
Jalanan yang cukup lengang membuat Faris dengan mudah mengendarai range rover-nya. Jarak tempuh yang biasanya akan memakan waktu hingga empat puluh menit kini bisa Faris lewati hanya dengan dua puluh menit saja.
“Bukde! Mba Sabina!” teriak Faris sesaat setelah ia menginjakkan kaki di rumahnya.
“Le!” Nyai Hamidah dan Ning Sabina tergopoh menghampiri Faris yang baru saja tiba.
“Dimana Aisha Bukde? Gimana keadaan dia?” tanya Faris panik.
“Tenangkan diri kamu dulu Le. Kita ke kamar kamu ya,” ujar Nyai Hamidah menenangkan keponakannya.
“Kita pake lift Bukde.”
Nyai Hamidah dan Ning Sabina langsung membuntuti Faris turut masuk ke dalam lift.
Ting, hanya dalam hitungan detik pintu lift terbuka.
“Kamu ada lembur malem ini Ris?” tanya Ning Sabina yang melihat adik sepupunya masih mengenakan seragam operasi lengkap.
“Udah Faris cancel semua Mba,” jawabnya sembari meletakkan ibu jarinya pada pemindai di pintunya.
Pippp, seketika pintu kamarnya terbuka.
“Ica ..., Sayang, kamu di mana?” teriak Faris yang mendapati kamarnya dalam keadaan kosong.
“Aisha ....” Nyai Hamidah dan Ning Sabina turut mencari keberadaan Aisha.
Sayup-sayup Faris mendengar suara isakan, ia mempertajam indra pendengarnya mengikuti arah sumber suara.
Brakkk, pemandangan yang sangat menyesakkan dapat ketiganya saksikan saat Faris dengan keras membuka pintu walk in closet-nya.
Aisha tengah terisak memeluk lututnya sendiri dengan bersandar pada dinding di pojok walk in closet.
“Sayang ...,” panggil Faris pelan, ia turut berjongkok di hadapan istrinya.
Remuk, sesak ....
Itulah yang Faris rasakan saat ini, hatinya perih mendengar isak pilu sang istri.
Ilmu mengobati yang selama ini ia taklukan rasanya tidak berguna ketika ia lagi-lagi melihat sang istri terluka.
Faris mengangkat wajah sang istri dengan lembut agar menatapnya.
“Bang ....”
“Ya Sayang, ini Abang Ca,” jawabnya lirih memegang kedua pipi Aisha, mengusap dengan lembut air mata yang telah membanjiri wajah istrinya.
“Bang Faris?”
“Iya Ca, ini Abang, Sayang. Abang di sini.” Faris kemudian mengecup puncak kepala Aisha dengan sayang.
“Kita keluar saja dulu Bin, biarkan Aisha cerita,” bisik Nyai Hamidah yang langsung diangguki putrinya.
Perlahan tangan Aisha terangkat membelai wajah suaminya yang tampak sangat mencemaskannya.
“Bang ... Bang Faris, maaf ... maafin Ica Bang.”
__ADS_1
Kesadaran Aisha seperti tertarik, ia langsung memeluk suaminya erat. Tangisnya pecah di pundak yang selalu menjadi pelindungnya.
“Iya Sayang, apapun kesalahan Ica pasti Abang maafin.”
Faris turut merengkuh tubuh istrinya, mendekapnya erat. Membiarkan sang istri meluapkan semua kesedihan di pundaknya.
***
“Saya dan Ayla bukan saudara kandung,” ujar Faisal santai sembari berjalan ke arah lemari es untuk mengambil minuman.
“Ayla udah tau mengenai ini Kak?”
Gus Hasan yang cukup terkejut masih mematung di tempatnya, mengabaikan uluran tangan Faisal yang hendak memberikannya sekaleng minuman.
“Of course dia tau, semua keluarga Baba di sini juga tau kalo saya cuma anak pungut yang numpang hidup,” ujar Faisal menatap nanar ribuan bintang dari balik balkon apartemennya.
Gus Hasan mengikuti langkah Faisal ke balkon, turut menyandarkan punggungnya pada pagar besi yang cukup kokoh menahan berat badan keduanya.
“Dua puluh tahun lalu di Ankara, sebuah tragedi mengenaskan membuat saya kehilangan keluarga saya. Saya yang baru berumur sepuluh tahun hanya bisa menangis ketika mobil yang membawa saya dan keluarga saya meledak menewaskan seisinya. Hingga akhirnya Baba datang membawaku yang hanya tinggal sebatang kara pasca kejadian itu.”
Rasanya ada beban yang sangat menyesakkan kala Faisal harus mengingat kembali kejadian mengenaskan itu, ada cairan yang mungkin akan memperlihatkan kelemahannya yang harus Faisal tahan di pelupuk mata.
“Berarti Kak Faisal memang asli Indonesia?” tanya Gus Hasan yang seperti merasakan kesedihan Faisal.
Faisal hanya mengangguk tanpa menoleh. Pandangannya masih belum beralih dari bintang-bintang yang tampak menyemangati Faisal dari atas sana.
“Itulah mengapa saya selalu menolak untuk ikut jika kami sekeluarga berlibur ke kampung halaman Mami di Yogya. Saya terlalu lemah buat menginjakkan kembali kaki saya di sana.”
“Apa Kakak nggak pengen nyoba buat nyari tau tentang keluarga Kakak yang lainnya di Indonesia?”
“Hasan nggak tau kalo ternyata Kakak yang selalu Ayla banggakan punya kisah kelam kayak gini. Mungkin ini emang nggak mudah buat Kakak, tapi percayalah rencana Allah selalu lebih indah Kak. Allah nggak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hamba itu sendiri,” ujar Gus Hasan mencoba menyemangati Faisal.
