
Faris segera kembali ke rumah setelah tak mendapati Salsa yang sudah entah kemana. Mobil Faris merayap menyusuri jalanan, sepanjang mengemudi kepalanya terus saja memikirkan bagaimana caranya agar Salsa mau memberikan informasi terkait keberadaan istri dan ibu mertuanya.
Tiba di sebuah lampu merah, netra Faris mendapati seorang gadis kecil yang tampak tengah menoleh ke kanan dan kiri untuk menyebrang. Sontak saja Faris turun dari mobil untuk menghampirinya.
“Tasya ngapain di sini sendirian?” tanya Faris yang sudah berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis itu.
“Tasya baru pulang sekolah Om … katanya Mama nungguin di café itu,” ujar Tasya dengan tangannya yang menunjuk ke arah café yang terletak di sebrang jalan tempat mereka berdiri.
Tiinn … tiin ….
Ternyata lampu merah sudah berganti warna, pengendara lainnya sontak membunyikan klakson mereka saat mobil di depannya tak kunjung bergerak, mobil itu yang tak lain adalah milik Faris.
“Om anterin Tasya ya,” ujar Faris tanpa menunggu jawaban gadis kecil itu, segera saja ia menggendong Tasya dan berlari memasuki mobilnya sebelum terkena amukan dari pengendara lain di belakangnya.
Sampai di café yang ditujukkan Tasya, Faris menyapukan netranya untuk mencari sosok ibu dari gadis kecil yang kini dalam gendongannya, setelah beberapa saat tampaklah Sofia yang tengah asyik bermain ponselnya sambil sesekali menyesap minumannya di salah satu meja di sudut ruangan.
“Lo udah nggak waras ya emang,” cibir Faris sesaat setelah menurunkan Tasya dari gendongannya.
Sofia yang mendengar suara bariton yang selalu didambanya sontak mengangkat wajahnya dari layar ponsel dalam genggamannya.
“Faris …,” ujarnya berbinar dan lantas bangkit dari kursinya.
“Bisa-bisanya ya lo enak-enakan ngadem di sini, sedangkan Tasya anak sekecil ini lo suruh nyebrang sendirian! Waras nggak lo?”
“Ris bukan gitu … tadi aku kira gurunya yang bakalan anterin,” tutur Sofia berkilah.
“Sekarang lo nyalahin gurunya? Lo ibunya! Ini tugas lo!” cecar Faris menaikkan suaranya, membuat pengunjung lain di sekitar mejanya sontak menoleh ke arah mereka dengan tatapan seolah Faris dan Sofia adalah suami istri yang tengah bertengkar.
Sofia meraih tangan Faris dengan lembut, “Makanya Tasya butuh sosok ayah kayak kamu Ris …,” ujarnya merayu.
“Ah cara lama! Nggak usah lo bawa-bawa Tasya buat melancarkan kebusukan lo Sof!”
“Pak Faris ….” Tiba-tiba seorang gadis yang tengah Faris cari-cari sudah berdiri tak jauh dari tempat Faris dan Sofia berdiri, dan tentunya dengan tatapan seolah tak percaya jika suami majikannya itu tengah bermesraan bersama wanita lain seperti yang dilihatnya ketika Sofia masih bergelayut di lengan Faris.
Sontak saja Faris segera mengibaskan tangan Sofia yang masih memegangi lengannya.
__ADS_1
“Salsa … ini nggak kayak yang kamu liat Sa,” ujar Faris ketika Salsa mulai memundurkan langkahnya dan hendak berbalik, namun sayang gadis itu sudah terlanjur melangkah keluar.
“Ini yang kamu lakuin di belakang Aisha, Ris?” Tiba-tiba saja Sofia kembali menghentikan langkah Faris yang hendak mengejar Salsa dengan menahan lengannya.
“Ckk bukan urusan lo!” tukas Faris segera berlari mengejar Salsa dan tak lagi mempedulikan Sofia.
“Cowok ganteng emang semua gitu kali ya, ada bini sama anaknya aja masih berani ngejer selingkuhannya,” ujar salah satu dari pengunjung yang sempat menyaksikan adegan Faris, Sofia dan Salsa.
Sedangkan di luar café, akhirnya Faris bisa menghentikan langkah Salsa.
