
Gus Hasan melangkah gontai memasuki asramanya sepeninggal Faisal dari tempatnya, hatinya kini benar-benar gusar takt ahu harus melakukan apa.
Satu sisi ia tak bisa semudah itu menghilangkan perasaannya terhadap Aisha lalu mencoba membuka hati untuk Ayla yang dengan terang-terangan sudah mengatakan perasaannya. Ia juga teringat dengan pesan Faisal agar tak sampai memberikan Ayla harapan jika memang hatinya benar-benar tak bisa menerima.
“Ya Allah ternyata serumit ini cinta satu pihak ….” Hati Gus Hasan menjerit di keheningan malam.
“Minumlah Gus, sepertinya suasana hati sampeyan sedang tidak baik.” Jaya menghampiri Gus Hasan sambil membawakan secangkir teh hangat untuknya yang masih bersimpuh di atas sajadah dengan netra yang terlihat sembab oleh sisa air mata.
Bukan setahun dua tahun Jaya mengenal Gus Hasan, ia tahu betul bagaimana jika Gus Hasan tengah menghadapi masalah.
“Saya memang tidak tahu apa yang sedang sampeyan alami, tapi kalau sulit Guse bisa bercerita ke orang sekitar sampeyan. Dan kalau ada yang bisa saya bantu, katakanlah Gus. Saya tidak pernah menganggap Guse orang lain, sampeyan sudah seperti saudara laki-laki buat saya.” Jaya berujar dengan tulus mendekati Gus Hasan yang masih bergeming di tempatnya.
Gus Hasan menoleh, menatap ketulusan Jaya yang benar-benar bisa ia rasakan.
“Apa aku perlu cerita sama Jaya tentang semuanya? Apa Jaya bisa menerimaku setelah tau aku yang ternyata tak sesempurna seperti saudara laki-laki yang ia bayangkan?”
***
Flashback on
Faris melirik arloji pada pergelangan tangannya, ia lantas segera berkemas dan melangkah cepat menuju basement Rumah Sakit.
“Ica pasti seneng banget nih aku pulang cepet. Tunggu ya Sayang, Abang juga udah kangen banget sama kamu.” Faris bergumam sambil sesekali bersenandung menandakan suasana hatinya yang cukup gembira.
“Faris ….”
Faris yang mendengar namanya dipanggil sontak langsung menghentikan langkahnya, ia berbalik dan mendapati Sofia yang tengah menggandeng putrinya.
Faris hanya menatap Sofia sekilas lantas kembali melangkah tanpa berniat menyapa wanita itu.
“Faris, kali ini aja tolong dengerin aku. Aku butuh bantuan kamu.” Sofia kembali berujar ketika mendapati Faris yang sama sekali tak mempedulikannya, dan benar saja, kalimat itu mampu menghentikan langkah Faris.
“Bantuan atau hanya salah satu dari rencana busukmu buat menyelinap ke dalam rumah tanggaku?” Kalimat itu terdengar sangat menusuk hingga ke ulu hati Sofia.
Sofia melangkah semakin mendekat ke arah Faris yang hanya mematung di tempatnya.
“Kamu boleh menganggap aku serendah itu, terserah kamu. Tapi kali ini aku benar-benar butuh bantuan kamu Ris.” Sofia berujar dengan wajah sendu.
__ADS_1
“Bantuan apa?” Faris bertanya dengan malas, bukan berniat bersimpati atau pun iba terhadap wanita di depannya, itu semata agar semuanya cepat selesai dan ia bisa segera pulang menemui istrinya.
“Tasya duduk di sana dulu ya bentar, Mama mau ngomongin kerjaan dulu sama Om Faris.” Sofia membungkuk dan berujar pada putrinya dengan tangannya menunjuk sebuah bangku kosong yang berada di dekat pintu. Sedangkan Tasya hanya mengangguk dengan polosnya lantas melangkah mendekati kursi yang ditunjukkan sang mama.
“Aku mau pisah sama Mas Wirawan Ris.” Sofia berujar setelah dirasa Tasya benar-benar sudah duduk di tempatnya.
“Kenapa lapornya ke aku? Kamu tau kan alamat pengadilan agama?” Faris bertanya dengan ketus, ia bahkan tak menunjukkan keterkejutan sama sekali.
“Aku tau selama ini perbuatanku udah keterlaluan sama kamu juga Aisha, kamu juga bebas kalo mau benci aku sesuka hati kamu Ris. Aku sadar aku salah. Dan aku memilih pisah sama Mas Wirawan juga agar aku bisa memulai hidupku yang baru tanpa harus terikat dengannya. Aku bener-bener minta maaf atas semuanya Ris.” Sofia menunduk tak berani menatap wajah Faris yang memang sejak tadi tak pernah menatapnya.
