
Pagi-pagi sekali usai melaksanakan solat subuh, Ning Sabina dan Aisha langsung tenggelam dalam acara masak-memasak di dapur apartemen yang cukup luas itu. Sebenarnya sudah berulang kali baik Ning Sabina maupun Faris melarang Aisha agar tak turut bersentuhan dengan alat-alat dapur karena khawatir akan kembali mual jika mencium aroma bahan-bahan dapur. Namun bukanlah Aisha jika ia tak mampu meluluhkan hati suaminya. Faris sendiri tengah mengajari keponakannya mengaji seusai solat berjamaah.
Ting tong … ting tong … entah siapa seseorang yang bertamu sepagi ini hingga membuat kedua wanita yang tengah sibuk memasak menghentikan kegiatan mereka.
“Biar saya saja, Ning,” ujar Aisha segera membasuh tangannya dan seketika diangguki oleh kakak iparnya.
Tak perlu waktu lama, seseorang di balik pintu apartemen itu dapat melihat sang pemilik yang muncul dari balik pintu.
“Loh, tumben ada apa Ger sepagi ini?” tanya Aisha saat mengetahui sosok yang bertamu ke apartemennya.
“Iya maafkan saya Nyonya sudah menganggu waktunya sepagi ini. Saya ada yang harus dibicarakan dengan Tuan, apa beliau ada?” tukas Roger tanpa basa-basi.
“Abang ada, sebentar ya saya panggilin dulu. Ayo tunggu di dalem, Ger,” ajak Aisha yang segera diangguki oleh Roger.
“Siapa, Sha?” tanya Ning Sabina saat Aisha melewatinya.
“Roger, Ning. Ada perlu ke Abang katanya.”
“Oh … tak kira siapa pagi-pagi begini. Ya sudah dipanggilin dulu suamimu, biar Mba yang bikinin kopi.”
“Nggeh terima kasih, Ning.”
“Siapa yang dateng, Sayang?” Tiba-tiba sosok yang dibicarakan justru datang menghampiri.
“Panjang umur kamu, Ris,” tukas Ning Sabina yang langsung diaminkan oleh suami istri di depannya.
“Itu ada Roger, Bang. Katanya ada yang perlu dibicarain sama Abang,” sahut Aisha menjawab pertanyaan suaminya.
“Apa katanya?”
“Ica nggak tanya lah. Orang perlunya juga ke Abang, masa Abang aja belum tau tapi Ica udah ngeduluin nanya.”
“MasyaAllah memang ndak salah kamu Ris pilih istri,” sahut Ning Sabina yang rupanya mendengarkan perbincangan suami istri itu di tengah kegiatannya yang tengah mengaduk kopi untuk Roger.
“Alhamdulillah Mba, susah ini juga dapetnya,” goda Faris mengingat bagaimana perjuangannya mendapatkan sosok bidadari tak bersayap di hadapannya kini.
“Udah itu ditungguin Roger kok,” tukas Aisha segera menarik tubuh suaminya karena tak ingin semakin melambung dan lupa diri mendengar pujian itu.
__ADS_1
“Eh eh ini kopinya dibawa sekalian,” sergah Ning Sabina menyodorkan segelas kopi yang aromanya memanjakan siapa saja yang menghirupnya.
“Kok cuma satu? Faris nggak dibikinin ini?”
“Punya Abang kan udah Ica buatin, Ica simpen di atas nakas kok.”
“Tuh dengerin.” Seperti biasanya Ning Sabina memang tak ada habisnya meledek adik sepersusuannya itu, begitu pun sebaliknya.
“Oh yah? Abang belum sempet ke kamar, makasih ya Sayang,” ujarnya lantas berlalu untuk menemui Roger yang sudah menunggu.
Sedangkan kedua wanita di apartemen itu kembali berkutat dengan kegiatan mereka sambil berbincang apapun yang biasanya para wanita perbincangkan.
________
“Apa kata Roger, Bang?” tanya Aisha saat melihat suaminya tampak menghampirinya yang tengah menata hasil masakannya bersama Ning Sabina yang kini tengah mengurusi putranya lebih dulu.
Faris tak lantas menjawab, agaknya ia tengah merangkai kalimat yang pas untuk disampaikan kepada istrinya.
Aisha semakin menautkan alisnya menyiratkan tanya saat suaminya justru hanya bergeming menatapnya.
“Bang?”
“Tentang proyek di Ankara?” tanya Aisha mencoba menebak.
Faris mengangguk lemah, dugaan istrinya benar. “Jadi gini Sayang … kayanya Abang harus ke Ankara sekarang juga. Masalah yang kemaren ternyata masih berkepanjangan, jadi agaknya Abang harus terjun langsung bantuin Roger. Ada beberapa pertemuan juga yang harus Abang datengi sama klien,” tutur Faris menjelaskan apa yang baru saja Roger keluhkan hingga menyita waktunya sepagi ini.
“Ya udah Abang siap-siap sekarang. Ayo Ica bantuin beres-beres.” Di luar dugaan Faris, istrinya justru tak nampak keberatan sama sekali dengan rencana kepergiannya.
“Ayo Ica bantuin,” ucapnya lagi saat Faris justru menahan lengannya ketika ia hendak beranjak.
“Ica nggak apa-apa Abang tinggal? Jujur Abang khawatir banget Sayang kalo harus ninggalin Ica di sini.”
