Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Masjid merah jambu


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah memastikan semua perlengkapan sudah lengkap tanpa terkecuali, pukul 10.00 waktu Indonesia bagian barat Faris dan Aisha berangkat menuju bandara bersama Kyai Safar, Nyai Hamidah, juga Maya. Ning Sabina sengaja tidak turut serta mengantar Faris dan Aisha karena harus menjaga Gus Fakih yang tiba-tiba saja demam.


“Le, Nduk, kalian seneng-seneng ya di sana, jangan mikirin apa-apa. Dan semoga kalian pulang bawa kabar bahagia ya, bikinin Bukdemu ini cucu yang banyak,” tutur Nyai Hamidah menengok ke arah Faris dan Aisha yang duduk di belakang, sedangkan dirinya duduk di tengah bersama dengan besannya, Maya.


“Bukde do’ain aja yang terbaik buat kita. Jangan terus ngomongin itu Bukde, nanti Aisha malah stres kepikiran terus lagi. Yang penting Faris sama Aisha udah berusaha, masalah hasil kan bukan kuasa kita,” protes Faris membuat Pakdenya menoleh.


“Faris bener Mi, biarin aja mereka nikmatin masa-masa berdua dulu,” imbuh Kyai Safar yang duduk di samping kemudi.


Diikuti“Ya kan maksud Bukde biar kalian tambah semangat gitu loh. Ya kan May?” jawab Nyai Hamidah meminta pembelaan pada ibunya Aisha yang duduk di sampingnya.


“Iya sih Bu Nyai ada benernya juga, Nak. Sebagai orang tua, pokoknya kita pasti selalu doakan yang terbaik buat kalian.”


“Nah kayak gitu maksud Bukde.”


***


Hening, tak ada jawaban.


“Kakak ada kelas siang ini,” ujarnya memalingkan wajah dan beranjak dari duduknya.


Ayla segera turun dari ranjang dan mengejar langkah sang kakak.


Greb, tiba-tiba pelukan sang adik dari belakang menghentikan langkah Faisal.


“Kak, apa bener yang aku bilang? Kak tolong jelasin sama Ayla! Jangan simpen semuanya sendiri Kak. Siapapun Kakak, dari mana pun asal Kakak, dan mau seperti apapun latar belakang Kakak, aku nggak peduli. Sampai kapan pun Kak Faisal adalah Kakak aku, malaikat penjaga aku yang selalu ada dan menyayangi aku tanpa syarat.”


Ayla sudah terisak mengeratkan pelukannya pada Faisal, seakan Faisal akan pergi meninggalkannya.


Faisal berbalik membalas rengkuhan sang adik.


“It’s okay Dek, Kakak baik-baik aja kok. Kamu nggak perlu khawatirin Kakak, kamu juga nggak perlu mikirin apapun soal Kakak. Yang cukup kamu tau, kalo Kakak nggak akan pernah ninggalin kamu Dek, apapun yang terjadi. Sampai kapan pun kamu adalah adik Kakak, dan nggak ada yang bisa ngerubah itu Dek.”


“Janji?” tanya Ayla mengangkat wajahnya.


“Iya adekku yang cantik. Udah ah jelek tau nangis gini, bau lagi belum mandi ih,” ledek Faisal berlagak menutupi hidungnya.


“Yey rese!” sungut Ayla memukul lengan sang kakak lantas akhirnya berlari ke kamar mandi sebelum kakaknya murka.


***


Tepat pukul 11.00 Faris dan Aisha tiba di Bandara, sesuai intruksi dari travel mereka.

__ADS_1


Mereka lantas bergabung dengan tim rombongan dan tim travel, duduk bersama menantikan boarding pass, masuk koper dan panggilan masuk karena sebenarnya keberangkatan mereka ke Saudi tepat pukul 15.00.


Meski Faris dan Aisha menyuruh agar Kyai Safar, Nyai Hamidah, dan Maya untuk pulang lebih awal, tapi mereka tetap menunggu keduanya sampai panggilan dari tim travel.


Tepat pukul 13.00 Faris dan Aisha di panggil untuk masuk. Mereka pun berpamitan lebih dulu pada orang tua mereka sebelum benar-benar masuk.


“Kalian baik-baik ya di sana, jaga selalu istrimu Le.” Nyai Hamidah memeluk keponakannya penuh haru, lalu bergantian dengan Aisha.


“Ibu titip Aisha ya, Sayang.” Kini giliran Maya yang memeluk keduanya.


“Hati-hati ya Le. Jangan lupa kunjungi adikmu sebelum pulang,” ujar Kyai Safar sebelum mereka benar-benar masuk.


“Jangan lupa kabari kalo sudah sampai.” Nyai Hamidah memeluk keponakan dan menantunya sekali lagi.


“Iya siap. Kita pamit dulu ya, Pakde, Bukde, Ibu. Kalian juga baik-baik di sini. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam warohmatulloh.”


