Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Kemana lagi?


__ADS_3

Sebenarnya Aisha bisa pergi bersama ibunya pada penerbangan selanjutnya, hanya saja ia ingin cepat-cepat pergi untuk menghindar dari lelaki yang mungkin dalam beberapa waktu ke depan akan berganti status menjadi mantan suami.


Aisha kini tengah dalam perjalanannya menuju ke Bandara, ia sengaja tak meminta sopir di rumah untuk mengantarnya, melainkan menggunakan taksi online untuk berjaga jika saja nanti Faris akan mencarinya dan mengorek informasi kemana dirinya pergi saat ini.


Aisha hanya bisa menatap nanar ke arah jendela, di kepalanya masih saja berputar-putar kenangan-kenangan indahnya bersama sang suami kala itu, di saat rumah tangganya masih berjalan dengan mulus sebagaimana mestinya.


Aisha meraih ponsel dalam sling bagnya, dibukanya sim card yang terpasang di ponsel itu, lalu perlahan ia membuka kaca jendela mobil yang ditumpanginya, netranya terpejam cukup lama hingga kembali menitikkan bulir bening dari kedua ujungnya, dilemparnya jauh-jauh sim card yang sudah dilepasnya, benda kecil itu tampak melayang-layang di udara karena kencangnya angin oleh laju mobil yang dikendarainya.


Ia benar-benar ingin melupakan semuanya, termasuk menghapus jejak kepergiannya, dari hal sekecil apapun itu.


Jujur saja saat ini hati pikiran Aisha masih saja tertuju pada satu nama, ia tak habis pikir kenapa suaminya itu benar-benar tega menghancurkan hatinya setelah seluruh cintanya ia berikan pada lelaki itu.


Di awal pernikahan memang tak bisa dipungkiri jika pikiran Aisha masih terbagi dengan sosok Azka, hanya saja seiring berjalannya waktu, suaminya itu mampu membuat dirinya percaya lagi akan yang namanya cinta, Faris mampu membuatnya perlahan untuk membuka hati kembali, bahkan ia seperti telah menghidupkan hatinya yang sempat mati. Hingga perlahan cinta it uterus saja bermekaran dengan indahnya, bahkan sampai Aisha tak sanggup membayangkan bagaimana kelanjutan hidupnya tanpa Faris di sisinya. Tapi inilah takdir, tak ada yang tahu seperti apa nanti jadinya, dan mungkin ini konsekuensi yang harus ditanggungnya jika terlalu menggantungkan harap kepada sesama manusia.


***


Faris melajukan mobilnya semakin kencang, tujuan utamanya saat ini adalah North Quay, ia paham betul jika tempat itu bisa dibilang tempat bersejarah untuk Aisha, ketika hatinya tengah merasa gelisah maka kemungkinan besar saat ini ia juga berada di sana tengah menikmati pesona senja yang selalu berhasil mengembalikan senyum di wajah ayunya.


Faris memarkirkan mobilnya dengan tergesa lantas meniti tangga eskalator dengan berlari, napasnya bahkan sampai terengah-engah ketika ia berhasil mencapai rooftop gedung tersebut. Netranya menyapu dan mengamati setiap wajah yang ada di sana, namun semua wajah itu tampak asing, ia sama sekali tak mendapati tanda-tanda keberadaan istrinya di sana.


“Ca … kamu kemana Sayang?” gumam Faris masih menstabilkan napasnya.


Ia kembali berlari ke mobil, kali ini tujuannya adalah rumah Azka, jika saat itu Azka lebih dulu mengetahui perihal kehamilan Aisha disbanding dirinya, mungkin saja saat ini Azka juga mengetahui dimana keberadaan istrinya. Persetan dengan gengsinya yang mungkin akan semakin membuat Azka hati, Faris tetap melajukan mobilnya menuju rumah Azka, tak peduli lagi bagaimana reaksi Azka nantinya, karena saat ini di kepalanya hanya ada satu tujuan, yaitu mengetahui dimana keberadaan Aisha, wanitanya.


Waktu semakin merangkak maju, senja pun terlihat semakin memudar di telan malam, mungkin sebentar lagi adzan magrib pun akan berkumandang. Faris memarkirkan mobinya di halaman luas rumah Azka, rumah itu terlihat sepi ketika ia turun dari mobilnya.


Perlahan ia memencet bel di samping pintu, tak selang berapa lama seorang wanita paruh baya muncul dari pintu.


“Iya … cari siapa ya Tuan?”


“Azka ada?” ujar Faris langsung to the point.

__ADS_1


“Oh sebentar saya panggilkan, silahkan masuk Tuan.”


Faris mengikuti langkah asisten rumah tangga Azka kemudian mendudukan dirinya di atas sofa di ruang tamu.


