
Drrttt drrtt, sepertinya ponsel dalam sling bag Aisha bergetar, dan benar saja sang suami lah yang meminta panggilan video terhadapnya. Sepertinya calon ayah itu sudah membaca pesan dari istrinya yang meminta izin untuk jalan-jalan bersama kakaknya.
“Assalamualaikum cantik, lagi di mana?” sapa Faris dari sebrang.
“Waalaikumsalam, ini lagi di jalan sama Kak Faisal Bang, sama Gus Fakih juga,” sahut Aisha mengalihkan kameranya ke arah sang kakak lantas ke arah Gus kecilnya yang tengah sibuk dengan camilannya di kursi belakang.
“Wah mau bertamasya nih ceritanya?”
“Cuma jalan-jalan deket sini aja kok Bang, Aish masih takut mual lagi kalo kejauhan.”
Faris pun mengangguk paham dengan yang dirasakan sang istri,”Sayang, coba kameranya ke arah Kak Faisal bentar.”
“Ok,” sahutnya segera memutar arah kameranya pada sang kakak yang tengah menyetir. “Ini Abang mau ngomong sama Kakak,” imbuhnya.
“Hai Ris, gimana di sana? Lancar?” sapa Faisal memulai percakapannya perihal bisnis.
“Alhamdulillah Kak, semuanya berangsur membaik.”
“Syukurlah, kamu jangan lama-lama di sana, kasian Aish sama anakmu nih.”
“Iya siap Kak, insyaAllah mungkin kalo semuanya sudah beres lusa saya bisa pulang.”
“Ini saya ngajakin Aish jalan-jalan biar nggak suntuk di apartemen terus, nggak apa-apa kan? Sama putra kakak sepupumu juga nih saya ajak.”
“Nggak apa-apa Kak, saya malah makasih Kakak udah luangin waktu. Saya titip mereka ya Kak, maaf banget malah ngerepotin Kakak.”
“Hey Aisha tuh adik saya yah, yang di perutnya juga keponakan saya kalo kamu lupa. Nggak ada ngerepotin-ngerepotin atau apalah itu,” sahut Faisal mengingatkan Faris yang tampaknya masih begitu segan terhadapnya. Faris di sebrang sana pun hanya terkekeh sebelum perbincangan itu kembali berlanjut dan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
“Gus Fakih sudah makan apa belum Gus?” tanya Aisha menoleh ke belakang, takutnya bocah itu belum sempat bersarapan tadi.
“Udah kok Mba, tadi sama Umi sama Om Hasan juga,” jawab Gus Fakih yang kini tengah berbaring usai menghabiskan salah satu camilannya.
“Kakak udah sarapan?” Kini giliran pada kakaknya Aisha bertanya.
“Udah tadi sebelum ke sini, di unit Ibu. Kamu sendiri?”
Aisha menggeleng lemah dengan cengiran yang membuat Faisal selalu gemas, “Ya Allah Aish, jam berapa ini? Kamu tuh lagi hamil Aish, sebagai sarjana kedokteran Kakak rasa kamu lebih paham tentang ini.” Mau tak mau Faisal sedikit bersikap tegas kepada adiknya itu, tentu saja demi kebaikan Aisha sendiri dan calon keponakan di dalam perutnya.
__ADS_1
“Iya Aish paham Kak, tapi kalo makan terlalu pagi masih suka mual. Aish nggak suka kalo udah muntah-muntah, mana nggak ada Abang,” ujarnya membela diri.
Faisal mengusap kepala adiknya dengan lembut, “Kakak tau ini berat buat kamu, tapi kamu harus tetep pikirin janin di dalem perut kamu Aish. Dia butuh asupan lebih banyak di usia pertumbuhannya. Jadi istri lelaki hebat kaya Faris emang nggak gampang, dan Kakak paham itu. Tapi Kakak harap kamu bisa lebih bersabar ya. Setiap keputusan itu ada resikonya. Sekarang kita cari makan yah?”
Aisha pun mengangguk lemah, apa yang dikatakan sang kakak memanglah benar, setiap keputusan selalu ada resiko yang menyertainya, dan ini adalah resiko sebagai Nyonya Faris yang harus dihadapinya. Ia pun tidak boleh egois mementingkan kenyamanan dirinya sendiri ketika saat ini sudah ada nyawa yang juga tumbuh di rahimnya.
