Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Kebetulan?


__ADS_3

Setelah dipaksa berkali-kali oleh Karina hingga hampir menyerah, akhirnya laki-laki berparas dingin yang sejak tadi hanya menyaksikan Karina dan Rafa bermain pun ikut bergabung dengan keduanya.


Dengan syarat Azka tidak mau bergabung jika menaiki mini roll coaster, maka terpaksa Karina dan Rafa harus mengalah sebelum laki-laki dingin itu kembali berubah pikiran.


Setelah bernegosiasi perihal wahana apa yang Azka setujui, akhirnya ia menjatuhkan pilihannya pada wahana permainan mandi bola. Kali ini Rafa berpindah ke gendongan sang ayah.


Azka yang awalnya menganggap permainan ini memalukan, kelamaan ia ikut hanyut juga dalam keseruan saling melempar bola dengan putranya. Bahkan kini ia merasa sangat antusias ketika beradu lempar dengan Karina.


Tiba-tiba bayangan tentang Diana berkelebat dalam pikirannya saat melihat Rafa yang tampak sangat nyaman dengan Karina.


”Maafin aku Diana.”


Azka yang tersadar akan apa yang dilakukannya segera bangkit menjauh dari arena permainan itu.


Karina yang melihat pergerakan Azka yang tiba-tiba sontak mengejar langkah Azka dengan segera menggendong Rafa meski masih asyik bermain.


“Mau kemana? Ko ninggalin sih?” tanya Karina dengan napas yang ngos-ngosan karena harus mengejar langkah Azka sambil menggendong Rafa.


“Saya laper.”


“Ya bilang-bilang ke, main ninggalin gitu aja. Anak siapa coba ini,” tutur Karina lagi-lagi kesal akan sikap Azka yang sangat membingungkan menurutnya.


Tiba-tiba Azka mengambil Rafa dari gendongan Karina setelah ia menyelesaikan kalimatnya, membuat Karina melongo kebingungan.


“Eh aku becanda kok,” tutur Karina menyejajarkan langkahnya dengan Azka yang sudah melangkah lebih dulu.


***


Faris segera memapah Aisha untuk kembali ke mobil setelah dirasa mualnya cukup membaik.


“Nih pake kayu putih dulu punggungnya sayang,” tutur Faris menyodorkan kayu putih.


Untuk beberapa saat Aisha hanya terdiam kebingungan memikirkan bagaimana caranya mengoleskan kayu putih ke punggungnya, terlalu malu jika harus meminta suaminya untuk mengoleskannya.


Faris yang sejak tadi menatap Aisha seperti tampak kebingungan segera menyambar botol kayu putih itu dari tangan istrinya.


“Biar Abang yang olesin.”


Sontak Aisha terkejut dengan perlakuan Faris yang tiba-tiba. Faris hanya tersenyum, memberi kode agar Aisha berbalik badan.


“Abang!” Aisha sontak membulatkan netranya.


“Penari balet aja yang tubuhnya lentur nggak ada yang bisa liat ke belakang punggungnya sendiri sayang,” jawab Faris membalikan tubuh Aisha.


Aisha hanya pasrah mengikuti intruksi yang Faris arahkan. Dengan ragu Aisha memperbaiki letak duduknya yang tampak canggung, menghadapkan punggungnya pada Faris.

__ADS_1


Perlahan Aisha menyibakan hijab yang menutupi punggungnya, terlihat di sana resleting yang masih utuh tertutup rapat.


Untuk beberapa saat Faris pun hanya terdiam, menatap punggung mungil di hadapannya.


“Astaghfirullah ….”


Detak jantungnya sudah meronta tak karuan, ia mengangkat tangannya ke arah resleting baju Aisha.


Perlahan ia turunkan resleting di hadapannya sehingga menampakan punggung mulus Aisha yang sontak tanpa sadar membuat tangannya gemetaran seperti tersengat listrik.


Bukankah berarti Faris masih harus menuangkan kayu putih pada punggung mulus itu, dan tentu saja telapak tangannya akan bersentuhan langsung dengan kulit Aisha.


Tiba-tiba rasanya bulu kuduknya seperti meremang, rasa gugupnya kali ini terasa seperti saat pertama kali ketika ia harus mendatangi Aisha di kamar pengantin malam itu.


Terlihat jakun yang sedikit menonjol di depan lehernya naik turun karena berulang kali harus menelan kembali  ludah yang sejak tadi sudah terkumpul di ujung kerongkongan.


