Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Pecel seadanya


__ADS_3

Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...


***


Setelah memarkirkan mobilnya di halaman salah satu mall, Faris dengan semangat mengajak istrinya untuk memilah-memilih beberapa sayuran yang cocok untuk dijadikan pecel. Berkali-kali mereka berputar-putar di tempat yang sama namun tak kunjung menemukan sayuran yang berdaun lebat.


“Bang mau muter-muter sampe pagi di sini?” tanya Aisha menghentikan langkah Faris yang terlihat sangat semangat.


“Abisnya bingung mau pake sayur apaan Yang, musim panas gini nggak ada gitu yang daunnya lebat kayak daun singkong atau kangkung,” keluh Faris sambil menilik satu persatu sayuran yang berjajar pada raknya.


Memang sayuran seperti madimak yang bisa disebut sebagai pengganti dari daun singkong hanya tumbuh di musim semi setelah salju mencair.


Aisha sudah menghela napasnya berkali-kali, kini ia turut mengikuti kegiatan sang suami untuk menilik satu persatu sayuran yang berdaun lebat, dari satu rak ke rak yang lainnya hingga sampai di ujung kemudian kembali lagi dari awal khawatir ada yang luput dari penglihatannya.


“Ah mending ini aja nih Bang,” ujar Aisha membuat Faris menoleh ke arahnya.


Dengan semangat Aisha menyodorkan brokoli pada sang suami.


“Sayang ini mah nggak ada daunnya malah,” ucap Faris membolak-balikkan brokoli yang Aisha sodorkan.


“Ih Abang, yang penting warnanya ijo terus ini juga lebat nih meski bukan daun,” tutur Aisha menunjukkan brokoli yang berkepala hijau lebat.


“Boleh deh boleh,” ujar Faris pada akhirnya, lalu memasukkan brokoli yang sudah Aisha pilihkan ke dalam troli belanjaan.


“Terus apalagi Sayang?”


“Emmm.” Aisha nampak berpikir sambil melangkah.


“Ah ini nih Bang,” ujar Aisha mengambil seikat asparagus.



“Ica pernah makan pecel yang sayurnya pake ginian?”


Aisha sontak menggeleng.


“Ini kan panjang terus ijo, anggep aja kacang panjangnya gitu. Biasanya suka ada izmir borulce buat pengganti kacang panjang, tapi kayaknya lagi kosong deh,” jelas Aisha yang ingin pencarian ini segera berakhir.


“Oke deh. Terus apalagi? Masa nggak ada yang berdaun gitu Yang?” ujar Faris sambil netranya berkeliling menyapu deretan-deretan sayuran di sana.


Seketika netra Faris berbinar saat mendapati sayuran yang berdaun cukup lebat.


“Finally nemu juga nih Yang,” ujar Faris mengambil buah bit yang berdaun cukup lebat.



Aisha pun sontak tersenyum gembira karena pencariannya akan segera berakhir.


“Nggak mau pake ispanak aja Bang?” tanya Aisha mengambil seikat ispanak atau biasa disebut dengan bayam bule.


“Nah iya sekalian ini,” ucap Faris berbinar.


“Nah udah yuk, ini udah empat macem sayuran. Nggak usah banyak-banyak nanti nggak enak,” tutur Aisha menyeret lengan Faris ke arah kasir.


“Eh bentar Yang, terus bumbunya gimana?”

__ADS_1


Aisha langsung menepuk keningnya sendiri, kenapa ia bisa melupakan hal itu?


“Ah iya, emang di sini ada yang jual bumbu pecel?” tanya Aisha.


“Nggak ada lah Sayang, boro-boro bumbunya, pecelnya aja mereka nggak tau gimana rupanya.”


“Terus?”


“Kita bikin sendiri,” ujar Faris dengan berbinar.


Aisha sendiri sudah melongo mendengar jawaban suaminya.


“Abang bisa?”


Faris sontak menggeleng dengan pertanyaan istrinya.


“Kita browsing dulu Yang,” ujarnya lantas mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


“Bahan utamanya sih kacang tanah, gula merah, asam jawa sama kencur,” ujar Faris sambil menscroll layar ponselnya.


“Ok let’s go.” Kini justru Aisha yang semangat mencari bahan-bahan tersebut, namun semangatnya Aisha tentu berbeda tujuan dengan suaminya.


“Nggak ada kacang tanah yang masih mentah gitu Bang?” tanya Aisha yang tengah menilik satu persatu kacang-kacangan di sana.


“Ah pake yang dalam kemasan aja Yang,” ujar Faris mengambil sebungkus kacang tanah dalam kemasan yang siap makan yang biasanya dijadikan cemilan ketika menonton televisi.


“Terus Ica harus kupasin satu-satu gitu?”


“Heem,” jawab Faris polos.


“Ya udah ayo lanjut cari gula sama yang lainnya,” ajak Aisha menyeret suaminya ke rak-rak selanjutnya.


“Berarti tinggal nyari kencur Yang, di sini emang ada kencur?”


“Ica udah lelah ini Bang, kita tanya aja sama mbak-mbak penjaganya deh,” usul Aisha yang segera diangguki oleh Faris.


“Eh tapi bahasa sininya kencur apa Yang?”


