Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Rindu berujung temu


__ADS_3

“Sha, Mba temenin Fakih tidur ya ke kamar. Kamu juga jangan kemaleman, ibu hamil harus banyak istirahat loh.” Ning Sabina yang sejak tadi menonton televisi bersama Aisha dan putranya berpamitan untuk beranjak lebih dulu ke kamarnya menemani sang putra. Aisha hanya mengangguk dengan seulas senyumnya, tampaknya wanita hamil itu masih enggan untuk beranjak dari tempatnya.


Semakin lama merasa bosan dengan tayangan televisi yang ada, Aisha pun turut beranjak ke kamarnya. Bukan menuju pembaringan, wanita itu justru melangkah ke arah balkon. Angin sejuk segera menyapanya begitu pintu bergeser, menerbangkan surai panjangnya yang sengaja ia urai.


Ini hari kelima sang suami tak bersamanya, Aisha menunduk mengelusi perutnya yang semakin terasa berisi, belum genap satu minggu tapi rasanya lama sekali. Wajahnya mendongak, mengamati kerlipan bintang yang hanya ada beberapa namun tetap tampak sangat indah di matanya. Aisha memang selalu menyukai apapun tentang langit, tentang senja yang sinarnya begitu mempesona, tentang kerlipan bintang yang seolah menemani malamnya, juga tentang rembulan yang agaknya malam ini tak menampakkan keberadaannya.


“Abang lagi ngapain yah? Apa semuanya baik-baik aja?” Wanita itu bergumam sambil memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam. Pasalnya hari ini Faris belum sempat menghubunginya sama sekali,  biasanya dalam sehari pria itu akan selalu rutin menanyakan keadaan sang istri dan calon buah hatinya.


Kedua tangan Aisha tampak beberapa kali mengusapi lengannya yang terbuka, semakin lama angin sejuk itu terasa semakin menusuk permukaan kulitnya yang hanya mengenakan gaun tidur dengan lengan terbuka.


“Kalo dingin masuk, Sayang. Kasian anak Abang kedinginan.”


Seketika tubuh Aisha menegang mendengar suara bariton itu, ia kembali menajamkan pendengarannya sambil berkali-kali menggelengkan kepala tak percaya.


“Nggak! Ini nggak bener. Apa aku sekangen itu sama Abang sampe-sampe halusinasi denger suara Abang?” Wanita itu lantas menunduk dengan lagi-lagi mengusapi perutnya, “Sayang jangan gini dong, Mami tau kamu kangen sama Papi, tapi nggak boleh rewel yah, Papi kan lagi kerja Sayang. Atau kita telpon Papi yah? Mami juga kangen banget,” gumamnya merasa begitu merindukan suaminya, hormon kehamilan sepertinya turut andil memupuk rindu ini.


Aisha lantas berbalik, berniat kembali masuk ke kamarnya untuk menghubungi suaminya. Namun belum sempat melangkah netra Aisha seketika membulat, tenggorokannya seakan tercekat untuk sekedar berucap. Sosok yang tengah dirindukannya kini justru tengah berdiri dengan bersandar di ambang pintu balkon, wajah tampannya mengulas senyum yang selalu terlihat indah di mata Aisha.


Netra Aisha berulang kali mengerjap, merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya, “Apa aku udah gila gara-gara ditinggal Abang?”


Wanita itu segera memejamkan netranya berusaha menghilangkan halusinasi yang teramat menyiksa menurutnya. Hingga sebuah lengan kekar tiba-tiba menarik pinggangnya, Aisha bahkan bisa merasakan hembusan hangat di ceruk lehernya.


“Ica nggak lagi halu Sayang, Abang emang pulang.” Suara bariton itu kembali berucap.


Sontak saja Aisha memberanikan diri membuka matanya, dan benar saja suami tampannya kini tengah memeluknya erat, dan semuanya terasa begitu nyata.


Menyadari tak mendapat respon apapun dari istrinya, perlahan Faris melepas pelukannya dan yang ia dapati adalah wajah menggemaskan Aisha yang tampak masih tak percaya dengan semuanya.


Cup. Aisha merasakan bibirnya terasa kaku saat ada benda lain yang menempel di sana, yang tak lain adalah bibir suaminya.


“Ini Abang, Sayang. Abang pulang,” ujar Faris meraih wajah ayu istrinya.

__ADS_1


Perlahan jemari lentik Aisha pun terangkat menyentuh rahang tegas milik suaminya, dan kali ini benar-benar terasa nyata, “Abang beneran pulang?” tanyanya polos yang segera mendapati anggukan dari Faris.


“Abang kangen banget sama Ica, sama baby juga,” ucapnya kembali meraih tubuh istrinya, menikmati aroma lily yang beberapa hari ini tak dirasakannya.


