
Aisha melangkah keluar dari Blue Mosque dengan wajahnya yang tampak lebih sembab dari sebelumnya.
“Are you okay?” Tiba-tiba Rey duduk di samping Aisha yang baru saja selesai menalikan tali sepatunya.
Segera saja Aisha hapus sisa-sisa air mata yang tampak masih sedikit membekas di pipinya sebelum ia menoleh menanggapi Rey.
“Rey? Kirain udah kemana.” Aisha sedikit terkejut ketika ternyata pria berwajah latin itu masih ada di sana.
“Waiting for you,” seloroh Rey dengan seulas senyumnya.
“Ah padahal nggak usah … aku juga mau langsung balik ke apartemen kok.” Jujur Aisha merasa tidak enak jika pria di sampingnya itu masih berseliweran di sekitarnya, ia hanya tidak ingin menambah situasi menjadi semakin rumit.
“It’s okay, aku anter kamu ke apartemen.” Lagi-lagi pria itu menunjukkan rasa pedulinya terhadap Aisha yang notabene baru dikenalnya.
“Nggak usah, aku bisa sendiri kok. Lagian ini bukan pertama kalinya aku di Istanbul, jadi aku udah hapal situasi di sini,” tutur Aisha lagi-lagi menolak kebaikan Rey.
“Bukankah seorang muslimah tidak dianjurkan untuk pergi sendirian tanpa mahram yang mendampinginya?”
Pertanyaan Rey sontak membuat Aisha tertegun, pasalnya Rey adalah seorang agnostik.
“Tapi kan kamu juga bukan mahramku.”
“Setidaknya aku bisa memastikan kamu aman sampai tujuan. Ok aku bakal jaga jarak,” ujar Rey tiba-tiba bangkit dan memundurkan beberapa langkahnya menjauhi Aisha.
“Gimana?” tanya Rey saat tak mendapati jawaban apapun dari Aisha.
“Hufftt … okay, aku terima kebaikan kamu.” Aisha pun turut bangkit lantas mendahului langkahnya dari Rey.
Setelah melakukan beberapa prosedur untuk menaiki trem, Rey dan Aisha kini berdiri bersisian di dalam trem karena kondisi trem yang selalu penuh dan tidak memberikan mereka kesempatan untuk duduk.
Drrtt … ponsel dalam slingbag Aisha terasa bergetar. Segera diraihnya ponsel itu khawatir jika itu pesan dari sang ibu.
Setelah melihat layar ponselnya, ternyata sebuah notifikasi direct message Instagram menyembul di sana. Aisha sedikit mengernyit ketika nama pemilik akun itu bernama Faisal.
‘Apa Faisal yang waktu itu kena tembak?’
Rasa khawatir seketika menyelimuti dirinya, apa kekhawatiran sang ibu benar-benar terjadi saat ini?.
“Something wrong?” Rey yang berdiri di sampingnya bahkan sampai bertanya karena melihat ekspresi wajah Aisha yang tiba-tiba berubah. Segera saja Aisha menggeleng dan mengatur deru napasnya.
Kata demi kata pesan dari Faisal, Aisha baca lamat-lamat. Seketika ia bernapas lega karena Faisal tak menunjukkan sedikitpun rasa marahnya untuk menuntut Aisha yang telah lancang menangani lukanya kala itu.
‘Waalaikumsalam … tidak apa-apa Tuan, saya hanya melakukan tugas saya sebagai seorang tenaga medis. Lagi pula sudah kewajiban saya untuk menolong sesama. Sungguh saya hanya berniat menolong Tuan tanpa maksud apapun, sepertinya sedikit berlebihan jika sampai keluarga Tuan pun ingin bertemu dengan saya.’
__ADS_1
Send … delivered, dan langsung dibaca oleh Faisal di sebrang sana yang masih terbaring di atas blankar Rumah Sakit.
Drrtt …
Hanya beberapa saat ponselnya kembali bergetar, menampilkan pesan dari Faisal yang tetap ingin menemui Aisha. Ia bahkan meminta alamat tempat tinggal Aisha di Istanbul agar orang suruhannya bisa menjemput Aisha karena kondisinya yang belum cukup pulih untuk menemui Aisha.
Untuk menghormati niat Faisal, akhirnya Aisha memberitahukan alamat tempat tinggalnya saat ini. Sepertinya Aisha lupa jika percakapannya dengan Faisal saat ini juga masuk ke ponsel seseorang.
***
“Terima kasih atas semua kebaikanmu Rey,” ujar Aisha sesaat setelah mereka sampai di lobi apartemen yang kini ditinggali oleh Aisha. Ia sengaja tidak menghentikan langkah mereka di lobi agar Rey tak perlu mengetahui di mana tepatnya ruangan yang ia tempati.
“Sama-sama cantik, nggak usah sungkan meminta bantuanku kalo kamu perlu.” Rey berujar seraya memberikan kartu namanya agar Aisha bisa menyimpan kontaknya.
Aisha hanya mengangguk dan memberikan seulas senyumnya hingga Rey berbalik dan meninggalkannya.
Ketika baru saja Aisha hendak menekan tombol lift yang membawa dirinya ke ruangannya, tiba-tiba seorang petugas keamanan apartemen menghentikan langkahnya, memberitahukan jika sudah ada seseorang yang menunggunya.
“Siapa Tuan?”
“Katanya utusan dari Tuan Faisal, Nona,” ujar petugas itu dengan ramah.
Aisha hanya mengangguk lantas menghampiri pria yang ditunjukkan oleh petugas kemanan yang tengah berdiri di samping mobilnya.
