Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Teman seperjalanan


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)


___________


“Alhamdulillah, nyampe juga,” gumam Roger saat kakinya melangkah memasuki apartemen. Tiga hari ini ia memang ditugaskan oleh tuannya untuk mengatasi proyek di Ankara yang belum bisa Faris periksa secara langsung. Itu karena tuannya itu begitu menyayangi istri dan calon anak mereka. Alhasil Rogerlah yang mau tak mau harus mengatasi semuanya. Memang begitulah tugasnya, harus siap sedia kapanpun kala sang tuan membutuhkannya.


Drrttt … drrttt … baru saja Roger mendaratkan tubuhnya di atas sofa apartemen ketika tiba-tiba ponsel di saku jasnya bergetar. Jemarinya yang tengah mencoba membuka jas dan mengendurkan ikatan dasinya bahkan ia urungkan.


[Ya, Tuan. Saya sudah kembali ke apartemen, lima menit yang lalu kira-kira.] Roger kembali menegakkan tubuhnya saat mendengar sapaan dari sebrang telepon.


[Pasti kamu capek banget, tapi kali ini saya bener-bener butuh bantuan kamu, Ger.]


[Saya tidak apa-apa. Tuan katakan saja apa yang harus saya lakukan.]


[Kamu inget Mbak Sabina? Putri sulung Bukde saya, kakaknya Hasan.]


[Saya mengingatnya, Tuan. Ada apa dengan beliau?]


[Sekarang Mbak Sabina ada di Istanbul, dia baru aja landing di airport. Kamu bisa tolong jemput dia? Saya masih belum bisa ninggalin istri saya sendiri soalnya, saya ajak pun rasanya nggak mungkin. Kondisinya belum terlalu stabil.]


[Tuan tidak perlu khawatir. Sekarang juga saya berangkat ke airport.]


[Makasih ya, Ger. Maaf banget saya harus ganggu waktu istirahat kamu]


[Tuan tidak perlu sungkan kepada saya. Apapun yang Tuan dan Nyonya butuhkan, pasti akan saya usahakan semampu saya. kalo begitu saya berangkat saya ya, Tuan.]


[Ok, hati-hati, Ger.]


“Gimana, Bang? Roger udah balik ke Istanbul?” tanya Aisha saat melihat suaminya yang tampak sudah menyelesaikan perbincangannya.


“Alhamdulillah udah, Sayang. Baru aja katanya,” sahut Faris kembali mengeratkan dekapannya. Sejak perpisahan mereka waktu itu, rasanya Faris ingin selalu menempel kepada istrinya. Ia benar-benar tak ingin berjauhan barang sedetikpun.


“Bentar, Bang. Ica pengen lepas mukena dulu, gerah ini,” tukasnya mencoba melepaskan diri dari dekapan sang suami yang terasa semakin mengerat.


“Masa gerah sih, Sayang? Musim gugur loh ini, AC juga dari tadi nyala kok,” protes Faris yang tampak tak rela melepaskan dekapannya.

__ADS_1


“Orang hamil kan emang gitu, Bang. Dulu di kehamilan pertama juga Ica ngerasain kayak gitu.”


Dekapan Faris seketika merosot mendengar kalimat istrinya. Sadar akan ucapannya juga perubahan sang suami, sontak Aisha kembali mendudukkan dirinya.


“Maaf, Bang … sumpah Ica nggak ada maksud buat nyinggung Abang.”


“It’s okay, Sayang. Emang salah Abang yang waktu itu nggak bisa ngeluangin waktu buat Ica dan mendiang anak kita.”


Aisha mengulas senyumnya seraya meraih jemari kekar sang suami, mengecupnya lembut lantas ia genggam dengan hangat. “Bang, jangan diinget-inget lagi ya yang udah terjadi. Anak kita pergi bukan salah siapa-siapa kok. Bukannya Abang yang selalu ngingetin Ica kalo apa-apa yang terjadi dalam hidup kita ini tentunya atas berkat campur tangan Allah? Ica udah belajar untuk ikhlas, Abang juga ya. Kita mulai lembaran baru, sekarang udah ada ade si sulung di sini.” Wanita itu membawa jemari dalam genggamannya untuk turut merasakan kehadiran jabang bayi mereka yang sudah bersemayam di rahimnya.


Mendengar kalimat istrinya itu membuat Faris semakin merasa tak ada apa-apanya dibanding dengan Aisha yang sabarnya tiada tara. Betapa berkali-kali Faris dibuat selalu merasa beruntung karena Tuhan hadiahkan sosok yang nyaris sempurna untuk menemani langkahnya.


Faris menatap wanita tercintanya dengan tatapan cinta yang kian lama kian bertambah tanpa sedikitpun berkurang. “Makasih ya Ca, udah pilih Abang jadi temen seperjalanan. Abang nggak tau lagi harus ngomong apa buat ngungkapin rasa bahagia Abang karena ditemukan dan disatukan sama Ica. Seseorang yang selama ini Abang minta dan sebutin dalam doa, dan setiap rincinya ada dalam diri Ica sepenuhnya.”


Pelupuk mata Aisha menggenang dengan bibir yang semakin indah mengukir senyuman. “Semoga kita saling membersamai hingga akhir dan kembali disatukan oleh-Nya di kehidupan selanjutnya ya, Bang,” ucapnya bersamaan dengan bulir yang menetes dari ujung netranya.


“Aamiin, Sayang.”


“I love you,” tukas Aisha kembali menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


“I love you more, Sayang,” sahut Faris mengecupi puncak kepala dalam dekapannya.


“Oh iya, Bang. Ning Sabina sama Gus Fakih kan mau ke sini, kita belum siapin kamar buat mereka loh.”


