
Sesaat kemudian tubuh kekar Abbas bersama Ajeng juga Ayla menyembul dari balik pintu saat yang menjadi pembatas ruangannya.
“Gimana keadaan kamu Sal?” tanya Abbas yang langsung menhampirinya putranya, sedangkan Ajeng dan Ayla tampaknya tengah menata barang bawaan mereka di atas nakas yang di samping blankarnya.
“Alhamdulillah Isal udah semakin membaik kok Ba,” jawab Faisal.
“Nih Mami bawain makanan kesukaan kamu, aaa ….” Ajeng turut membuka mulutnya agar Faisal menirukan.
Faisal pun sontak tersenyum melihat keluarga angkatnya ini yang begitu menyayangi dirinya layaknya keluarga kandung mereka.
“Sini kamu makan juga Ay, biar Mami suapin sekalian bareng Kakak.” Ajeng berujar saat melihat putrinya justru mendudukan dirinya di atas sofa sembari memainkan ponselnya.
“Enggak ah Mi …,” ucap Ayla singkat tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel dalam genggamannya.
“Ayo dong Ay … temenin Kakak, masa Kakak makan sendirian sih ….” Faisal yang pastinya mengerti dengan posisi adiknya langsung mengajak Ayla agar turut makan sepertinya dirinya dengan disuapi oleh sang ibu.
Mendengar kakaknya yang terus saja merengek membuat Ayla akhirnya menyerah dan membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari Maminya yang mungkin hampir tidak pernah lagi ia rasakan.
“Apa Ayla juga harus sakit dulu kayak Kakak biar dapet perhatian Mami sama Baba?” ujar Ayla tiba-tiba di tengah kunyahannya.
Mendengar hal itu hati orang tua mana yang tak tersentuh, Abbas seketika langsung meraih Ayla ke dalam dekapannya, begitupun Ajeng yang tampaknya turut bergabung setelah meletakkan piring makanannya.
“Maafin Mami sama Baba yang selama ini melewatkan tumbuh kembang kamu Nak ….” Ajeng bahkan sudah menitikkan air matanya saat Ayla terasa membalas dekapannya.
“Tapi percayalah … Baba dan Mami nggak ada maksud lain selain berusaha membahagiakan kalian … meski sebenarnya kalian mungkin nggak hanya butuh uang dari Baba dan Mami. Baba sadar sudah terlalu tinggi dinding pemisah di antara kita yang Baba ciptakan sendiri … maaf, Baba belum bisa menjadi orang tua yang sempurna untukmu dan Kakak.” Abbas pun nampaknya tak sanggup lagi menahan genangan air matanya.
Ayla yang berada dalam dekapan kedua orang tuanya itu sontak menggeleng dengan kuat akan penuturan sang ayah yang terdengar menyalahkan diri sendiri.
“Nggak Ba … Mi …, Ayla yang terlalu kekanak-kanakkan menyikapi semuanya, Ayla yang belum bisa sekuat Kakak menyikapi semuanya, maafin Ayla yang selalu nuntut Baba dan Mami buat selalu ada, padahal semua yang Ayla punya saat ini adalah salah satu hasil dari ketidakperhatian kalian.” Gadis itu pun tampaknya turut terisak sembari mengeratkan dekapannya.
Melihat hal itu, senyum tak bisa lagi disembunyikan Faisal karena pasalnya melihat keluarga angkatnya yang selama ini sudah membesarkannya kembali harmonis membuatnya tenang jika harus meninggalkan mereka dan kembali pada keluarga barunya sekarang, keluarga kandung yang puluhan tahun ia kira sudah tiada meninggalkannya.
__ADS_1
“Ba … Mi … Ay, ada seseorang yang mau Isal kenalin sama kalian,” tutur Faisal setelah ketiganya melepas dekapan mereka.
“Siapa Sal?” tanya Ajeng antusias sembari mengusap air matanya.
“Rahasia … kita liat besok ya Mi.” Faisal sengaja tak memberitahukan lebih dulu perihal Ibu dan adik kandungnya kepada keluarga angkatnya ini, ia ingin kedua belah pihak bertemu secara langsung agar semuanya pun tak ada salah paham atau yang sejenisnya.
