
Maya, Faisal, dan Aisha kini sudah berada di dalam apartemen yang ditempati oleh Maya dan Aisha. Ketiganya masih sama-sama membisu dengan pikiran masing-masing hingga Maya mencoba membuka suara.
Digenggamnya perlahan tangan putri bungsunya yang kini hanya menatap kosong benda di hadapannya.
“Aisha, Sayang … maafin Ibu yang selama ini udah nutupin semuanya dari kamu Nak … maaf karena sampai sekarang kamu bahkan nggak pernah tau kalo kamu punya seorang kakak laki-laki ….” Maya menghentikan kalimatnya, tangisnya benar-benar tak bisa lagi ia bendung.
Faisal yang duduk di seberang Maya dan Aisha hanya bisa menatap nanar kedua wanita itu menyelesaikan urusannya.
Aisha menoleh dengan wajah yang semakin sembab, menatap sang ibu yang juga tak kalah sembab dengannya, “Tapi kenapa Bu?” tanyanya lirih.
“Karena Ibu tau … terlahir tanpa sosok seorang Ayah bukan hal yang mudah untuk kamu terima, Sayang. Kamu bahkan dituntut menjadi wanita yang kuat oleh keadaan. Ketika gadis-gadis lain seusiamu merasakan bagaimana hangatnya cinta dan perlindungan dari sosok ayah dan kakak laki-lakinya … tapi kamu hanya punya seorang Ibu, wanita lemah yang berusaha membuatmu tumbuh tanpa kegelisahan. Karenanya … Ibu memilih untuk menyimpan semuanya sendiri dengan baik, biarlah kenangan itu menjadi sumber kekuatan Ibu untuk membersarkanmu, Nak.” Maya tak sanggup lagi melajutkan kalimatnya, sesak kini benar-benar membuat isak ibu dua orang anak itu semakin menjadi.
“Isal ngerti Bu kalo sekarang Ais belum bisa menerima kehadiran Isal sebagai kakaknya … Isal cukup tau diri karena tiba-tiba kembali di tengah-tengah kalian yang mungkin selama ini sudah kesulitan. Melihat Ibu dan Ais baik-baik saja, itu udah lebih dari cukup mengobati rindu Isal selama ini ….”
Tiba-tiba Faisal bangkit dari duduknya, membuat Maya khawatir dan turut berdiri juga, sedangkan Aisha masih setia dengan diamnya dengan pikiran yang berkecamuk juga isak yang ditahan.
Perlahan Faisal mendekat ke arah sang ibu, diraihnya tangan yang terlihat semakin merenta ke dalam genggamannya, “Selalu bahagia ya Bu … Isal titip adik perempuan kesayangan Isal. Terima kasih udah kasih Isal kesempatan buat bertemu kalian kembali,” tuturnya parau lantas segera meraih tubuh renta sang ibu ke dalam dekapannya.
Tangan Maya bahkan kembali bergetar saat membalas dekapan lelaki muda yang ternyata adalah putranya yang ia kira telah tiada.
“Kamu mau kemana Nak?” tanya Maya lirih meraih wajah tampan yang tergambar jelas sosok suaminya di sana.
Faisal menatap teduh ibunya dengan senyuman yang mengembang, “Isal nggak kemana-mana Bu … tapi Isal juga nggak akan maksa buat hadir di tengah-tengah kalian kembali.”
Ia kini beralih menatap sang adik yang masih duduk dengan tatapan kosongnya. “Jaga Ibu baik-baik ya Dek … maaf Kakak udah merusak suasana hatimu,” ujarnya perlahan melepas tangan sang ibu yang masih menggenggam tangannya, lantas perlahan berbalik melangkah menjauhi dua wanita berbeda usia itu setelah lebih dulu mencium punggung tangan sang ibu.
__ADS_1
“Kak ….” Tiba-tiba Aisha bangkit dari duduknya saat Faisal hendak meraih gagang pintu apartemennya. Dan panggilan itu berhasil membuat Faisal menghentikan langkahnya. Ia berbalik dengan senyuman yang tak bisa lagi ia sembunyikan karena mendengar sang adik memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’.
Aisha segera berlari dan menubruk tubuh Faisal yang kini diketahuinya sebagai kakak laki-laki yang ternyata selama ini juga mencarinya.
“Kita jaga Ibu sama-sama ya Kak … kita tinggal sama-sama kayak keluarga yang lain.” Aisha kini sudah terisak dalam dekapan kakaknya.
Tangan Faisal bahkan kini sampai bergetar saat membelai lembut puncak kepala Aisha, adik yang sejak dulu diidam-idamkannya dan ternyata benar hadir ke dunia ini melengkapi kebahagiaannya. “Makasih ya Dek udah mau nerima Kakak,” ujarnya parau.
