
Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...
***
“Huh.”
Karina menghela napas kasar lantas membanting tubuhnya ke atas pembaringan setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Hari ini adalah weekend membosankan yang ke sekian kali dalam hidupnya. Lagi-lagi ia hanya bisa melewatinya dengan menonton film-film koleksinya yang belum sempat ia tonton.
Durasi film sudah berlangsung hampir setengahnya, namun Karina sama sekali tak menyimaknya. Entah kenapa ia merasa tidak mood seperti biasanya.
“Argh! Bosen banget sumpah. Mana Rafa udah dibawa pulang bapaknya lagi.”
Karina menelentangkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya yang tetap tak berubah, masih seperti itu hingga semakin lama pandangannya mengabur dan akhirnya netra cantik itu menutup sempurna.
Drrttt … drrttt ….
Dering ponselnya seketika membuat Karina terlonjak karena pasalnya ia baru saja hendak berkelana ke alam mimpinya.
“Hmm.” Karina hanya berdehem sambil menempelkan ponselnya ke telinga tanpa membuka netranya.
“Kamu udah makan?” tanya seseorang dari sebrang yang seketika membuat mata Karina membulat setelah mendengar suaranya.
“Em belum belum.” Dengan cepat ia menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang tak akan mungkin seseorang di sebrang itu akan mengetahuinya.
“Aku jemput ke rumah.”
“Ha?”
Klik, sambungan telepon langsung ditutup menyisakan Karina yang masih melongo dan kalang kabut sendiri. Ia lantas segera lari terbirit-birit ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap.
Hampir dua puluh menit Karina berkutat di depan cermin, wajahnya benar-benar berseri hingga menambah kesan manis pada wajahnya yan kini tengah dipoles make up, hanya make up sederhana namu mampu membuat tampilannya lebih segar.
“Selamat tinggal kasur, maaf yah malem minggu ini aku nggak bisa nemenin kamu.” Karina bergumam seolah berbicara dengan kasurnya.
Dengan hati riang ia menyambar sling bagnya lalu melangkah keluar dan menuruni anak tangga perlahan.
“Omo!” Karina terkejut ketika melihat seseorang yang sudah terduduk di sofa ruang tamunya saat kakinya sudah berpijak pada anak tangga terakhir. Tangannya bahkan dengan sigap mencengkeram besi pegangan yang terdapat di sisi tangga untuk menopang keterkejutannya.
Sedangkan sang tersangka hanya menaikkan sebelah alisnya sambil menikmati minuman yang disuguhkan untuknya.
“Udah nyampe dari tadi?” Karina bertanya sambil melangkah ke arahnya.
“Lumayan, sejak kamu mengangkat teleponku.” Azka berucap dengan santai.
Seketika Karina melongo dan menepuk sendiri dahinya, diliriknya arloji yang melingkar di tangannya, di depan cermin saja ia menghabiskan waktu hampir setengah jam, belum lagi dengan ritual mandi dan berpakaiannya. Karina benar-benar tak bisa membayangkan bagaiaman jenuhnya Azka menunggu dirinya hingga selama itu.
“Yuk.” Azka bangkit dan melangkah mendahului Karina yang masih mematung di tempatnya.
Seketika Karina tersadar saat wangi Azka yang begitu dihapalnya menyapa indra penciumnya saat Azka melintasi dirinya, sontak ia langsung mengejar langkah Azka yang sudahhampir menggapai daun pintu rumahnya.
“Kenapa nggak bilang kalo udah dateng dari tadi?” Karina bertanya sambil memasangkan sabuk pengamannya.”
“Emang kamu bakal langsung turun terus berangkat?”
“Ya seenggaknya kan aku bisa lebih cepet, nggak terlalu nyantai kayak tadi.”
“It’s okay, kita masih punya banyak waktu kok.” Azka menjawab dengan tetap fokus pada jalanan di depannya yang tampak lebih ramai dari biasanya.
__ADS_1
“Maksudnya? Emang kita mau kemana?” Karina baru terpikir kemana Azka akan membawanya malam ini setelah ia mengamati penampilan Azka yang tampak sangat casual.
“Makan.” Lagi-lagi Azka hanya menjawab singkat tanpa menoleh.
Karina hanya menganggukinya dengan mulut yang sudah membulat membentuk huruf ‘O’.
***
“Sayang.” Faris berbisik dengan lembut di telinga Aisha sambil mengusap-ngusap sayang puncak kepala istrinya.
“Emmm.” Aisha hanya berdehem menanggapinya dengan suara yang terdengar serak khas orang bangun tidur, namun ia masih belum membuka matanya.
