
Pagi ini Maya sudah berada di depan pusara suaminya, di salah satu pemakaman muslim di kota Istanbul, tentu saja bersama putri semata wayangnya. Dua wanita itu sama-sama mematung dengan getar hati yang sama-sama tak baik-baik saja.
“Assalamualaikum Mas … maaf Maya baru bisa ke sini lagi, semoga Allah selalu menempatkanmu di tempat yang terbaik ya Mas.” Maya berujar sambil bersimpuh di atas tanah kubur suaminya.
“Yah ….” Kini giliran Aisha yang membuka suara.
Netranya tampak terpejam sesaat sebelum ia melanjutkan kalimatnya, mengingat terakhir kali ia berkunjung ke tempat ini bersama suaminya kala itu, di sini pula Faris mengucap janjinya di depan pusara sang ayah.
“Maaf Aisha nggak bisa bawa lagi suami Aisha ke sini Yah … maaf karena Aisha udah ngecewain Ayah, Aisha nggak bisa lagi pertahanin rumah tangga ini Yah.”
Maya langsung mendekap putrinya yang mulai terisak setelah menyelesaikan kalimatnya.
“Maafin Maya yang nggak bisa jagain putri kita dengan baik Mas, maafin Maya yang terlalu lemah buat berjuang sendirian.”
Kedua wanita itu kini saling mendekap memberikan kekuatan satu sama lain, keadaan menuntut keduanya untuk menjadi wanita-wanita yang kuat, wanita yang tak menggantungkan hidupnya kepada siapapun kecuali hanya kepada sang Maha pemilik hidup.
***
Ayla berlari tanpa mempedulikan apapun lagi, tak peduli Gus Hasan yang juga memanggil-manggil namanya dan mengejarnya.
Hingga di tengah jembatan Bosphorus, Ayla menghentikan langkahnya ketika merasa tak ada lagi yang mengejarnya, suasana malam itu juga cukup sepi tak seperti biasanya. Ia berdiri di sisi jembatan dengan merentangkan tangannya, matanya terpejam menikmati sapuan angin malam yang menerpa wajah sendunya.
“Aku cinta sama dia ….” Ayla berteriak dengan kencang seolah tengah mengadu pada hamparan air yang bergerak tenang di bawah sana.
“Aku cinta sama dia tanpa alasan.” Suaranya semakin terdengar lantang terbawa hembusan angin malam.
“Tapi sekarang aku nyesel … aku nyesel udah mencintai dia dengan tulus! Padahal yang aku punya cuma ketulusan.”
Kalimat Ayla terhenti, tubuhnya ambruk ke sisi jembatan, tangisnya semakin jadi di keheningan malam.
“Aku nyesel …,” rintihnya terdengar memilukan.
Tanda disadari, di sudut lain ternyata Gus Hasan menyaksikan semua yang Ayla ucapkan, ia merasa seperti melihat gambaran dirinya yang sakit karena mencintai kakak iparnya.
“Aku juga sesakit itu Ay … bahkan mungkin lebih. Maaf … aku cuma nggak mau ngasih kamu harapan atas sesuatu yang aku sendiri nggak bisa kendalikan.”
***
__ADS_1
Sepulang dari makam ayahnya, Aisha kini tengah membongkar isi kopernya yang belum sempat ia kemasi semalam. Ia menimang-nimang berkas di tangannya yang terselip di antara barang-barang yang dibawanya.
“Aisha mau coba cari kerja ya Bu di sini,” tutur Aisha masih memegangi ijazah kedokterannya, sejak selesai internship ia belum sempat kembali ke dunia kedokteran karena lebih dulu menikah.
“Pasti bakal ribet banget perizinannya Sayang, apalagi kamu bukan warga negara sini,” ujar Maya khawatir.
“Susah bukan berarti nggak bisa kan Bu … insyaAllah Aisha pasti bisa Bu, Aisha cuma butuh doa dari Ibu,” ujar Aisha dengan gigih.
“Doa Ibu selalu menyertai langkahmu Nak.”
Senyum Maya tersungging dari kedua sudut bibirnya, begitulah putrinya jika sudah memiliki tekad akan sesuatu, Aisha tak akan pernah menyerah sebelum takdir yang memang memaksanya untuk menyerah, seperti menjadi istri seorang Faris Zein Abdullah, mungkin sekarang takdir tengah memaksanya untuk menyerah.
“Ya udah kalo tetep mau nyoba, Ibu bakal temenin kamu di sini sampe kamu dapet kerjaan dan hidup dengan baik di sini.”
Kini giliran Aisha yang menyunggingkan senyumnya, ia beruntung memiliki ibu yang selalu ada menemani dan mendukung setiap langkahnya.
“Aisha mau beli makanan dulu ya Bu,” pamit Aisha setelah membereskan barang-barang miliknya.
“Kenapa nggak delivery aja Sayang?” Maya yang tengah berada di kamar mandi sedikit berteriak menjawab ucapan putrinya.
“Sekalian jalan-jalan Bu, bentar.” Aisha pun turut berteriak karena kini ia sudah di ambang pintu.
Di sudut lain namun masih di kota yang sama, Faisal melajukan mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya, semalam ia mendapat pesan jika adiknya itu pulang duluan sebelum menyelesaikan acara.