“Loh kok gitu sih, Bang? Kita beresin bareng-bareng lah.”


“No! Di sana pasti banyak debu, Abang nggak mau Ica kenapa-kenapa. Udah cukup, Sayang … Abang nggak tega liat Ica muntah-muntah terus.”


“Abang … Ica itu cuma lagi hamil, bukan sakit. Lagian sejak kapan debu bisa bikin orang mual.”


“Ya … pokoknya nggak boleh, titik!”


“Dih malu tuh sama jas dokter, sejak kapan debu jadi pemicu orang mual,” ledek Aisha yang justru mendahului suaminya menuju ke kamar sebelah.


Dengan telaten Aisha membenahi setiap benda yang ada di ruangan persegi yang sejak kedatangannya belum sempat ia kunjungi. Meski sudah berulang kali suaminya ingatkan, namun tak menghalagi Aisha yang justru  begitu antusias mempersiapkan segala yang mungkin akan diperlukan oleh Ning dan Gus kecilnya yang sudah lama tak ia jumpai.


Selagi sang istri yang tengah membenahi seprai dan bed covernya, Faris sendiri berkutat dengan alat penyedot debu di tangannya dengan sesekali melirik ke arah sang istri karena khawatir bidadarinya itu kelelahan.


“Oh iya, Ica kan nggak masak apa-apa, Bang. Ning Sabina sama Gus Fakih pasti kan capek abis perjalanan jauh, masa kita nggak kasih makan sih.” Aisha mendekati suaminya yang baru saja menyelesaikan kegiatannya.

__ADS_1


“Oh iya, ya udah Abang delivery dulu kalo gitu,” sahut Faris membawa sang istri duduk di pangkuannya seraya mengeluarkan ponsel untuk berdiskusi kiranya apa saja yang harus mereka pesan.


Tepat ketika sepasang suami istri itu henak beranjak dan kembali menunggu Ning Sabina di kamarnya, terdengar seseorang membunyikan bel apartemen mereka.


Dan benar saja, begitu Faris memutar knop pintu apartemennya, tampaklah kakak sepupu beserta keponakan kecilnya itu sudah berdiri berdampingan dengan Roger yang membantu membawakan koper mereka.


“Assalamualaikum,” ucap Ning Sabina saat sepasang suami istri itu berdiri berdampingan di ambang pintu menyambut kedatangannya.


“Mba Ica …,” teriak Gus Fakih yang segera menubruk tubuh Aisha yang berdiri di samping suaminya. Gus kecil itu langsung menghambur memeluk Aisha dengan begitu erat. Bahkan ketika Faris dan Aisha belum sempat menjawab salam dari Ning Sabina.


“MasyaAllah Nak, jangan kenceng-kenceng seperti itu meluknya. Kasian dede bayi di dalem perut Mba Ica itu, Nak,” cegah Ning Sabina mencoba menahan lengan Gus Fakih ketika putranya yang hanya setinggi pinggang orang dewasa itu memeluk Aisha tepat di bagian perutnya.


Faris dan Aisha sendiri justru mengulas senyumnya menyaksikan tingkah menggemaskan dari keponakannya.


Mendengar itu sontak Gus Fakih melepas rangkulannya, “Jadi di dalem perut Mba Ica sudah


ada dede bayi, Umi?” tanyanya mendongak meminta jawaban dari apa yang ibunya katakan.


Faris justru langsung meraih keponakan kecilnya itu dan menggendongnya, “Fakih bener, sekarang di dalem perut Mba Ica udah ada dede bayinya,” ucapnya menjawil gemas pipi gembul keponakannya yang semakin bertambah beratnya.


“Hore … berarti Fakih mau punya ade dong.” Gus kecil itu tampaknya begitu gembira menunggu kelahiran calon penerus Abdullah Company yang menurutnya akan menjadi teman bermainnya kelak.


“Ayo kita masuk dulu, Ning, kalian pasti cape abis perjalanan jauh,” ajak Aisha setelah lebih dulu mengikuti suaminya menyalami putri dari gurunya yang kini sudah menjadi sepupu iparnya.


“Iya makasih loh Sha,” sahut Ning Sabina yang kemudian mengikuti langkah Faris yang sudah lebih dulu masuk dengan putranya.


“Kalau begitu saya pamit kembali ke apartemen ya, Nyonya,” tukas Roger berpamitan kepada Aisha setelah menyimpan barang-barang milik majikannya.


“Ah iya, Ger. Makasih ya,” sahut Aisha ramah seperti biasanya.


“Ini sudah ketemu Mba Icanya lah kok malah dianggurin to, Nak. Tadi di pesawat Mba Ica terus yang ditanyain loh kamu,” tukas Ning Sabina saat putranya justru asyik bermain dengan adik sepupunya. Sedangkan ia kini tengah menikmati secangkir teh chamomile yang Aisha buatkan untuknya.


“Kata Om Faris anak cowok jangan terlalu sering main dengan perempuan. Apalagi sekarang Mba Ica sudah menikah sama Om Faris, jadi cuma Om Faris laki-laki yang boleh main sama Mba Ica.” Dengan polosnya Gus kecil itu justru menirukan kalimat yang Faris ucapkan.


Sontak Ning Sabina dan Aisha yang mendengarnya justru terbelalak tak percaya.


“Wah parah kamu Ris cemburunya ya,” tukas Ning Sabina menggelengkan kepalanya.


Sedangkan tersangka justru hanya menggaruk tengkuknya, “Becanda doang, Mba,” sahut Faris dari tempatnya dengan menampilkan deretan gigi rapinya.

__ADS_1


_____________


Bersambung ...


__ADS_2