Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Honeymoon 3


__ADS_3

Selamat menunaikan ibadah puasa readers semua🤗


Gimana neeh puasa hari pertama😁


***


Gus Hasan melirik arloji pada pergelangan tangannya, sudah hampir setengah jam ia berdiri di depan gedung fakultas bisnis, untuk menunggu Ayla tentunya.


Ketika mahasiswa berhamburan berebutan untuk melewati pintu, Gus Hasan menajamkan pandangannya, tak mau hingga terlewat satu orang pun. Sayang, yang ditunggunya tak kunjung menampakkan wujudnya.


Netranya menyapu ke sekitar kelas, menoleh ke kanan dan kiri barangkali Ayla sudah melintas namun ia yang tak sadar.


Sejak kapan Gus Hasan menjadi seperhatian ini pada seseorang? Terlebih ia seorang wanita. Entahlah, ia sendiri tak paham pada dirinya mengapa bisa sepeduli itu pada Ayla, padahal dalam hatinya masih tampak jelas terpatri nama kakak sepupu iparnya.


“Aku cuma mau meluruskan apa yang sebenarnya terjadi,” gumam Gus Hasan bermonolog mencoba menepis rasa yang mungkin ada.


Seketika Gus Hasan berbinar, seperti menemukan air di tengah padang yang tandus.


“Ayla tunggu!” sergah Gus Hasan refleks menahan lengan Ayla agar menghentikan langkahnya.


Ayla yang tak menyadari seseorang yang dilintasinya sontak menoleh.


‘Shit! Kenapa lagi-lagi ada dia?’


Ayla sudah membulatkan netranya tak percaya, bukankah ini gedung fakultasnya? Jarak gedung fakultas sastra ke bisnis bukannya sangat berlawanan? Keduanya terletak sama-sama di ujung yang berlawanan.


‘Apa Hasan sengaja ke sini buat nyamperin gue?’


“Bukan muhrim!”


Ayla menepis cekalan tangan Gus Hasan di lengannya dengan dalih mereka bukanlah muhrim untuk saling bersentuhan, sengaja untuk menutupi rasa gugupnya.


“Astaghfirullah, sorry aku nggak sengaja.”


Ayla tak menanggapinya, melainkan segera melanjutkan kembali langkahnya.


Gus Hasan yang belum menyerah segera mengejar langkah Ayla.


“Ay kamu kenapa sih?”


Tak ada jawaban.


“Aku ada salah sama kamu?”


Masih tak ada jawaban, Ayla justru semakin mempercepat langkahnya.


Bruk, dengan cepat Gus Hasan menutup kembali pintu mobil yang hendak Ayla buka. Membuat Ayla menoleh ke arahnya.


“Kamu sebenernya kenapa sih Ay? Kalo aku punya salah aku minta maaf, kalo kamu nggak mau temenan lagi sama aku tolong kasih tau aku apa alasannya, jelasin dimana kesalahan aku, biar aku bisa perbaiki. Kita udah bukan anak kecil lagi yang cuma bisa saling ngehindar kalo lagi ada masalah,” tutur Gus Hasan mengeluarkan unek-uneknya.

__ADS_1


Seketika Ayla bungkam, benar yang dikatakan Gus Hasan. Ia bukanlah anak kecil yang hanya bisa bersembunyi ketika mendapat masalah.


“Kamu nggak salah apa-apa sama aku,” ujar Ayla akhirnya membuka suara.


“Terus?” Gus Hasan benar-benar tak paham apa yang dikatakan wanita di depannya itu.


“Aku yang salah. Nggak seharusnya aku ngehindarin kamu kayak gini tanpa alesan.” Ayla menunduk, tak berani menatap mata teduh di depannya.


“It's okay, tapi sebenarnya kenapa?” Gus Hasan benar-benar penasaran sekaligus geram pada Ayla yang sejak tadi hanya berbelit-belit.


“Aku malu. Aku terlalu takut kamu ilfeel sama aku gara-gara aku ke club malem itu, kamu pasti nganggep aku cewek nggak bener karena mabok-mabokan,” tutur Ayla mengeluarkan unek-uneknya.


“What?” pekik Gus Hasan mengusap wajahnya kasar. Bagaimana tidak terkejut? Jawaban Ayla benar-benar membuat Gus Hasan ingin menjitak kepalanya saat itu juga. Ternyata hanya karena dia malu karena malam itu Gus Hasan telah menyaksikan salah satu sisi buruk dirinya. Padahal Gus Hasan sendiri sudah melupakan kejadian itu.


“Tuh kan, aku udah nyangka jawabannya. Kamu pasti ilfeel sama aku.”


Ayla yang merasa sangat malu hendak segera masuk ke dalam mobilnya, namun lagi-lagi Gus Hasan mengurungkan niatnya.


“Aku sama sekali nggak ilfeel sama kamu. Aku tau itu bukan diri kamu yang sebenarnya, lagian Kak Faisal juga bilang gitu, kamu nggak biasnya kayak gitu. It's okay, setiap orang punya titik lemahnya masing-masing kok.”


Ayla masih melongo dengan apa yang baru saja Gus Hasan katakan.


“Aku juga bukan manusia sempurna seperti yang terlintas di kepalamu.”


Kali ini Gus Hasan mengatakannya dengan senyum yang nampak sangat indah di mata Ayla.