Tak selang berapa lama Faisal menepikan mobilnya di depan restoran cepat saji yang menawarkan berbagai menu makanan khas Turki juga makanan lezat lainnya. Tujuannya tentu saja untuk membawa adiknya pergi bersarapan, juga Gus Fakih yang sudah ibunya titipkan kepadanya.
***
“Fakih mau makan apa Nak?” tanya Faisal menelisik buku menu.
“Fakih baru aja makan Uncle, jadi nggak usah.”
“Ya udah, Fakih makan ice cream aja ya? Mau?”
Mendengar makanan yang disukainya disebutkan membuat Gus Fakih segera mengangguk cepat sambil berbinar, “Mau Uncle, Fakih mau rasa Banana chocolate,” ujarnya langsung menyebutkan varian ice cream kesukaannya.
“Ok boy, uncle pesenin dulu yah,” sahut Faisal segera memanggil seorang pramusaji lantas menyebutkan pesanan ketiganya, ia sendiri hanya memesan dessert dan makanan ringan lainnya untuk menemani Aisha bersarapan, yang sebenarnya ini hampir mendekati waktu makan siang.
“Ini pesanan kamu boy, habisin yah,” ujar Faisal menyodorkan ice cream pesanan bocah itu juga berbagai macam puding yang sangat cocok dengan anak-anak.
“Oh ya, Kakak penasaran deh gimana ceritanya dulu kamu bisa mondok di tempat Gus Hasan, Aish. Kakak pengen denger,” tutur Faisal membuat Aisha akhirnya menceritakan tentang bagaimana ia mencoba untuk menenangkan diri dengan pergi ke pesantren yang ternyata adalah milik Pakde dan Bukdenya Faris di Yogyakarta, hingga akhirnya gadis itu dipersunting oleh suaminya.
Faisal sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Aisha yang duduk di hadapannya, khawatir jika Gus Fakih mendengar perbincangan mereka. Untung saja bocah itu sejak tadi sibuk dengan ice cream dan makanannya, membuat Faisal dan Aisha gemas sendiri karena pasalnya bocah itu terus saja mengunyah makanan sejak di perjalanan tadi.
“Apa itu juga alasan kenapa Hasan bisa suka sama kamu?” tanya Faisal yang akhirnya paham bagaimana pemuda yang begitu dicintai oleh adik angkatnya justru mencintai adik kandungnya sendiri.
Sebelum benar-benar menjawab pertanyaan itu, Aisha pun melirik ke arah Gus kecilnya, khawatir jika ia akan turut menyimak perbincangannya dan sang kakak.
“Gus, sudah habis ice creamnya?” tanya Aisha melihat mangkuk ice cream itu ternyata sudah kosong.
“Udah Mba,” jawab bocah lelaki itu seraya menyengir menunjukkan deretan gigi yang cukup rapi untuk anak seusianya.
“Gimana kalo sekarang kita main Gus? Disana,” ujar Aisha menunjuk arena bermain anak yang memang diperuntukkan untuk para pengunjung resto.
Bagai kucing yang melihat ikan terkapar, bocah itu pun segera mengangguk cepat, “Beneran boleh Mba Ica?” tanyanya berbinar, Aisha pun menganggguk cepat.
__ADS_1
“Yuk.”
“Bentar ya Kak,” pamit Aisha saat keduanya bangkit dari kursinya menuju ke arena bermain yang cukup ramai oleh anak-anak berbagai usia.
“Gus, Mba Ica selesaikan dulu makan Mba Ica yah. Keliatan kok dari sini, nanti kalo Guse sudah puas bermain tinggal kembali lagi ke meja Mba Ica sama Uncle Faisal,” tutur Aisha sebelum Gus kecilnya itu benar-benar berbaur dengan anak-anak yang lainnya.
“Ok siap Mba.” Gus Fakih pun segera menghambur bersama anak-anak lain yang berwajah oriental, mungkin jika dilihat hanya ia yang berwajah Asia di sini. Tapi itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan oleh anak seusia Gus Fakih, dengan riangnya anak itu justru tetap bermain seperti tanpa beban.
Sedangkan Aisha pun kembali ke meja tempat sang kakak menunggu, pikirnya Gus kecilnya itu sepertinya akan baik-baik saja, lagi pun bocah itu masih tetap berada pada jangkauan pandangannya.
