Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Tragedi Bandara Kayseri


__ADS_3

“Kenapa Ica suka banget sama senja? Bukannya pelangi lebih indah, Yang?”


Aisha yang tengah memandangi senja dari rooftop resortnya sontak menoleh saat suaminya turut bergabung mendudukan diri di sampingnya.


“Karena senja selalu menepati janji, dia memang pergi, tapi besok bisa dipastikan dia kembali. Sedangkan pelangi, selalu tiba-tiba datang lalu kembali hilang tanpa kepastian.”


Faris tersenyum dengan jawaban istrinya lantas merebahkan kepalanya di pangkuan Aisha dan turut menikmati semburat jingga yang selalu membuat istrinya terpesona.


“Kita jadi berangkat besok pagi Bang?”


“Heem. Kenapa? Ica masih betah di sini? Kalo Ica masih betah di sini nggak apa-apa kok kita ke Istanbulnya mundur lagi aja.”


Aisha sontak menggeleng.


“Di sini emang indah sih, tapi Ica juga pengen cepet-cepet ziarah ke makam Ayah. Lagian di Istanbul juga banyak tempat-tempat yang nggak kalah indah dari ini kan?”


“Iya Sayangku. Abang sih gimana Ica aja.”


“Eh Astaghfirullah Abang lupa belum ngehubungi Hasan,” pekik Faris tiba-tiba menegakkan tubuhnya, membuat Aisha sontak terlonjak.


“Astaghfirullah Abang ih! Bikin kaget aja,” protes Aisha yang masih memegangi dadanya.


“Kaget sih kaget Yang, tapi itu nggak usah dipegangin mulu dadanya. Ica mau Abang makan sekarang?” goda Faris melihat istrinya yang terus mengusap dadanya naik turun.


“Dih apaan sih Bang! Orang Ica beneran kaget juga,” ujarnya mencebikkan bibirnya kesal.


“Yey ngambek nih.” Lagi-lagi Faris menggoda istrinya.


“Ih udah ah, Ica mau packing dulu buat besok. Abang ngehubungin Gus Hasan dulu mending,” tutur Aisha beranjak menuju kamarnya.


“Oke Abang nelpon dia dulu ya bentar, nanti Abang bantuin Ica.”


“Heem.”


Nuttt … nuttt …


Tepat pada dering ketiga Gus Hasan mengangkat panggilan video dari Faris.


“Hay! Kaget kan kamu Mas nelpon?”


“Waalaikumsalam Mas.” Gus Hasan yang di sebrang justru tetap dengan wajah tenangnya.


“Eh iya Assalamualaikum, Pak ustadz. Hehe.”


“Mas Faris lagi dimana? Seinget Hasan rooftop rumah Mas bukan kayak gitu deh?” tanya Gus Hasan mengernyit saat melihat pemandangan di belakang Faris yang tampak asing.


“Lagi honeymoon dong, do’ain ya biar kamu cepet jadi uncle,” seloroh Faris dengan bahagianya, sedangkan Gus Hasan yang di sebrang tengah mati-matian menetralisir perasaannya agar tampak baik-baik saja.

__ADS_1


“MasyaAllah, semoga segera ada hasil ya Mas,” ujar Gus Hasan tulus, meski hatinya sendiri terasa sesak ketika kalimat itu terlontar.


“Abang!”


Tiba-tiba dari dalam kamar Aisha berteriak.


Deg, jantung Gus Hasan berpacu lebih kencang dengan hanya mendengar suara gadis yang hingga kini masih memenuhi ruang hatinya.


“Iya Sayang?” Faris menoleh dan mendapati sang istri sudah berkacak pinggang di ambang pintu.


“Abang kebiasaan deh kalo abis mandi handuknya disimpen di kasur! Kan jadi basah spreinya, Abang!!!”


“Hehe, lupa Sayang. Maaf.” Faris hanya nyengir kuda memamerkan barisan gigi putihnya.


“Enak ya Mas punya istri, apa-apa ada yang perhatiin.” Seruan Gus Hasan membuat Faris kembali menoleh ke layar ponselnya.


“Ya gitu deh, ah tapi enaknya mah cuma lima persen San.”


“Loh? Bukannya Mas Faris tergila-gila banget ya sama Aisha?”


“Iya maksudnya enaknya cuma lima persen, sembilan puluh lima persennya enak banget! Mas sampe gila beneran malahan, haha.”


Gus Hasan hanya tersenyum kecut menyembunyikan perasaannya.


“Eh iya tumben nih Mas Faris video call Hasan?” Gus Hasan mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menetralkan kembali hatinya.


“Ya maksudnya tumben-tumbenan aja. Kan yang lagi honeymoon Mas Faris, malah Hasan yang takutnya ganggu.”


“Haha, nggaklah. Aisha mah istri yang pengertian. Mas cuma pengen tau kabar kamu, gimana kuliah lancar kan?”


“Alhamdulillah Mas, Biidznillah.” (Dengan izin Allah)


“Alhamdulillah, kuliah yang rajin biar cepet pulang kasih cucu buat Pakde sama Bukde.”


“Bawa ilmu, Mas,” protes Gus Hasan mengklarifikasi penuturan Faris.