“Ye Ica mana tau.”


“Ya kan Ica yang lebih sering ke Turki.”


“Tapi berkali-kali Ica ke Turki nggak pernah punya keinginan seaneh ini ya. Pake inggris aja deh nanyanya.”


Faris pun mengikuti usulan sang istri, ia lantas menghampiri sang pramuniaga dan bertanya apakah di sini menyediakan kencur.


“Excusme, is there sand ginger here?” tanya Faris pada salah satu pramuniaga yang menyambut ramah kedatangannya. (Permisi, apa di sini menyediakan kencur?)


“Sorry? Sand ginger?” Sang pramuniaga justru gagal paham dengan pertanyaan Faris. (Maaf? Jahe pasir?)


Dengan segera Faris menggeleng dan merogoh ponselnya lantas menunjukkan gambar kencur pada sang pramuniaga yang tetap tak paham benda apa itu.


“You mean this Sir?” Pramuniaga tadi justru menunjukkan seplastik jahe yang sudah berbentuk bubuk. (Apakah yang anda maksud adalah ini, Tuan?)


Lagi-lagi Faris menggeleng ketika sang pramuniaga menunjukkan beberapa jenis rempah yang serupa dengan apa yang Faris cari.

__ADS_1


“Yang nggak ada kencurnya, gimana dong?”


“Ya udah nggak usah di kasih kencur deh Bang.”


“Oh apa pake jahe aja? Kan rasanya mirip tuh ada pedes-pedesnya,” usul Faris mengambil sekantong jahe bubuk.


“Abang mau bikin wedang jahe?”


Faris sontak menggeleng sambil nyengir kuda.


“Ya udah deh pecel tanpa kencur.” Akhirnya Faris menyerah dan mengikuti saran sang istri.


Semua tatapan tentu tertuju pada Faris dan Aisha ketika mereka berjalan menuju kasir, namun tepatnya pada Aisha yang tengah mendorong troli belanjaan yang dipenuhi oleh sayuran hijau. Pasalnya ia hanya mengenakan piyama namun berbelanja sayuran begitu banyak, karena biasanya mereka yang pergi ke mall hanya mengenakan piyama tentu hanya untuk membeli keperluan yang mendesak, tak seperti Aisha yang bahkan hampir berjam-jam berkeliling mall.


Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Faris langsung melajukan mobilnya ke basement hotel. Ia lantas segera membongkar hasil belanjaannya tadi bersama sang istri.


Aisha melirik arloji di tangannya, pukul setengah dua belas malam, pantas saja ia sudah beberapa kali menguap.


“Bang mending kita bikin pecelnya besok pagi aja ya? Sekarang kita bikin bumbunya aja biar besok nggak ribet,” tutur Aisha yang hanya duduk dan menyaksikan suaminya membenahi barang belanjaan mereka.


Faris lantas mencuci tangannya dan menghampiri sang istri yang sudah duduk dengan kepala yang bertumpu di atas meja.


“Maaf ya Ica jadi cape gara-gara Abang pengen pecel deh,” ujar Faris mengecup puncak kepala Aisha.


“Ya udah ayo kita bikin bumbunya biar cepet,” jawab Aisha mengambil satu bungkus kacang tanah dalam kemasan yang sudah siap makan.


“Eh Abang tau gimana cara cepet buat bukain kacang-kacang ini Yang.” Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya. Faris lantas merogoh ponsel di sakunya.


“Hallo, Roger kamu ke kamar saya ya sekarang,” tutur Faris menutup sambungan telepon setelah mendapat jawaban dari Roger.


Sedangkan Roger sedang kalang kabut sendiri di kamarnya. Pasalnya ia baru saja memejamkan netranya dan hanya mengenakan boxer sebagai pakaian tidurnya. Dengan sigap ia langsung mengenakan setelan jas hitamnya juga tak lupa alat komunikasi yang menempel di telinganya seperti yang biasa ia gunakan ketika bertugas dan langsung melangkah ke kamar sang Tuan.


Ting tong … benar saja tak sampai lima menit Roger sudah berada di depan kamar Faris. Dan Faris sendiri yang membukakan pintunya.


Faris sontak melongo saat melihat sosok yang tengah berdiri tegap di balik pintu kamarnya.


“Kamu mau kemana Ger?” tanya Faris sambil tatapannya tak lepas dari Roger, ia bahkan menilik dari atas sampai bawah.


“Bukankah tadi Tuan yang meminta saya ke sini?”


“Iya memang, tapi maksudnya ganteng-ganteng amat mau kemana?”


Roger sontak tersenyum mendengar pujian sang Tuan.


“Orang saya mau minta bantuan kamu buat bukain kacang-kacang itu,” tutur Faris menunjuk bungkusan kacang yang tengah Aisha buka.


Seketika senyum itu memudar dari wajah Roger.


Aisha yang baru sadar dengan kedatangan Roger sontak menahan tawanya saat melihat penampilan Roger yang sangat rapih untuk ukuran sekedar mengupas kacang.


“Selamat malam Nyonya,” sapa Roger saat berhadapan dengan Aisha yang tengah menatap dirinya sambil menahan tawanya.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, lik and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2