Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Benarkah ?


__ADS_3

Faisal perlahan mengerjapkan netranya saat sayup-sayup mendengar seseorang berbincang. Langit-langit berwarna putih menjadi pemandangan pertamanya saat netra itu terbuka sempurna.


“Jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan putra kami, Dok? Apa mungkin itu pengaruh dari luka tembak di lengannya?” tanya Abbas dan Ajeng dengan panik saat menemukan Faisal sudah tak sadarkan diri di atas blankarnya.


“Tidak sama sekali, Tuan. Gejala ini sama sekali tidak berhubungan dengan luka tembak baru-baru ini. Untuk diagnosa awal dari hasil CT scan, ini semacam luka bekas benturan lama yang belum tuntas, lantas kembali aktif ketika ia memaksakan daya ingatnya. Apa putra anda pernah mengalami cedera di kepala sebelumnya?”


“Apa mungkin ini berkaitan dengan kejadian waktu itu Ba?” Ajeng sedikit berbisik pada suaminya.


“Ah iya Dok, putra kami pernah mengalami kecelakaan hebat saat dia berusia sekitar delapan tahunan dulu,” ujar Abbas yang sepemikiran dengan istrinya.


“Nah mungkin itu penyebabnya Tuan, dia kehilangan sebagian memorinya. Rekam adegan atau hal-hal yang berhubungan dengan masa lalunya bisa membuat otaknya secara tidak sadar berpikir keras, lalu menimbulkan nyeri yang luar biasa,” jelas sang dokter dengan logat Turkinya yang kental.


“Apa itu beresiko fatal untuk kesehatan putra kami Dokter?” tanya Ajeng yang benar-benar khawatir, namun bukan hanya khawatir akan kesehatan Faisal, melainkan juga khawatir jika Faisal ternyata berhasil mengingat keluarganya di masa lalu.


“Tentu saja Nyonya, akan lebih baik untuk saat ini jangan dulu kalian menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan kejadian masa lalunya,” jelas sang dokter memberi saran kepada sepasang suami istri itu.


“Ba … Mi ….” Faisal berucap dengan lirih ketika melihat seseorang yang ternyata tengah berbincang dengan pria berjas putih adalah ayah dan ibunya.


“Nak … kamu udah sadar Sayang?” Ajeng langsung menubruk tubuh putranya begitu tersadar jika ia sudah siuman.


“Apa yang sakit Sal?” tanya Abbas yang kini juga menghampiri Faisal yang masih tergeletak di atas pembaringan.


Namun Faisal hanya terdiam tanpa menanggapi satu pun pertanyaan dari ayah dan ibunya. Kepalanya saat ini dipenuhi tentang bayangan-bayangan yang seketika seperti memaksanya untuk mengingat. Dan setelah merasakan denyut hebat yang sempat membuatnya tak sadarkan diri, kini sepertinya ia sudah mengingat dengan jelas semuanya, bayang-bayangan yang selama ini mengganggu hidupnya.


Abbas dan Ajeng kini saling melempar pandangan, mereka benar-benar takut apa yang mereka khawatirkan akan benar terjadi.


“Isal kenapa Ba? Kok tadi kepala Isal sakit banget?” tanya pria itu seakan tak terjadi apapun.


“Ah enggak Sayang, kata Dokter mungkin efek dari kejadian kemarin yang buat kamu trauma sampe kepikiran,” tukas Ajeng disertai senyum yang menutupi kekhawatirannya.


“Benar kata Mamimu, kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu ya. Biar kasus ini Baba sama orang-orang Baba yang urus. Baba janji pasti akan mengusut tuntas siapa pelakunya.”

__ADS_1


Faisal hanya mengangguk lemah tanpa berniat menanggapi ujaran ayah dan ibunya.


***


“Tuan memanggil saya?” tanya Roger yang baru saja memasuki kamar Faris.


“Ah tolong kamu ubah jadwal terbang saya ke penerbangan pertama ya Ger.” Faris berujar dengan netranya yang tetap fokus pada barang-barang yang tengah ia kemas untuk dibawa.


“Baik Tuan.” Roger mengangguk paham lantas kembali undur diri dari kamar Tuannya itu.


Flashback on


Faris kembali terjaga saat indra pendengarnya menangkap kumandang adzan yang berasal dari masjid kompleknya.


