Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Beruntungnya aku punya kamu


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)


____________


Mentari belum sempat menampakkan dirinya ketika seorang wanita tiba-tiba terjaga karena rasa mual yang melandanya. Malam bahkan belum sepenuhnya beranjak saat wanita itu harus bangkit dan tergopoh ke kamar mandi mengeluarkan seluruh isi perutnya. Kegiatannya itu tak ayal turut mengusik lelap sang suami yang sebelumnya berada di bawah selimut yang sama dengannya.


Dengan cekatan Faris segera menyusul Aisha dan turut memijat tengkuk sang istri yang masih susah payah menghilangkan mualnya.


“Udah baikan, Sayang?” tanya Faris saat Aisha membasuh mulutnya, tampaknya ia sudah menyelesaikan kegiatannya.


Tanpa menjawab, Aisha yang lemas justru langsung terduduk di atas closet. Tentu saja dengan bantuan Faris.


“Bang, Ica mual banget. Ica nggak sanggup,” isak Aisha. Kehamilan pertamanya sama sekali tidak semenyiksa ini menurutnya.


“Sabar, Sayang … sabar yah. Abang bisa bantu apa biar Ica nggak mual lagi?” Sungguh Faris pun begitu merasa tak tega menyaksikan istrinya semenderita ini mengandung anaknya. Tiba-tiba terlintas ingatan bagaimana menderitanya Aisha saat mengandung anak pertama mereka waktu itu tanpa sosok dan perhatiannya. Aisha pasti begitu tersiksa harus menanggung semuanya sendiri. Sungguh Faris merasa menjadi suami yang jahat seketika.


Aisha hanya menggeleng sambil terduduk lemas. Di hatinya ia begitu bersyukur karena kehamilan saat ini ada suaminya yang selalu siaga membantu dan menemaninya. Ia tak ingin lagi mengingat-ngingat kejadian buruk di kehamilan pertamanya dulu yang hanya akan membuatnya stress dan justru berakibat buruk pada kandungannya. Kali ini Aisha sudah bertekad akan menjaga baik-baik kandungannya ini.


Waktu baru menunjukkan pukul setengah dua dini hari, masih terlalu dini untuk melaksanakan solat malam. Faris pun memapah Aisha kembali ke ranjang, setelah memberikan minum ia membawa kepala Aisha agar bersandar di dadanya. Ia sendiri memilih bersandar pada kepala ranjang dengan posisi setengah berbaring.


Seraya mengusap-ngusap lembut perut istrinya, Faris mulai membacakan ayat al-quran yang menjadi favorit sang istri, surat Ar-rahman. Aisha pun turut mengusap perutnya sendiri dengan menggenggam tangan suaminya. Ar-Rahman adalah salah satu surat dengan arti pengasih, keduanya berharap agar anak mereka kelak selalu dikasihi oleh orang-orang di sekelilingnya.


Merasa tak ada lagi pergerakan usai Faris menyelesaikan bacaannya, ia mencoba membenahi posisi Aisha agar lebih nyaman dalam lelapnya. Menatap wajah tenang itu hati Faris seketika menyejuk. “Allahu … betapa sempurnanya Engkau telah mengirimkan dia untuk membersamaiku. Sungguh berdosanya aku jika sampai kembali menyia-nyiakannya.” Netra Faris mengembun saat bibirnya mengecup lembut puncak kepala Aisha dengan bergetar. “Jaga dia untukku, Rabbi …”


Puas memandangi wajah ayu istrinya, Faris tidak lantas turut bergabung dengan Aisha. Ia memilih untuk mengambil air wudhu dan mendirikan solat malam.


Di atas sajadahnya, di samping sang istri yang mulai terlelap, Faris menengadah meminta kepada penciptanya. Tak banyak yang Faris minta, ia hanya meminta kenikmatan hidup, rezeki yang berlimpah dan barokah, keluarga yang damai, tentram, dan sejahtera, juga meminta keberuntungan dunia dan akhirat. Doa itu yang selalu Faris langitkan dan tak pernah absen dari setiap usai solatnya.


____


Tak berbeda jauh dengan di kampung halamannya, di sini pun adzan saling bersahutan ketika waktu subuh tiba. Dari Blue Mosque dan dari sudut samping Hagia Shopia. Ada suasana haru mendalam saat Faris dengan khusyuk mendengarkan setiap kalimat adzan yang begitu indah bersahut-sahutan. Faris yang memang belum beranjak dari sajadahnya membuat Aisha mengerjapkan mata karena merasa seseorang tidak ada di tempatnya.


“Abang kok nggak bangunin Ica juga buat solat malem?” Aisha bertanya dengan suara seraknya begitu Faris menyelesaikan putaran tasbih terakhirnya.

__ADS_1


Mendengar itu sontak Faris menoleh dan segera mendekat ke ranjang karena melihat istrinya yang hendak bangkit.


“Maaf, Sayang. Abang nggak tega banguninnya, Ica pasti lemes banget setelah semaleman muntah,” tukas Faris membantu Aisha untuk bangkit.


“Padahal Ica pengen solat malem juga sama Abang.”


“Iya maaf ya, Sayang. Abang janji nanti-nanti pasti bangunin Ica deh.”


“Kita ambil wudhu yah? Udah masuk waktu subuh,” imbuh Faris yang segera diangguki Aisha.


Ketika biasanya Aisha yang selalu menyiapkan peralatan solat dan menggelarkan sajadah jika mereka memiliki kesempatan untuk solat berjamaah, kini gantian justru Faris yang melakukannya. Mengingat kondisi sang istri membuat Faris tak bisa membiarkannya untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.


