
Holla! Aisha and Faris are back!
***
Aisha baru saja menyelesaikan rutinitas paginya ketika seseorang menekan bel unitnya. Wanita yang tengah hamil muda itu pun bergegas melangkah ke arah pintu karena mengira Ning Sabina dan Gus Fakih secepat itu sudah kembali.
Sebelum benar-benar membuka doorlock, lebih dulu wanita itu memeriksa doorcam untuk melihat siapa yang berkunjung ke unitnya. Namun seketika senyum di wajahnya terbit saat tahu seseorang di depan unitnya itu justru bukan Ning Sabina dan Gus Fakih yang sudah kembali.
“Kakak!” pekik Aisha segera menghambur ke arah lelaki yang kini berdiri di depan unitnya yang tak lain adalah Faisal.
“Heh nggak usah maen nubruk kan bisa cantik, jangan lupa kamu lagi hamil keponakan Kakak ya Aish,” tukas Faisal memperingati adik cantiknya itu.
“Hehe maaf, abisnya Aish kangen banget sama Kakak,” sahut Aisha dengan wajah menggemaskan, Faisal bahkan seakan masih tak percaya jika wanita manis itu adalah adik kandung yang sejak dulu sangat ia nantikan kelahirannya.
“I know, makanya Kakak ke sini mau ajak Aish jalan-jalan. Faris kapan pulang?”
“Kok Kakak tau kalo Abang lagi nggak ada?”
Faisal sontak mengusap gemas puncak kepala adiknya yang tertutup hijab, “Apapun tentang kamu dan Ibu Kakak harus tau lah,” ujarnya bangga.
“Ah jadi gini rasanya punya kakak yah? Aish seneng banget!” Wanita itu kembali menghambur ke pelukan kakaknya yang selama ini hilang.
Hati Faisal mencelos mendengar penuturan adiknya itu, apakah selama ini adik dan ibunya tidak hidup dengan baik?
“Oh ya ini titipan dari Ibu.” Faisal menyodorkan paper bag yang ia tenteng sejak tadi.
“Ibu lagi sibuk ya Kak?” Faisal mengangguk cepat, “Kakak udah bilang sama Ibu kalo kamu aman sama kakak sepupu suamimu di sini, Kakak juga bakal tetep pantau Aish selama Faris nggak ada. Kakak cuma nggak mau Ibu terlalu cape dan banyak pikiran nantinya,” jelas Faisal begitu menjamin kesehatan ibunya.
“Iya Kak, emang lebih baik kaya gitu. Lagian Aish juga baik-baik aja, cuma masih sedikit mual makanya belum sempet main lagi ke unit Ibu.”
“Kakak sepupu suamimu lagi pergi?” tanya Faisal yang tampak melongokkan kepalanya ke dalam unit dan tak mendapati seorang pun di dalam sana.
“Iya Kak, lagi ketemu dulu sama adiknya yang lagi kuliah di sini, di Istanbul University juga. Gus Hasan, Kakak pasti kenal dong? Mahasiswa Kakak juga,” jelas Aisha mengingatkan kakaknya.
“Hasan? Temennya Ayla?” Aisha mengangguk cepat, “Jadi Gus Hasan itu adiknya Ning Sabina, kakak sepupu Abang yang sekarang tinggal di unit Aish. Selain sepupu Abang, mereka juga putra putri dari pemilik pesantren tempat Aish mondok dulu.”
__ADS_1
Faisal sedikit mengernyitkan dahinya, “Tunggu! Kamu pernah mondok? Kayanya banyak yang Kakak nggak tau tentang kamu dan Ibu. Gimana kalo sekarang kita jalan-jalan? Itung-itung quality time biar kita saling berbagi tentang kehidupan kita sebelumnya,” usul Faisal yang segera mendapati anggukan cepat dari adiknya.
“Bentar Aish minta izin Abang dulu,” ujar Aisha segera merogoh ponselnya di balik saku gamis yang dikenakannya. Faisal pun hanya mengangguk sambil melengang masuk untuk menyimpan paper bag titipan ibunya ke dalam.
Tak berapa lama Aisha pun menyusul, “Abang nggak angkat Kak, gimana dong?” tanyanya mengerucutkan bibirnya gemas.
“Mungkin suamimu lagi sibuk sama proyek di sana. Biar nanti Kakak yang minta izin sama dia. Ya udah yuk nanti keburu siang, panas.”
“Bentar, Aish ambil sling bag dulu.” tanpa menunggu persetujuan Faisal wanita itupun segera melengang pergi ke kamarnya mengambil apa yang dibutuhkannya.
Baru mereka hendak memasuki lift, ternyata keduanya berpapasan dengan Ning Sabina dan Gus Fakih yang menatapnya heran, tentu saja karena keberadaan lelaki yang bersama Aisha kini.