“Ayla memang tau semuanya tentang saya, tapi saya selalu berusaha sekuat tenaga agar tak menunjukkan kesedihan ini di depan adik saya, biar dia nggak ragu buat berlindung di lengan dan dada Kakaknya ketika dia merasa nggak aman.”
Sekarang Gus Hasan sadar, betapa nikmat Allah sungguh besar untuknya.
Tanpa Gus Hasan sadari, ternyata masih banyak manusia lain yang lebih berat cobaannya ketimbang dirinya, seperti Faisal dan Faris kakak sepupunya contohnya. Seketika ia merasa kecil, ia malu karena selama ini selalu mengeluh padahal kasih sayang Allah begitu tak terhingga untuknya.
***
Lelah ....
Itulah yang dirasakan Aisha setelah berjam-jam menangis.
Ia kemudian merenggangkan pelukannya, mengusap mata dan hidungnya, memasukkan udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya kemudian terdiam menatap intens wajah lelah suaminya yang nampak sangat mencemaskannya.
“Ica sebenernya kenapa hem?” tanya Faris lembut mengusap sisa air mata di wajah Aisha.
Seketika Aisha menunduk, mengalihkan tatapannya dari wajah suaminya.
“Ica menstruasi,” ucap Aisha lirih tanpa mengangkat wajahnya.
“Hah?” Faris yang cukup terkejut mencoba memastikan jika ia tak salah dengar.
Tiba-tiba Aisha mengangkat wajahnya, menatap suaminya dengan wajah yang sangat menggemaskan menurut Faris.
__ADS_1
“Ica menstruasi, Abang,” ulang Aisha menganggukkan kepalanya kecil.
Faris hanya terdiam melongo mendengar jawaban Aisha, posisinya yang semula berjongkok tiba-tiba terduduk lemas di lantai walk in closet.
“Bang? Abang pasti marah ya? Maafin Ica yah,” ujar Aisha seraya mengguncang-guncang tubuh sang suami yang sama sekali tak bergerak dengan tatapan kosongnya.
Faris mengusap wajahnya kasar, memasukkan udara sebanyak-banyaknya ke rongga hidungnya.
“Ica ngurung diri di sini dari tadi cuma karena Ica menstruasi?” tanya Faris tak percaya.
Sedangkan yang ditanya hanya mengangguk polos.
“Astaghfirullah Sayang, terus apa yang salah kalo Ica menstruasi?” tanya Faris yang benar-benar gemas akan tingkah sang istri.
“Ica tau kalo keluarga Abang pengen cepet dapet cucu dari Abang, Ica juga tau kalo Abang juga pasti pengen cepet punya anak kan? Bukde bahkan sampe bikinin jamu kayak gitu biar kita lengket terus, dan setelah semua usaha kita semaleman karena jamu itu, tiba-tiba hari ini Ica malah menstruasi! Abang pikir gimana perasaan Ica coba? Gimana kecewanya Bukde sama Ning Sabina karena ternyata usaha mereka justru nggak berbuah apa-apa,” ujar Aisha panjang lebar bahkan tanpa jeda dengan air mata yang sudah kembali bersimbah.
Tawa Faris justru meledak mendengar penuturan sang istri.
“Abang kok ketawa sih? Nggak ada yang lucu!”
“Gimana Abang nggak ketawa coba? Orang Ica ngomong panjang lebar gitu nggak ada jeda kayak kereta yang lagi ngejar setoran aja, hahaha, gemes Abang tuh, ” jawab Faris di sela tawanya.
“Aw aw aw.”
Faris seketika menghentikan tawanya saat merasakan sesuatu seperti menggigit lengannya, apalagi jika bukan cubitan maut sang istri.
“Iya iya Sayang, ampun ampun.”
Aisha hanya mengerucutkan bibirnya sebal karena setengah mati ia sudah ketakutan jika Faris akan kecewa namun justru suaminya itu hanya menertawakannya.
“Sayang, nih ya dengerin Abang,” ujar Faris memegang kedua pipi sang istri agar menatapnya.
“Abang nggak pernah sama sekali kecewa kalo sampe sekarang ternyata Ica belum bisa hamil. Anak itu titipan, Sayang. Mungkin sekarang Allah emang belum mempercayakan titipan-Nya sama kita, jadi Ica nggak perlu ngerasa terbebani karena Ica belum berhasil hamil. Lagian Bukde sama Mba Sabina juga pasti ngerti kok, mereka nggak akan membebani Ica,” ujar Faris menenangkan sang istri.
“Beneran?” tanya Aisha menatap manik hitam sang suami, mencoba mencari kebohongan di sana, tapi ia tak menemukannya.
“Beneran Humairaku. Lagian bukannya ada untungnya juga kan kalo Ica menstruasi sekarang? Jadi nanti pas kita berangkat umroh, Ica udah suci dan nggak perlu khawatir lagi ibadah umroh kita terganggu.”
“Iya sih yah.” Aisha baru bisa berpikir jernih setelah mendengar penuturan sang suami.
“Bang?”
“Hem?”
“Dari tadi perut sama pinggang Ica sakit,” rintih Aisha memegangi perut dan pinggangnya.
“Ya udah Abang minta Bukde bikinin jamu pereda nyeri yah,” ujar Faris kemudian mengangkat tubuh mungil sang istri ala bridal style, keluar dari walk in closet dan merebahkannya perlahan di ranjang king size-nya.
***
Gokil ya Aisha nyampe bikin Babang Faris cancel semua jadwal lemburnya 🤣 udah suudzon aja nih sama Mba Sofia readers🤣
Gimana nih sama Kak Faisal? kasian ya masa lalunya bener-bener mengenaskan🥺
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...