Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Ternyata terlambat


__ADS_3

Aisha memicingkan netranya begitu ia turun dari mobil dan mendapati mobil lain yang tampak asing terparkir di halaman rumahnya.


“Non perlu Mamang antar ke dalam apa ndak?” tanya Mang Udin setelan menurunkan barang milik Nona mudanya.


“Nggak usah Mang, Aisha bisa kok sendiri.”


“Ya sudah kalo begitu Mamang pamit ya Non.”


“Iya Mang, makasih ya udah anter Aisha.” Aisha tersenyum ramah menanggapi sopir yang sejak puluhan tahun itu sudah setia dengan keluarganya.


“Selamat pagi Nyonya … biar saya bantu bawakan.” Salah satu penjaga di depan gerbang menawarkan jasa kepada Nyonya mudanya yang tengah menenteng tasnya.


“Ah nggak usah Pak, nggak terlalu berat kok,” tolak Aisha yang memang tak merasa berat dengan bawaannya yang memang hanya berisi beberapa barang keperluannya saja selama menginap di rumah ibunya.


“Pak ini mobil siapa ya? Kayaknya saya baru liat,” imbuh Aisha pada sang penjaga yang belum beranjak dari tempat.


“Ah ini katanya temannya Tuan, Nyonya. Beliau ada di dalam sedang bertemu Tuan,” ujar sang penjaga dengan sopan.


“Emang Abang nggak ke Rumah Sakit hari ini?”


“Tidak Nyonya, Pak Toni bilang hari ini Tuan sedang kurang sehat.”


“Oh ….” Aisha hanya mengangguk lantas segera melangkah masuk untuk menyalami suaminya, pantas saja sejak semalam Aisha merasa gelisah dan terus kepikiran akan suaminya, ternyata memang firasat seorang istri tak bisa diabaikan.


“Selamat pagi Nyonya ….” Beberapa pelayan yang melihat Nyonya muda mereka kembali sontak saja langsung menghentikan aktivitas mereka dan berdiri menyalami Aisha yang sontak mengangguk dan selalu tersenyum ramah terhadap siapapun.


“Bi Asih kemana?” tanya Aisha yang tak mendapati Bi Asih di antara mereka.


“Bi Asih sedang menemani beberapa pelayan berbelanja kebutuhan, Nyonya.” Indri yang memang sudah dipesani oleh Bi Asih sontak menjawab pertanyaan Aisha.


Aisha mengedarkan pandangannya membuat para pelayan sontak menunduk, “Kata penjaga di depan lagi ada tamu, mana tamunya?” tanyanya saat tak mendapati siapapun di ruang utamanya kecuali mereka.


“Emm … tamunya ada di atas, Nyonya, bersama Tuan.” Lagi-lagi Indri yang menjawab pertanyaan Aisha, tapi kali ini tampak ada keraguan dalam setiap kalimat Indri.


“Di atas?” tanya Aisha yang segera diangguki oleh Indri, padahal ia hanya bergumam pada dirinya sendiri.


Mungkin mereka di ruang kerja suaminya karena memang penjaga bilang suaminya hari ini tengah kurang sehat, begitu pikirnya sebelum Aisha melangkahkan kaki menuju ke tangga yang akan membawanya ke kamar mereka.


Tepat di ujung tangga Aisha menghentikan langkahnya karena sayup-sayup mendengar suara wanita berasal dari kamarnya yang ternyata pintunya tak tertutup sepenuhnya. Saat melintasi ruang kerja Faris, ia memang tak mendapati siapapun di sana, ternyata benar suara tadi berasal dari kamarnya.


Lagi-lagi Aisha menghentikan langkahnya ketika netranya lebih dulu menangkap siluet seorang wanita yang sudah tak asing baginya tengah duduk di tepi ranjang hendak menyuapi suaminya yang duduk dengan menyandarkan punggungnya pada headbord ranjang.

__ADS_1


Cukup lama tangan Sofia dengan sesendok makanannya terhenti di udara, tepat di depan wajah suaminya.


“Jangan Bang … Ica mohon.” Aisha berucap dengan lirih sambil menatap apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Jangan …,” lirihnya kembali saat Faris masih tetap dengan diamnya, tak menolak maupun menerima suapan dari Sofia.


Namun sesaat kemudian bulir bening dari ujung netra Aisha berhasil berjatuhan menyaksikan apa yang suaminya lakukan, meski Faris tak mengatakan apapun, tapi responnya sudah cukup menjadi tamparan untuk Aisha yang masih mematung di luar kamar, posisinya yang berada di balik tembok membuat seseorang di dalam tak mengetahui keberadaannya, namun Aisha bisa dengan jelas menyaksikan apa yang ada di dalam dari engsel pintu yang terbuka.


Sekuat tenaga Aisha menutup mulutnya agar suara isak tak sampai menyapa indra pendengar seseorang di dalam, namun berlama-lama di sana ternyata hanya membuat sesak di dada semakin menghantam ulu hatinya.


Perlahan Aisha memundurkan langkahnya, ternyata keputusannya untuk kembali ke rumah dan memulai lagi semuanya sudah terlambat, bahkan secepat itu posisinya sudah digantikan.


Dengan langkah gontai ia menjauhi kamar itu, di kepalanya terus saja berputar kata-kata manis yang sering sekali suaminya janjikan, namun pada akhirnya janji-janji itu tak lebih dari sekedar omong kosong yang memuakkan, semuanya sama sekali tak terbuktikan.