Aisha masih menunggu dengan ujung bibir yang sudah tertarik sejak tadi karena mengerti apa yang tengah suaminya rasakan saat ini. Bayangan wajah canggung Faris terlihat jelas oleh Aisha dari kaca mobil.


“Abang?” panggil Aisha masih menunggu pergerakan Faris selanjutnya.


“Ah bentar sayang, ini agak susah resletingnya,” jawab Faris menutupi kegugupannya.


Aisha yang mengerti kecanggungan Faris hanya berusaha menahan tawanya saat mendengar alasan suaminya yang sama sekali tak masuk akal menurutnya.


Tampak beberapa kali Faris menghembuskan napasnya sebelum akhirnya memaksakan jemarinya agar baik-baik saja saat harus bersentuhan langsung dengan kulit punggung istri di hadapannya.


“Udah Bang?”


“I-iya udah sayang.”


“Abang keluar sebentar ya ngambil powerbank di bagasi, kayaknya tadi dimasukin ke ransel deh,” lanjut Faris menutupi kecanggungannya.


Faris lalu bergegas keluar mobil, menjauh sambil mengipas-ngipaskan tubuhnya yang entah kenapa tiba-tiba berkeringat. Padahal ia keluar dari mobil yang tentu saja berpendingin.


Aisha hanya mengernyitkan dahi, lalu akhirnya mengangguki suaminya.


“Bukanya nge-charge di sini juga bisa kan?” gumam Aisha setelah Faris menghilang di balik pintu mobil yang kembali ditutup.


Beberapa menit Faris kembali tanpa membawa apapun.


“Nggak ketemu Bang?”


“Baru inget kan nge-charge di sini juga bisa,” jawab Faris menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


Aisha hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat suaminnya yang nampak salah tingkah.

__ADS_1


“Abis ini kita cari makan sekalian belanja buat keperluan rumah ya sayang?”


“Ica sih ngikut aja.”


Mobil yang dikendarai Faris kembali membelah padatnya jalanan kota Surabaya pada saat itu.


***


Brukk, getaran pesawat karena menabrak awan menjatuhkan buku berjilid biru dari pangkuan Gus Hasan. Ia sontak membungkuk, meraba-raba keberadaan bukunya hingga ia menyadari keganjilan, tangannya menyentuh kaki sebuah kaki.


Sontak Gus Hasan langsung menoleh ke samping, rasa tak enak karena takut dianggap kurang ajar. Gus Hasan berdecak resah, ia tak pernah kontak fisik dengan wanita kecuali Umi dan Ningnya.


“M-maaf.”


Gus Hasan benar-benar canggung, bingung hendak mengatakan apa. Kekalutannya tentang Aisha benar-benar membuatnya tak sadar jika sejak tadi ia duduk bersebelahan dengan seorang wanita.


Tak sengaja Gus Hasan melihat wajah wanita di smapingnya sekilas, kulit putih bersih berpadu dengan hidung yang tak kebanyakan orang Indonesia punya juga bola mata yang bulat sempurna.


“It’s okay,” wanita itu menjawab dengan sama-sama canggung.


Wanita itu membungkuk mengambil buku Gus Hasan yang terjatuh di sebelah kakinya, lalu menyerahkannya kembali pada sang empunya.


***


Karina masih asyik bermain dengan Rafa saat seorang waitress dengan apron coklat mengantarkan makanan ke meja pesanannya di lantai dua mall yang ia kunjungi.


Sudah sepuluh menit sejak makanan pesanan mereka tersaji Karina masih tetap asyik dengan kegiatannya, sedangkan Azka sudah lebih dulu menghabiskan makanannya.


“Sini biar Rafa sama aku, kamu makan juga,” tutur Azka setelah menghabiskan dessert miliknya.


“Aku bisa kok makan sambil gendong Rafa, lagian aku emang belum laper.”


Azka tak menghiraukan jawaban Karina, ia tetap mengambil alih Rafa dari pangkuan Karina, membuat Karina lagi-lagi melongo dengan perlakuan Azka.


“Botol susunya Rafa,” tutur Azka meminta.


“Ini udah lewat dari dua jam, bentar aku bikinin yang baru,” jawab Karina segera bangkit ke arah bar di restoran yang tengah ia kunjungi.


“Azka.” Suara yang tak asing bagi Azka.


Keduanya menghampiri Azka yang tengah terduduk sendirian bermain dengan Rafa.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2