Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Happy Birthday Baby


__ADS_3

Faris menggandeng tangan Aisha menyusuri lorong hotel dan memasuki lift, ia segera memencet tombol berangka satu.


Di lobi hotel sudah ada Roger berdiri dengan gagahnya mengenakan pakaian serba hitamnya juga dibalut jas hitam yang menambah kesan misteriusnya. Tak lupa di telinganya selalu terpasang alat komunikasi yang sama seperti Faris kenakan saat ini. Roger lantas bergegas membukakan pintu mobil saat melihat majikannya muncul dari balik pintu lift.


Aisha bahkan sampai terheran-heran dengan cara kerja para white evil yang selalu cekatan dan sempurna. Lihatlah, Aisha bahkan masih terbengong-bengong saat melihat Roger sudah siaga menunggunya dan sang suami di bawah. Bukankah ketika ia keluar tadi Roger masih berdiri di ambang pintu kamar hotelnya? Ah entahlah, sepertinya mereka memang sudah terlatih untuk selalu kompeten.


“Kita mau kemana ini, Bang?” tanya Aisha sambil mengedarkan pandangannya ke luar jendela, menikmati pemandangan kota Istanbul yang dipadati riuh manusia, apalagi ini hari sabtu malam minggu, kebanyakan orang akan menikmati akhir pekan mereka untuk pergi berlibur atau sekedar bersantai menghirup udara segar.


“Namanya juga surprise, Yang. Nanti liat aja, Ica pasti suka.”


“Kalo Ica nggak suka?”


“Ya Abang suruh Roger ganti planning semuanya,” jawab Faris santai.


Lagi-lagi Roger hanya bisa tersenyum mengiyakan.


Sekitar setengah jam akhirnya Roger menepikan mobilnya di sebuah dermaga.


“Bosphorus?” Aisha menoleh seolah meminta jawaban dari sang suami.


“Pinter,” jawab Faris mengecup puncak kepala istrinya.


Whusss …


Angin langsung berhembus menyapa summer dress Aisha ketika pintu mobil dibuka, membuatnya berliuk-liuk ke sana kemari menambah kesan anggun bagi sang pengguna.


“Mr and Mrs Abdullah?” Seorang pria berbadan tegap dengan seragam putihnya yang Aisha ketahui sebagai seorang kapten kapal menghampiri mereka.


“Yeah.”


“Let’s go,” ujar sang kapten kemudian yang segera diikuti oleh Faris yang sudah menggenggam tangan sang istri.


Sang kapten memandu keduanya untuk menaiki salah satu kapal ferry yang berjajar, hingga mereka berhenti tepat di dek kapal teratas.


“Enjoy our place Mr and Mrs Abdullah.” Sang kapten mengangguk lantas berbalik, mungkin untuk melajukan kapal mereka. (Selamat menikmati tempat kami, Tuan dan Nyonya Abdullah)


Tepat pukul 18.30 kapal melaju perlahan menyusuri selat Bosphorus. Aisha melirik jam tangan yang melingkar di tangannya yang menunjukkan bahwa hari ini adalah hari Sabtu, yang berarti ini adalah saatnya untuk tour Moonlight Cruise, tour yang hanya tersedia pada hari Sabtu selama musim panas.


Aisha memutar tubuhnya perlahan, pandangannya menyapu ke seisi kapal yang hanya ada mereka berdua dengan beberapa pelayan yang ia temui di pintu masuk tadi juga Roger yang selalu siaga di sana. Bukankah tour Moonlight Cruise biasanya selalu dipadati pengunjung yang berebutan menaiki ferry?


“Ini kan tour Moonlight Cruise Bang, kok tumben nggak penuh sama pengunjung? Seinget Ica Moonlight Cruise selalu jadi buruan para pengunjung.”


Faris yang tengah menyesap minumannya hanya tersenyum.


“Jangan bilang Abang booking seisi kapal cuma buat berdua.”


Suiitt … dorrr


Belum sempat Aisha mendapatkan jawaban, suara riuh kembang api dari atas kapal mengalihkan perhatiannya, membuatnya seketika terpesona dengan keindahnya, bahkan ia sampai bangkit dari duduknya.


Aisha baru menyadari betapa indahnya pemandangan Istanbul bagian Eropa dan Asia pada malam hari karena sejak tadi pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan mengapa kapal ferry ini hanya ada mereka berdua.


Setelah pertunjukan kembang api selesai, tiba-tiba lagu Beautiful in white dari Westlife mengalun indah menyapa indra pendengar Aisha, membuat Aisha sontak mengalihkan pandangannya dari langit malam.

__ADS_1


Netra Aisha seketika membulat sempurna dengan tangan yang sudah menutup mulutnya berusaha agar tidak memekik ketika mengetahui bahwa Faris yang bernyanyi langsung dengan diiringi permainan piano dari seseorang di sudut dek yang entah sejak kapan sudah berada di sana. Jantung Aisha semakin berpacu kencang ketika Faris berjalan ke arahnya dengan buket mawar putih indah di tangannya.


Not sure if you know this


(Tak yakin apakah kau tahu ini)


But when we first met


(Tapi saat pertama kita berjumpa)


I got so nervous I couldn’t speak


(Aku sangat grogi hingga tak dapat berkata apa-apa)


In that very moment


(Pada saat itu)


I found the one and


(Kutemukan seseorang dan dan)


My life had found it’s missing piece


(Hidupku telah temukan kepingannya yang hilang)


So as long as I live I love you


(Maka selama aku masih hidup, aku akan mencintaimu)


(Aku kan miliki dan mendekapmu)


You look so beautiful in white


(Kau tampak sangat cantik berpakaian putih)


And  from now to my very last breath


(Dan mulai kini hingga hembusan napas terakhirku)


This day I’ll cherish


(Hari ini kan kukenang)


You look so beautiful in white


(Kau tampak sangat cantik berpakaian putih)


Tonight


(Malam ini)


“Sayang,” panggil Faris meraih tangan Aisha yang sudah dingin karena grogi.

