
Karina mematut dirinya yang sudah mengenakan long dress pemberian Azka lengkap dengan hijabnya. Warna dongker yang berpadu dengan mocca sangat kontras dengan kulit cerahnya, membuat Karina semakin tampak lebih segar, apalagi dengan polesan make up yang menawan.
“Tuh orang kesambet apaan beliin gue baju? Lebaran juga belom.” Karina memang masih terbingung-bingung karena Azka tiba-tiba memberikannya satu set pakaian Muslimah.
“Oh apa lagi nyogok gue karena tadi nggak bisa jemput kali yah.” Ia hanya bisa berasumsi sesuai apa yang terlintas di kepalanya.
Tok … tok ….
“Non Karin … ada Den Azka di bawah Non ….” Terdengar suara asisten rumah tangga Karin mengetuk pintu kamranya.
“Iya Bi … bilangin bentar lagi Karin turun.”
Karina segera menyambar sling bagnya lantas sekali lagi mematutu diri di depan cermin, tak lupa beberapa semprot parfum ia seprotkan ke udara agar tak terlalu menyengat.
Karina melangkah dengan riangnya menuruni satu persatu anak tangga, namun seketika senyumnya memudar tergantikan dengan keterkejutan yang juga tak kalah membuat hatinya berdendang.
“Idih kok samaan sih bajunya? Mau kondangan?” Karina berpura-pura ketus karena pasalnya ia masih kesal dengan Azka yang tiba-tiba tidak bisa menjemputnya.
“Iya ….” Azka menjawab singkat membenarkan ucapan Karina.
“Pantesan ngasih baju, ternyata buat temen kondangan doang biar nggak keliatan banget nggak lakunya,” gerutu Karina yang masih bisa didengar oleh Azka.
“Sembarangan … banyak ya yang ngantri sama aku,” kelakar Azka dengan congkaknya.
“Masa? Kenapa nggak ngajak yang lagi pada ngantri aja sono.”
Azka memajukan langkahnya mendekati Karina, sorot matanya tak lepas dari gadis dihadapannya itu hingga membuat Karina memundurkan langkahnya juga perlahan.
“Nggak ada yang secantik Bu dokter ….” Sontak kalimat itu membuat wajah Karina semakin merona.
“Ntar malu-maluin kalo diajak kondangan, hahaha,” imbuh Azka melanjutkan kalimatnya dengan terbahak.
Plakkk … seketika rona di wajah Karina berganti dengan seringai judesnya setelah memberikan tabokan tepat di lengan Azka.
“Allohu Akbar … sakit banget.” Azka meringis menggusapi lengannya yang terasa pedas.
“Makanya nggak usah sok jadi buaya,” tukas Karina lantas berjalan mendahului Azka.
“Dih sok tau banget liat jalan duluan, hey mau kemana emangnya?” Azka sedikit berteriak sambil mengejar langkah Karina yang tergesa namun justru terlihat menggemaskan bagi Azka.
__ADS_1
***
“Aku kok jadi deg-degan gini ya? Kayak penganten baru aja nih.”
Aisha mematut dirinya di depan cermin yang terpajang luas di walk in closetnya, tak lupa beberapa kali ia semprotkan parfum aroma lily kesayangannya hingga wanginya terasa memenuhi ruangan itu.
“Kamu pasti kangen juga pengen dijengukin Papi kan Sayang?” Aisha bertanya sambil mengusapi perutnya.
Tok … tok ….
Aisha mendengar pintu walk in closetnya diketuk yang pasti itu adalah suaminya. Tiba-tiba ia merasa sangat gugup hingga bingung harus bagaimana, diambilnya sikat dan pasta giginya lantas ia berpura-pura hendak menggosok gigi.
“Masuk aja Bang.”
Setelah mendengar jawaban dari dalam, Faris langsung menggeser pintu di depannya. Seketika ia mematung di ambang pintu saat melihat penampilan istrinya yang tengah memunggunginya sambil bergosok gigi.
Jakun Faris sudah naik turun karena bersusah payah menelan salivanya saat disuguhkan pemandangan indah tepat di depan wajahnya.
Aisha kini hanya menggunakan mini dress berwarna putih dengan bahan jatuh yang cukup menerawang, kaki jenjangnya terekspos bebas hingga menunjukan setengah paha mulusnya yang berhasil membuat otak Faris pun berfantasi bebas.
Terlihat pula dari pantulan cermin ternyata mini dress yang dikenakan Aisha bagian atasnya pun memiliki belahan dada yang cukup rendah, hingga ketika Aisha membungkuk untuk berkumur Faris bisa dengan jelas melihat lekukan tubuh bagian atas milik istrinya yang membuat kepalanya semakin berdenyut tak karuan.
“Em Ica keluar abis sikat gigi.” Aisha tergugup ketika melihat Faris dari pantulan cermin yang masih mematung di ambang pintu.
