Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Karina yang sebenarnya


__ADS_3

“How about you Azka? Bukannya kamu juga masih ngejar-ngejar Aisha yah? Padahal kamu juga tau kalo Aisha udah bahagia sama pilihannya.” (Bagaimana dengan kamu Azka?)


Boom!


Pertanyaan Karina benar-benar sebuah keras untuk Azka.


***


“I don't same with her.” (Aku tidak sama seperti dia)


“Oh ya? Sebelah mananya yang nggak sama Ka?” tanya Karina lagi.


Sebenarnya Karina percaya jika Azka memang tak selicik Sofia, namun saat ini ia hanya ingin mendengarkan penjelasan itu langsung dari Azka. Sekalian ia ingin mengetahui apa sebenarnya motif Azka kembali mendekatinya.


“Aku nggak menghalalkan segala cara buat dapetin kembali Aisha. Aku pun nggak ada niatan buat ngehancurin rumah tangga Aisha. Aku hanya masih mencintainya, dan tentu saja aku nggak akan tinggal diam jika ada yang menyakitinya. Apalagi jika Faris nggak sanggup jagain dia, maka aku adalah orang pertama yang akan maju melindungi Aisha.”


“Terus apa motif kamu masih gangguin hidup aku kalo hati kamu masih cuma buat Aisha? Kalo kamu ke sini cuma mau curhat tentang cinta kamu buat Aisha, silahkan pintu keluarnya sebelah sana,” tutur Karina mengacungkan telunjuknya pada arah letak pintu rumahnya.


Jujur Karina masih belum sanggup jika harus mendengar pengakuan hati Azka tentang Aisha.


Tiba-tiba Azka menekuk lututnya, bersimpuh dihadapan Karina yang masih mematung menatapnya terkejut.


“Aku pernah bilang sama kamu kalo Aisha adalah kenangan yang mungkin akan selalu tinggal dalam hati aku. Dan sekarang, dengan segala kekurangan, aku mengharap kemurahan hati kamu. Setengah hatiku telah hilang bersamaan dengan perginya Aisha ke sisi Faris, dan sekarang jika kamu bersedia, akan aku serahkan seluruh hatiku yang tersisa Rin, bahkan nggak aku sisakan untuk diriku sendiri,” tutur Azka menengadah, menatap langsung manik mata hitam yang sudah dipenuhi oleh genangan cairan bening.


Karina menengadah, memejamkan sejenak netranya agar tak sampai menjatuhkan cairan bening yang sudah susah payah ia pertahankan. Lidahnya bungkam, mencoba mencerna apa yang baru saja Azka utarakan.


“Jika aku mengatakan yang sesungguhnya siapa diriku di masa lalu, apa niat kamu padaku akan tetap utuh? Atau justru berkurang dan kemudian lenyap?” tutur Karina mencoba menatap kembali manik mata yang tengah menatapnya.


“Apapun itu, aku pun bukan orang sempurna di masa lalu Rin, bahkan hingga hari ini aku masih manusia dengan segala kekurangan. Karena itu, aku berharap kamu bersedia menemaniku membenahi hidup ini, hidup kita di masa depan nantinya.”


“Tapi aku hanya wanita yang tak beda jauh seperti Sofia Ka! Aku salah satu wanita yang menginginkan suami orang, yaitu Faris. Sebelum kehadiran kamu, aku bahkan pernah dengan segala usahaku mencoba untuk menyingkirkan Aisha! Apa kamu masih mau dengan wanita seperti ini Ka?”


Deg, pernyataan Karina benar-benar seperti boomerang yang membuat Azka lemas seketika, pandangannya kini meremang membayangkan betapa sulitnya kehidupan Aisha saat ia pergi meninggalkannya.


Air mata yang sejak tadi Karina pertahankan akhirnya lolos juga dari ujung netranya, bahkan kini telah membasahi wajahnya dengan isakan yang cukup jelas menyapa indra pendengar Azka.


***


Jam yang menggantung di kamar Faris dan Aisha tepat menunjukkan pukul setengah tujuh ketika Faris keluar dari kamar mandi. Dengan sigap Aisha menyiapkan pakaian suaminya dan melayaninya.


“Bang.”


Tangan mungil yang melingkar di perut Faris menghentikan aktifitas menyisir rambutnya.


“Apa Sayang?”


Faris seketika berbalik, membuatnya berhadapan dengan sang istri yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


Aisha langsung menyembunyikan wajahnya pada dada sang suami yang selalu merengkuhnya, menghirup aroma maskulin yang sudah sangat dihapalnya, yang kini benar-benar menjadi candunya.

__ADS_1


“Ica pengen apa hem?” ujar Faris mengangkat pelan dagu sang istri, membuat iris hitamnya menatap langsung manik mata coklat milik istrinya.


“Abang bakal ijinin nggak kalo Ica kerja?” ujar Aisha hati-hati.


Setelah sekian lama memendamnya, akhirnya kalimat itu mampu juga ia ucap. Dan kini ia sudah siap dengan apapun jawaban suaminya nantinya.


“Kenapa kok tiba-tiba Ica pengen kerja? Abang masih sanggup kok nafkahin Ica,” ujar Faris sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Aisha.