“Kebetulan sekali Ning kita ketemu di sini, saya baru saja mau turun nyari njenengan buat minta izin,” ujar Aisha tetap pada sikap sopannya, padahal berkali-kali Ning Sabina selalu mengatakan jika Aisha tak perlu sesegan itu padanya karena selain wanita itu kini telah menjadi bagian dari keluarganya, sejak dulu Ning Sabina memang tak pernah menganggap Aisha orang lain. Wanita itu sudah menganggap Aisha seperti adik perempuannya sendiri.
Ning Sabina hanya mengerutkan keningnya sambil terus memandang Faisal penuh tanda tanya.
“Oh ya Ning perkenalkan ini Kakak saya,” ujar Aisha yang menyadari sirat tanya dari Ning Sabina.
“Kakak? Bukannya kamu anak tunggal Sha?” Ning Sabina semakin kebingungan, apa mungkin kakak sepupu yang Aisha maksud?
“Awalnya seperti itu Ning, tapi ternyata saya memiliki kakak kandung yang ternyata hilang bersama mendiang ayah saya. Qodarullah tanpa sepengetahuan saya dan Ibu ternyata kakak saya masih hidup dan besar di kota ini.”
“Nggeh Ning, insyaAllah kalo ada kesempatan nanti saya ceritakan detailnya,” ujar Aisha yang mengerti akan sirat tanya yang masih tercetak jelas di wajah Ning Sabina.
“Ah iya, Mba tunggu ceritanya.”
Ning Sabina
kemudian menatap ke arah Faisal dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada,
“Perkenalkan Mas, saya Sabina, kakak sepupunya Faris, suami Aisha. Dan ini putra saya Fakih,” tutur Ning Sabina memperkenalkan dirinya dengan sopan.
“Ah iya, saya Faisal. Kakaknya Aisha, nice to meet you.” Faisal pun melakukan hal yang sama dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
“Hallo boy, nice to meet you,” imbuh Faisal sedikit menunduk untuk mengusap kepala bocah laki-laki yang sejak tadi berdiri di samping ibunya.
__ADS_1
“Hai Uncle,” sahut Fakih mengikuti gaya bicara Faisal menggunakan bahasa inggris.
“Ini kakaknya Gus Hasan Kak, yang Aish ceritain tadi.” Aisha menoleh ke arah kakaknya yang lantas mengangguk paham.
“Gus Hasan itu salah satu mahasiswa Kakak saya Ning, beliau mengajar di tempat Gus Hasan.”
“Wah beneran? Kenapa dunia ini sempit sekali.” Ning Sabina tampak terkejut mendengar fakta tersebut.
“Kalau begitu salam kenal Mas, mohon bimbingannya untuk adik saya,” ujar Ning Sabina pada lelaki yang ia taksir usianya seumuran dengannya.
Faisal pun mengulas senyumnya tulus, “InsyaAllah Mba,” ujarnya kembali menunduk.
“Oh ya Ning, njenengan sudah bertemu dengan Gus Hasan? Sebentar sekali?”
“Ah iya jadi lupa, ini tadinya Mba cuma mau nganterin Fakih ke unit, soalnya takut kamu bosen kalo kelamaan sendirian. Kalo Hasan masih makan di lobi. Tapi sepertinya kamu juga mau pergi, ya sudah nggak apa-apa.”
“Ya ampun padahal nggak usah repot-repot Ning. Ini saya juga mendadak karena Kak Faisal tiba-tiba dateng. Ya udah kalo gitu Gus Fakih ikut Mba Ica aja jalan-jalan yuk? Sama uncle, gimana?” tawar Aisha menunduk mendekati Gus kecilnya.
“Nggak usah Sha, nanti malah ngerepotin kalian. Biar Fakih ke bawah lagi aja sama Mba.”
“Nggak ngerepotin Ning, sekalian biar kita ajak Fakih jalan-jalan liat Istanbul.”
“Gimana? Fakih mau jalan-jalan sama Uncle?” Kini Faisal yang menawarkan kepada bocah laki-laki yang tampak berbinar itu.
“Mau Uncle! Boleh kan Mi Fakih ikut Mba Ica sama Uncle?” tanyanya mendongak ke arah ibunya.
Melihat binar di wajah putranya, akhirnya Ning Sabina pun mengiyakan, “Tapi janji Fakih nggak boleh nakal ya? Jangan rewel dan ngerepotin Mba Ica sama Uncle Faisal nanti,” pesan Ning Sabina mengusap lembut kepala putranya.
“Iya siap, Umi. Fakih janji nggak nakal,” sahut bocah itu terlihat begitu menggemaskan.
“Kalo gitu Mba titip Fakih ya Sha, Mas. Maaf jadi merepotkan kalian.”
“Nggak ngerepotin kok Ning. Saya malah seneng kalo Guse ikut, ya kan Kak?” sahut Aisha meminta pendapat kakaknya yang segera diangguki oleh Faisal.
Ketiganya pun berpisah di lift yang berbeda, Aisha dan Faisal yang membawa serta Gus Fakih langsung menuju ke basement, sedangkan Ning Sabina kembali ke restoran di lobi untuk kembali menemui adiknya.
__ADS_1
****
Bersambung ...