“Sa ini nggak kayak yang kamu liat Sa, aku sama cewek tadi bener-bener nggak ada apa-apa,” tutur Faris yang khawatir jika Salsa akan melaporkan apa yang dilihatnya baru saja kepada Aisha atau pun Bu Maya.
“Mana saya tau Bapak jujur apa enggak, tapi kalo bener nggak ada apa-apa mungkin Mba Aisha nggak akan pergi gitu aja Pak,” tutur Salsa yang entah harus bersikap seperti apa.
“Sumpah saya nggak bohong Sa! Kamu tadi cuma liat doang, tapi nggak denger apa yang kita bicarakan. Saya tau istri saya emang pergi karena salah paham, makanya saya minta tolong sama kamu buat kasih tau dimana istri saya, biar saya bisa lurusin semuanya Sa.”
“Maaf Pak, saya bekerja untuk Bu Maya, jadi sudah seharusnya saya memenuhi apa yang beliau perintahkan.”
“Ok kalo kamu nggak mau kasih tau saya dimana mereka, ok saya terima. Tapi setidaknya jangan kamu laporkan apa yang kamu liat tadi di café, jangan buat semuanya jadi tambah rumit,” tutur Faris memohon.
Sepanjang perjalanan, hati Salsa dipenuhi bimbang tentang apa yang seharusnya ia lakukan. Haruskah ia melaporkan apa yang sudah dilihatnya baru saja? Atau mengikuti permintaan Faris untuk tetap diam?.
Tapi Salsa melihat dengan jelas ketulusan yang tercetak di mata Faris untuk majikan mudanya itu.
“Mungkin lebih baik aku diam, biar semuanya nggak tambah rumit dan Mba Aisha nggak semakin terluka.”
Akhirnya Salsa mengurungkan niatnya untuk melaporkan apa yang sudah dilihatnya, pikirnya semoga saja ia tidak salah langkah.
Di dalam mobilnya, Faris masih duduk di balik kemudinya tanpa berniat melajukan kendaraannya. Netranya terfokus pada layar ponsel dalam genggamannya, mencari nama untuk kemudian dipanggilnya.
“Hallo Ger,” ujarnya setelah mendengar suara dari sebrang.
“Iya Tuan, ada perintah yang bisa saya lakukan?” tanya Roger dengan wibawanya seperti biasanya.
“Saya perlu sedikit bantuan kamu Ger.”
__ADS_1
“Apa yang harus saya lakukan Tuan?”
“Saya sudah kirim fotonya, saya mau kamu ikuti semua kegiatan gadis itu, bila perlu sampai dia kembali ke rumahnya. Jika dia lengah, kamu ambil ponselnya dan berikan pada saya.”
“Siap laksanakan, Tuan.”
“Lakukan semuanya dengan bersih, jangan sampai identitasmu terbongkar,” ujar Faris lagi sebelum ia menutup panggilan.
Jika memang cara halus tak bisa membuatnya menaklukan Salsa, maka terpaksa Faris harus menggunakan cara seperti ini, semua akan dia perjuangkan untuk mengembalikan sang istri ke pelukannya.
“Ya Allah maaf aku harus berbuat seperti ini, semua aku lakukan demi mempertahankan rumah tanggaku. Aku tidak ingin melakukan perceraian yang begittu Engkau benci ya Allah.”
***
Drrtt … drrtt … ponsel Faris yang tergeletak di atas dashboard mobilnya bergetar, segera saja ia pasang earphone di telinganya untuk menerima panggilan tersebut.
“Kenapa Pak?” tanya Faris setelah mengetahui jika Pak Toni yang menelponnya.
“Kamu dimana? Bisa pulang sekarang?” ujar Pak Toni dari sebrang.
“Ini lagi di jalan, ada apa Pak?”
“Pengacara kita sudah di rumah, dia butuh beberapa tanda tangan kamu buat keperluan siding yang akan ditanganinya besok.”
Seketika Faris langsung melirik arloji di tangannya, benar besok adalah tanggal dimana sidang pertama dari gugatan Aisha akan dilangsungkan, “Ok, aku pulang sekarang,” ujarnya kemudian.
“Ca … kamu dimana? Apa kamu sama sekali udah nggak peduli sama Abang Ca?”
Netra Faris sudah memanas menampung air di pelupuknya, jika mengingat Aisha dan semua kebersamaan mereka, rasanya Faris selalu menjadi lemah, ia tak bisa lagi menahan diri untuk baik-baik saja.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...