“Iya Ica tau, dengan semua yang Abang miliki, InsyaAllah lebih dari cukup buat nafkahin Ica. Tapi Ica kan juga pengen mengamalkan ilmu yang Ica punya Bang,” ujarnya dengan tatapan memohon.


“Dengan Ica menjaga diri Ica sendiri dan orang-orang di sekitar Ica, itu juga udah lebih dari cukup dari arti mengamalkan, Sayang,” tutur Faris mengusap puncak kepala sang istri.


“Iya sih, tapi kan Bang ….”


Aisha menundukkan wajahnya, tampak sekali ia tengah menyembunyikan kesedihannya.


“Iya iya Sayang, Abang pikirin dulu yah. Nanti kita bahas lagi sepulang honeymoon,” ujar Faris mencoba menghibur sang istri.


Faris membungkukkan badannya agar wajahnya sejajar dengan tinggi istrinya.


“Okay?” imbuhnya mengangkat wajah yang benar-benar berubah seketika.


“Beneran?” tanya Aisha masih dengan wajah sendunya.


“Iya Sayang, Abang janji,” ucap Faris meyakinkan.


Aisha segera memeluk kembali tubuh atletis milik suaminya, tanpa rasa bosan ia pun kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang yang selalu menjadi tempat favoritnya.


Aisha segera melepaskan pelukannya melihat jarum yang ditunjukkan oleh jam dinding di hadapannya.


“Kayak gini dulu, bentar aja,” ucap Faris kembali menarik wanitanya dalam rengkuhan.


Aisha hanya bisa pasrah, ia pun dengan senang hati kembali mengeratkan pelukannya dengan sesekali mengusap lembut punggung suaminya, menyalurkan ketenangan bagi punggung yang kini bertanggung jawab akan dirinya juga keluarga kecil mereka nantinya.


Faris pun menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher sang istri, menghirup dalam-dalam aroma lily yang selalu membuat darahnya berdesir tak karuan.


“Abang masih kangen sama Ica,” bisik Faris yang justru membuat otak cantik Aisha berkelana ke kanan dan kiri.


Plakkk, Aisha merenggangkan pelukan mereka.


“Aw … nanti Abang mati muda Sayang,” ujar Faris mengusap-ngusap bekas tangan Aisha di lengannya.


“Emang pernah ada orang yang meninggal gara-gara ditabok doang yey?”


“Ada. Tapi nggak apa-apa deh kalo yang naboknya model beginian mah semuanya termaafkan,” goda Faris mencolek dagu mungil sang istri.


“Dih gombal mulu. Mantan playboy yah?” ujar Aisha dengan tatapan menyelidik.


Tok, tok ….

__ADS_1


Suara ketukan pada pintu kamar yang tak tertutup membuat keduanya sontak menghentikan percakapan mereka.


“Bukde ganggu nggak nih?” tanya Nyai Hamidah di ambang pintu.


“Selamet selamet,” lirih Faris yang langsung mendapat tatapan membunuh dari Aisha yang ternyata mendengarnya. Beruntung kedatangan Bukdenya justru menyelamatkannya.


“Eh nggak sama sekali Bukde, ayo masuk Bukde,” tutur Aisha menghampiri sang Bukde, memandunya untuk duduk di sofa kamarnya yang juga disusul oleh suaminya.


“Bukde kan bisa panggil Aisha, nggak usah repot-repot ke sini,” ucap Aisha yang merasa tak enak.


“Ndak apa-apa Sha, Bukde sekalian pengen liat gimana ponakan Bukde kalo lagi sama istrinya.”


“Bukde tenang aja, Ica selalu aman terkendali,” jawab Faris dengan percaya dirinya.


“Awas kamu kalo sampe Aisha kenapa-kenapa. Ta kebiri kamu Le.”


“Ya Allah Bukde sangar amat. Jangan dong Bukde, masa depan Faris ini.”


Faris meringis sendiri, hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatnya merasakan ngilu.


Aisha yang menyaksikannya hanya bisa menahan tawanya.


“Makanya baik-baik kamu.”


“Siap Bukde,” jawab Faris mengangkat tangannya.


“Oh ya Sha, Bukde tadi udah janjian sama Ibu kamu mau ke sana. Bukde pengen liat rahasia bisnis kue Ibumu. Aisha mau ikut sekalian ndak?”


“Iya boleh Bukde.”


“Ya udah Faris anter kalo gitu,” ucap Faris menawarkan diri.


“Ndak usah, Bukde udah minta tolong Pak Maman tadi. Kamu cari nafkah saja yang bener.”


“Siap grak!”


“Kalo gitu Faris berangkat dulu yah, Assalamualaikum Bukde,” tuturnya menciun punggung tangan sang Bukde kemudian beralih pada istrinya tercinta.


“Baik-baik ya Sayang, Assalamualaikum,” ujarnya pada sang istri kemudian mendaratkan kecupan seperti biasanya.


“Waalaikumsalam warohmatulloh.” Aisha dan Nyai Hamidah menjawab bersamaan.


***


Hola ...


Azka masih mau nggak yah sama Karina setelah tau siapa Karina sebenarnya?


Kira-kira Faris bakal ngijinin Aisha kerja nggak yah? apa Faris terlalu takut Aisha kecapean, padahal kan Bukde pengen cepet-cepet Aisha hamil ...

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang...


__ADS_2