“Katakan apa maumu!” cecar Faris yang jengah dengan penuturan Sofia yang terdengar bertele-tele.
“Selama aku mengurus perceraianku, aku mohon dengan sangat agar kamu bersedia aku titipi Tasya, dia masih terlalu kecil buat nyaksiin perpisahan orang tuanya Ris. Aku harus mengurus semuanya sendiri karena Mas Wirawan masih di penjara, sedangkan kedua mertuaku lagi nggak di Indonesia.”
Faris tampak berpikir mendengar permintaan Sofia.
“Bukankah kamu yang memenjarakan suamiku? Apa sedikitpun kamu nggak ngerasa kasihan sama kami? Setidaknya sama Tasya yang masih terlalu kecil buat nerima semua ini. Aku mohon Ris, kali ini aja … tolong bantu aku. Setelah semuanya selesai, aku nggak akan ganggu hidup kamu lagi.” Sofia kembali berujar ketika mendapati reaksi apapun dari Faris.
Sejenak Faris mencerna ucapan Sofia, lantas dilihatnya gadis mungil yang tampak masih sangat polos tengah duduk dengan patuhnya.
“Berapa lama?” tanya Faris yang langsung membuat Sofia berbinar.
“Hanya selama aku mengurus perceraikanku.”
“Antar barang-barang keperluannya ke rumahku.” Lagi-lagi Faris hanya berucap datar.
“Beneran Ris? Kamu beneran mau bantuin aku?” Sofia bertanya dengan antusias hingga tanpa sengaja memegangi lengan Faris yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang empunya.
“Lepas sebelum aku berubah pikiran!”
“Maaf.”
Faris segera melangkah menghampiri Tasya yang tetap anteng di tempat duduknya, ia berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan gadis kecil di depannya.
“Tasya sekarang ikut pulang sama Om Faris ya, Mama mau urus kerjaan dulu di luar kota, kalo di rumah nanti Tasya nggak ada yang jagain.” Faris berujar dengan lembut sambil mengusapi kepala Tasya.
Tasya hanya mendongak menatap ibunya seolah meminta jawaban atas penuturan Faris.
__ADS_1
“Tasya mau ya Sayang? Mama janji nanti Tasya dibawain mainan yang banyak deh kalo Mama pulang,” tutur Sofia membenarkan ucapan Faris.
“Tapi Mama janji nggak bakal lama ya?”
“Iya Sayang, Mama janji nggak akan lama.”
Tasya kembali menoleh menatap Faris.
“Tasya mau ikut pulang sama Om Faris,” ujarnya dengan wajahnya yang menggemaskan.
Flashback off
“Nggak apa-apa kan Sayang kalo Tasya tinggal di sini buat sementara waktu?” Faris kembali bertanya setelah menceritakan semuanya pada Aisha.
Tampak Aisha masih mematung di tempatnya, ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Abang tau kekhawatiran Ica, tapi Tasya nggak salah apapun, dia bahkan nggak memilih untuk terlahir dari rahim wanita seperti Sofia. Abang bisa pastiin kalo Sofia nggak akan berulah apapun, ini murni hanya karena Abang ngerasa nggak tega kalo anak seusia Tasya harus menyaksikan perpisahan kedua orang tuanya. Anggep aja ini sebagai bentuk empati kita karena udah buat ayahnya mendekam di penjara. Ica mau kan Sayang nerima Tasya di sini? Nggak lama kok, hanya sampe perceraian Sofia beres.” Faris berusaha memberikan pengertian pada Aisha agar tak salah paham dengan semuanya.
“Tante cantik ternyata tinggal bareng ya sama Om Faris?” Tasya tiba-tiba mendekati Aisha dengan tingkahnya yang menggemaskan.
“Iya Sayang, Tante sama Om kan suami istri, kayak Mama sama Papanya Tasya.” Aisha berjongkok dan berujar dengan lembut kepada Tasya yang sudah berdiri di hadapannya.
“Horee … Tasya sekarang serumah sama Tante cantik sama Om Faris.” Tasya bersorak dengan riangnya hingga berjingkrak-jingkrak ke sana kemari.
“Tasya seneng ya tinggal di sini sama Om sama Tante?” Kini Faris pun turut berjongkok mendekati Tasya.
“Seneng banget Om, Tante cantik juga baik kayak Om Faris,” seloroh Tasya dengan polosnya.
“Sekalian biar Ica ada temen kalo Abang lagi sibuk,” bisik Faris sambil mencuri kecupan pada puncak kepala Aisha.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1