Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Tanpa Papi lagi


__ADS_3

“Terima kasih atas kerja keras kalian.” Faris berujar pada timnya yang baru saja menyelesaikan operasi tranplantasi organ dengan baik.


“Sama-sama Dokter ….”


“Dokter Faris memang yang terbaik.”


Semua tim dalam ruang operasi itu memuji kepiawaian Faris dalam mengendalikan operasi dengan baik.


“Kalian semua juga hebat,” puji Faris yang mendapati senyuman dari semua timnya.


Ia melangkah gontai menuju ruangannya sambil melepas seragam operasinya. Arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


Setelah membersihkan diri, Faris merebahkan sebentar tubuhnya yang terasa sangat lelah di sofa ruangannya. Ia menggeliat pelan untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena semalaman diforsir untuk tetap bekerja.


“Ah nikmat banget …,” ujarnya setelah menggeliat.


Diraihnya ponsel yang sejak semalam belum sempat ia buka kembali, napasnya terdengar sangat berat saat Faris menghembuskannya. Rupanya tak ada notifikasi apapun yang berasal dari istrinya. Bahkan pesannya saja belum dibaca sama sekali sejak semalam.


“Apa kamu semarah itu sama Abang Ca?” Faris bergumam pelan sambil memejamkan netranya.


Kepala Faris benar-benar semakin berdenyut jika mengingat perdebatannya dengan sang istri kemarin, tubuh yang terasa begitu lelah membuat otaknya tak bisa berpikir jernih dan mengendalikan emosi.


“Ah bentar lagi kan waktunya Tasya istirahat.” Faris segera membuka mata dan menegakkan posisi duduknya, pikirnya mungkin jika bermain dengan gadis kecil itu akan sedikit menenangkan pikirannya dan melupakan sejenak kepenatan yang dirasanya. Faris segera berkemas dan berniat untuk langsung ke sekolah Tasya sebelum pulang.


***


“Kita ke Rumah Sakit dulu sebelum pulang ya Ger,” pinta Aisha setelah mengantar Tasya ke sekolah.


Roger segera mengangguk menyetujui permintaan Nyonya mudanya, “Baik Nyonya.”


“Apa semalem Abang ada hubungin kamu Ger.”


Roger sontak mengernyitkan dahinya, ada apa lagi dengan kedua majikannya itu.


“Tidak ada Nyonya. Apa semalam Tuan tidak pulang?”


Aisha hanya mengangguk namun Roger bisa melihatnya dari kaca spion di depannya.


Merasa bosan dengan perjalanannya, Aisha mencoba membuka ponselnya yang sejak kemarin sama sekali tak dibukanya.


Ada banyak sekali notifikasi masuk ke dalam ponsel miliknya begitu ia membuka layar kuncinya, salah satunya pesan dari suaminya.


‘Kayaknya malem ini Abang nggak bisa pulang ya Ca,  jadwal Abang padet banget sampe malem. Ica jangan lupa makan ya … sekali lagi Abang minta maaf atas kejadian kemaren Ca. Abang selalu sayang sama Ica’


Sudut bibit Aisha terangkat setelah membaca pesan singkat dari Faris, ia kini bisa bernapas lega setelah tahu jika suaminya baik-baik saja.


“Ger masih lama nyampenya?” Tanpa sadar Aisha begitu antusias kini, Roger sendiri sampai dibuat bingung dengan perubahan Nyonya mudanya yang bisa secepat itu berubah-ubah.


“Apa semua wanita memang seperti itu ya? Moodnya gampang banget naik turun.” Roger membatin sendiri dalam hati.


“Masih sekitar dua peluh menitan lagi Nyonya, itu pun jika kita tak mendapat macet di jalur depan.” Roger berucap dengan sopan.

__ADS_1


“Nggak ada jalan alternatif lain yang lebih cepet emangnya?” Aisha benar-benar tak sabar untuk menemui suaminya, rasa rindu benar-benar sudah seperti di puncak ubun-ubunnya.


