Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Aku masih punya hati


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)


________


“Ayla apa kabar? Kamu tampak lebih pendiam dari terakhir kali kita bertemu,” sapa Faris yang duduk di seberang gadis itu, sementara Aisha tentu saja duduk di kursi sampingnya.


“Like you know, I’m good,” ujarnya tanpa sedikitpun mengangkat wajahnya, ia justru sibuk dengan makanan pembuka yang baru saja seorang pramusaji suguhkan.


“Ayla, angkat wajahmu saat berbicara, Nak.” Abbas menegur putrinya, tampaknya ia menyadari keketusan Ayla terhadap koleganya itu.


“It’s okay, Tuan. Mungkin Ayla tengah banyak pikiran. Saya paham di usianya sekarang pasti urusan perkuliahan kadang membuat stress,” tutur Faris mencoba mengerti keketusan Ayla terhadapnya.


Sedangkan yang menjadi objek perbincangan justru meletakkan sendoknya, meraih tas dan bangkit dari kursinya, “I’m done here. Ayla pulang Ba, Mi,” ujarnya tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya.


Abbas pun segera bangkit dari kursinya, “Ayla! Berhenti di tempatmu sekarang!” ujarnya penuh peringatan. membuat pengunjung lain sontak menoleh ke arahnya. Tampaknya Abbas Abbas sudah tidak bisa menahan diri lagi dengan kelakuan putrinya. Sedangkan yang diteriaki justru tak sedikitpun ada niatan untuk menghentikan langkahnya.


“Ba, it’s okay biarin aja Ayla pulang. Setidaknya dia udah berusaha menepati janjinya buat ikut kita malam ini.” Ajeng segera meraih lengan suaminya, mengelusnya lembut untuk meredakan amarah yang tampak nyalang dari sorot suaminya itu. “Duduk Ba, nggak enak sama Nak Faris dan Aisha. sama pengunjung lain juga.” Ajeng membawa suaminya kembali menduduki kursinya.


“Kami benar-benar minta maaf atas sikap putri kami, Nak Faris, Aisha. Ayla biasanya tidak seperti ini. Mungkin benar yang dikatakan Nak Faris, Ayla sedang banyak pikiran karena kuliahnya.” Abbas tampak begitu tak enak hati kepada tamunya. Akhir-akhir ini memang sikap putrinya itu selalu membuatnya mengusap dada.


“It’s okay it’s okay, kami paham, Tuan.”


“Sekali lagi kami minta maaf atas sikap Ayla.” Ajeng bahkan mengulangi permohonan maafnya. “Kita nikmati hidangannya, silahkan,” lanjutnya saat beberapa pramusaji menyuguhkan menu utama makan malam itu.


“Permisi, saya pamit ke toilet sebentar.” Aisha bangkit dari duduknya, berpamitan kepada sepasang suami istri itu setelah lebih dulu berbisik kepada suaminya.


Aisha berjalan gontai menyusuri lorong yang akan membawanya ke ruangan yang ditujunya, pikirannya kini dipenuhi dengan rasa bersalah karena sepertinya keberadaannya justru merusak acara suaminya malam ini.


Aroma pembersih lantai seketika menguar saat Aisha berhasil membawa langkahnya ke toilet. Ia terduduk cukup lama di salah satu bilik. Sikap Ayla benar-benar telah menyita pikirannya. “Harusnya aku emang nggak usah ikut tadi,” keluhnya menyandarkan punggung pada ujung wastafel.

__ADS_1


Sebelum kembali keluar, Aisha menyempatkan diri menuju kaca besar yang terpasang sepanjang ruangan, berniat membenahi hijab dan riasannya, tanpa ia duga ternyata gadis yang baru saja mengganggu pikirannya tengah berdiri membasuh wajahnya di depan kaca yang juga menjadi tujuan Aisha. Ternyata Ayla belum benar-benar pulang.


“Maaf aku sudah merusak selera makan malammu,” ujar Aisha saat gadis itu seperti tak menyadari keberadaannya.


Ayla hanya menoleh, mengambil tisu untuk mengeringkan wajahnya dan membenahi kembali riasannya. “Bagaimana kabar kakakku?” pertanyaan itu keluar begitu saja, ia bahkan sama sekali tak menoleh kepada lawan bicaranya.


“Kakak kita,” ucap Aisha membenarkan kalimat Ayla.


Kalimat itu berhasil membuat Ayla menoleh, “Aku belum rela berbagi kakakku denganmu.”


Aisha hanya mengulas senyumnya, ia paham perasaan gadis di depannya itu, “Kak Isal baik. Keliatannya dia lagi sibuk sama kampus dan kantor, makanya mungkin dia belum sempet ngabarin kamu.”


Ayla hanya menggedikkan bahu, tak berniat menanggapi ucapan Aisha. Ia tak ingin semakin kecewa jika berlama-lama membahasnya. Ia segera meraih tasnya yang tergeletak dan melangkah keluar meninggalkan Aisha yang masih mematut dirinya di depan kaca.


