Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Benarkah sudah lupa?


__ADS_3

“Aku permisi ke toilet sebentar,” tutur Karina setelah menyelesaikna makannya.


Sebenarnya itu hanyalah alasan yang dibuat-buat agar ia tak berlama-lama di antara Faris dan Aisha. Luka di hatinya masih terlalu dini jika harus kembali dihadapkan oleh pemandangan seperti itu.


“Eh Rafa gumoh ya sayang.” Aisha agak kaget ketika Rafa tiba-tiba memuntahkan kembali susu yang diberikannya.


Memang terkadang kebanyakan bayi atau balita akan mengalami hal seperti itu karena ukuran lambungnya yang masih sangat kecil sehingga cepat terisi penuh.


Azka segera mengambil tisu bayi dari tas perlengkapan yang sudah sengaja Karina siapkan sebelum berangkat, memberikannya pada Aisha dengan hati yang tak karuan.


“Udah kenyang kayaknya dia,” tutur Faris mengambil Rafa dari pangkuan istrinya, memberinya ruang agar bisa membersihkan diri.


“Aku ke toilet juga sebentar,” pamit Aisha hendak membersihkan tangan dan jilbabnya yang tak sengaja kena gumoh dari Rafa.


***


Saat senja mulai nampak, Blue Mosque yang menjadi tujuan utamanya sudah mulai terlihat. Dari posisinya saat ini ia bisa melihat enam menara menjulang di sekitar kubah masjid.


Kapal yang sejak tadi membawanya menyusuri Bosporus mulai menepi, ia betulkan pegangannya pada koper yang sudah menemaninya sejak ia menginjakan kakinya di negara dua benua itu.


Lisannya tak henti-hentinya memuji indahnya ciptaan Sang Maha Kuasa di depan matanya.


Begitu kapal benar-benar berlabuh, Gus Hasan menyeret kopernya ke arah sebuah kedai yang tak jauh dari pelabuhan. Memesan teh susu dengan es yang amat menyejukan saat melintasi kerongkongannya yang kering sejak tadi.


Dilihat dari penampilannya yang kasual, mungkin di sini tidak akan ada yang menyangka jika lelaki yang tengah duduk di tepi kaca transparan itu adalah seorang Gus, putra mahkota dari pemilik salah satu pesantren besar di Yogyakarta.


Selesai dengan teh susu di tangannya, Gus Hasan kembali melanjutkan perjalanannya pada tujuan utamanya.


Untuk beberapa saat Gus Hasan hanya mematung di depan masjid yang telah berdiri sejak 1616 itu, lengkung di sudut bibirnya tertarik, rasa haru juga bercampur saat ia melangkah untuk memasuki masjid yang sejak dulu menjadi impiannya di kota ini.


Ia berbaur dengan yang lainnya, entah itu seorang muslim yang memang datang untuk beribadah seperti dirinya, atau pengunjung yang datang sekedar mengusir rasa penasarannya terhadap bangunan masjid.


Selesai dengan rangkaian ibadahnya di masjid yang bernuansa biru itu, Gus Hasan kembali melanjutkan perjalanannya sebelum malam benar-benar menemaninya.


Gus Hasan menyipitkan netranya saat tiba-tiba seseorang menyejajarkan langkahnya dengan dirinya, mengembalikan buku bersampul birel miliknya yang lagi-lagi terjatuh tanpa disadarinya.


***


Aisha melengkungkan kedua sudut bibirnya canggung saat tak sengaja bertemu pandang dengan Karina di toilet, kini keduanya sama-sama berdiri di depan wastafel, tapi tetap dalam diamnya masing-masing.


“Sha,” panggil Karina ragu.


Aisha sontak menolehkan wajahnya, menunggu kalimat Karina selanjutnya.


“Aku boleh nanya?”


“Tentang?”


“Kamu pernah punya hubungan apa sama Azka?” tanya Karina agak ragu melihat perubahan wajah Aisha.

__ADS_1


Lidah Aisha seolah kelu mendengar pertanyaan yang Karina lontarkan, bukan karena ia masih memiliki rasa pada Azka, hanya saja ia terlalu enggan untuk kembali membuka luka yang telah mati-matian ia kubur dalam.


“Maaf, sekarang aku sudah bersuami. Rasanya kurang pantas kalo aku nyeritain pria lain selain suamiku,” tolak Aisha halus.


Karina mengangguk paham, mungkin Aisha tak mau lagi mengingat-ngingatnya. Padahal ia sangat penasaran ada apa sebenarnya antara mereka bertiga, Azka, Aisha dan Diana.


“Aku duluan,” pamit Aisha setelah membersihkan dirinya.


Belum sempat Aisha melewati ambang pintu, rasa penasarannya tak bisa membuatnya untuk tak menoleh dan menghentikan langkahnya.


“Mas Azka yang cerita sama kamu?” tanya Aisha dari ambang pintu, membuat Karina menoleh juga.


Karina menggeleng, membuat Aisha menganggukan kepalanya, kemudian melanjutkan kembali langkahnya.


