Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Menantu baru


__ADS_3

Aisha menggeliatkan tubuhnya saat merasa ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya, senyumnya terhias kala mendapati bahwa sesuatu itu adalah tangan kekar suaminya.


Jam di atas nakasnya menunjukan pukul 02.30 dini hari,  perlahan Aisha membalikan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Faris.


Aisha bergerak perlahan mendekati Faris, lama ia pandangi wajah rupawan Faris yang terlihat sangat damai dalam lelapnya.


“… Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ….” lirih Aisha mengagumi kesempurnaan ciptaan Tuhan di hadapannya.


Dengan perasaan tak menentu tangannya ikut bergerak mengikuti lekuk yang tercipta di wajah suaminya, dari mulai alis, mata, hidung, hingga berhenti tepat di bibir Faris. Sungguh semuanya masih terasa seperti mimpi untuknya.


Tiba-tiba sudut bibir Faris tertarik dengan mata yang ikut terbuka selanjutnya, terlihat senang karena memergoki wanita pujaannya tengah menikmati wajahnya.


Aisha yang merasa malu karena ketahuan langsung membalikan tubuhnya, membenamkan wajahnya ke bantal.


Faris menarik tubuh Aisha mendekat, menguncinya dalam pelukan.


Wajah Aisha yang terbenam di dada Faris bisa mendengar jelas detak jantung suaminya yang kini seirama dengan detak jantungnya.


“Terima kasih telah bersedia menjadi penyempurna imanku,” lirih Faris sambil beberapa kali menciumi puncak kepala Aisha.


Senyum juga tercipta di sudut bibir Aisha yang tengah menikmati hangatnya pelukan suaminya. Aisha semakin membenamkan wajahnya, menghirup aroma parfum suaminya yang kini menjadi candunya.


“Abang nggak solat?” tanya Aisha.


“Bentar lagi sayang.”


***


“Assalamualaikum Ayah, Bunda,” seru Faris di hadapan kubur kedua orang tuanya.


Aisha yang berada di samping Faris mengikuti apa yang suaminya lakukan.


“Hari ini Faris nggak sendirian Bun, Faris bawa seseorang yang menjadi jawaban atas doa-doa Faris selama ini. Ini Aisha, istri Faris. Wanita yang selama ini Faris ceritakan sama Ayah dan Bunda.“


“Assalamualaikum Ayah, Bunda, perkenalkan ini Aisha. Bunda terima kasih karena sudah melahirkan laki-laki hebat seperti Bang Faris. Maaf jika Aisha lancang karena berani mencintai putra Bunda. Aisha hanya menjalankan peran dalam skenario Allah untuk menjadi pilihan putra Bunda. Tapi inilah Aisha, yang mencintai putra soleh Bunda dengan penuh kesederhanaan. Aisha hanya wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi istri soleha untuk putra Bunda. Ayah, Bunda, mohon izinkan Aisha untuk menjadi pendamping putra Ayah dan Bunda, pendamping yang juga Allah ridhai hingga ke jannah-Nya,” tutur Aisha dengan sesekali mengusap ujung matanya yang telah basah.


Setelah menyelesaikan doanya, tak lupa Faris dan Aisha menaburkan bunga di atas kubur Ayah dan Bundanya sebelum mereka kembali.


Betapa terkejutnya Aisha ketika Faris tiba-tiba memeluknya setelah mereka berada di dalam mobil untuk kembali.


“Terima kasih sudah mencintai Abang dan berusaha menjadi yang terbaik buat Abang,” tutur Faris dalam pelukannya.


“Abang denger semua yang Ica bilang sama Ayah sama Bunda?”

__ADS_1


“Abang kira Ica belum bisa mencintai Abang, Abang takut kalo Ica belum bisa lupa sama Azka.”


Ica yang mendengar penuturan Faris segera melepas pelukannya. Menatap manik mata Faris dan menangkupkan tangannya di wajah suaminya.


“Abang, Ica sama Mas Azka itu udah selesai, jadi nggak ada yang perlu Abang takutin. Sekarang Abang dan keluarga kecil kita adalah masa depan Ica,” tutur Aisha lembut dengan kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir Faris yang membuat sang empunya diam mematung tanpa kedip.


Aisha yang sadar akan tingkahnya segera menjauhkan wajahnya, menyembunyikan rona merah yang mungkin akan memperlihatkan bahwa kini dirinya pun tengah menahan malu.


Tapi akhirnya sudut bibir keduanya sama-sama tertarik.


“Kita nggak jadi ke Yogyakarta deh,” tutur Faris yang kemudian segera mengunci Aisha dalam pelukannya, lalu tersenyum yang menurut Aisha agak mengerikan.


“Abang, fa’tazilunnisaa’a fil mahidi ( hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh ),” jawab Aisha menahan senyumnya yang justru membuat Faris mengerucutkan bibirnya.


***


“Permisi Tuan, dokter ahli gizi untuk Den Rafa ada di depan,” tutur security di rumah Azka.


