
Azka segera mempercepat langkahnya begitu ia turun dari mobil dan melihat mobil lain yang tampak tak asing baginya sudah terparkir di halaman rumahnya, entah apa yang ia rasakan saat ini.
Dan benar saja, netranya langsung disuguhkan pemandangan seorang wanita yang tengah menimang-nimang seorang balita yang tak lain adalah putranya.
Azka melangkah perlahan ke arah Karina yang belum menyadari kedatangannya, entah ia harus senang atau justru khawatir melihat Karina yang sudah berada di rumahnya, sedangkan posisinya baru saja kembali selepas mencari Aisha.
“Rin ….” Azka menyentuh Pundak Karin yang membuat sang empunya yang tengah membelakanginya sontak menoleh.
“Eh udah pulang, ada lembur?” tanya Karina yang melihat pakaian yang Azka kenakan seperti bukan seseorang yang pulang bekerja.
Azka menggeleng perlahan lantas mengambil alih putranya yang sudah terlelap ke dalam gendongannya.
“Pelan-pelan … dia baru aja tidur, dari tadi rewel terus nyariin kamu.” Karina berujar dengan sedikit berbisik karena khawatir akan mengusik tidurnya Rafa.
Azka mengangguk lantas merebahkan Rafa ke dalam box bayinya.
“Kamu udah dari tadi?” Azka bertanya setelah merebahkan putranya.
“Lumayan … tadi Mba Sani minta tolong kalo Rafa rewel terus, dia nyariin kamu katanya,” tutur Karina yang hanya diangguki oleh Azka.
“Kamu nggak mau tau aku abis dari mana?” tanya Azka yang seperti memahami tenda tanya pada raut wajah Karina.
“Dari mana?” tukas Karina sontak saja langsung menanggapi pertanyaan Azka.
Azka mencoba menarik napasnya sebelum berujar, “Aku abis nyari Aisha,” ujarnya kemudian.
Sedangkan Karina hanya bisa memalingkan wajahnya sambil mengangguk-angguk, ingin protes pun ia tak memiliki hak akan pria di sampingnya ini.
“Bantuin Faris,” imbuh Azka kembali membuat Karina menoleh.
“Emang Aisha kemana?” tanya Karina mulai penasaran.
Sontak saja Azka menggeleng, “Kalo tau ya nggak bakalan di cari …,” ujarnya tersenyum lantas mengusap puncak kepala Karina yang berbalut hijab.
“Ya maksudnya kenapa ko sampe dicari,” ujar Karina memperjelas pertanyaannya.
__ADS_1
“Aisha pergi dari rumah, mungkin dia masih ngerasa kehilangan anaknya, ditambah Faris yang ternyata selama ini nggak tau kalo dia hamil, Faris selalu sibuk sama dunianya, apalagi sejak dia masuk perangkap Sofia. Padahal selama ini Aisha pasti kesulitan karena harus berjuang sendirian.” Tanpa sadar Azka bercerita seolah ia masih sangat mempedulikan Aisha, walau memang sejujurnya benar.
Azka menoleh saat menyadari taka da respon apapun dari Karina.
“Aku nggak ada maksud lain selain bantuin Faris, seperti yang udah aku bilang, kalo sekarang perasaan ini cuma sebatas ingin melindungi dari seorang kakak buat adiknya,” tutur Azka segera karena khawatir Karina akan salah paham.
Di luar dugaan Azka, Karina justru tersenyum dengan sangat manis menanggapi pernyataannya.
“It’s okay, aku ngerti kok.”
“Terus tadi reaksi macam apa kayak gitu?” tanya Azka yang seolah tak puas dengan jawaban Karina.
“Em … aku cuma nggak habis pikir, mereka yang saling mencintai aja ada saatnya bisa kecewa dan nggak percaya satu sama lain. Apalagi aku?” ujarnya dengan nada seolah bertanya kepada Azka.
“Kenapa? Kamu mau bilang kalo kamu cuma bertepuk sebelah tangan? Kalo aku nggak beneran tulus sama kamu? Atau takut kalo aku ternyata cuma jadiin kamu pelampiasan?” tutur Azka memberondong Karina dengan pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya tengah Karina khawatirkan.
“Apa aku salah?” tanya Karina kembali.