“Isal mau ajak Ayla keluar ya Ba sebentar.” Begitu yang diucapkan Faisal sebelum membawa adiknya keluar dari rumah.
Ia tahu jika semalam Ayla pasti merasa sangat bosan berada di acara seperti itu, karenanya hari ini ia akan membawa adiknya itu jalan-jalan sebagai ganti kebosanan Ayla di acara semalam.
“Kita makan dulu ya, Kakak belum makan nih dari pagi,” ujar Faisal lantas membelokkan stir kemudinya ke arah salah satu café and resto yang berjajar.
Aisha yang tengah menunggu makanan pesanannya, tak sengaja menangkap sepasang muda mudi yang tak asing baginya duduk di salah satu meja yang tak jauh dari tempatnya.
“Mereka lebih pantes jadi pasangan dari pada kakak adek,” gumam Aisha yang masih memperhatikan Faisal dan Ayla yang sedari tadi terlihat asyik bergurau satu sama lain.
Tiba-tiba netra Aisha menangkap sosok pria yang terlihat mencurigakan mengenakan masker dan topi yang terlihat terus memperhatikan gerak-gerik Faisal dan Ayla dari meja lainnya. Aisha semakin curiga ketika pria itu tampak menyembunyikan sesuatu di balik mejanya, entah apa itu Aisha tak terlalu jelas melihatnya.
Aisha semakin penasaran akan apa yang dilakukan pria itu selanjutnya, namun tiba-tiba seorang pelayan menghampirinya dan menyerahkan pesanannya, membuat Aisha berpaling dari pria mencurigakan yang tampak tengah mengintai Faisal dan Ayla.
__ADS_1
Dorrr … dorrr … seketika suasana menjadi sangat ricuh setelah bunyi tembakan yang memekkakan telinga.
Aisha yang tengah berinteraksi dengan pelayan pun tak begitu paham dengan apa yang terjadi sampai ia melihat pria yang dicurigainya tadi berlari keluar, sedangkan di sudut ruangan tiba-tiba seorang lelaki ambruk ke lantai dengan bersimbah darah di lengannya. Lelaki itu tak lain adalah Faisal yang kini sudah tak sadarkan diri dengan darah yang terus saja mengalir dari sisi kiri lengannya. Ayla sendiri sudah menangis histeris memangku kakaknya yang kini sudah tak sadarkan diri.
“Help me … help me please!” teriak Ayla ketika para pengunjung yang lainnya masih mematung terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Sebagai sesama manusia yang berkewajiban saling tolong-menolong, Aisha segera menghampiri Ayla yang masih histeris.
Tanpa banyak bicara, ia langsung mengambil alih Faisal dari pangkuan Ayla dan membentangkannya di lantai. Setelah mengecek nadi Faisal yang ternyata masih teraba, dengan segera Aisha lantas merobek kemeja di bagian lengan Faisal yang tertembak, ia mengeluarkan pisaunya yang tadi sempat diraihnya dari mini bar café dan menyiramnya dengan cuka sebagai antiseptik.
“Mau apa lo?” Ayla sontak menghentikan kegiatan Aisha yang sudah mengarahkan pisaunya ke arah luka Faisal.
“Tentu saja menyelamatkan kakakmu,” ujar Aisha mengeluarkan tanda pengenalnya sebagai seorang dokter yang sudah menyelesaikan studinya untuk meyakinkan Ayla.
“Saya dokter,” imbuh Aisha saat Ayla masih terdiam.
“Kita bawa aja ke Rumah Sakit, di sana penanganannya lebih lengkap,” usul Ayla benar-benar panik melihat kakaknya tak sadarkan diri.
“Kita harus mengeluarkan pelurunya dulu, lima menit lagi peluru ini masih bersarang di tubuhnya … kamu harus menguburkan kakakmu.”
Aisha kembali melanjutkan kegiatannya, membelah luka Faisal dan mengeluarkan pelurunya satu persatu. Meski ia bukanlah dokter spesialis bedah seperti suaminya, namun setidaknya Aisha harus bisa mengambil tindakan saat menghadapi kejadian seperti ini. Meski jujur saat ini jantung Aisha berdetak karuan, tangannya juga sedikit gemetar saat beradu dengan kulit Faisal.
Tring … tring ….
“Simpan itu sebagai bukti,” ujar Aisha yang akhirnya berhasil mengeluarkan peluru itu.
Aisha segera melepas syal yang dikenakannya lantas membalutnya pada luka Faisal untuk menghentikan pendarahan karena ia tak mungkin langsung menjahit luka itu di sana, selain alat yang tidak ada, ia juga membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Saat ini yang terpenting peluru itu sudah berhasil dikeluarkan sehingga meminimalisir resiko yang mungkin terjadi.
“Help me,” ucap Aisha meminta bantuan pada orang-orang di sana untuk membantu mengangkat Faisal ke mobil dan membawanya ke Rumah Sakit.
Aisha turut mengantar Faisal ke Rumah Sakit karena Ayla harus mengemudikan mobil Faisal yang kini membawa mereka ke Rumah Sakit, namun Aisha segera berbalik setelah memastikan jika Faisal mendapatkan penanganan, ia teringat jika mungkin ibunya di apartemen tengah menunggu dan mengkhawatirkannya.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...