Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Aku dan perasaan ini


__ADS_3

Suara ketukan pintu dan ucapan salam berbunyi tiga kali.


Nyai Hamidah sekeluarga yang memang sejak tadi tak sabar menunggu kedatangan Faris dan Aisha dengan berdebar tergopoh ke arah pintu, membukakan pintu yang langsung menampakan sosok Faris dan Aisha.


Nyai Hamidah segera berjalan mendekat ke arah Aisha yang langsung berhambur menciumi tangan wanita yang hampir berusia lima puluh tahunan yang kini berstatus menjadi ibu mertuanya.


Nyai Hamidah memeluk Aisha haru, ada bulir bening yang ikut luruh di setiap elusan Nyai Hamidah di punggung Aisha.


“Akhirnya kalian sampai juga,” tutur Nyai Hamidah lalu mengurai pelukannya.


Begitupun dengan Faris yang langsung menghambur ke arah Bukdenya, menciumi tangannya lalu memeluknya haru yang kemudian bergantian dengan Kyai Safar dan Gus Hasan.


Ning Sabina yang menyaksikan semua itu juga langsung menghambur ke arah Aisha, memeluknya tak kalah haru.


“Akhirnya kita bisa menjadi satu keluarga ya Sha,” tutur Ning Sabina di sela pelukannya.


Aisha tak bisa menjawab, ia sibuk menghapus air mata yang berderai di wajahnya.


“Yo wes ayo masuk dulu, kalian sudah solat magrib to?” tanya Kyai Safar menyudahi adegan dramatis di halaman ndalem.


Faris dan Aisha mengangguk bersamaan menanggapi pertanyaan Kyai Safar.


“Yo wes ayo, biar nanti barang-barangnya dibawakan sama kang santri saja.


Semuanya melangkah masuk ke ndalem, tak terkecuali Gus Hasan yang sejak tadi lebih banyak terdiam sembari menggendong Gus Fakih.


“Kalian istirahat saja dulu sambil menunggu waktu isya,” tutur Kyai Safar pada keduanya.


Nyai Hamidah segera menggiring keduanya ke kamar yang biasa ditempati oleh Faris yang sejak tadi sudah dipersiapkan oleh dirinya dan putrinya.


“Masya Allah ….” lirih Aisha takjub melihat ruangan yang sudah di sulap bak kamar pengantin yang sangat indah.


Nyai Hamidah hanya tersenyum melihat reaksi keduanya.


“Ini pasti kerjaan Bukde sama Mba Sabina kan?” tanya Faris yang juga nampak takjub melihat kamarnya terlihat nampak berbeda.


“Ada menantu baru ya harus disambut to le,” jawab Nyai Hamidah mengangguk-anggukan kepalanya.


Faris langsung menghambur memeluk Bukde-nya.


“Makasih ya Bukde sudah bersedia menggantikan peran Bunda buat Faris,” tutur Faris parau.


Nyai Hamidah yang mendengarnya pun sudah lebih dulu menitikan air mata di setiap elusannya di punggung keponakan tersayangnya.


“Ih sudah ah, sudah ada istri kok masih cengeng kaya gini,” tutur Nyai Hamidah menggoda Faris.


“Ini tuh air mata bahagia Bukde,” bela Faris.


Aisha yang melihat pemandangan di hadapannya mengetahui sisi lain dari seorang Faris yang tak ia ketahui selama ini.


“Beberapa barang yang mungkin Aisha butuhkan sudah disiapkan di lemari. Ini hadiah dari Bukde, maaf Bukde cuma bisa ngasih ini buat Aisha. Semoga Aisha suka ya,” tutur Nyai Hamidah menyerahkan sekotak perhiasan sebagai hadiah pernikahan.


“Aisha suka Bu Nyai,” jawab Aisha mengangguk-anggukan kepalanya lalu kembali menghambur memeluk Nyai Hamidah.


“Loh kok Bu Nyai? Bukde ya, kayak Faris,” tegas Nyai Hamidah menepuk-nepuk  pelan lengan Aisha.


“Ya sudah kalian istirahat dulu ya, Bukde mau nemenin Pakde dulu,” lanjut Nyai Hamidah memberi ruang untuk keduanya beristirahat.

__ADS_1


***


Setelah menutup pintu, Aisha mendekat ke arah tumpukan di sisi lemari. Mengamati satu persatu segala barang-barang kebutuhannya yang telah Nyai Hamidah siapkan untuknya.


Kedua tangannya sudah menutup mulutnya yang tak bisa berkata-kata lagi.


Aisha tak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan seindah ini dari keluarga suaminya, segalanya benar-benar berubah untuknya.


Rengkuhan di pinggang rampingnya menghentikan sejenak rasa harunya, Faris yang lebih tinggi dari Aisha memudahkan dirinya untuk leluasa meletakan dagunya di pundak istrinya.


Aisha yang terkejut refleks menoleh yang justru membuat wajahnya kini hanya berjarak beberapa centi dengan wajah Faris yang tengah bersandar di pundaknya.


Pandangan mereka saling bertemu, menyelami tatapan masing-masing. Deru napas mereka saling memburu dengan detak jantung yang sama-sama tak menentu.


Faris membalikan tubuh Aisha tanpa mengurai pelukannya, kini mereka saling berhadapan dengan tatapan yang sulit diartikan.


Perlahan Faris menurunkan hijab yang menutupi rambut Aisha, menampakan Aisha yang semakin anggun dengan rambutnya yang hitam legam tergerai.