“Anda Nona Aisha?” tanya pria itu dengan logat Turkinya yang kental.
“Tuan Faisal meminta saya untuk menjemput anda ke Rumah Sakit, Nona,” ujar pria itu sopan.
“Baiklah, beliau juga sudah memberitahu saya.”
Pria itu hanya mengangguk lantas membukakan pintu mobil untuk Aisha, ia sendiri segera berlari mengitari mobil lantas duduk di balik kemudi.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan apapun yang keluar dari mulut Aisha baik pengawal yang dikirimkan Faisal. Hingga tak terasa kini mobil yang ditunggangi mereka sudah memasuki pelataran Rumah Sakit yang sama seperti awal Aisha mengantar Faisal dan Ayla kala itu.
Aisha mengikuti langkah pria di depannya tanpa banyak bertanya, setelah menaiki lift dan melewati beberapa lorong, kini mereka tiba di depan sebuah ruangan VIP yang tampak tersembunyi dan jauh dari ruangan lainnya. Hal itu sontak membuat kepala Aisha berpikir jika Faisal memanglah bukan orang sembarangan.
Langkah Aisha sedikit gentar saat pria yang membawanya kini membuka pintu ruangan di hadapannya. Tampaklah seorang gadis yang Aisha ketahui sebagai adik dari Faisal, lantas pria dan wanita yang sudah sedikit berumur yang mungkin adalah orang tua dari Faisal, juga Faisal yang tampak sudah tersenyum kepadanya dengan posisinya yang masih terbaring di atas ranjang.
Aisha mengulas senyumnya kepada mereka yang berada di ruangan itu. Seketika wanita yang diyakini sebagai ibu dari Faisal langsung melangkah ke arah Aisha dan memeluknya dengan begitu erat.
“Terima kasih ya Nak kamu sudah menyelamatkan putra saya,” ujar Ajeng yang belum melepaskan dekapannya.
Aisha turut membalas dekapan itu dengan lembut, “Saya hanya melakukan kewajiban saya untuk menolong sesama, Nyonya,” tuturnya dengan lembut.
__ADS_1
Kini Ajeng membawa Aisha untuk duduk di sofa yang kini sudah ada Ayla di sana.
“Suamimu tidak turut datang Nak?” tanya Abbas yang kini turut bergabung dan duduk di samping istrinya.
“Suami saya masih di Indonesia Tuan, ada pekerjaan yang memang tidak bisa dtinggalkan,” ujar Aisha dengan canggung, seolah rumah tangga mereka kini baik-baik saja.
“Apa suamimu juga seorang dokter sepertimu?” tanya Ajeng yang penasaran terhadap kehidupan wanita muda di sampingnya kini.
“Benar Nyonya, hanya saja beliau seorang dokter ahli bedah sehingga membuatnya cukup sibuk, tidak seperti saya.”
“Wah … kalian memang pasangan yang sama-sama hebat yah.”
“Suaminya Aisha ini selain dokter, dia juga mimpin perusahaan loh Mi. Isal nggak bisa bayangin gimana ruwetnya itu kepala suami kamu Sha ngurusin sana-sini,” celetuk Faisal membuat Ajeng dan Abbas semakin menganga kagum, tapi tidak dengan Ayla yang sejak tadi hanya berdiam diri tanpa ekspresi.
Sedangkan Aisha hanya bisa tersenyum dengan kekaguman yang ditunjukkan oleh orang-orang di sana, tanpa mereka tahu jika kini rumah tangga yang dipuji-puji mereka nasibnya justru tengah di ujung tanduk.
“Sekarang Baba baru liat Mi kalo wanita yang baik untuk lelaki yang baik pula benar-benar nyata adanya setelah mendengar pasangan Aisha dengan suaminya,” ujar Abbas benar-benar tak bisa lagi menyembunyikan rasa kagumnya.
“Anda berlebihan Tuan, kami tidak sesempurna yang anda pikirkan,” tutur Aisha menanggapi kekaguman mereka.
“Tuh Sayang, kamu kalo bisa kayak Aisha ini, cari suami yang benar-benar bisa diandalkan,” seloroh Ajeng pada Ayla yang kini justru sibuk dengan ponselnya, sedangkan tersangka hanya mengangguk dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
Perbincangan terus saja berlanjut di ruangan itu, hingga tiba-tiba ponsel Aisha bergetar dalam slingbagnya.
“Permisi, saya angkat telepon dulu,” ujar Aisha dengan sopan seraya bangkit dari duduknya.
“Silahkan, nggak usah sungkan Nak.” Abbas berujar mempersilahkan.
Tak selang berapa lama, Aisha kembali usai menerima teleponnya yang ternyata dari sang ibu.
“Mohon maaf Tuan, Nyonya, bukan saya tidak menghormati undangan kalian, tapi sepertinya saya sudah pergi terlalu lama. Ibu saya sendirian di apartemen, sepertinya saya harus segera kembali.” Aisha mengutarakan tujuannya dengan ramah.
“Sayang sekali ya … padahal kita masih pengen ngobrol-ngobrol loh sama kamu. Lain kali kita berbincang lagi ya Aisha,” tutur Ajeng menyayangkan Aisha yang harus segera kembali.
“InsyaAllah biidznillah, Nyonya.”
“Bentar, aku panggilin dulu pengawal buat anterin kamu ya,” ujar Faisal yang langsung meraih ponselnya.
Aisha hanya mengangguk dan kembali berbincang dengan Tuan dan Nyonya Abbas sebelum orang suruhan Faisal datang untuk mengantarnya.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...