
Rupanya Faris membawa Aisha masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari kafe, kini keduanya sama-sama membisu dalam hening, lama tak bersama membuat situasi di antara mereka cukup canggung.
Alhasil Faris pun memberanikan diri untuk menatap wajah ayu wanita yang kini tampak tertunduk di kursi penumpang.
Faris ingin menggenggam tangan Aisha, tapi nampaknya istrinya itu sedikit takut hingga ia segera menarik tangannya tiba-tiba. Faris pun mengurungkan niatnya, ia hanya menyentuh jemari Aisha dengan sebelah tangannya.
“Apa kabar?” Faris menyapa Aisha lebih dulu, ia lupa jika belum sempat menyapa wanitanya dengan baik selama di sini.
Aisha tampak mengangkat wajahnya, melihat ke arah sumber suara yang sepertinya sejak tadi sudah memandanginya, “Baik Bang,” ujarnya sangat pelan.
Ada rasa sakit di hati Faris saat mendapati sikap istrinya yang kini tak seceria dan semanja dulu ketika bersamanya.
Tak ingin berlama-lama dalam kecanggungan, Faris segera meraih tablet yang tergeletak di atas dashboard mobilnya lantas menyerahkannya ke pangkuan Aisha.
“Ini rekaman cctv di kamar waktu Sofia ke rumah, Abang tau Ica mungkin makin salah paham karena ini.”
Tanpa menjawab ujaran Faris, Aisha mencoba memberanikan diri menekan ikon play di layar tablet yang kini dalam genggamannya. Tampaklah di sana Sofia menghampiri Faris yang tampak tergeletak lemas di atas ranjangnya.
“Waktu itu Abang terlalu lemes buat ngadepin Sofia, makanya Abang terima suapannya dengan maksud biar dia cepet pergi dari rumah kita.” Faris berkata saat mata Aisha tengah fokus dengan layar di genggamannya.
Sekali lagi Faris memberanikan diri untuk meraih tangan sang istri dan menggenggamnya, “Maaf kalo itu justru buat Ica makin sakit dan salah paham sama Abang. Demi Allah Abang nggak ada maksud apapun selain agar Sofia cepet keluar waktu itu.”
Aisha hanya bergeming, sorot netranya tampak sendu mencerna setiap kalimat yang Faris lontarkan.
“Mengenai anak kita ….” Faris tampak menggantung kalimatnya, ia berusaha menetralkan deru napasnya sebelum kembali melanjutkan ucapnnya.
“Abang tau nggak mudah buat Ica ngelupain semuanya, Abang akui emang Abang yang salah, Abang yang nggak peka dengan kehadiran dia, Abang terlalu sibuk sama rumah sakit dan Tasya waktu itu, Ab-“
__ADS_1
“Cukup Bang! Nggak usah dilanjutin.” Dengan segera Aisha langsung memotong kalimat suaminya.
Hati Aisha belum cukup kuat jika ada yang mengingatkannya kembali pada calon putranya. Jemari lentiknya segera meraih gagang pintu dan segera dibawanya langkah kakinya keluar dari mobil milik suaminya.
Mendapati itu tentunya Faris pun tak tinggal diam, dengan cepat ia menyusul langkah istrinya.
“Bukan cuma Ica … Abang juga sakit Ca, hati Abang sakit begitu tau Ica kecelakaan dan ternyata ada calon anak Abang di perut Ica, di saat semuanya tau kalo Ica hamil, Ibu, Bi Asih, semua orang rumah, bahkan Azka yang dari masa lalu Ica pun tau, sedangkan Abang? Sakit Ca! Abang sakit karena Abang berasa kayak suami bodoh yang nggak tau apa-apa tentang istrinya.”
Langkah Aisha terhenti mendengar ujaran Faris di belakangnya, kini ia bahkan memberanikan diri untuk berbalik dan menghadap ke arah Faris yang tengah menatapnya sendu, bahkan Aisha bisa melihat ada genangan air yang menggantung di pelupuk mata suaminya.