Aisha menghela napasnya, kini ia paham apa yang membuat suaminya tampak ragu dengan kalimatnya. “Bang, Ica udah baik-baik aja kok, Abang nggak usah khawatir,” ucapnya berusaha menguatkan suaminya. Jujur Aisha pun ada rasa tak rela saat mengetahui bahwa suaminya harus pergi, namun semua itu ia simpan sendiri dalam hati. Bagaimanapun salah satu tugas seorang istri adalah menjadi kekuatan bagi suaminya, jika ia terlihat lemah, maka suaminya pun akan sulit untuk mengurus pekerjaannya.
“Ya udah besok Abang minta Mba Sabina buat jagain Ica juga pas jalan-jalan. Ica jangan cape-cape ya, kalo ada perlu apa-apa minta tolong sama Mba Sabina,” ujar Faris teringat dengan rencana berlibur mereka yang harus ia tinggalkan.
“Ica nggak akan kemana-mana kok Bang. Ica nggak akan pergi kalo Abang nggak ada,” sahut Aisha mengingat jika Gus Hasan akan turut serta dalam acara liburan mereka. Ia tak mungkin pergi tanpa suaminya ketika jelas-jelas ia sendiri tahu bagaimana perasaan Gus Hasan terhadapnya.
__ADS_1
Faris membelai wajah ayu istrinya. Sungguh istrinya itu begitu pandai menjaga perasaannya. “Kalo Ica mau, Abang izinin kok Ica ikut liburan besok. Beneran Abang nggak apa-apa, lagipula nanti kan ada Mba Sabina juga sama Fakih, Ica nggak cuma berdua sama Hasan. Abang percaya sama Ica.”
Aisha mengulas senyumnya mendengar kelapangan hati suaminya, “Nggak apa-apa Bang, Ica tetep nggak akan pergi kalo Abang nggak ada,” ujarnya tetap dengan pendiriannya.
Faris segera menarik Aisha ke dalam dekapannya, ia begitu bersyukur Allah karuniai dirinya istri yang begitu pandai menenangkan hatinya. “Makasih ya Sayang, Ica emang selalu pinter nenangin hati Abang.”
“Jadi Faris sudah tau perasaan Hasan yang sebenernya sama Aisha,” gumam seseorang dari balik tembok yang tak sengaja mendengarkan perbincangan keduanya. Tampaknya Faris dan Aisha lupa jika di apartemennya kini tak hanya ada mereka di sana.
“Ya udah ayo Ica bantuin Abang beres-beres.”
“Makasih ya Sayang.”
____
“Faris titip Aisha ya Mba, maaf Faris nggak bisa ikut kalian jalan-jalan,” ujar Faris pada Ning Sabina sesaat sebelum kepergiannya ke Ankara pagi ini.
“Kamu kaya sama siapa aja, tanpa diminta pun Mba pasti akan jagain adik ipar sama calon ponakan Mba ini,” sahut Ning Sabina mengusap perut Aisha yang sudah sedikit terasa menyembul.
Faris pun mengulas senyumnya mendengar hal itu, kini ia bisa mengurus pekerjaannya dengan tenang ketika ada seseorang yang menemani istrinya yang ia tinggal. “Makasih Mba, nanti kalo Faris pulang kita langsung jalan-jalan pokoknya.”
“Ya sudah kamu fokus saja dengan kerjaanmu di sana biar cepat pulang. Meski ada Mba sama Fakih, kasian juga kalo Aisha ditinggal lama-lama. Orang hamil tuh pengennya gelendotan terus loh sama suaminya,” ledek Ning Sabina membuat Aisha tersipu. Jujur Aisha pun memang merasakan hal demikian.
“Iya siap, Faris pasti bakalan cepet pulang kok, Mba langsung hubungi Faris yah kalo ada apa-apa di sini.”
“Iya kamu tenang aja, lagian di sini kan Mba nggak sendirian. Ada Hasan, ada Bukde Maya juga.”
“Ada Fakih juga,” imbuh Gus Fakih saat dirinya tak turut disebutkan.
Ketiganya pun sontak tersenyum mendengar celotehan bocah laki-laki itu. “Om Faris titip Mba Ica sama dede bayi ya, Fakih,” tukas Faris yang kini berjongkok menyamakan dirinya dengan Gus Fakih.
“Siap, Om ndak usah khawatir, Fakih kan laki-laki jadi bisa jagain Mba Aisha sama dede bayi di dalem perut.” Celotehan itu sontak membuat ketiganya tak bisa untuk menahan tawa.
Usai berpamitan pada kakak sepupunya, Aisha pun turut mengantar kepergian suaminya bahkan hingga ke basemen apartemen.
“Baik-baik di sini ya Sayang, Abang berangkat dulu,” ucap Faris lantas mengecup kening istrinya lama sekali. Roger yang tahu diri memilih menunggu di dalam mobilnya.
“Iya Bang, Icasama anak Abang pasti baik-baik aja. Abang hati-hati yah, kabarin Ica kalo udah nyampe,” balas Aisha yang lantas berhambur memeluk suaminya. Faris membalasnya tak kalah erat. Ada rasa takut saat mereka harus berpisah seperti ini.
__ADS_1
“Anak Papi baik-baik di dalem ya Sayang, jangan nakal, jangan ngerepotin Mami,” ujar Faris kini mencondongkan tubuhnya ke arah perut sang istri. Dikecupnya perut itu dengan lembut. Senyum pun terbit di bibir Aisha atas perlakuan manis suaminya itu.