Dibawanya langkah kaki itu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum akhirnya melangkah menuju masjid asal suara adzan yang didengarnya tadi.


Seperti hari-hari biasanya, Faris pasti akan menyempatkan diri untuk bercengkerama lebih dulu dengan para jamaah lain di kompleknya setelah mereka menyelesaikan solat berjamaah. Bagi Faris sesibuk apapun dirinya, yang namanya silaturahmi tetap tak bisa diabaikan.


Karena menjalin hubungan baik dengan sesama manusia merupakan salah satu tanda ketakwaan seorang hamba kepada tuhannya. Allah bahkan menjanjikan keberkahan hidup bagi hamba-Nya yang selalu menjaga tali silaturahmi dengan sesamanya. Selain mendapatkan rida yang Maha Kuasa dengan berkah rezeki dan usia, silaturahmi pun bisa lebih merilekskan pikiran yang sedang mengalami kebuntuan, bahkan menjadi jalan untuk mendapatkan pencerahan.


Deg, tiba-tiba salah satu jamaah melontarkan pertanyaan seperti itu pada Faris ketika mereka kebetulan beriringan kembali ke rumah.


“Biasanya sebelum kerja saya suka lihat istri sampeyan sedang belanja sayur atau menyirami tanaman di depan rumah,” imbuh jamaah tadi saat Faris tampak kikuk dan belum menjawab pertanyaannya.


“Ah anu Pak, istri saya sedang ziarah ke makam ayahnya di Turki, sekalian liburan katanya. Karena saya sedang lumayan sibuk, jadinya saya nyusul saja besok-besok,” tukas Faris sekenanya, karena tak mungkin ia menceritakan yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya.


“Wah memang beda ya kalo konglomerat, meninggal saja dimakamkan di Turki,” seloroh pria tadi yang masih beriringan dengan Faris.


“Itu hanya kebetulan saja Pak ayah mertua saya wafatnya di sana, dari pada dipulangkan ke Indonesia banyak mudaratnya lebih baik disegerakan saja dimakamkan di sana.”


Pria di sampingnya itu hanya manggut-manggut mengiyakan sebelum akhirnya mereka berpisah di depan gerbang rumah masing-masing.

__ADS_1


“Selamat pagi, Tuan.” Penjaga di depan gerbang rumah Faris menyapanya seraya membukakan pintu.


“Pagi, kalian sudah solat subuh?” tanya Faris mengingatkan.


“Siap sudah, Tuan.”


Faris hanya mengangguk lantas melangkah menuju ke dalam, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia baru saja hendak meraih gagang pintu rumahnya.


“Ada apa, Tuan?” Bi Asih yang baru saja keluar dari paviliun dan berniat untuk masuk juga sontak bertanya ketika melihat Tuannya mematung di depan pintu.


“Ah nggak Bi, Bibi duluan saja,” ujar Faris menggeser tubuhnya memberi ruang agar Bi Asih bisa melintas.


“Turki …,” gumamnya seraya mengingat-ingat percakapannya dengan sang tetangga saat ia beralasan jika Aisha tengah ke Turki.


Layaknya seorang anak yang mendapatkan hadiah, Faris segera berlari ke dalam rumahnya, padahal kondisinya saat itu masih dengan sarungnya yang terpasang sempurna senada dengan baju koko yang dikenakannya.


Sampai di kamar ia segera meraih ponselnya, membuka salah satu aplikasi dan menekan ikon tambah untuk beralih akun dari akun aslinya.


“Semoga aja Aisha nggak ganti semuanya,” gumamnya sedikit cemas karena pasalnya ia pun memegang akun beratasnamakan istrinya.


Setelah memasukkan password yang diminta, Faris segera disuguhkan dengan beranda akun atas nama istrinya. Sepertinya Aisha melupakan jika sang suami pun memegang akses atas akunnya.


Segera saja Faris tekan tanda pesan yang sudah banyak menampung notifikasi, netranya sontak saja membulat saat akun bernama Faisal menjadi kontak teratas dalam room chatt akun itu.


Dibacanya lamat-lamat satu persatu pesan obrolan sang istri dengan Faisal, seketika itu pula Faris seperti mendapatkan air di tengah panasnya gurun pasir yang membentang, hatinya benar-benar gembira tak tergambarkan.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


 


__ADS_2