__ADS_1


“Iya ….”


“Selamat ulang tahun istriku, tulang rusukku, wanita satu-satunya yang selalu memenuhi ruang hidupku.” Faris tiba-tiba berlutut di hadapan Aisha dengan buket mawar putih yang nampak semakin indah ketika tangan kekar itu mengulurkan langsung untuknya.


Jantung Aisha seketika berdegup kencang hingga ia seperti kehilangan kata-kata, tangannya pun bahkan serasa kaku untuk sekedar menerima uluran bunga dari suaminya, hanya air mata yang tiba-tiba mengalir mewakili perasaannya.


“Selamat ulang tahun ya Sayang, best wishes for you Baby.” Faris lantas berdiri untuk menyeka air mata Aisha dan mendekap sang istri yang masih mematung tanpa kata. (Doa terbaik untukmu, Sayang)


“Abang …,” lirih Aisha membalas pelukan Faris dengan erat, ia tumpahkan seluruh perasaannya dalam dekapan sang suami, jas yang Faris kenakan bahkan sampai terlihat basah oleh air mata sang istri yang terus saja tertumpah.


Dalam hati tak henti-hentinya Aisha mengucap syukur karena telah dipertemukan dengan lelaki yang begitu mencintainya, memperlakukannya bak seorang putri, lelaki sempurna yang bersedia menerimanya, wanita dengan segala kekurangan.


“Ica nggak tau lagi harus ngomong apa, Abang terlalu sempurna buat Ica miliki. Maafin Ica dan semua kekurangan Ica selama ini.”


“Sutt, nggak boleh ngomong gitu ah. Dengan Ica udah bersedia nemenin Abang selama ini, Abang udah bahagia banget, Sayang. Dengan memiliki Ica, Abang udah merasa jadi lelaki paling beruntung di dunia. Jadi jangan lagi merendah kayak gini yah, karena Ica udah begitu sempurna buat Abang.” Faris merenggangkan pelukannya, mengangkat wajah Aisha dan mendaratkan kecupan di setiap inci wajahnya.


“Makasih ya Bang,” ucap Aisha tiba-tiba mengalungkan tangannya di leher Faris, lantas tanpa diduga ia mendaratkan kecupannya pada bibir suaminya, cukup lama hingga Faris tak tahan untuk tidak melu***nya.


Segerombol gadis-gadis kecil tiba-tiba datang tepat setelah Faris menyesap candunya, mereka mengenakan gaun yang tampak sangat indah dengan wajah khas Turkinya, terlihat seperti peri-peri kecil yang menggemaskan di mata Aisha.


“For you Mrs beauty.” Salah satu dari gadis kecil itu menyodorkan sebuah kotak yang indah berbalut pita.


“Thank you sweety.” Aisha berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis-gadis mungil di hadapannya lantas mengambil kotak yang mereka sodorkan. Setelahnya gadis-gadis itu kembali berlarian keluar. (Terima kasih manis)


Di atas kotak itu tertulis merk ‘Tiffany & Co.’  lalu didalamnya ada secarik kertas bertuliskan ‘Untuk kesayanganku, Aisha Ameera Al-Insani’ menggunakan font latin yang sangat indah, dan di bawah kertas sudah bertengger kalung cantik bermerk Tiffany & Co. rose gold dengan liontin cincin diamond ganda yang sangat indah.



“Cantik banget Bang,” ujar Aisha menoleh ke arah Faris yang sudah tersenyum kepadanya.


“Sesuai sama Ica yang cantik,” jawab Faris mengambil kalung di tangan istrinya.


“Sini Abang pasangin.” Karena tidak ada seorang pun di sana maka Faris berani untuk menyibak hijab Aisha dan memasangkan kalung cantik itu pada leher putihnya.


“Ica tau kenapa Abang pilih liontin dengan cincin ganda ini?” tanya Faris membawa Aisha untuk duduk di pangkuannya.


Aisha hanya menggeleng sambil mengalungkan lengannya.


“Pas beli kalung ini, di kepala Abang langsung terselip harapan semoga kita selalu kayak liontin cincin ini yang selalu terikat satu sama lain, saling menguatkan meski berulang kali badai menerjang bahtera rumah tangga kita. Janji ya sama Abang, Ica jangan kemana-mana, tetep di samping Abang sampe maut yang memisahkan.”


Tangan Aisha terangkat perlahan, jari-jari mungilnya membelai lembut wajah Faris di hadapannya.


“Kemana lagi Ica harus berpaling sedangkan hati Ica udah tertaut sepenuhnya buat Abang, lelaki yang selalu membuat Ica merasa bahwa surga lebih dekat jika bersama Abang.”


Deg, jantung Faris berdetak lebih cepat mendengar penuturan sang istri. Padahal ia merasa dirinyalah yang penuh kekurangan, bukan Aisha. Hingga saat ini Faris bahkan tak henti-hentinya mengucap syukur karena Allah senantiasa mempersatukannya dengan wanita pujaan yang namanya selalu ia sematkan dalam doanya selepas solat seusai salam, di antara azan dan iqamat, disaat hujan dan juga dalam sujudnya di sepertiga malam.


Faris langsung menarik Aisha kembali dalam pelukannya, membiarkan Aisha menghirup lebih dalam aroma tubuhnya yang sudah sangat ia hapal.


***


Ya ampun Babang Faris bikin klepek-klepek deh ...


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2