
Jalanan yang cukup lengang kala BMW milik Faris berhasil menghantam cukup keras Ferrari yang baru saja menyalipnya, Faris merasa dunianya seakan berhenti, benturan di kepalanya semakin menambah rasa sakit yang kini diderita hatinya, ia mencoba membuka mata saat seseorang berusaha memanggilnya dan mengetuk kaca mobilnya. Rupanya suara itu adalah sang pemilik Ferrari yang baru saja ditabraknya.
Dengan memegangi sisi kepalanya yang terasa berdenyut, Faris mencoba membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar untuk memastikan keadaan. Tampaknya kerusakan mobilnya cukup parah dibandingkan dengan Ferrari yang ditabraknya.
“Apakah anda terluka, Tuan?” Seorang pria paruh baya seumuran Pak Toni yang Faris yakini sebagai pemilik Ferrari tampak khawatir melihat Faris yang memegangi kepalanya.
“Ah tidak Tuan, saya hanya merasa sedikit pusing saja.”
“Maafkan saya Tuan, saya hampir mencelakakan nyawa anda, tadi saya sedikit terburu-buru karena tengah mengejar putri saya.” Lelaki paruh baya itu tampaknya menyesali kelalaiannya tanpa mempermasalahkan kerusakan di bagian belakang mobilnya sendiri.
“Saya juga salah, saya minta maaf karena sedikit kurang fokus saat mengemudi tadi,” tukas Faris yang juga merasa salah.
“Sekali lagi saya minta maaf, perkenalkan, saya Abbas. Dan ini kartu nama saya.” Pria itu tampak menyerahkan selembar kartu yang baru saja ia rogoh dari balik saku jas mahalnya.
“Ah baiklah Tuan Abbas, saya Faris,” jawab Faris menyalami pria yang berbeda umur dengannya.
“Sebagai tanda maaf saya, biarkan saya yang mengurus kerusakan mobil anda dan mengantar anda pulang.” Tampaknya Abbas memahami jika kondisi Faris tengah tidak baik-baik saja.
“Ah tidak perlu repot-repot Tuan, bagian belakang mobil Tuan pun tampaknya sedikit parah karena saya.” Tentu saja Faris menolak mentah-mentah tawaran pria paruh baya itu, karena memang ia juga merasa bersalah telah lalai dalam berkemudi.
“Tapi kerusakan di mobil saya tak separah milik Tuan, ayolah … biarkan saya menebus kesalahan saya Tuan, lagi pula ini jalan tol, mustahil ada taksi yang melintas,” tukas Abbas bersikukuh ingin bertanggung jawab.
“Sungguh Tuan tidak apa-apa, Tuan tidak sepenuhnya bersalah. Biar saya menghubungi asisten saya saja untuk mengurus semuanya.” Pun dengan Faris yang juga bersikukuh menolak tawaran dari pria asing itu.
“Baiklah jika Tuan tidak berkenan, saya tidak akan memaksa. Setidaknya biarkan saya menemani Tuan sampai asisten Tuan datang, bagaimana?”
__ADS_1
Faris pun mengulas senyumnya, tiba-tiba ia teringat jika mungkin hal ini terjadi di negaranya mungkin ialah yang akan dituntut untuk ganti rugi.
“Bukankah tadi anda mengatakan jika tengah terburu-buru mengejar putri anda? Saya tidak apa, lanjutkan saja perjalanan Tuan.” Lagi-lagi Faris tetap merasa tak enak dengan penawaran pria itu.
“Oh ayolah Tuan … lagi pula putri saya juga pasti sudah entah kemana.”
“Baiklah jika Tuan memaksa,” tukas Faris pada akhirnya menerima tawaran dari pria itu.
***
Memastikan Aisha memasuki lift dengan aman, Roger kembali memutar langkahnya menuju mobil yang terparkir di basement. Belum sampai jemari kekarnya membuka pintu mobil, pergerakannya harus terhenti oleh dering ponsel di saku jasnya.
“Ya Tuan?” Roger berucap setelah menempelkan benda pipih yang baru saja berdering itu ke sisi telinganya.