“Bahkan Aisha manggil Azka pake sebutan ‘Mas'?”


“Sebenernya ada apa di antara mereka sih?”


Flashback on


“Dimana yah gendongan bayinya?” gumam Karina mencari-cari gendongan bayi untuk ia bawa, berjaga-jaga jika nanti Rafa rewel.


Karina membuka lemari yang berisi semua perlengkapan Rafa, satu persatu pintu ia buka tapi hasilnya nihil.


Ketika hendak menutup kembali lemari dihadapannya, Karina melihat satu tumpukan di bagian paling atas lemari yang belum ia coba cari di sana.


Ketika menemukan apa yang dicarinya, segera ia menjinjit untuk menariknya. Namun tanpa sengaja sesuatu berjatuhan bersamaan dengan gendongan bayi yang ia tarik.


Sebuah buku bersampul maroon dengan selembar foto yang juga ikut terjatuh tepat mengenai kakinya.


“Ini kan Aisha? Kenapa sama Azka?” gumam Karina bingung saat melihat siapa wanita yang berada dalam foto di genggamannya, di foto itu tampak keduanya saling menatap dengan snyum yang sama-sama merekah.


Tertulis ’North Quay, 16 November 2016’ di balik foto itu.


Karina segera memungut buku harian yang masih tergeletak, membukanya perlahan. Ia semakin bingung saat membaca halaman awal dari buku harian di genggamannya, tertulis di sana ‘Diana Syafira'.


“Karin ....” Tiba-tiba dari lantai bawah terdengar suara Azka memanggil namanya.


Karina yang terkejut segera merapikan kembali barang-barang yang sempat berjatuhan, termasuk foto dan buku harian yang berwarna maroon tanpa sempat membukanya lebih jauh.


Karina segera menggendong Rafa untuk menghampiri Azka yang sudah menunggu mereka.


Sejak tadi dalam benaknya selalu bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Azka, Aisha dan Diana.


Saat tiba di ujung tangga Karina benar-benar terpana melihat tampilan Azka, hingga ia lupa akan apa yang baru saja ia lihat di kamar Rafa.


Flashback off


Aisha segera mengambil sling bag-nya saat kembali bergabung dengan Faris dan Azka, mengajak Faris untuk segera pulang.

__ADS_1


“Ngga ketemu Karina di toilet? Lama bener ngapain aja dia,” tanya Faris saat Aisha yang justru lebih dulu kembali.


“Ada,” jawab Aisha singkat sambil mengambil handphone nya yang tergeletak di atas meja.


Faris hanya manggut-manggut, belum menyadari perubahan Aisha.


“Bang kita belanjanya besok lagi aja ya? Tiba-tiba Ica ngga enak badan banget.”


Aisha tak sepenuhnya berbohong pada suaminya, memang benar badannya terasa sangat lelah, ditambah kondisi hatinya yang juga tiba-tiba tak bersahabat setelah kejadian di toilet bersama Karina.


Faris yang kini menyadari akan perubahan tiba-tiba dari istrinya memicingkan netranya, menatap Aisha dengan tatapan penuh tanya.


“Ayo!” tutur Aisha sengaja menghindari tatapan suaminya.


“Gue sama Aisha duluan ya Ka,” pamit Faris sambil memberikan kembali Rafa ke pangkuan ayahnya.


“Oh oke.” Azka hanya mengiyakan, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Beberapa saat setelah kepulangan Faris dan Aisha, Karina kembali.


Ia cukup terkejut saat melihat Aisha dan Faris yang sudah tidak ada di tempatnya, tapi hatinya cukup lega juga karena ia tak perlu lagi berpura-pura bisa padahal luka di hatinya masih menganga.


“Aisha kamu apain?”


Karina cukup terkejut dengan pertanyaan Azka, ia bahkan belum sempat duduk di kursinya tapi Azka sudah memasang wajah khawatirnya dengan melontarkan pertanyaan yang seakan menuduh dirinya atas apa yang terjadi pada Aisha.


Sebegitu pentingkah Aisha hingga ia tak memberi kesempatan untuk Karina kembali dulu ke tempatnya?


“Kenapa nanya ke aku? Bukannya kamu sama Faris yang dari tadi di sini?”


“Aisha di toilet pasti ketemu kamu.”


“Terus kalo ketemu aku lantas kamu berhak menuduh aku atas apa yang terjadi sama Aisha?”


“Kenapa kamu seolah-olah tahu apa yang terjadi sama Aisha?” tanya Azka dengan tatapan menyelidik.


Karina menghela napasnya panjang.


“Oke aku pelakunya! Memang aku yang udah nanya sama Aisha tentang apa sebenernya terjadi antara kalian bertiga!” jawab Karina dengan mata yang mulai memanas.


“Bertiga?” tanya Azka bingung.


“Iya! Kamu, Aisha dan Diana,” jawab Karina dengan bulir bening yang lebih dulu lolos dari ujung netranya.


***


Bersambung ....


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ....

__ADS_1


__ADS_2