“Oke, suruh masuk.”


“Baik Tuan.”


Security mengikuti perintah Azka, memandu dokter ahli gizi untuk segera menghadap Azka.


“Oke, kamu bisa kembali,” jawab Azka tanpa memalingkan wajahnya dari laptop di hadapannya.


“Ternyata memang ke semua orang kamu bersikap dingin yah,” tutur wanita yang telah dihadapan Azka.


Azka yang tak asing dengan suara dihadapannya mengangkat wajahnya, memastikan apakah benar yang ada dihadapannya adalah wanita yang ada dipikirannya.


“Dari mana kamu tau rumah saya?” tanya Azka tetap dengan mode cueknya.


Bukan mejawab pertanyaan Azka, Karina justru menunjukan surat izin dari Rumah Sakit sebagai ahli gizi yang akan menangani Rafa.


“Aku bener-bener nggak ngerti apa tujuan kamu akhir-akhir ini terus muncul di kehidupanku?”


“Loh kan kamu yang minta seorang ahli gizi buat anak kamu, dan Rumah Sakit merekomendasikan aku. Anggap aja ini sebuah kebetulan yang merupakan rangkaian takdir.”


“Oke apapun itu, saya cuma butuh kamu buat jadi ahli gizi untuk Rafa. Jadi cukup lakukan saja tugasmu.”


“Baik Bapak Azka.”


***

__ADS_1


Kini Faris dan Aisha sedang menuju ke Yogyakarta, tentunya ke kediaman Pakde dan Bukde Faris yang tak lain adalah Nyai Hamidah dan Kyai Safar. Memang hanya mereka kerabat keluarga dari Faris.


Dalam adat Jawa, seorang laki-laki yang baru saja menikah dianjurkan untuk mengenalkan istrinya kepada kerabat dekatnya yang disebut dengan istilah nyembah. Meskipun sebenarnya keluarga Faris sendiri sudah mengenal Aisha yang memang santriwati dari pesantren milik Pakde dan Bukde Faris.


Tradisi ini merupakan perwujudan sedekah dan ekspresi bakti saudara muda kepada saudara yang lebih tua.


Nyembah sekaligus menjadi bukti mengenai upaya untuk mempererat silaturahmi dengan memberikan bingkisan kepada kerabat yang dikunjungi.


Faris memilih membawa mobil sendiri untuk perjalanan Surabaya-Yogyakarta, selain untuk kenyamanan juga karena barang bawaan mereka yang akan susah jika menggunakan kendaraan umum.


***


Senyum selalu terpatri di wajah Nyai Hamidah saat mendengar kabar bahwa Faris dan Aisha akan berkunjung dan menginap di sana. Mengingat bahwa kini keponakan yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri sudah mempunyai pendamping, maka tak ada yang boleh kurang dalam penyambutan menantu ke rumahnya.


Ia tergesa ke arah dapur, meminta para khadam dan santriwati untuk mempersiapkan beberapa makanan untuk makan malam.


Tak lupa kamar yang biasa ditempati Faris pun dibersihkan dan dibereskan serapih mungkin, bak penata interior, Nyai Hamidah dan Ning Sabina sibuk mondar mandir mengganti beberapa barang yang harus diganti. Dari mulai sprei, gorden, hingga beberapa bunga-bunga hias pun ditambahkan untuk mempercantik ruangan.


Beberapa pakaian, mukena, juga perhiasan yang memang sudah disiapkan dari jauh-jauh hari untuk calon mantunya pun tak lupa Nyai Hamidah cek kembali.


“Mi lilin aroma terapinya lupa belum terbeli,” tutur Ning Sabina mengingatkan Uminya.


“Oalah Umi juga lupa nduk.”


“Ada apa nih Mba, pada sibuk banget di kamar Mas Faris?” tanya Gus Hasan yang  melihat Ning dan Uminya terlihat amat sibuk setelah pulang solat berjamaah dari masjid pesantren.


“Loh kan Masmu mau ke sini, mau menginap juga sama Aisha. Ada menantu baru ya harus disambut le,” jawab Nyai Hamidah yang justru menjawab pertanyaan Gus Hasan.


Ada raut yang sulit diartikan dari wajah Gus Hasan saat mendengar jawaban Uminya.


“Nah kebetulan kamu sudah pulang San, kita minta tolong belikan lilin aroma terapi di supermarket depan yah?” tutur Ning Sabina yang melihat adiknya masih mematung di depan pintu.


“Iya sebentar yo le,” tutur Nyai Hamidah menambahkan.


“Nggeh Mi,” jawab Gus Hasan lalu melangkah gontai menuju supermarket.


Setelah menempuh enam jam perjalanan, Faris dan Aisha akhirnya sampai juga di pesantren, kediaman Kyai Safar dan Nyai Hamidah.


***


Bersambung ….


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….

__ADS_1


__ADS_2