Azka yang baru saja selesai bersiap mengenakan baju kokonya sembari menunggu adzan magrib berkumandang sontak membuka pintu kamarnya ketika mendapat suara ketukan di depan sana.


“Kenapa Bi?” tanya Azka begitu melihat asisten rumah tangganya sudah berdiri di balik pintu ketika Azka membukanya.


“Itu di depan ada tamu, Tuan.”


“Tamu? Karina?”


“Bukan Tuan, bukan Bu dokter. Tamunya laki-laki, Bibi juga sepertinya baru liat beliau ke sini,” tutur Bi Surti lantas undur diri setelah mendapti anggukan dari Tuannya.


Azka sedikit terkejut ketika kakinya sudah berada di ujung tangga dan mendapati siluet seorang pria yang sudah duduk di ruang tamunya tengah membelakanginya, begitupun dengan Faris yang langsung berbalik ketika mendengar derap kaki yang semakin mendekat.


“Apa Aisha kasih tau lo kemana dia pergi Ka?” tanya Faris to the point saat Azka sudah tepat di belakangnya.


“Lo tau saat itu kalo Aisha lagi hamil anak gue bahkan ketika gue sebagai bapaknya aja nggak tau, jadi gue yakin lo tau dimana istri gue sekarang. Dimana Ka? Plis kasih tau gue ….” Faris berujar dengan sedikit memohon, ia tak peduli lagi jika Azka akan meledeknya.


“Jujur sampe sekarang gue emang masih nyimpen rasa buat istri lo, gue nggak munafik. Tapi sumpah demi apapun gue nggak tau keberadaan Aisha sekarang. Jangankan curhat, gue aja kayak hujan yang selalu istri lo hindarin,” tutur Azka membuat Faris mengernyit.


“Terus dari mana lo tau kalo istri gue hamil?” Faris berujar dengan bingung.


“Waktu itu gue nggak sengaja nyenggol Aisha di mall, jujur gue sama sekali nggak tau itu Aisha kalo dia nggak buka suara, gue bantuin belanjaan dia yang sempet jatoh dan gue liat beberapa makanan sama susu ibu hamil, tapi pas gue tanya, Aisha langsung pergi gitu aja, keliatan banget kalo dia ngindarin gue.”


Senyum seketika tersungging dari sudut bibir Faris, ternyata selama ini dia telah salah mengira karena sudah cemburu dengan Azka yang ia kira lebih mengetahui tentang istrinya dibandingkan dirinya sebagai sang suami.


“Apalagi yang lo tau tentang istri gue dan gue nggak tau?”


“Lo seriusan mau denger jawaban gue?” Faris sontak mengangguk.

__ADS_1


“Usaha lah … katanya suaminya. By the way gue minta maaf soal di Rumah Sakit waktu itu, gue cuma masih parno aja kalo terjadi sesuatu sama Aisha.”


“It’s okay, gue ngerti kok. Kalo gitu gue balik, kabarin gue kalo lo dapet sesuatu tentang Aisha.”


“Mending gue simpen sendiri buat gue,” goda Azka yang langsung mendapati tatapan tajam dari Faris.


“Kamp**t lo!”


“Haha santai aja bro.”


Faris melangkah keluar dengan kecewa, hanya saja tak ia tunjukkan tadi di depan Azka. Ia mengusap wajahnya kasar lantas segera duduk di balik kemudi dan kembali melajukan mobilnya.


Adzan magrib pun berkumandang saling bersahutan dari segala penjuru arah dengan posisi Faris yang masih di jalanan, ia segera menepikan mobilnya di halaman bangunan berkubah yang tampak sudah dipadati orang-orang yang ingin menghadap sang pencipta.


Cukup lama seusai solat, Faris tampak masih duduk di tempatnya, saat ini ia benar-benar tak tahu lagi harus kemana mencari istrinya. Tiba-tiba netranya menangkap seorang pria paruh baya yang juga masih duduk di tempatnya, pria itu nampak menengadahkan tangannya dengan punggung yang nampak bergetar seperti menahan isak, netranya juga terpejam namun dari ujungnya bisa Faris lihat dengan jelas genangan air yang mengalir.


Tiba-tiba seseorang yang ternyata adalah sang imam masjid menepuk pundak Faris yang masih setia menatap pria di sudut ruangan itu.


“Allah tidak akan mengabaikan tangan yang menengadah untuk meminta kepada-Nya,” ujar sang imam yang sepertinya menangkap kegelisahan di wajah Faris sebelum ia berlalu.


Faris terenyuh dengan perkataan sang imam, beliau benar, ia masih punya Allah tempatnya mengadu dan meminta pertolongan.


***


Author kembali ingatkan kalo semua cast di novel ini juga manusia biasa ya ... tak terkecuali juga Faris dan Aisha ... mohon bersabar dan ikuti alurnya ... percayakan semua pada author, hehe ...


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2