“Roger kamu bisa tolong jemput saya? Saya baru saja mengalami kecelakaan di tol xx. Mobil saya lumayan parah.”
“Alhamdulillah saya baik-baik saja, cuma mobil lumayan rusak parah, makanya saya minta kamu jemput dan urus semuanya. Saya sudah share lokasinya, saya tunggu secepatnya Ger.”
“Baik Tuan, saya kesana sekarang juga,” tukas Roger setelah melihat lokasi yang baru saja Faris kirimkan. Begitu mengakhiri panggilannya, seketika itu pula Roger segera menjalankan mobilnya, meninggalkan basement apartemen, menginjak pedal gasnya kuat-kuat menuju lokasi tempat Tuannya berada.
Tak sampai satu jam, Roger berhasil menmukan tuannya sesuai dengan lokasi yang Faris kirimkan. Roger menepikan mobilnya saat melihat dua mobil mewah yang berhenti di tepi jalan dengan dua pemiliknya yang tampak tengah berbincang.
Dengan tergopoh Roger langsung menghampiri keduanya, “Tuan apa anda baik-baik saja?” tanya Roger sesaat setelah menghampiri Faris.
“Kan saya udah bilang saya nggak apa-apa Ger, cuma mobil kayaknya harus diderek,” jawab Faris melihat Roger diselimuti kepanikan.
__ADS_1
Sedangkan Abbas yang juga masih di sana tampak menyipitkan netranya memindai wajah Roger. Rasa-rasanya ia tak asing dengan wajah dan perawakan itu, tapi kapan dan dimana ia pernah melihat pria yang mengaku sebagai asisten Faris itu? Tampaknya usia yang menggerogotinya membuat ingatannya sedikit melemah.
“Bukankah … anda adalah orang kepercayaan Toni? Dari Abdullah Company?” tanya Abbas hati-hati barangkali ingatannya salah.
Roger sendiri yang terlalu fokus dengan keadaan Tuannya sepertinya tak menyadari siapa seseorang yang tengah bersama dengan Tuannya itu.
“Ah maaf saya tidak meyadari jika anda adalah Tuan Abbas. Benar sekali saya orang yang sering bersama Pak Toni dari Abdullah Company.” Roger pun membungkuk sebagai tanda penghormatan kepada mantan kolega bisnis Tuannya yang pernah bergabung dengan salah satu anak perusahaan dari Abdullah Company.
Faris yang tak memahami perbincangan antara keduanya pun hanya bisa menatap Roger dengan sorot penuh tanya.
“Tuan Abbas dulu pernah bergabung dengan salah satu anak perusahaan kita di Ankara, tapi sekarang ia sudah memisahkan diri sejak pindah ke Istanbul bersama keluarganya.” Memahami sorot tanya dari Tuannya, Roger pun membisikkan hal itu kepada Faris.
“Oh rupanya dunia memang sempit ya, terima kasih atas kepercayaan anda pernah bergabung dengan Abdullah Company,” tutur Faris menyalami Abbas sebagai tanda penghormatan.
“Ah sama-sama Tuan Faris, mendiang Tuan Abdullah memang orang yang luar biasa, saya banyak berterima kasih karena beliau lah perusahaan kami bisa seperti sekarang.” Abbas pun dengan wajah berbinarnya menyambut uluran tangan Faris.
“Ah jika tak salah dengar tadi anda memanggil Tuan Faris dengan sebutan Tuan? Apa Tuan Faris adalah putra Toni? Dulu kami lumayan akrab, dan setahu saya Toni tak memiliki putra seorang pun.” Abbas pun mengutarakan rasa penasarannya kepada Roger yang sejak tadi memanggil Faris dengan sebutan Tuan yang berarti Faris adalah salah satu orang penting di Abdullah Company.
Faris pun mengulas senyumnya mendapati pertanyaan itu, “Perkenalkan, saya Faris Zein Abdullah, putra tunggal dari almarhum Abdullah Abdul Aziz dan Tyas Swastika” tukas Faris kembali mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Roger yang sudah membuka mulutnya bersiap untuk menjawab pun mengurungkan niatnya dan mengatupkan kembali mulutnya.
----
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...