“Bangun yuk, Abang udah bikinin sarapan special buat Ica.”
Aisha sontak membuka matanya dan langsung mendudukan dirinya menghadap sang suami setelah mendengar penuturan Faris.
“Abang udah bikin pecelnya?” Aisha bertanya dengan terkejut, pasalnya ia teringat bagaiamana antusiasnya sang suami untuk membuat makanan jenis ini.
“Udah.” Faris menjawab santai sambil mengecup bibir Aisha sekilas.
“Morning kiss,” imbuhnya dengan senyum yang selalu membuat Aisha semakin jatuh cinta tentunya.
“Kok nggak bangunin Ica sih kalo mau bikin pecel?” tanya Aisha dengan menyebikkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.
‘Lah perasaan semalem dia yang ogah-ogahan, kenapa sekarang malah ngambek pas tau pecelnya udah jadi?’
“Abang kasian liat Ica kayak ngantuk banget, kan semalem abis begadang bukain kacang. Ya udah deh Abang bikin aja sendiri,” tutur Faris membujuk istrinya.
“Emang Abang bisa?” Aisha bertanya dengan ragu.
“Bisa dong, dibantuin Roger sih dikit.”
“Kan udah mandi tadi sebelum subuh,” protes Faris yang sebenarnya enggan menunggu karena sudah tak sabar menyantap hasil masakannya.
“Gerah lah Bang musim panas gini, mana Ica udah tidur lagi.”
“Jangan lama-lama, Abang tunggu di depan.” Faris pun beranjak dan lagi-lagi mengecup bibir istrinya dengan gemas sebelum melangkah keluar.
“Emmm.” Aisha mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi setelah membalas kecupan suaminya.
“Bini gue kayaknya makin hari makin cantik terus deh,” gumam Faris dengan senyum tampannya menatap Aisha yang sudah menghilang di balik pintu.
***
Azka memarkirkan mobilnya di halaman salah satu café yang sedang populer di kalangan remaja akhir-akhir ini. Weekend seperti ini tentunya pengunjung berbondong-bondong berdatangan untuk memadatinya, beruntung Azka sudah mereservasi tempat sehingga mereka tak perlu khawatir tak kebagian. Dan khusus weekend seperti ini café mengadakan live musik untuk menemani para pengunjung menikmati malam mereka.
“Kamu udah sering ke sini?” Karina bertanya tepat saat seorang pramusaji menghidangkan makanan pembuka untuk keduanya.
“Pernah, tapi nggak sering,” jawab Azka mengangguk-anggukan kepalanya.
“Lagu ini saya persembahkan untuk kalian yang masih belum bisa berdamai dengan kehilangan, hidup harus tetap berlanjut, yakinlah jika semua pasti akan segera baik-baik saja.” Sang penyanyi berujar sebelum menyanyikan lagunya.
Sewindu sudah
Ku tak mendengar suaramu
Ku tak lagi lihat senyumanmu
__ADS_1
Yang selalu menghiasi hariku
Sewindu sudah
Kau tak berada di sisiku
Kau menghilang dari pandanganku
Tak tahu kini kau dimana
Ternyata belum siap aku
Kehilangan dirimu
Belum sanggup untuk jauh darimu
Yang masih slalu ada dalam hatiku
Tuhan tolong mampukan aku
Tuk lupakan dirinya
Semua cerita tentangnya yang membuatku
Slalu teringat akan cinta yang dulu
Hidupkanku
Semua pengunjung terpesona dengan lagu yang dibawakan sang penyanyi, bahkan tak sedikit dari mereka yag terbawa suasana hingga tanpa sengaja kembali bernostalgia dengan kisahnya masing-masing.
Tak terkecuali seorang pria yang kini duduk semeja dengan Karina, ia tampak memejamkan matanya seolah menikmati nyanyian itu, padahal sebenarnya logikanya tengah berperang dengan hatinya kala adegan-adegan bersama sang mantan terindahnya kini sudah memenuhi isi kepalanya. Ya, Azka saat ini tengah berusaha menyesuaikan emosinya agar tak terbawa suasana, karena saat ini ia tengah datang ke tempat ini dengan wanita yang berbeda.
Tuhan tolong mampukan aku
Tuk lupakan dirinya
Semua cerita tentangnya yang membuatku
Slalu teringat akan cinta yang dulu
Hidupkanku
Lagu itu terus saja mengalun seolah mewakili jeritan hati Azka saat ini.
***
Hayoo siapa yang juga belum bisa move on kayak Papa Azka nih? hehe
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, lik and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1