“Maafin Ais ya Kak ….” Aisha semakin mengeratkan pelukannya, seakan tak ingin lagi jika lelaki dalam dekapannya ini kembali menghilang.
Maya pun semakin terisak menyaksikan pemandangan yang begitu menghangatkan hatinya. “Andai kamu juga masih ada seperti putra kita Mas … pasti sekarang kita juga menjadi keluarga yang utuh, kita sama-sama liat putra-putri kita tumbuh dewasa,” lirih Maya parau saat terbersit rasa rindu untuk suaminya yang semoga sudah tenang di sisi-Nya.
“Astaghfirullah!” Aisha tiba-tiba tersentak dan seketika melepaskan diri dari pelukan sang kakak saat indra penciumnya menangkap bau amis yang berasal dari tubuh kakaknya.
“Coba Kakak buka jaket Kakak,” ujar Aisha yang mengira jika bau amis itu berasal dari luka Kakaknya.
Faisal hanya menurut saja pada apa yang adiknya minta, sesekali ia meringis saat ngilu kembali terasa karena pergerakan tangannya.
“Kenapa Kak?” Maya pun turut mendekat ke arah keduanya saat melihat sang putra yang tampaknya menahan nyeri saat berusaha membuka jaketnya.
“Kakak ini orang yang waktu itu Aisha ceritain Bu, korban tembak di café waktu itu.”
“Astaghfirullah … jadi Kakakmu korban tembak yang kamu tolong itu Sayang?” tanya Maya dengan raut khawatir yang tercetak jelas di wajahnya, Aisha sontak saja mengangguk mengiyakan. Segera dibantunya sang putra yang masih berusaha membebaskan lengannya yang terluka dari lengan jaket yang dikenakannya.
“Tuh kan jaitannya pasti kebuka deh Kak.” Aisha pun tak kalah khawatir saat melihat kemeja di balik jaket Faisal sudah berubah arna oleh noda darah yang berasal dari lukanya.
__ADS_1
“Sini biar adikmu bantu bersihin lukanya.” Maya pun menggiring Faisal agar kembali duduk di sofa apartemennya, sedangkan Aisha beranjak mengambil kotak medis yang selalu dibawanya.
“Coba cerita sama Ibu, kenapa Kakak bisa dapet luka tembak ini, siapa yang udah ngelakuin ini Kak?”
Faisal sontak saja menggeleng menanggapi pertanyaan ibunya, “Isal nggak tau Bu … Baba sama orang-orang Isal juga lagi nyelidikin kasus ini,” ujarnya pada sang Ibu, ia rindu sekali kekhaatiran dari sosok Ibu saat dirinya terluka seperti saat ini.
Maya kembali menarik putranya ke dalam dekapannya, “Maafin Ibu ya Kak … selama ini Kakak juga pasti kesulitan harus hidup tanpa keluarga,” tutur Maya mengusapi puncak kepala putra kecilnya yang kini sudah tumbuh dewasa tanpa pengawasannya.
Aisha yang baru saja kembali dari kamarnya seketika menghentikan langkahnya saat ibu dan kakaknya tampak tengah melepas kerinduan mereka, alhasil ia memilih menyaksikan semuanya hingga sang kakak menyelesaikan kalimatnya.
“Pasca kecelakaan, ada sepasang suami istri yang baik hati dan mau bawa Isal menjadi bagian dari keluarga mereka Bu. Bertahun-tahun Isal coba cari keberadaan kalian … tapi pihak penyelidik mengatakan jika semua korban sudah tewas, Isal juga coba cari tahu dimana pusara kalian jika memang Ayah, Ibu sama adik dalam kandungan Ibu udah tiada, tapi lagi-lagi Isal nggak berhasil, mereka bilang ada seseorang yang mengurus agar semua jasad langsung dipulangkan ke Indonesia. Isal pengen pulang … tapi waktu itu Isal masih terlalu kecil buat mengingat dimana kampung halaman Isal. Sampe akhirnya sebuah kebetulan mempertemukan Isal sama Ais, waktu itu Ais lagi di Istanbul sama suaminya.”
“Memang waktu itu Pamanmu yang mengurus semuanya Kak … tapi Ayah dimakamkan di sini, karena waktu itu Ibu juga kritis dan nggak sempet melihat Ayahmu untuk yang terakhir kalinya.’
“Ya Allah … jadi selama ini Isal hidup di negara yang sama dengan makam Ayah Bu? Bawa Isal ke sana Bu, Isal pengen ke makam Ayah.” Faisal benar-benar tak menyangka jika selama ini makam sang Ayah juga berada di negara yang sama dengan yang ditinggalinya.
“Iya Sayang … nanti kita sama-sama ke sana ya sama adikmu,” ujar Maya kembali berusaha melepas perban di lengan putranya yang sudah berubah warna.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1