***


Pagi ini setelah acara berendam bersama dalam bathup yang bertaburkan kelopak mawar dan minyak aromateraphy, Faris dan Aisha segera menyantap sarapan mereka kemudian bersiap untuk sesi petualangan kota Cappadocia.


“Bang, tujuan kita kemana dulu nih?” tanya Aisha sambil menyesap coklat panasnya.


“Kasur,” seloroh Faris dengan spontan.


“Abang! Mau bikin aku nggak bisa jalan?” pekik Aisha mencubit perut sang suami.


“Ya Abang gendong. Abang nggak keberatan kok ke mana-mana harus gendong Ica.”


“Dasar cowok! Nggak mau rugi emang. Nggak bisa ah, masa kita jauh-jauh ke sini cuma di kamar terus,” rengek Aisha mengerucutkan bibirnya, membuat Faris tak bisa untuk tak menjawil hidung bangir istrinya dengan gemas.


“Serahin semuanya sama Roger, Yang.”


“Dih pengennya terima beres.”


“Ya kan kita lagi honeymoon, Yang. Jadi Abang mah taunya Ica bahagia.”


“Iya deh iya sultan mah bebas.”


Pagi ini Faris dan Aisha memulai tour dengan menunggangi kuda-kuda cantik menyusuri perbukitan dan goa-goa untuk menikmati keindahan kota.

__ADS_1


Cappadocia sendiri memiliki makna ‘Land of beautiful horse' atau tanahnya kuda-kuda indah. Sehingga tak heran jika kuda-kuda di kota ini memang memiliki pesonanya sendiri untuk menarik minat para pengunjung.


Setelah matahari semakin meninggi, mereka melanjutkan kembali petualangan menuju Pigeon Valley atau lembah merpati. Mereka menjelajahi Pigeon Valley dengan menggunakan Jeep safari yang sudah disediakan.


Sampai di tengah-tengah lembah, Faris dan Aisha memilih untuk bersantai sejenak sambil berinteraksi dengan merpati-merpati yang sangat riuh seperti menyambut kedatangan mereka. Aisha nampak sangat antusias bermain dengan merpati-merpati yang menghampirinya.


Pigeon valley memang contoh yang baik tentang bagaimana manusia dapat hidup berdampingan secara harmonis satu sama lain, terutama yang berurusan dengan merpati.


Disebut Pigeon Valley sendiri karena memang banyaknya rumah-rumah merpati yang sengaja diukir di gunung-gunung untuk menarik perhatian merpati-merpati tentunya.


Dari tempatnya berdiri, Aisha dan Faris bisa menyaksikan pemandangan kota Cappadocia yang nampak sangat indah dengan bebatuan yang terlihat seperti hasil pahatan.


Padahal bebatuan di tempat ini disebutkan terbentuk akibat erupsi gunung berapi yang terjadi jutaan tahun lalu. Formasi unik bebatuan yang ada di tempat ini merupakan hasil bentukan alam akibat kikisan angin dan hujan. Jadi murni bukan hasil pahatan manusia.


Aisha yang begitu antusias bermain dengan para merpati sampai tak menyadari jika suaminya sudah tak berada di sekitarnya. Ia menoleh ke kanan kiri dan akhirnya menemukan sang suami tengah berfoto ria duduk bersantai pada batu-batu pahatan yang indah di tepi danau, dengan Roger sebagai sang photograper tentunya.


“Abang! Ayo balik, panas nih.” Jarak mereka yang cukup jauh membuat Aisha sedikit berteriak.


Lembah-lembah dengan batu-batu pahatan yang tandus memang membuat hawa panas sedikit lebih menyengat di sana, untung saja Faris dan Aisha selalu menyertakan kaca mata hitam mereka untuk mengurangi sedikit rasa silau yang terpantul.


“Iya Sayang, bentar. Sini fotbar dulu,” ajak Faris sedikit berteriak pula.


Aisha sudah tak paham lagi dengan suaminya yang masih asyik dengan sesi fotonya ditengah-tengah teriknya matahari seperti ini, terlebih suaminya itu hanya mengenakan jeans pendek santai, sehingga sinar matahari langsung mengenai permukaan kulitnya.


Tak mau berlama-lama, Aisha memilih segera menyusul Faris agar cepat selesai dan mereka segera kembali.


“Abang ih nggak takut item apa panas-panasan gini? Mana cuma pake celana pendek lagi,” ujar Aisha begitu sampai dan sudah duduk berpose bersama sang suami.


“Item ya tinggal disuntik putih aja, Yang.”


“Dih nggak alami.”


“Roger ayo ah cepetan fotonya biar cepet kelar, panas nih,” imbuh Aisha membenahi posenya.


“Nyonya mau saya ambilkan payung?” tanya Roger justru menawarkan payung.


“Nggak ah langsung balik aja.”


“Iya iya ayo balik, duh humairaku ngambek nih takut item kepanasan,” goda Faris segera mengangkat tubuh sang istri menuju Jeep tanpa menghiraukan protes Aisha dalam gendongannya.


***


Yeee ... akhirnya Gus Hasan sama neng Ayla baikan yaa...


Babang Faris sama yayang Ica makin lengket aja nih, beneran manjur deh nih destinasi pilihan Kang Roger yaa gaess🤭😂


Bersambung ...


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2