Dan untuk kedua kalinya Aisha kembali terluka oleh seseorang dari lawan jenisnya, namun kali ini luka itu berkali lipat lebih nyata rasanya.


Indri dan pelayan lainnya yang melihat perubahan sang Nyonya hanya bisa menunduk ketika Aisha melangkah melintasi mereka, namun tiba-tiba Aisha menghentikan langkahnya saat tepat dihadapan Indri.


“Ndri … boleh saya minta tolong?” tanya Aisha dengan nada yang dibuat sebiasa mungkin.


Indri hanya mengangguk tanpa berani menatap wajah sang Nyonya yang sudah sulit diartikan. Namun seketika Indri mendongakkan wajahnya saat tangan cantik milik Aisha meraih tangannya dan memberinya sesuatu yang mampu membuat tangan itu gemetaran seketika menerimanya.


“Saya titip ini,” ujar Aisha singkat.


***


“Lo tuh dikasih hati minta jantung yah!” sergah Faris menahan tangan Sofia yang hendak menyuapinya lagi.


“Sekali lagi aja Ris, masa orang makan sesuap doang,” ujar Sofia tak mau menyerah.


Prang … mangkuk dan sendok dalam genggaman Sofia seketika berhamburan ke lantai karena ulah Faris, Sofia bahkan sedikit terkejut tak menyangka Faris akan berbuat sekasar itu.


“Gue bilang berhenti ya berhenti! Lo emang nggak bisa dihalusin ya Sof!” Nada bicara Faris bahkan kini sudah tersulut emosi.


Tapi bukan Sofia jika ia tak bisa mengendalikan situasi di sana.


“Aku cuma mau suapin kamu makan, Ris. Aku peduli sama kamu.” Sofia kini bahkan berujar dengan sangat lembut, membuat Faris semakin jijik mendengarnya.


“Gue nggak butuh rasa peduli lo itu! Gue udah punya istri, dan dia udah lebih dari cukup penuhin semua kebutuhan gue.”


“Istri? Mana? Apa sekarang Aisha peduli kamu sakit kayak gini? Dia egois Ris! Dia cuma mikirin perasaannya doang tanpa mau tau kalo kamu juga pasti sedih karena kehilangan calon anak kalian, nggak seharusnya dia nyalahin kamu atas kegugurannya."

__ADS_1


“Keluar!” teriak Faris dengan tangannya yang menunjuk ke arah pintu.


“Buka mata kamu Faris ….” Sofia kini kembali melembutkan nada bicaranya, seolah ia begitu simpati terhadap apa yang Faris alami.


“Gue bilang keluar!” Emosi Faris benar-benar sudah di ubun-ubun menghadapi wanita di hadapannya itu.


Dengan cepat ia menekan bel di sisi ranjangnya dan meminta penjaga di depan untuk menyeret Sofia keluar dari kamarnya, tanpa menunggu lama dua orang penjaga sudah naik ke kamarnya.


“Ris … dengerin baik-baik ucapan aku, Aisha itu egois Ris!”


“Bawa cewek ini keluar Pak,” titah Faris memegangi kepalanya yang kembali terasa berdenyut.


“Siap Tuan,” ujar kedua penjaganya bersamaan.


“Faris ….”


“Berisik lo!” tukas Faris saat Sofia masih saja memanggil namanya.


Akhirnya Sofia hanya bisa pasrah membiarkan tubuhnya yang diseret kedua penjaga yang Faris perintahkan.


“Lepas! Saya bisa sendiri.” Sofia berujar dengan ketus melepas cekalan kedua penjaga itu.


Setelah merapikan tampilannya, ia melangkah keluar dengan congkaknya, “Nggak sia-sia gue ulur waktu,” gumamnya sebelum masuk ke dalam mobil yang masih terparkir di halaman.


Setelah kepergian Sofia juga pelayan yang membersihkan tumpahan makanan di kamarnya, Faris kembali merebahkan tubuhnya yang terasa semakin melemah, kepalanya yang berdenyut membuatnya benar-benar tak sanggup untuk sekedar bangkit dari atas pembaringan.


“Aisha itu egois Ris.”


Kalimat itu terus saja berputar di kepalanya saat Faris mencoba memejamkan netranya.


“Aku yang tau seperti apa istriku, tapi kenapa sampe hari ini kamu bahkan nggak mencoba menghubungi Abang Ca? Apa kamu bener-bener udah nggak peduli sama Abang?”


Faris mengangkat lengan untuk menutupi wajahnya, sekali lagi ia mencoba untuk memejamkan mata, berharap kondisinya kembali baik-baik saja lantas ia bisa secepatnya membawa kembali Aisha pulang ke rumahnya.


***


Maaf kaka author telat lagi gaess updatenya🥺 kali ini bukan karena ujian semester kok😁 tapi kaka author lagi kurang sehat nih 🤒 stres karena ujian langsung dibawa liburan abis-abisan ... alhasil badan langsung tumbang 😞 mohon doanya biar kaka author kembali sehat yaa🤗


Sekali mohon maaf atas keterlambatannya... Love you always readersku 🥰


Bersambung...

__ADS_1


*Ja*ngan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya biar kaka author semangat ya ngetiknya...


__ADS_2