
“Kenapa? Kau mau menikah denganku?" lanjut Faris tiba-tiba.
“Bolehkah?" tanya Karina terkejut dengan pertanyaan Faris.
“Tentu saja nggak.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah melamar seseorang," jawab Faris enteng.
“Apa seseorang itu Aisha?”
“Jika sudah saatnya, aku pasti memberitahumu.”
“Aku duluan," lanjut Faris meninggalkan Karina yang masih termangu d tempatnya.
***
“Faris gimana kabarnya ya?" gumam Aisha dalam sepinya.
“Apa aku harus memberitahunya jika saat ini ada yang seseorang yang telah meminangku? Apa dia akan kecewa dengan keputusanku?”
“Aku tahu selama ini kamu mencintaiku Faris, tapi kenapa kamu gak pernah mengatakan langsung padaku? Kenapa bukan kamu yang lebih dulu memberi kepastian itu? Sepertinya sekarang sudah terlambat untuk aku membalas perasaanmu.”
Ingatan-ingatan tentang Faris memenuhi benak Aisha, hatinya bimbang dengan keputusan yang ia ambil.
“Apapun yang terjadi nanti, kamu harus tetap menjadi Aisha yang aku kenal. Wanita Tangguh yang senantiasa bersabar dalam menerima apapun yang telah menjadi takdir-Nya. Kamu harus kuat Aisha, jangan terlalu larut akan kesedihan dunia.”
Seketika Aisha teringat ucapan Azka dalam mimpinya, ketika ia amat terpuruk karena kepergian Azka.
Aisha segera mengambil ponselnya, ia buka aplikasi yang bertuliskan galeri, menandai semua gambar dirinya yang berkaitan dengan Azka dan Faris di masa lalunya, lalu menekan tanda ‘hapus’.
“Selamat tinggal mas Azka, selamat tinggal Faris,” ucap Aisha sambil menaruh kembali ponselnya.
Ada sesak yang bersarang di dadanya, bulir bening pun sudah kesekian kali berjatuhan dari sudut matanya.
“Aku pasti bisa! Sekarang mungkin belum tahu caranya, tapi niat baik pasti Allah akan permudah. Jika orang lain saja percaya bahwa aku mampu, mungkin memang benar aku mampu. Sekarang tugas aku adalah ridha terhadap apa yang Allah berikan sama aku agar Allah juga ridha kepadaku. Allah percaya, orang lain percaya, sekarang saatnya aku untuk percaya pada diriku sendiri!” gumam Aisha memotivasi dirinya agar senantiasa bersabar dalam menerima apapun yang telah menjadi takdir-Nya.
Aisha segera bangkit untuk mengambil wudu, menggelarkan sajadah lalu tersedu dalam sujud panjangnya. Meminta kemantapan hati pada Yang Maha membolak-balikan hati.
***
Aisha berdiri agak lama di depan cermin, mematut dirinya dalam balutan gamis yang diberikan oleh Ning Sabina tempo hari.
__ADS_1
Melihat baju yang ia kenakan, Aisha jadi teringat saat dirinya pergi ke acara reuni bersama Faris mengenakan baju couple.
“Warnanya sama kayak baju couple yang waktu itu aku sama Faris pake ke acara reuni,” lirih Aisha ketika melihat tampilan dirinya di cermin.
Aisha segera tersadar dari lamunannya dan berulang kali mengucap istighfar, memantapkan hati terhadap keputusan yang sudah ia ambil.
“Assalamualaikum,” ucap Ning Sabina menghampiri Aisha di kamarnya.
Aisha memang hanya berdua di kamar itu bersama Rini, dan kini Rini tengah pulang kampung karena ada acara keluarga. Sekarang tinggalah dirinya seorang di kamar itu.
“Waalaikumsalam,” jawab Aisha segera menghapus air di sudut matanya.
“Masya Allah cantiknya,” puji Ning Sabina ketika melihat Aisha tengah berdiri di depan cermin dengan balutan gamis berwarna maroon yang dipadukan dengan hijab senada yang ia berikan tempo hari, juga riasan yang tak terlalu mencolok menambah kesan keanggunan Aisha.
