa kikuk.


Faris yang baru saja kembali dari masjid menunaikan solat berjamaah subuh mendudukan dirinya pada salah satu kursi di depan meja dapur, menyaksikan ketiga wanita yang tengah sibuk berkutat masing-masing dengan bahan dan peralatan memasak.


“Ya buat makan kita lah Le, memangnya kamu ndak mau makan?” Nyai Hamidah yang tengah memotong beberapa jenis sayuran menimpali keponakannya tanpa mengalihkan pandangannya.


“Ya mau dong Bukde.”


Aisha dengan sigap mencium punggung tangan suaminya dan memberikan segelas air putih di hadapannya.


“Makasih Sayang,” ujar Faris mengecup puncak kepala istrinya.


Aisha lantas kembali bergabung dengan Ning Sabina dan Nyai Hamidah berkutat di depan kompor.


“Nah cowok tuh gitu Ris, solat berjamaah selalu di masjid,” ujar Ning Sabina pada adik sepupunya.


“Yey emang Faris mah dari dulu juga selalu solat di masjid kali, ya kan Bukde?” jawabnya meminta pembelaan dari sang Bukde.


“Iyalah wong kamu takut sama Pakde.”


“Bukan takut, Bukde,” jawab Faris mencoba mengenang masa-masa dimana ia tinggal bersama keluarga di Yogya pasca meninggal kedua orang tuanya.


“Terus kenapa?” tanya Ning Sabina.


“Malu sama Hasan Mba,” seloroh Faris membuat semuanya tergelak.


“Nih ya Sha, suami kamu dulunya tuh tengil banget tau,” bisik Ning Sabina membuat Aisha menahan tawanya.


“Mba mau bocorin semua aib tentang aku juga Ica mah bakal tetep fallin in love selalu lah sama Faris, ya kan Sayang?” tutur Faris dengan percaya dirinya.


“Idih buciiinnn,” ledek Ning Sabina mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.


“Iri? Bilang Bos!” jawab Faris tergelak dan langsung berlari ke arah kamarnya sebelum mendapat amukan dari kakak sepupunya.


“Tuh kan Sha, tengil banget suami kamu,” ucap Ning Sabina tanpa sadar mengacungkan spatula dari penggorengan.


“Sabina sama Faris tuh emang gitu Sha, dari kecil nggak pernah akur. Beda cerita kalo sama Hasan, dia lebih kalem jadi Farisnya juga ngerasa segan,” tutur Nyai Hamidah saat melihat aksi kakak beradik itu, mengenang ketiga putranya yang tumbuh dalam pelukannya.


Sedangkan Aisha hanya manggut-manggut menanggapi ceriita sang Bukde.


*Btw Nyai Hamidah memang udah nganggep Faris kayak putranya sendiri yah, karena memang pasca meninggal ayah dan ibu Faris, Nyai Hamidahlah yang mengurus Faris. Baru setelah Faris kuliah dan cukup dewasa buat hidup mandiri, dia pindah lagi ke Surabaya menempati rumah peninggalan kedua orang tuanya dan meneruskan bisnis keluarganya.


Maaf yah kalo part ini agak kurang penting gaess ...


***


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2