Faris dan Aisha masuk ke dalam lobi Bandara untuk makan siang dan solat. Sedangkan rombongan Kyai Safar pulang setelah setelah Faris dan Aisha benar-benar menghilang di ujung eskalator.


Tepat pukul 15.00, ada pemberitahuan bahwa pesawat yang akan membawa mereka dan rombongan ke Saudi akan segera take off, dengan rute penerbangan awal Surabaya(SUB) – Kuala Lumpur(KLA).


Ketika pemandangan kota Surabaya dari atas terus mengecil lantas menghilang di ujung pandang, Aisha merebahkan kepalanya pada dada bidang sang suami dan memejamkan netranya menikmati perjalanan pesawat yang sesekali mengalami turbulensi. Faris sendiri turut memejamkan netranya sambil sesekali mengusap kepala Aisha dan mengecupinya.


Baru sepuluh menit keduanya memejamkan mata, Aisha merasa kantung kemihnya sangat penuh. Faris yang merasakan pergerakan istrinya lantas turut membuka matanya.


“Mau kemana Yang?” tanya Faris yang melihat Aisha bangkit.


“Ica pengen pipis,” jawabnya merapatkan kedua kaki guna menahan keinginannya yang sudah seperti di ujung.


“Yuk Abang anter.” Faris lantas bangkit hendak mengekori sang istri.


“Gak usah Bang, cuma ke toilet kok.”


“Sayang ....”


Hal itu sontak mengundang perhatian para penumpang lain yang ternyata tidak memejamkan netranya.


“Penganten baru ya Dek?” tanya salah seorang wanita paruh baya yang duduk bersebelahan dengan Faris dan Aisha.


“Hehe iya Bu, baru nikah bulan lalu,” jawab Faris dengan senyuman mautnya.

__ADS_1


Sedangkan Aisha sudah menunduk menyembunyikan rona di pipinya dengan kaki yang semakin ia rapatkan.


“Nggak apa-apa Neng, dianter aja sama suaminya. Dulu suami Ibu juga gitu, kemana-kemana harus barengan,” goda wanita itu setengah berbisik karena khawatir membangunkan suaminya yang sudah terlelap.


“Hehe iya Bu. Ya udah Bang ayo, udah nggak tahan nih,” tutur Aisha berbisik seraya menyeret lengan sang suami.


Faris dan Aisha pun berjalan beriringan menuju kamar mandi. Faris menunggu di pintu masuk kamar mandi, sedangkan Aisha segera masuk untuk menuntaskan hajatnya.


Setelah kurang lebih dua jam setengah perjalanan, pesawat mereka akhirnya transit di Bandara KLA.


Karena waktu tunggu yang cukup lama sebelum mereka melanjutkan penerbangan ke Jeddah, tim travel menawarkan para jamaah umroh untuk city tour ke masjid Putra Jaya seperti yang sudah dijelaskan sebelum keberangkatan umroh.


Masjid Putra Jaya adalah salah satu kebesaran dan landmark Kota Putra Jaya, yang terletak bersebelahan dengan kantor pemerintahan Perdana Menteri Malaysia.


Faris, Aisha dan rombongan diarahkan untuk menaiki bus ke masjid Putra Jaya.


Begitu sampai, mereka terkagum-kagum oleh pemandangan yang disuguhkan.



Bangunan masjid yang didominasi oleh warna merah muda dengan menggabungkan ciri-ciri arsitektur modern dan tradisional yang mengadopsi seni arsitektur Persia zaman kerajaan Safawi juga beberapa elemen yang berasal dari budaya muslim lainnya benar-benar menghipnotis mereka.


Lokasinya yang memang menjorok ke arah danau, menjadikan masjid ini terlihat seperti terapung-apung di permukaan danau, karenanya masjid ini kerap di juluki masjid terapung di atas danau.


Beberapa kali kalimat tasbih terdengar mengiringi setiap langkah memuji keindahan yang terhampar.


Setelah makan dan puas menikmati pemandangan di Kota Putra Jaya, mereka kembali ke Bandara untuk penerbangan selanjutnya menuju Jeddah, dengan rute penerbangan Kuala Lumpur(KLA) – Jeddah(JED). Atas izin Allah semuanya berjalan lancar dan pesawat yang ditumpangi mereka take off sesuai jadwal.


“Ya Allah mudahkanlah perjalanan dan urusan kami selanjutnya,” lirih Aisha dan Faris bersamaan dengan jemari yang saling bertautan saat pesawat mulai meninggalkan landasannya dari Bandara KLA.


***


Masih tentang kakak beradik Ayla dan Faisal nihh gaesss...


Ada yang kangen gak sama sugar daddy Azka sama calonnya?😁


Buat Faris dan Aisha Semoga selamat sampe tujuan yaa🤗


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang...

__ADS_1


__ADS_2