“Apa Aisha sudah benar-benar siap?” tanya Ning Sabina.
“Insya Allah Ning.”
“Syukurlah, ya sudah ayo, orangnya juga sudah menunggu di ndalem,” ajak Ning Sabina.
“Laa haula wala quwwata illa billah,” lirih Aisha membatin.
Aisha berjalan beriringan bersama Ning Sabina menuju ndalem. Jujur detak jantung Aisha saat ini berpacu lebih cepat dari biasanya.
“Kenapa Faris ada di sini juga? Apa ibu yang memberitahu perihal pinangan ini?”
Aisha benar-benar dibuat bingung dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
“Ayo masuk,” bisik Ning Sabina menggandeng tangan Aisha yang masih mematung di depan pintu.
Aisha segera mengikuti langkah Ning Sabina, lalu menghampiri ibu dan pamannya yang turut hadir di sana, lalu mencium punggung tangan keduanya.
Aisha mengambil tempat duduk di samping ibunya, seketika pandangan Aisha dan Faris bertemu untuk sepersekian detik, ada gugup yang merambat di dada keduanya.
Yang membuat Aisha bingung adalah ia tak menemukan orang lain di ruangan itu kecuali keluarga ndalem selain Gus Hasan yang memang tengah ke Mesir, ibu dan pamannya juga Faris.
“Di mana seseorang yang katanya hendak meminangku? Kata Ning Sabina orangnya sudah menunggu, tapi tak ada satu pun yang tidak aku kenal di sini,” gumam Aisha membatin.
“Assalamualiakum warohmatulloh wabarokatuh,”ucap Kyai Safar membuyarkan lamunan Aisha.
Semua yang ada di ruangan itu menjawab salam Kyai Safar.
“Yang terhormat, Bapak dan Ibu keluarga dari saudari Aisha Ameera Al-Insani. Saya mewakili keluarga dari saudara Faris Zein Abdullah ingin menghaturkan beberapa hal ....”
__ADS_1
Deg ... seketika degup jantung Aisha semakin cepat, ia baru menyadari jika baju yang dikenakan dirinya adalah baju couple dengan yang dikenakan Faris.
“Ternyata Faris seseorang itu,” Aisha membatin, ada haru dan bahagia yang menyelimuti hatinya ketika mengetahui bahwa yang meminangnya adalah orang yang selalu ia sebut dalam doanya akhir-akhir ini.
“Niatan pertama adalah untuk bersilaturahim kepada keluarga Aisha agar dapat mengenal lebih dekat lagi. Yang kedua, berbekal pada keyakinan takdir Allah SWT, maksud dan tujuan kami pada hari ini tiada lain dalam rangka mewakili almarhum kakak saya Haris Abdullah menghantarkan keponakan saya Faris Zein Abdullah untuk menyampaikan pinangannya terhadap saudari Aisha.”
“Assalamualaikum warohmatulloh wabarakatuh ....” tutur paman Aisha sebagai perwakilan dari keluarga Aisha.
“Saya mewakili keluarga dari keponakan saya Aisha Ameera Al-Insani mengucapkan terima kasih atas maksud dan tujuan dari keluarga yang telah disampaikan oleh keluarga Faris. Tapi sebelumnya ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada saudara Faris, yang pertama adalah mengapa saudara Faris memilih keponakan saya?”
“Assalamualaikum warohmatulloh wabarakatuh ....” kali ini Faris yang langsung angkat bicara.
“Pertama tama saya ucapkan terima kasih atas sambutan penerimaan yang telah diberikan keluarga Aisha. Setelah mengenal Aisha cukup lama, saya yakin Aisha adalah wanita yang tepat untuk mendampingi hidup saya, saya juga yakin Aisha dapat membawa berkah, kebaikan, dan kebahagiaan di dunia dan akherat kelak,” jawab Faris yang membuat Aisha meneteskan air matanya.