“Ye Kakak main rahasia-rahasiaan nih sama kita,” ledek sang adik yang tampaknya begitu penasaran dengan seseorang yang akan dibawa oleh kakaknya itu.
“Ba … Isal pengen pulang aja ya Ba, lagian Isal udah baikan kok.” Kini Faisal beralih memohon pada sang ayah yang selama ini telah membesarkannya.
“Loh emang bener kamu sudah baik-baik saja?” tanya Abbas memastikan.
“Bener udah nggak ada lagi yang dirasa Sayang?” Ajeng pun tampaknya masih khawatir dengan kondisi putranya itu.
“Beneran Mi … Isal kan cowok, masa lemah,” guraunya mengundang tawa semua yang ada di sana.
“Ini nih jagoan Baba,” tukas Abbas membanggakan putra kesayangannya.
“Tapi kamu pulang ke rumah kan?” tanya Ajeng kembali.
“Ya udah Ayla temenin Kakak aja ya Ba? Mi? Kan sekalian jagain Kakak takut butuh apa-apa.” Ayla seketika langsung menawarkan diri.
“Husss! Mau Baba nikahin kamu sama Kakak berduaan aja di apartemen?”
“Ishh Baba … suer deh kita nggak akan macem-macem ya kan Kak?” tutur Ayla yang tampaknya mencari pembelaan dari sang kakak.
“Ah modus nih kamu pasti Ay … apa beneran mau nikah sama Kakak?” Faisal justru menggoda adiknya itu sengaja agar ia tak jadi menginap di apartemennya, agar ia pun bisa leluasa menemui Aisha dan ibunya.
“Ih Kakak mah nggak seru!” Celotehan Faisal tampaknya berhasil membuat Ayla kesal dan mengurungkan niatnya untuk menemani dirinya.
“Ah jangan-jangan kamu ada cewek yang diumpetin di apartemen kamu ya Sal?” Kini giliran Ajeng yang menggoda putranya.
__ADS_1
“Ya Allah Mami … suudzon bener sama Isal … sumpah nggak ada siapa-siapa Mi. Tanya aja tuh sama Salman yang dua puluh empat ngekorin Isal,” tutur Faisal membuat pria berbadan tegap yang tengah berdiri di sudut ruangan sontak mengangkat wajahnya saat mendengar namanya disebut.
“Ya udah makanya Ayla yang temenin.” Ternyata Ayla masih saja merengek dan tak menyerah.
“Ya udah ayo … asal nikah dulu ya Ba?” ledek Faisal lagi mencari pembelaan dari Babanya.
“Hem, bener tuh,” ucap Abbas dengan anggukan.
“Eh tapi menurut Mami ada benernya juga tau Ay kalo kamu nikah sama Kakak, kan udah saling mengenal satu sama lain tuh … lagian usia kalian juga usia yang tepat buat melangsungkan pernikahan ya Ba?”
Faisal sendiri hanya mengulas senyumnya mendengar penuturan Baba dan Maminya yang begitu menginginkan dirinya menikah dengan sang adik, mungkin jika Ayla bersedia ia pun tak akan menolak, “Ih dibilangin Ayla tuh udah ada calon Mi …,” ujar pria itu berusaha menghilangkan kegugupannya.
“Ya udah bawa dulu calon kamu Ay, biar nanti Baba yang tentuin mana yang lebih tepat buat kamu. Kakakmu atau pilihanmu itu,” ujar Abbas yang tentunya juga mendukung jika putra angkatnya itu menikahi putri semata wayangnya.
“Ah tau ah kalian mah menyebalkan!” tukas Ayla mengerucutkan bibirnya yang langsung mengundang tawa semua yang ada di sana.
“Udah nggak apa-apa, kan ada Salman yang selalu siaga jagain Kakak.”
“Awas ya kamu Salman kalo sampe Kakakku yang ganteng ini kenapa-kenapa. Aku cincang kamu!” ancam Ayla menatap tajam pria yang masih berdiri di sudut ruangan.
“Siap, Nona!”
Keempatnya pun terbawa dalam perbincangan yang mungkin selama ini hampir tidak pernah mereka lakukan, membuat Faisal tentunya amat sangat bersyukur karena melihat senyum indah adiknya bisa kembali layaknya dulu.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1