
Abbas dan Ajeng kini tergopoh menyusuri lorong Rumah Sakit diikuti beberapa pengawalnya, mereka begitu terkejut setelah menerima panggilan dari Ayla jika putra Faisal ditikam orang ketika di café. Otak Abbas kini langsung mencurigai beberapa kemungkinan orang yang mencelakai putranya itu.
“Ba … Kak Isal Ba.” Ayla langsung saja menubruk sang ayah begitu melihatnya datang tergopoh bersama ibunya.
“Tenang ya Sayang, Kakakmu pasti baik-baik saja. Kita tau Kakakmu lelaki yang kuat.” Abbas kini membalas dekapan putrinya dan mencoba menenangkannya, sudut bibirnya terangkat ketika menyadari Ayla yang selama ini selalu dingin kepadanya dan sang istri kini justru memeluknya dengan begitu erat.
“Sekarang coba ceritakan bagaimana kejadian sebenarnya,” ujar Abbas dengan lembut setelah Ayla melepaskan pelukannya.
“Ayla sama Kakak lagi ngobrol Ba di café biasa, tiba-tiba ada cowok yang nggak dikenal jalan mengarah ke meja kita, dan ternyata di balik jaketnya dia udah bawa pistol yang langsung dikeluarin pas di samping Kakak. Aku sama Kak Isal tentu aja nggak ada aba-aba buat ngehindar pas dia lepasin pelatuk pistolnya, tapi untungnya Kak Isal sempet noleh jadi peluru itu nggak jadi kena dada Kakak, malah kena lengan atasnya,” tutur Ayla mencoba mengingat apa yang dialaminya bersama sang kakak.
“Berarti target dia emang Kakakmu,” tukas Abbas.
“Apa kamu liat wajah pelakunya kayak apa Sayang?” Kini Ajeng yang membuka suara.
Ayla sontak saja menggeleng, “Nggak Mi, dia pake masker sama topi. Jadi wajahnya nggak jelas,” ujarnya menyesal karena tak sempat melihat wajah pelaku.
“Baba janji pelakunya pasti ketemu, Baba udah suruh orang buat nanganin kasus ini.”
Tiba-tiba seorang dokter yang menangani Faisal keluar.
“Selamat siang, apa ini keluarga dari pasien?” tanya sang dokter dengan logat Turkinya yang kental.
“Benar Dok, saya Babanya. Gimana kondisi putra saya Dok?” tanya Abbas segera.
“Putra anda sudah melewati masa kritisnya, beruntung orang yang menolongnya berhasil mengeluarkan peluru itu dengan benar sehingga meminimalisir kemungkinan kehilangan nyawa jika peluru itu masih bersarang di tubuh pasien.”
Abbas sontak mengernyitkan dahinya tak paham dengan siapa yang dimaksud sang dokter menolong putranya.
“Bukankah anda yang mengeluarkan peluru itu Dokter?” tanya Abbas bingung.
“Bukan Pak, putra anda dibawa ke sini sudah dengan kondisi luka yang sudah dibalut dan pelurunya pun sudah berhasil dikeluarkan,” ujar sang dokter yang kemudian pamit untuk berlalu.
“Bukannya kamu yang bawa Kakakmu ke sini Sayang?” tanya Ajeng menghampiri putrinya yang sudah terduduk di kursi tunggu.
__ADS_1
“Iya Mi, emang Ayla yang bawa Kakak ke sini. Tapi Ayla nggak sendirian, ada cewek yang tiba-tiba bantu Ayla dan ngeluarin peluru itu di tempat,” tutur Ayla yang tentu saja masih merasa kesal jika mengingat Aisha yang begitu Gus Hasan cintai.
“Di tempat? Di café maksudnya Ay? Kok bisa?” tanya Abbas terkejut bukan main.
“Iya Ba. Cewek itu dokter, dia dari Indonesia. Mendingan Baba sama Mami nanti liat langsung aja deh gimana kejadiannya dari cctv di café itu,” tutur Ayla yang enggan menceritakan kebaikan dari wanita yang sudah menjadi penyebab luka di hatinya.
***
Setelah dipastikan jika Faisal baik-baik saja, Abbas, Ajeng dan Ayla diperbolehkan untuk memasuki ruangan tempat Faisal berbaring, dan tampak lelaki itu terbaring lemah di atas brankar dengan wajahnya yang pucat karena sempat kehilangan banyak darah.