Tangan Aisha pun terangkat membalas dekapan suaminya tak kalah erat, “Abang kok pulang nggak bilang-bilang Ica? Sejak kapan ada di sini?”


“Sejak Ica ngomelin anak Abang yang rewel karena kangen Papinya,” sahut Faris terkekeh.


Mendengar itu sontak membuat Aisha menyembunyikan wajahnya di dada bidang yang amat dirindukannya. “Kenapa hm?” tanya Faris melihat istrinya justru menyembunyikan wajahnya di dada miliknya.


“Malu,” sahut Aisha membuat Faris tergelak dengan tingkah menggemaskannya.


“Istri siapa sih ini gemes banget.”


Kedua manusia yang tengah sama-sama dilanda rindu itu tampak melangkah kembali ke kamar mereka tanpa melepaskan sedikitpun rengkuhan keduanya. Tampak sekali binar kebahagiaan menyelimuti keduanya hingga tampak seperti sepasang kekasih yang tengah kasmaran.


“Sayang, kayaknya anak kita pengen dijenguk Papinya deh,” tutur Faris membuat wajah Aisha yang berada di bawahnya seketika bersemu merah hanya dengan kalimat yang dilontarkan suaminya.


Aisha membelai rahang suaminya dengan lembut, sangat lembut hingga Faris memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan itu.


“Tapi pelan-pelan ya Sayang, anak kita masih terlalu kecil,” ujar Aisha lembut yang langsung mendapat anggukan semangat dari suaminya.


Ah sungguh Faris tidak ingin malam ini segera berakhir, tak ada bosan-bosannya ia menatap wajah ayu yang kini berada di bawah kungkungannya dengan senyum yang terpatri indah membuat Faris selalu merasa jatuh cinta berulang kali dengan sosoknya.


***


Pagi harinya Faris membiarkan Aisha kembali terlelap usai melaksanakan solatnya, senyumnya mengembang kala menatap istrinya yang tampak kelelahan karena ibadah mereka semalam.


“Kesayangan Papi sehat-sehat ya kalian.” Faris mengecupi wajah istrinya yang terpejam lantas beralih pada perutnya yang menyimpan calon putranya. Ia lantas beranjak berniat menyapa kakak sepupunya yang tampaknya sudah berkutat di dapur, terdengar dari bunyi-bunyi peralatan dapur yang saling beradu.


“Hai Kak,” sapa Faris melangkah melewati Ning Sabina menuju ke arah lemari pendingin untuk mengambil air minum.

__ADS_1


“Astagfirullah!” Ning Sabina yang tengah mengiris bawang sontak berjingkat kaget saat mendengar suara bariton yang menyapanya dan langsung melemparkan bawang bombay di tangannya ke arah sumber suara.


“Aw sakit dong Mba!” Faris mengusapi punggungnya yang terkena serangan kakak sepupunya yang bar-bar itu.


“Ya Allah Mba kira siapa. Lagian pagi-pagi ngagetin orang aja!” sungut Ning Sabina yang masih mengusapi dadanya.


“Lah kapan pulang kamu? Kok Mba nggak tau.”


“Semalem, Mba udah masuk kamar.”


“Aisha tau kamu pulang?”


“Jelas tau lah,” sahut Faris sambil menyugar rambutnya yang masih setengah basah.


Ning Sabina yang menyadari itu sontak menggeplak lengan adik sepupunya dengan spatula yang


dalam genggamannya, “Heh anak kalian masih terlalu kecil, jangan macem-macem kamu yah!” ancam Ning Sabina membuat Faris justru terkekeh mengingat kegiatannya semalam.


“Nggak macem-macem kok Mba, cuma satu macem,” seloroh Faris membuat kakak sepupunya kembali melotot tajam.


“Dasar bocah tengik!” Pantas saja sejak tadi Ning Sabina tak melihat sosok Aisha keluar dari kamarnya, sepertinya kedua adiknya itu benar-benar melakukan yang macam-macam hingga Aisha bahkan kelelahan.


“Udah ah Faris mau kangen-kangenan lagi sama Aisha, bye Mbaku yang paling cantik.” Faris segera berlari ke arah kamarnya sebelum mendapat kembali amukan dari kakak sepersusuannya itu.


“Faris! Durhaka kamu ya sama Mba-mu ini!” teriak Ning Sabina yang masih bisa didengar oleh Faris dari balik pintu kamarnya.


Kakak beradik itu memang selalu saja ada tingkahnya untuk menjahili satu sama lain, padahal dengan Gus Hasan adik kandungnya sendiri Ning Sabina tak pernah seasyik itu. Ah adiknya yang satu itu memang terlampau dingin untuk sekedar bersikap jahil seperti Faris yang pecicilan.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2