“Itu karena Abang yang terlalu sibuk sama dunia Abang! Ica ngerti kita yang udah cukup lama belum dikaruniai keturunan ngebuat Abang begitu semangat pas Tasya hadir di tengah-tengah kita, Abang nggak tau kalo calon putra kita sudah hadir bersemayam di perut Ica karena tanpa sadar semakin lama perhatian Abang hanya terpusatkan buat Tasya.”
Aisha mencoba memejamkan netranya yang kian memanas sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
“Berkali-kali Ica coba buat ngasih tau Abang … tapi Abang nggak pernah punya waktu buat sekedar dengerin Ica. Abang selalu pergi sebelum Ica bangun, dan pulang hanya menghabiskan waktu buat Tasya! Lantas dimana kesempatan Ica bisa ngasih tau Abang!?”
“Maaf ….” Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Faris. Ingin sekali ia rengkuh tubuh mungil istrinya dan menyandarkannya di dadanya seperti saat mereka menghadapi masalah dan mencari jalan keluarnya bersama.
“Maaf udah buat wanita sesempurna Ica harus bersanding dan terjebak dengan lelaki bodoh kayak Abang. Sekali lagi Abang tanya, apa Ica masih mencintai Abang? Apa masih ada sisa ruang di hati Ica buat Abang?” Faris berujar dengan pasrah, nyatanya memang disini ia yang salah dan terlalu banyak melukai wanita yang dicintainya.
Lagi-lagi Aisha tampak menghembuskan napasnya kasar, “Ica nggak tau Bang … semuanya masih membekas dan terlalu sakit buat Ica.”
Tanpa menatap wajah Faris, Aisha segera melangkahkan kakinya meninggalkan lelaki yang masih bergeming di tempatnya.
Faris pun terlalu bingung untuk sekedar mengejar kembali langkah istrinya sehingga ia hanya bisa terduduk pasrah bersandar pada badan mobil sepeninggal Aisha.
Setelah mendengar penuturan istrinya, hatinya terlalu sakit menyadari kebodohannya di masa lalu.
__ADS_1
***
“Tapi di luar semua rasa sakit itu, hanya kebahagiaan Kakak dan Aisha yang selalu Ayah dan Ibu langitkan. Karena itu, biarlah adikmu menentukan kebahagiaannya, Kakak juga carilah kebahagiaan Kakak sendiri.”
“Isal tau Bu, tapi ….”
“Ibu juga tau beban yang Kakak pikul berat di sini,” tukas Maya mengusap bahu putranya.
“Kak, hidup ini terlalu berat untuk dipikul sendirian tanpa melibatkan orang lain dan Tuhan. Beristirahatlah dulu, tenangkan pikiran baru temukan jalan keluar.”
Maya mencoba mengatur napasnya, menahan sesak yang rasanya semakin mencekik lehernya kala harus mengingat mendiang suaminya.
Begitupun dengan Faisal, bayang-bayang tragedi mengerikan malam itu seketika pula memenuhi kepalanya.
Ia tahu betapa berat hidup ibu dan adiknya selama ini, meski tak dipungkiri ia pun merasakan hal yang sama, tapi ia yakin ibu dan adiknya yang lebih menderita karena harus melewati hari-hari tanpa adanya kepala keluarga.
Faisal menumpukkan kepalanya di atas kemudi, sorot lampu dari mobilnya tampak sudah menyala menerangi lorong basement namun pria itu tak kunjung menyalakan mesinnya.
“Aku harus kuat, karena aku yang menggantikan Ayah buat jagain Ibu sama Aish.” Lirih
sekali gumaman itu terdengar.
“Aish … maaf Kakak gak bisa nyusul kamu ke kafe, Kakak harus ketemu klien sekarang,” ujarnya setelah sambungan telepon tersambung dengan adiknya di sebrang sana.
“Oh iya ga ap ….” Belum sempat Aisha menyelesaikan kalimatnya sambungan telepon sudah lebih dulu diputus olehnya. Faisal tak bisa menjamin ia akan baik-baik saja jika larut dalam perbincangan bersama Aisha yang memang saat ini menjadi sumber utama yang memenuhi isi kepalanya.
---
__ADS_1
Bersambung ...