Sesaat kemudian setelah kepergian Ayla, tiba-tiba Aisha merasa perutnya seketika kram. Rasa sakitnya bahkan seperti menjalar menyesakkan dadanya. Kedua tangannya mencoba berpegangan pada sisi wastafel guna menopang tubuhnya, tapi nyatanya kram di perutnya membuat kedua kakinya seketika lemas, Aisha ambruk ke lantai.


“Aww.” Aisha mencoba menggapai ponselnya yang tergeletak bersama tasnya di atas wastafel, naasnya rasa sakit itu benar-benar membuat Aisha tak berdaya, semakin bergerak semakin sakitnya menyesakkan dada.


Peluh bercucuran melewati dahinya, tetesan air juga mulai bersusulan dari kedua netranya.


“Tenang Aisha … semuanya baik-baik aja. Ini cuma kram, kamu dokter, kamu pasti bisa ngatasin ini.” Tak henti-hentinya Aisha menyemangati dirinya.


Menarik napas dengan dalam lantas membuangnya perlahan. Kakinya ia coba luruskan agar tak semakin menambah rasa sakit yang ada. Berulang kali ia mencoba hal tersebut, tapi hasilnya nihil, sakitnya tak kunjung mereda.


“Help me ….” Ia menyerah dan mencoba meminta pertolongan, barangkali ada yang mendengar suaranya dari luar sana.


Hening. Wanita itu tak menyerah, dengan suara yang terasa tercekat ia kembali berteriak meminta pertolongan.


“Please help me … anybody help me ….” Suaranya semakin melirih, tangannya sudah sejaktadi meremas perutnya  berharap sakitnya akan mereda.


Di luar sana, gadis yang belum jauh meninggalkan toilet sayup-sayup mendengar rintihan seseorang meminta tolong. Semakin lama suaranya semakin melirih. Ia teringat jika Aisha belum keluar dari sana, dan di dalam sana wanita itu hanya sendirian. Mungkinkah terjadi sesuatu pada Aisha? otaknya mencoba mencerna berbagai kemungkinan. Mengesampingkan egonya, Ayla kembali melangkah menuju toilet. Benar saja, dilihatnya Aisha sudah ambruk di atas lantai, peluh tampak mengalir dari kedua pelipisnya.


Ia memang benci wanita itu, tapi hati kecilnya masih bisa membuat otaknya berpikir waras, sisi kemanusiaannya tergugah melihat wajah tak berdaya yang meringis kesakitan memegangi perutnya.

__ADS_1


Menyadari kedatangan seseorang, Aisha mendongakkan wajahnya, seketika matanya berbinar, “Ayla, tolong aku ….” Wanita itu tampak memohon belas kasihan dari gadis yang masih berdiri di ambang pintu.


Mengikuti nalurinya, Ayla mendekati Aisha yang masih tergeletak, ia sendiri bingung apa yang harus dilakukannya.


“Tolong hubungi suamiku,” pinta Aisha saat Ayla masih bergeming di hadapannya.


Tanpa menjawab, diraihnya tas yang tergeletak di samping wastafel. Dengan cepat jemarinya mencari-cari nama dari suami dari wanita yang hendak ditolongnya.


“Syurgaku, nama kontak Abang aku namai syurgaku.” Aisha tampaknya menyadari kebingungan Ayla yang tak kunjung menemukan nama suaminya.


“Ya Sayang?” sapa seseorang dari sebrang sana. Tentu saja Faris mengira jika itu adalah istrinya.


“Istrimu kesakitan di toilet, aku tidak tahu bagaimana cara membawanya,” tukas Ayla tanpa basa basi.


“Ssshhh aww, sakit sekali ya Allah.” Aisha tak henti-hentinya merintih, mengutarakan rasa yang kini melandanya. Ayla justru semakin kebingungan dibuatnya, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Jujur melihat orang lain kesakitan di depannya membuatnya begitu iba, meski tak bisa dipungkiri rasa kesalnya pada Aisha masih ada.


Tak selang beberapa saat Faris datang tergopoh diikuti oleh Abbas dan Ajeng di belakangnya. Melihat istrinya tergeletak lemas di lantai membuatnya seketika turut bersimpuh, “Sayang ada apa? Apa yang sakit hem?” tercetak jelas wajah itu dipenuhi kekhawatiran.


“Perut Ica kram, Bang. Sakit banget.”


Tanpa menunggu lama Faris segera meraih tubuh itu dan membopongnya keluar yang tentu saja mengundang perhatian seisi restoran.


“Maaf Tuan, sepertinya acara malam ini cukup sampai di sini. Saya harus segera memeriksa kondisi istri saya.” Faris menyempatkan diri berpamitan kepada sepasang suami istri yang masih setia di sampingnya.


“Tidak apa-apa, Nak. Semoga Aisha baik-baik saja.”


Faris pun segera membawa langkah lebarnya usai menganggukI ucapan Abbas, menuju mobilnya yang terparkir di basement restoran. “Sabar ya Sayang, kita pulang sekarang.” Tak henti-hentinya Faris menenangkan istrinya, pria itu tampak seolah lebih sakit melihat istri yang begitu dicintainya menahan rasa sakit dalam dekapannya.


Aisha hanya memejamkan matanya, menyandarkan kepala pada dada suaminya, berharap dengan menghirup wangi maskulin itu bisa sedikit menenangkannya.


________


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2