“Ada Nyonya, tapi sudah terlewat jauh di persimpangan tadi. Apa mau putar balik saja?” roger menawarkan untuk memutar arah laju mobil yang dikendarainya.


“Nggak usah deh, malah tambah lama nanti. Berdoa aja semoga di depan nggak ada macet,” harap Aisha yang meski ia tahu pasti akan terjadi kemacetan pada jam-jam segini di hari kerja.


Seperti yang sudah diduga, Aisha dan Roger benar mendapati macet sehingga empat puluh menit kemudian mereka baru bisa tiba di Rumah Sakit.


“Selamat pagi Bu Faris, ada yang bisa saya bantu?” Resepsionis langsung menyambut kedatangan Aisha dengan ramah.


“Selamat pagi Mba. Apa suami saya masih ada jadwal?” Aisha yang sudah kelewat kangen langsung saja bertanya pada intinya.


Seperti biasa sang resepsionis akan langsung mengoperasikan monitor di depannya sebelum menjawab pertanyaan Aisha.


“Dokter Faris pulang satu jam yang lalu, Bu.” Resepsionis itu menjawabnya dengan ramah.


Sejujurnya Aisha sedikit kecewa karena ternyata suaminya justru sudah pulang lebih dulu, tak sesuai harapannya. Tapi memang salahnya yang tidak memberi kabar lebih dulu jika ia akan mengunjungi Faris di Rumah Sakit.


“Ada lagi yang bisa saya bantu, Bu?” Resepsionis itu kembali bertanya.


“Em kalo gitu tolong jadwalkan saya dengan Dokter Fara ya Mba,” pinta Aisha berusaha menampilkan senyumnya.


“Baik, sebentar ya Bu saya hubungi dulu beliau.”


Aisha hanya mengangguk lantas mendudukan dirinya pada kursi yang sudah disediakan, sedangkan Roger ia minta agar tak perlu menemaninya .


“Kebetulan Dokter Fara sedang kosong Bu, beliau bilang agar Ibu langsung saja ke ruang prakteknya.” Resepsionis itu kembali berujar setelah mengakhiri panggilannya yang tentunya dengan Dokter Fara.


Aisha melangkah gontai menuju ruang poli kandungan, lagi-lagi ia harus masuk kesana sendirian, tanpa didampingi siapapun. Awalnya ia ingin membatalkan saja pertemuan ini sampai Faris mengetahui kehamilannya, hanya saja rasa kram yang akhir-akhir ini kerap kali dirasakannya membuatnya harus mengedepankan kondisi janin dalam perutnya dari pada rasa egonya.


“Maaf ya Sayang, kali ini kita harus ke dokter lagi tanpa Papi. Mami khawatir sama


keadaanmu Nak, kita nggak bisa nunggu sampe Papi yang entah kapan baru akan tau keberadaan kamu.”


Aisha menghela napasnya gusar, beberapa kali ia mencoba mengendalikan hatinya sebelum benar-benar melangkah ke ruang praktek Dokter Fara.


“Selamat siang Bu Faris ….” Dokter Fara tampak menghentikan kalimatnya ketika ia melihat Aisha yang lagi-lagi hanya datang seorang diri, mungkin ia ingin bertanya namun diurungkan karena khawatir akan menyinggung perasaan Aisha.


“Selamat siang Dok, maaf saya bikin janjinya dadakan Dok.” Aisha memohon maaf karena kedatangannya yang terkesan mendadak, untung saja jadwal Dokter Fara sedang kosong.


“Tidak masalah Bu. Ngomong-ngomong apa ada keluhan yang dirasa Bu? Karena seharusnya minggu depan baru kita ketemu lagi.” Dokter Fara bertanya dengan lembut, berhadapan dengan ibu hamil membuatnya harus ekstra berhati-hati dalam setiap kalimatnya.


“Ah iya Dok, akhir-akhir ini perut saya sering banget ngerasa kram,” keluh Aisha memegangi perutnya.


“Apa Ibu melupakan untuk mengkonsumsi vitaminnya Bu?”


Sontak Aisha mengangguk, “Beberapa kali saya lupa Dok.”