“Nggak apa-apa Fakih ditinggal?” tanya Faisal saat adiknya justru kembali.
“InsyaAllah nggak apa-apa Kak, keliatan juga kok.” Faisal pun hanya mengangguk mengiyakan.
“Oh ya tentang pertanyaan Kakak tadi, Aish juga awalnya nggak tau kalo ternyata selama ini Gus Hasan punya perasaan lebih, Aish kira Gus Hasan memilih kuliah di sini karena memang keinginannya, ternyata alasannya adalah untuk menghindar dari Aish dan Abang begitu dia tau Abang mau nikah sama Aish. Ayla yang ngasih tau semuanya, Kakak inget waktu pertama kita ketemu dulu di restoran? Pas Kakak lagi sama Ayla juga Gus Hasan.” Faisal pun mengangguk, mengingat pertemuan keduanya saat itu dengan Aisha yang ternyata adalah adik kandungnya.
“Nah Ayla ngasih tau pas Aish lagi ke toilet, dan ternyata Gus Hasan tau semuanya. Dia pun membenarkan apa yang Ayla bilang waktu itu, dan untuk pertama kalinya waktu itu Gus Hasan jujur tentang perasaannya ke Aish, tanpa sepengetahuan Abang,” jelas Aisha seraya menghabiskan sisa makanannya. Dan penjelasan itu mampu membuat Faisal seketika menganga, senekat itu Gus Hasan dengan perasaannya? Pantas saja Ayla benar-benar terluka dan justru mengkambing hitamkan Aisha sebagai penyebabnya.
Sungguh rumit cinta yang entah bersegi berapa itu, Faisal pun tak paham. Terkadang ia pun bertanya-tanya kenapa cinta kerap kali datang bukan kepada orang yang juga mampu membalas cinta itu, bukankah merepotkan jika kita harus mencintai orang yang cintanya bukan untuk kita? Tapi kita bisa apa, jika ternyata cinta itu memanglah bukan kita yang mengaturnya.
“Sampe sekarang suamimu belum tau tentang ini?” Faisal benar-benar khawatir jika saja adik iparnya akan salah paham dan suatu saat hal ini menjadi masalah bagi rumah tangga adiknya itu, mengingat bahwa Faris dan Hasan adalah kakak adik sepupu yang terbilang sangat dekat. Bukan tidak mungkin kenyataan tentang perasaan Gus Hasan ini akan menciptakan kerenggangan di antara keduanya.
“Udah Kak, Aish udah ceritain semuanya sama Abang. Aish takut kalo Abang justru akan tau semuanya dari orang lain, jadi Aish pikir lebih baik Aish yang kasih tau duluan.”
“Dan suamimu baik-baik aja?”
Aisha menggeleng pelan, “Abang selalu mencoba untuk baik-baik aja di depan Aish, padahal jelas Aish tau kalo Abang pasti kesulitan. Abang udah nganggep Gus Hasan kaya adiknya sendiri, karena memang keluarga Gus Hasan satu-satunya kerabat yang Abang punya.”
Faisal menghela napasnya panjang, ia paham bagaimana perasaan adik iparnya itu. Bukan hal mudah saat ia tahu bahawa adik sepupu yang begitu disayanginya justru diam-diam mencintai istri yang juga teramat ia sayang.
“Abang selalu berusaha biasa aja sama Gus Hasan, Abang nggak mau sampe Gus Hasan tau kalo ternyata Abang udah tau semuanya. Abang terlalu sayang sama Gus Hasan, beliau nggak mau kalo sampe hubungan keduanya jadi renggang karena ini. Itulah mengapa Abang memilih diam.”
Faisal mengusap puncak kepala adiknya begitu lembut lantas tersenyum dengan indah, sungguh ia begitu menyayangi sosok itu lebih dari apapun, bahkan mungkin nyawanya sendiri.
“Sekarang Kakak jadi tenang nyerahin kamu sama suamimu, ternyata dia benar-benar lelaki yang baik. Kakak harap rumah tangga kalian akan selalu dipenuhi kebahagiaan ke depannya.”
Perbincangan keduanya pun terus berlanjut, mereka saling menceritakan kehidupan mereka sebelumnya hingga keduanya merasa seperti menyelami kisah masing-masing pada kehidupan sebelumnya.
__ADS_1
***
Bersambung ...