“Ica sambil duduk aja solatnya kalo emang masih lemes, Sayang.”


“Nggak perlu, Bang. Ica kuat kok,” ucapnya menampilkan senyum diantara bibir pucatnya.


Selesai dengan doa mereka, Aisha segera menarik tangan suaminya untuk kemudian ia cium seperti biasanya. Begitupun dengan Faris yang akan segera menarik sang istri dan mendaratkan kecupannya di puncak kepala Aisha.


“Dede bayinya pengen diusapin sama Papinya, boleh?” pinta Aisha lembut seraya merebahkan diri di pangkuan Faris yang masih lengkap dengan sarungnya. Begitupun ia yang masih mengenakan mukenanya.


“Dede bayi apa Maminya yang mau?” goda Faris menjawil hidung istrinya gemas.


Dengan sangat lembut, jemari kekar Faris bergerak naik turun di area perut Aisha, menciptakan rasa haru yang membuat Aisha seketika menyembunyikan genangan air di pelupuk matanya.


“Udah nggak mual lagi, Sayang?”


Aisha hanya menggeleng dan justru semakin menyembunyikan wajahnya pada dada suaminya.


‘Allahu … jangan ambil kebahagiaan ini kembali dari keluarga kami’


Hampir saja Aisha kembali terlelap dalam dekapan Faris ketika tiba-tiba ponsel di atas nakas berdering dengan kencangnya, membuat dua manusia itu saling menatap.


“Abang angkat telpon dulu ya, Sayang, takutnya penting.”


Aisha pun hanya kembali mengangguk lantas beringsut menegakkan tubuhnya.


[Hallo,Tuan. Maaf saya mengganggu waktu anda sepagi ini.]

__ADS_1


[It’s okay, kenapa Ger? Kamu pasti punya alesan kenapa ganggu saya sepagi ini.]


[Maaf, Tuan. Proyek di Ankara membutuhkan kehadiran anda hari ini juga. Ada beberapa yang harus diselesaikan.]


Alih-alih menjawab, Faris justru menoleh ke arah sang istri yang tengah melipat kembali mukenanya.


[Gila kamu ya. Nggak mungkinlah saya ninggalin istri saya dalam keadaan kayak gini. Istri saya belum sepenuhnya pulih, Ger. Saya nggak bisa ninggalin dia sendirian.]  Faris memelankan suaranya seraya melangkah sedikit menjauh dari tempatnya. Ia tidak ingin sampai membuat Aisha kepikiran.


[Tapi, Tuan?]


[Saya akan hubungi kamu nanti.]


“Abang pergi aja. Ica sama dede bayi nggak apa-apa kok.” Tiba-tiba sepasang tangan melingkari pinggang Faris saat ia baru saja menyelesaikan panggilannya dengan Roger. Hal itu sontak membuat Faris memutar tubuhnya menghadap sang empunya.


“Nggak, Sayang. Abang nggak bisa ninggalin Ica gitu aja.”


“Bang, beneran kita nggak apa-apa kok. Proyek di Ankara lebih butuh Abang sekarang,” tukas Aisha meyakinkan suaminya, disertai dengan senyuman terbaiknnya.


“Kalo proyek di Ankara beres kan kita bisa cepet pulang ke Surabaya,” imbuh Aisha membuat suaminya tampak berpikir.


“Ya udah nanti sebelum berangkat Abang anterin Ica ke apartemen Ibu yah? Biar Ica ada yang nemenin.”


Aisha menghela napas dan meraih jemari suaminya, “Kita udah terlalu lama nggak bareng-bareng, dan Ica nggak mau semakin menambah frekuensi perpisahan kita. Jadi Ica bakal nunggu di sini, nggak kemana-mana.”


“Ya udah kalo gitu biar Roger yang suruh jemput Ibu ke sini yah? Yang penting Ica nggak sendiran.” Faris kembali mencoba bernegosiasi.


“Nggak perlu, Bang. Abang percaya kan sama Ica?” ujarnya mendongak, menatap sang suami yang jauh lebih tinggi dari postur tubuhnya sendiri.


“Tapi janji kalo ada apa-apa atau Ica ngerasa gimana-gimana langsung hubungi Abang, yah? Atau Ibu kalo nggak Kak Faisal.” Dengan berat hati akhirnya Faris mencoba untuk baik-baik saja.


“Iya, Ica janji. Anak Abang kuat kok. Ya kan, Nak?” ujar Aisha menunduk menyentuh perutnya sendiri.


Sedangkan Faris justru seketika berlutut memegangi pinggang Aisha dan menyejajarkan diri dengan perut di hadapannya, “Sayang, kamu jangan nakal ya, Nak. Jangan ngerepotin Mamimu. Papi mau kerja dulu biar kita cepet pulang kampung,” ucap Faris turut berbicara dengan sesuatu di balik perut istrinya. Lalu setelahnya Faris mendekatkan wajahnya pada perut yang belum membuncit itu, menciumnya lembut dari balik dress yang masih membungkus tubuh istrinya.


Ciuman itu memang tidak menembus langsung ke perutnya, tapi tetap saja hal itu mampu membuat hati Aisha menghangat dan merona. Jantungnya berdetak lebih kencang. Aisha bungkam tak tahu harus mengatakan apa, padahal bukan satu atau dua bulan mereka hidup bersama, bukan satu atau dua kali pula mereka terbiasa bersentuhan fisik. Suaminya itu memang selalu mampu membuat Aisha merasa jatuh cinta berkali-kali hanya pada orang yang sama.


___________

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2