“Aisha ... Insya Allah saya berjanji sesuai ajaran islam untuk selalu berusaha dengan segenap kemampuan saya untuk menjaga Aisha seperti bapak dan ibu menjaganya. Maka dari itu saya mohon izin untuk meminang Aisha agar dapat menyempurnakan setengah agama saya, saya sangat ingin Aisha menjadi pasangan hidup saya nantinya. Jika bapak, ibu, dan Aisha berkenan, izinkan saya membahagiakan Aisha di dunia serta akhirat dengan menerima pinangan saya.”
“Apakah saudara Faris benar-benar bersedia untuk menjaga, menafkahi, dan melindungi keponakan saya? Yaitu Aisha Ameera Al-Insani,” tanya paman Aisha.
“Dengan segenap kerendahan hati, saya siap untuk mencintai, menjaga, meneruskan amanah dari orang tua untuk mengurus, bertanggung jawab dan mencintai Aisha sampai akhir hayat. Semoga yang diinginkan terutama dari orang tua yang terbaik untuk Aisha dapat terwujud,” jawab Faris lantang.
“Apakah Aisha bersedia menerima pinangan dari keponakan saya Faris Zein Abdullah?” tanya Kyai Safar.
Aisha menggenggam tangan ibunya erat, menyalurkan energi untuk bisa menjawab pinangan Faris.
Semua yang ada di ruangan itu terlihat tegang menantikan jawaban dari Aisha, terutama Faris yang sudah berkeringat dingin.
“Bismillahirrahmanirrohim, ibu dan paman yang Aisha sayangi, dengan memohon ridha Allah SWT, lalu dengan restu dari ibu dan paman serta restu semua yang hadir di sini, Aisha bersedia lahir batin menerima pinangan dari Faris Zein Abdullah,” jawab Aisha parau karena menahan air mata di pelupuk matanya.
Terdengar suara Hamdallah bersahutan dari seisi ruangan tersebut ketika mendengar jawaban dari Aisha.
“Aisha juga berterima kasih kepada Faris karena telah mencintai Aisha dengan tulus dan ikhlas, mendorong saya untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, dan sudah selalu ada untuk Aisha dalam kondisi apapun. Aisha berdoa semoga Faris selalu berada dalam lindungan Allah SWT, bisa menyempurnakan iman dan akhlak Faris agar bisa menjadi imam Aisha dan bisa menjadi pendamping hidup Aisha selamanya,” tutur Aisha dengan air mata yang sudah membanjiri wajah cantiknya.
Keluarga Kyai Safar yang mendengarkan penuturan Aisha terkejut, tak terkecuali Ning Sabina.
“Apakah Faris sudah paham betul sifat baik dan buruknya Aisha?” tanya paman Aisha kembali.
“Kita berdua sudah cukup lama menjalani pertemanan, selama ini kami berdua selalu belajar dan menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lainnya. Saya dan Aisha pun menyadari kita bukanlah mahluk yang sempurna, masih banyak yang perlu dibenahi, diperbaiki. Dan yang terpenting, Insya Allah dengan niat cinta saya yang tulus, segala kekurangan Aisha tidak akan pernah menjadi masalah dan tidak akan terlihat, sehingga membuat Aisha selalu menjadi wanita yang sempurna di mata saya,” jawab Faris yang lagi-lagi membuat semuanya terharu.
“Seperti yang kamu ketahui, Aku jauh dari sempurna, lalu apa yang membuatmu yakin untuk memilihku?” kini Aisha yang langsung bertanya kepada Faris.
“Saya tidak butuh sosok yang sempurna untuk menjadi pendamping saya, yang saya butuhkan adalah orang yang menyayangi saya apa adanya, sosok ibu yang teladan yang akan membina anak-anak saya kelak, seorang yang peduli akan kehidupan saya. Dan itu semua ada pada kamu Aisha,” jawab Faris yang lagi-lagi membuat Aisha menjatuhkan air mata harunya.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...