Tiba-tiba Faris sudah berada dibelakangnya lantas meraih pasta gigi yang masih dipegangi Aisha, namun posisi Faris yang tepat dibelakang tubuh Aisha membuatnya seperti memeluk tubuh Aisha karena tangannya harus melingkar mengitari tubuh Aisha ketika mengambil pasta gigi.
“Hem … Abang kangen aroma ini,” ujar Faris berhenti di area ceruk leher Aisha saat ia harus sedikit membungkuk untuk mengeluarkan isi pasta giginya.
Alhasil Aisha menunggui Faris hingga ia menyelesaikan kegiatannya karena posisi dirinya yang terkunci oleh tubuh kekar Faris yang sejak tadi sudah melingkarkan tangannya di perut rata miliknya.
Setelah dirasa selesai, Aisha berbalik dan langsung bersitatap dengan mata suaminya yang sudah terlihat sayu diliputi gairah. Posisi mereka yang memang sangat dekat membuat tubuh keduanya sontak menempel sempurna karena Faris pun semakin menghimpit Aisha hingga bersandar pada wastafel di belakangnya.
Faris tersenyum sambil membelai wajah ayu Aisha yang semakin mempesona dengan pakaian yang dikenakannya saat ini.
“Istrinya Dokter Faris lagi ngerayu nih ceritanya?” Faris berbisik sambil menggigit kecil telinga yang sudah terlihat memerah itu.
Tanpa menjawab, Aisha langsung mendekap erat tubuh kekar di hadapannya itu, kepalanya ia rebahkan di dada yang selalu menjadi sandarannya.
“Ica kangen sama Abang ….” Aisha berucap sangat lembut dan semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
“Maaf ya Abang tinggal kerja terus.” Faris berujar lirih dan langsung menyambar dengan rakus bibir mungil yang sudah terlihat begitu menggoda sejak tadi tanpa memberi kesempatan untuk Aisha menjawab.
Rasa rindu yang sama-sama membuncah membuat keduanya saling membalas aksi satu sama lain, hingga kini tangan Faris sudah bergerilya dibalik mini dress yang dikenakan Aisha. Begitupun dengan Aisha yang sudah mengalungkan lengannya mengitari leher Faris untuk menopang tubuhnya yang serasa sudah melayang di atas awan.
Tiba-tiba Aisha membimbing tangan Faris ke bagian perutnya, dilepaskan pula tautannya yang membuat Faris sontak mengerutkan keningnya.
Aisha tersenyum sambil memegangi tangan Faris yang tengah memegangi perutnya.
“Bang ….”
“Om Faris … Tante cantik ….”
Seketika Aisha dan Faris dibuat panik oleh teriakan Tasya yang sepertinya sudah berada di luar kamar mereka, Faris pun segera mengajak Aisha keluar untuk memastikan.
“Tasya kok belum bobo sih Sayang?” Faris berjongkok ketika mendapati Tasya yang sudah terisak di depan kamarnya.
“Tasya takut bobo sendirian Om, kalo di rumah Mama selalu nemenin Tasya bobo.”
Faris mendongak menatap Aisha lalu kembali menatap Tasya bergantian.
“Ya udah kalo gitu Om temenin Tasya bobo yah, yuk kita ke kamar.” Faris berujar dengan lembut dan langsung mendapati sorak gembira dari Tasya.
“Sayang, Abang temenin Tasya dulu ya, nanti Abang balik lagi kalo dia udah tidur.” Faris berpamitan pada istrinya lantas mengecup kening itu sekilas sebelum menyusul Tasya ke kamarnya.
Sedangkan Aisha hanya bisa mematung melihat suaminya yang semakin menjauh tanpa tahu harus berbuat atau pun menjawab apa.
Tanpa sepengetahuan Faris, Aisha melangkah ke kamar tamu yang kini ditempati olehTasya.
Aisha tersenyum getir sambil mengusapi perutnya saat melihat dari pintu yang sedikit terbuka betapa telatennya suaminya yang terus membacakan buku cerita untuk gadis kecil itu hingga Tasya terlelap dengan tenangnya.
Faris tersenyum kemudian mengusap puncak kepala Tasya dan mengecupnya dengan sayang. Air mata Aisha tiba-tiba jatuh dari kedua sudut matanya saat menyaksikan hal itu, di dalam hatinya Aisha berdoa semoga anak dalam kandungannya tak berkecil hati saat melihat ayahnya yang nampak sangat menyayangi Tasya layaknya putrinya sendiri.
Ketika Faris hendak bangkit, dengan segera Aisha pun melangkah kembali ke kamarnya dan menutup dirinya dengan selimut dengan berpura-pura sudah memejamkan matanya, ia berbaring menyamping karena sengaja untuk menutupi air matanya.
“Selamat tidur bidadarinya Abang.” Faris berucap lirih sambil mengecup kening Aisha saat tahu istrinya itu sudah terlelap, lantas ia pun turut bergabung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...