“Kak … Kakak nggak apa-apa?” Ayla yang menemani sang Kakak sejak kejadian berlangsung sontak langsung menghambur memeluk Faisal yang hanya bisa mengangguk lemah.
“Pelan-pelan Ay … Kakakmu kesakitan itu,” ujar Abbas mencegah Ayla yang hendak menindih luka Faisal.
“Apa ini bukan perbuatan salah satu rival bisnis kita Ba? Soalnya kemaren kan Isal baru aja menangin tender proyek itu Ba,” tutur Ajeng pada suaminya.
“Bisa jadi Mi … Baba juga ada beberapa orang yang dicurigai.”
“Tapi motifnya apa Ba? Kalo emang targetnya Isal, kenapa nggak langsung habisin aja di tempat.” Faisal yang masih berbaring pun turut berkomentar.
“Baik, terima kasih. Saya tunggu informasi selanjutnya,” tutur Abbas pada seseorang di sebrang.
“Siapa Ba?” tanya Ajeng.
“Kepala divisi yang Baba suruh nanganin kasus ini, dia udah kirim Salinan rekaman kejadian di café tadi.”
Abbas segera saja membuka pesan emailnya untuk memastikan, tanpa menunggu lama, diputarnya video itu yang sudah dihubungkan ke layar televisi yang terdapat di ruang rawatFaisal agar mereka bisa dengan jelas menyaksikan setiap rangkaian kejadian.
***
Malam semakin beranjak, dan Aisha masih terjaga di atas pembaringannya. Sejak tadi ia tak
henti-hentinya memikirkan perihal kejadian di café siang tadi, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya jika kekhawatiran sang ibu benar-benar terjadi menimpanya.
__ADS_1
“Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maulaa wani’mannashir ….” Lisannya sejak tadi tak henti-hentinya mengucap asma Allah meminta perlindungan dari sang Maha pengatur kehidupan.
Tanpa sadar hal itu mampu membuat Aisha sedikit terlupa dengan masalah yang tengah melanda rumah tangganya.
Drrtt … tiba-tiba ponselnya berdering dari nomor Indonesia, yang tak lain adalah Pak Hartono, pengacaranya.
“Iya Pak, selamat malam,” ujar Aisha setelah mendengar sapaan dari sebrang.
“Saya hanya ingin mengingatkan jika besok adalah sidang pertama dari gugatan yang Mba Aisha ajukan. Saya juga sudah menyampaikan langsung pengajuan gugatan juga undangan sidang terhadap suami Mba Aisha.”
“Apa suami saya menerima pengajuan itu Pak?”
Terdengar Pak Hartono sedikit menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan Aisha.
“Sekarang saya berbicara dari sisi sebagai orang yang sudah bertahun-tahun mengabdi untuk keluarga Tuan Ameer, jujur saya sedikit tidak tega atas pengajuan gugatan ini Mba. Karena saya melihat langsung bagaimana ketulusan suami Mba terhadap Mba Aisha. Untuk yang terakhir saya bertanya, apa Mba Aisha tidak ada niat berubah pikiran untuk kembali mencabut pengajuan gugatan itu Mba? Mumpung masih ada waktu Mba.”
Aisha memejamkan netranya sejenak, seketika air matanya kembali mengalir mendengar pernyataan dari pengacaranya itu.
Aisha menghela napasnya perlahan, “Saya sudah memikirkan semuanya dengan matang Pak, dan untuk saat ini saya benar-benar sudah lelah. Saya tidak sanggup lagi untuk bertahan bersamanya,” tutur Aisha berusaha menahan isaknya, adegan demi adegan di saat Faris yang tak mempedulikan dirinya dan janin dalam kandungannya hingga ketika ia tengah bersama Sofia dikamarnya membuat logika Aisha memaksakan hatinya agar tetap kuat dengan semuanya.
“Tolong dilanjutkan saja semuanya sesuai prosedur Pak,” ucap Aisha kemudian lantas segera menutup panggilannya. Ia tak sanggup lagi menahan sesak yang kian menghantam dadanya.
Tubuh Aisha kembali luruh di tepi ranjang, ia terisak pilu memeluk sendiri lututnya.
“Bukan Ica nggak lagi sayang sama Abang … tapi hati ini yang udah nggak sanggup lagi menampung luka yang mungkin akan lebih sering Ica terima ke depannya jika masih memilih bertahan.”
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1