“Ya kan sambil menyelam sambil minum air San.” Lagi-lagi Faris tak henti-hentinya menggoda Gus Hasan. Namun ia sengaja tak memberitahukan perihal kedatangannya ke Istanbul besok, ia ingin memberikan kejutan untuk adik sepupunya itu.


***


Pukul 08.00 waktu setempat, Faris dan Aisha sudah tiba di Kayseri Erkilet Airport untuk penerbangan menuju Istanbul.


Meskipun jarak Cappadocia-Istanbul bisa ditempuh menggunakan mobil, tapi Faris dan Aisha memilih menggunakan rute penerbangan karena Roger sudah lebih dulu terbang ke Istanbul untuk mengurus segala keperluan mereka di sana nantinya.


“Abang mau check in sama daftar bagasi dulu, Ica tunggu di sini aja ya? Ngantrinya lumayan panjang, nanti Ica cape,” tutur Faris menyuruh istrinya agar duduk di deretan kursi panjang di ruang tunggu.


Aisha hanya mengangguk mengikuti intruksi sang suami.

__ADS_1


Dan benar saja, hampir lima belas menit Faris berdiri ia baru mendapatkan boarding pass-nya. Ia lantas bergegas kembali ke tempat dimana ia meninggalkan istrinya.


Faris terkejut dan semakin melebarkan matanya ketika tak mendapati Aisha di tempat terakhir ia tinggalkan. Faris memutar tubuhnya perlahan, menelisik satu persatu orang yang duduk di kursi itu, dan ia tak mendapati wajah cantik istrinya di sana.


Faris mencoba merogoh ponselnya untuk menghubungi Aisha, tapi ia lupa jika ponselnya turut serta dibawa sang istri di sling bag-nya.


“Astaghfirullah, kamu kemana sih Sayang?”


Berulang kali Faris bergumam sambil mempercepat langkahnya menyusuri semua ruangan di tempat itu. Pikirannya yang kalut membuat otak di kepala Faris tak bekerja dengan baik. Ia terlalu takut jika harus kehilangan wanita pujaannya itu.


Tanpa pikir panjang Faris segera melangkah ke bagian announcement dan melapor.


“Good morning ladies and gentlemen. We are looking for a young woman in the black veil, aged 26 years old. Wearing a white tunic and black skirt. She has white skin and using black glasses. If you have seen her please notify the nearest member of security or bring her to the customer service desk on the first floor. Thanks for attention.” Suara seorang pramugari dari bagian announce menggema ke seluruh penjuru Bandara. (Selamat pagi ibu-ibu dan bapak-bapak. Kami sedang mencari seorang wanita muda yang mengenakan kerudung hitam, usianya 26 tahun. Menggunakan tunik berwarna putih dan rok hitam. Dia memiliki kulit yang putih juga menggunakan kaca mata hitam. Jika anda melihatnya, mohon hubungi petugas kemanan terdekat atau antar ke meja pelayanan pelanggan di lantai satu. Terima kasih atas perhatiannya)


Aisha yang tengah membenahi pakaiannya di depan cermin toilet sontak memandangi dirinya seraya mencocokkan dengan ciri-ciri orang hilang yang disebutkan oleh petugas announcement baru saja.


Pandangan seisi toilet sontak tertuju ke arah Aisha setelah mendengar pengumuman dari bagian customer service, membuat Aisha seketika menegakkan tubuh dan membenahi kaca mata hitamnya untuk mengurangi rasa gugupnya karena ditatap sedemikian intens.



“Emang beneran itu pengumuman buat aku ya?”


Aisha terus saja bergumam dan melangkah ke arah bagian customer service sambil mencoba menerima semua tatapan seisi Bandara yang tertuju pada dirinya.


Dan benar saja, suami tampannya sudah menunggu di sana dengan wajah cemasnya.


Faris segera berlari saat dari kejauhan tampak istri cantiknya tengah berjalan ke arahnya.


“Sayang kemana aja sih? Bikin Abang khawatir aja tau,” ujar Faris saat langkahnya sudah mengikis jarak di antara mereka, direngkuhnya tubuh mungil itu dengan erat olehnya.


“Abang ih malu tuh diliatin terus sama orang-orang,” tutur Aisha menggeliat melepaskan rengkuhan suaminya.


“Kenapa nggak bilang dulu kalo mau pergi sih? Abang kan jadi khawatir takut Ica kenapa-kenapa,” gerutu Faris kembali meraih tubuh Aisha ke dalam pelukannya, tak peduli lagi dengan tatapan-tatapan di sekitar mereka.


“Maaf tadi Ica ke toilet dulu, mau bilang ke Abang rasanya udah kebelet banget.”


“Ehem.” Deheman seorang pramugari membuat Faris terpaksa harus melepaskan pelukannya.


Pramugari itu memberitahukan bahwa pesawat yang hendak ditumpangi mereka akan segera take off.


***


Gus Hasan sabar ya, semangat buat move on 💪


Yayang Ica bikin Babang Faris khawatir aja sih, udah kayak bocah ilang aja pake diumumin segala 🤣🤣🤣


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya raeders tersayang...


__ADS_2