Faris menarik tubuh Aisha semakin mendekat, membuat tubuhnya kini menempel sempurna dengan tubuh Aisha. Aisha menurut saja, meski jantungnya kini seperti mau pecah.


Begitupun dengan Faris, ia yang tak memedulikan rontaan jantungnya yang juga seperti minta dikeluarkan dari jeratan tulang rusuknya semakin mendekatkan wajahnya dengan Aisha, membuat kening keduanya saling menempel.


Perlahan tangan Faris menyentuh leher Aisha yang refleks memejamkan matanya. Sudut bibirnya tertarik menciptakan sebingkai senyuman lalu akhirnya memberanikan diri memagut lembut bibir wanitanya.


Aisha yang masih terkejut hanya terdiam tak membalas pagutan suaminya, membiarkan Faris yang kini mendominasi kegiatannya. Tanpa sadar Aisha sudah mengalungkan tangannya di leher Faris,  menikmati kehangatan yang tersalurkan dalam setiap pagutan.


“Allohu Akbar Allohu Akbar....”


Faris dan Aisha yang sama-sama terkejut mendengar lantunan adzan segera menghentikan aktivitas mereka, rasa canggung kembali tercipta di antara mereka.


“Em … Abang ke masjid dulu yah?” tanya Faris menutupi kegugupannya.


“Eh … I-iya Bang.”


Faris segera melangkah ke kamar mandi mengambil air wudu.


Aisha menutup wajahnya sendiri yang sudah memerah, kembali mengingat adegan yang baru saja mereka lakukan.


“Aish … malu banget, apa aku terlihat terlalu agresif yah?” gumam Aisha memegangi dadanya sendiri yang masih naik turun.


Aisha mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyiapkan setelan baju dan sarung untuk Faris gunakan solat berjamaah di masjid.


Pintu kamar mandi terbuka, menampakan Faris dengan wajah yang masih basah oleh air wudu menambah kadar ketampanannya.


Aisha yang terpana dengan pemandangan dihadapannya mematung di tempatnya dengan baju untuk Faris yang masih tersampir di lengannya.


“Baju Abang?” tanya Faris membuyarkan lamunan Aisha.


“Ah i-iya ini,” jawab Aisha tegugup.


Ada lengkung tercipta di kedua sudut bibir Faris melihat Aisha yang sejak tadi tampak salah tingkah karena perlakuannya.


“Abang ke masjid dulu ya sayang,” tutur Faris sembari mengelus sayang puncak kepala Aisha.


Aisha tersenyum kemudian menggangguk mengiyakan.


***

__ADS_1


Azka berdiri agak lama di depan pintu kamarnya, mematung menyaksikan wanita yang akhir-akhir ini selalu muncul dalam hidupnya tengah mengendong bayinya dengan sesekali bernyanyi lirih.


“Ehem ….” Sontak Karina menoleh mendengar deheman Azka.


“Mba Sani kemana?” tanya Azka melihat Karina yang menggendong Rafa.


“Ssstt, jangan keras-keras! Rafa baru aja tidur,” tutur Karina seraya membaringkan Rafa di ranjang bayi.


Selesai membaringkan Rafa, Karina melangkah ke arah Azka, menarik lengan Azka keluar.


“Apa-apaan ini?” protes Azka karena Karina tiba-tiba menarik tangannya.


“Kamu tadi nanya kan Mba Sani kemana? Karena Rafa baru aja tidur jadi aku nggak mau dia bangun gara-gara percakapan kita.”


“Terus?”


“Apanya yang terus?”


“Mba Sani lah, kok kamu yang jagain Rafa?”


“Oh, Mba Sani tadi minta izin ada urusan mendadak katanya.”


“Kok nggak bilang sama saya? Kan di sini saya yang majikannya,” ketus Azka.


“Mungkin buru-buru, namanya juga mendadak. Ngerti dikit kenapa,” jawab Karina terlihat kesal dengan sikap Azka yang arogan.


Karina berjalan ke arah meja makan, menyiapkan makanan yang sudah ia pesan untuk Azka.


“Karena aku nggak bisa masak, jadi aku cuma bisa pesenin ini buat kamu. Bi Surti tadi juga minta izin ke pasar dulu buat belanja,” tutur Karina sembari menyiapkan makanan di meja.


Azka hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan Karina.


“Astaga aku telat nih!” gerutu Karina setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Kenapa?” tanya Azka yang masih mematung di tempatnya.


“Aku ada jadwal sore ini,” jawab Karina tergopoh meraih tasnya di sofa.


“Saya anter,” ucap Azka masih dengan mode dinginnya.


“Nggak usah, aku bawa mobil kok,” jawabnya sembari melangkah menuju pintu.


Azka hanya ber-oh ria menanggapinya.


“Rafa tadi udah minum vitamin, kalo di Rumah Sakit udah beres aku balik lagi buat Rafa!” teriak Karina dari ambang pintu.


Ada lengkung yang tercipta di sudut bibir Azka yang biasanya selalu memasang perangai dingin.


Sejak kepergian Diana, dan sejak kedatangan Karina entah kenapa dunia Azka seperti berubah seratus delapan puluh derajat.


“Gadis aneh,” gumam Azka menggeleng-gelengkan kepala lalu menghampiri makanan yang sudah tersaji di atas meja.


***


Bersambung ….


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….

__ADS_1


__ADS_2