Azka meraih dagu Karina agar menatapnya, “Kamu … cuma perlu tau kalo aku bener-bener cinta dan tulus sama kamu, meski belum sepenuhnya … tapi sumpah demi apapun, aku nggak ada niatan buat mempermainkan kamu. Aku … cuma minta kamu percaya sama aku, karena selama ini memang cuma itu yang sedang aku selalu perjuangkan buat kamu.”
“Makasih ….”
***
Maya sontak begitu terkejut saat mendapati Aisha yang kembali ke apartemen dengan pakaian dipenuhi bercak darah.
“Astaghfirullah … Sayang kamu kenapa?” tanya Maya membolak-baikkan tubuh putrinya, mencari dari mana sumber darah itu.
“Bu tenang dulu …,” ucap Aisha mengehentikan kegiatan ibunya yang benar-benar panik.
“Ini bukan darah Aisha kok, tadi Aisha abis nolong orang,” tuturnya kemudian mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya pada sang ibu.
“Ya Allah Sayang … kenapa kamu bisa seceroboh ini? Kamu tau sendiri kalo Faisal pasti bukan orang sembarangan, kamu bisa dituntut karena udah ngelakuin tindakan di luar prosedur kayak gini Nak, apalagi kita warga negara asing.” Maya benar-benar tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, ia tak tahu akan seperti apa jadinya jika hal itu benar terjadi, apalagi saat ini tak ada sosok suami sebagai pelindung putrinya.
“Kenapa Aisha harus takut Bu? Aisha hanya bertindak manusiawi, sesuai sumpah dokter yang udah Aisha katakan dengan lantang dulu. Nggak mungkin Aisha cuma diem aja nungguin tim medis yang entah kapan datang, sedangkan Faisal bertaruh nyawa di depan mata Aisha Bu … apa Ibu kira Aisha akan tega cuma diem aja kayak patung nggak bernyawa?” tutur Aisha mengeluarkan unek-uneknya.
__ADS_1
Maya menghela napasnya gusar, ia paham betul jika putrinya hanya ingin bertindak sebagaimana seharusnya seorang dokter untuk menyelamatkan nyawa.
“Tapi Sayang, sekarang posisi kita cuma pendatang. Ini bukan di Indonesia, di sini kamu nggak bisa seenaknya mengikuti kata hati kamu, Nak.” Maya berujar dengan lebih lembut, memberikan pengertian kepada putrinya yang mungkin saat ini emosinya belum stabil karena masalah rumah tangga yang dihadapinya.
“Maaf, Aisha udah bikin Ibu khawatir. Tapi Ibu tenang aja, Aisha pasti akan tanggung jawab dengan apa yang udah Aisha perbuat kok,” ujar Aisha langsung mendekap ibunya.
“Semoga semuanya baik-baik aja,” lirih Maya membalas dekapan putrinya.
“Aisha mau bersih-bersih dulu ya Bu,” ujar Aisha kemudian setelaha melihat pakaian yang dikenakannya dipenuhi bercak darah.
Maya hanya bisa mengangguk lantas ia pun beranjak untuk memesan makanan untuknya dan sang putri, karena Aisha yang menolong Faisal membuanya gagal untuk membawa pulang makanan.
Aisha masuk ke dalam shower an membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya yang akhir-akhir ini merasa lelah. Dengan lihai ia menuangkan shower gel pada shower puff lantas menyapukannya ke seluruh tubuhnya.
Usai mengeringkan tubuhnya, Aisha beranjak ke walk in closet dan mengolesi tubuhnya dengan body butter beraroma vanilla yang dilanjutkan dengan body sprai dengan aroma yang sama. Ya, Aisha kini bahkan mengganti aroma parfumnya, tidak ada lagi aroma lili yang dulu begitu Faris sukai.
Ketika hendak mengenakan pakaiannya, netra Aisha tak sengaja melirik bekas luka tembak yang sempat didapat akibat perbuatan Wirawan, suami Sofia.
Ia mengamati lamat-lamat bekas luka itu pada cermin yang memantulkan gambar dirinya. Tiba-tiba ia teringat pada Faisal yang baru saja mendapat luka tembak di tempat yang sama seperti dirinya, di lengan kiri atas dan dengan dua peluru yang menancap.
“Sama banget,” ujar Aisha tanpa sadar menyentuh bekas lukanya.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1