Dokter Fara hanya tersenyum lantas mengajak Aisha agar berbaring kemudian ia mulai memeriksa kondisinya.


“Jangan sampai stress ya Bu, karena ini sangat mempengaruhi kondisi si janin. Usianya yang masih terbilang muda masih sangat rentan dengan tekanan-tekanan yang dialami sang ibu, pertumbuhannya juga menjadi sangat lambat. Sebisa mungkin tolong dihindari hal-hal yang menguras emosi dan pikiran ya Bu.” Dokter Fara berpesan setelah memeriksa kondisi janinnya.

__ADS_1


“Baik Dokter, saya akan berusaha untuk mengendalikannya.” Ada sesal juga takut yang kian menyeruak ke dada Aisha karena ini merupakan pengalaman pertamanya.


Aisha melirik arloji pada pergelangan tangannya setelah keluar dari ruangan Dokter Fara, “Bentar lagi waktunya Tasya pulang,” gumamnya seraya melangkah untuk menghampiri Roger.


Sebelum keluar, Aisha teringat untuk menghubungi Bi Asih untuk menanyakan apakah suaminya sudah pulang ke rumah, karena pagi tadi sebelum pergi, Aisha menyempatkan untuk menyelipkan hasil USG juga testpack nya pada buku catatan suaminya, kalau-kalau jika Faris pulang ia akan langsung membukanya.


“Apa Abang udah pulang Bi?” Aisha bertanya setelah sambungan teleponnya tersambung.


“Belum Nyonya, sejak tadi Bibi di rumah, tapi tidak ada tanda-tanda kepulangan Tuan.”


Deg, kemana lagi suaminya pergi? Bukankah resepsionis tadi bilang jika Faris sudah kembali satu jam yang lalu dari kedatangannya, pertemuannya dengan Dokter Fara pun cukup lama, masa iya Faris belum kunjung tiba di rumah?.


“Oh ya udah, makasih ya Bi.”


Aisha langsung menghampiri Roger setelah mematikan sambungan teleponnya.


“Kita langsung pulang Nyonya?” Seperti biasa Roger akan selalu menanyakan hal itu.


“Kita jemput Tasya dulu ke sekolah Ger.”


“Baik Nyonya.”


Sepanjang perjalanan Aisha hanya bisa memandangi keluar jendela, namun tatapannya kosong, Roger bisa melihat hal itu dari kaca spionnya.


Pikiran Aisha kini tengah melanglang jauh tentang kemungkinan kemana suaminya pergi jika sampai saat ini belum kunjung tiba di rumah. Hingga tiba-tiba notifikasi dari ponselnya membuyarkan lamunannya.


Seketika wajah gelisah itu langsung berbinar ketika mendapati pesan yang berasal dari suaminya.


‘Ica nggak usah jemput Tasya, Abang udah di sekolah Tasya buat jemput dia’


Hanya itu isi pesan yang sejak tadi ditunggu-tunggunya.


“Jadi Abang pulang dari tadi ternyata langsung ke sekolah Tasya, Abang bahkan sampe lupa rasa cape Abang yang abis lembur semaleman ya Bang. Ica baru sadar kalo ternyata Tasya emang seberarti itu buat Abang. Gimana kalo Abang tau tentang kehamilan Ica? Apa Abang bisa adil berbagi kasih sayang dengan anak Abang sendiri?” Aisha membatin dengan air mata yang tanpa sadar mengalir dari ujung netranya.


“Tau gini ngapain Ica buru-buru ke Rumah Sakit buat nemuin Abang? Ica pikir Abang juga ngerasain hal yang sama kayak Ica, ternyata cuma Ica yang terlalu berharap Abang bakalan kangen atau setidaknya khawatir sama Ica yang Abang tinggal lembur semaleman.” Lagi-lagi hatinya berkecamuk saat bermonolog.


“Kita langsung pulang Ger.” Aisha berujar dengan sedikit parau.


“Bagaimana dengan Non Tasya, Nyonya?”


“Udah ada yang jemput.” Jawab Aisha singkat.


“Baik Nyonya.”


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2