Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Apalagi ini?


__ADS_3

Azka termangu di atas tempat tidur, menatap ke tempat Diana biasanya menghabiskan waktu.


Ia belum terbiasa dengan sepi yang dirasanya kini.


Pelan ia bangkit dari duduknya, menghampiri tempat dimana Diana selalu bertadarus al-qur’an di sana.


Hatinya sakit ketika ternyata rumah tangganya harus dalam keadaan seperti ini.


Sudut matanya basah, hatinya merasa tidak rela jika Diana benar-benar pergi dari hidupnya.


Tapi ia juga belum bisa untuk melupakan Aisha, karena dalam hati kecilnya memang hanya nama Aisha yang terlantunkan di sana.


Azka segera berlari ke arah mobil, menghidupkan mesin dan membelah jalanan kota dengan laju yang tak biasanya.


Mobilnya terhenti di halaman sebuah rumah yang rasanya lebih pantas untuk dijuluki istana.


Ia langkahkan kaki dengan mantap ke arah pintu utama, belum sempat tangannya memencet bel, netranya menangkap sosok wanita yang beberapa hari ini mengusik harinya.


Terdengar wanita itu bermonolog dengan bayi dalam perutnya, ada parit yang tercipta dari sudut matanya.


“Bantu ibu ya sayang, bantu ibu meluluhkan hati ayahmu. Ibu janji, ketika kamu keluar nanti ibu tak akan membiarkanmu turut merasakan apa yang ibu rasakan saat ini,” tutur wanita itu seraya mengelus perutnya yang membuncit di balik gamis.


Hati Azka sesak mendengar rintihan itu, ia merasa sangat tak berguna sebagai suami karena tega membiarkan istri yang tengah mengandung calon bayinya justru menderita karena sikapnya selama ini.


“Aku yang akan membantumu memenuhi janjimu pada anak kita,” ucap Azka yang sudah berada di belakang Diana.


“Mas Azka,” ucap Diana terkejut, segera ia menghapus air matanya dengan ujung jilbabnya.


“Aku memang masih mencintai Aisha, aku memang belum sanggup melupakannya, tapi aku masih punya akal sehat Di, aku mengerti tanggung jawabku, meski aku belum sepenuhnya bisa melakukannya padamu, jadi aku harap kamu mau memberiku kesempatan lagi Di.”


“Maaf, karena aku kamu harus merasakan semua ini. Maaf jika selama ini selalu membuatmu terluka,” jawab Azka parau.


“Aku takut Mas, aku takut dengan sikap labilmu yang seperti ini, karena sudah berulang kali aku kasih kesempatan itu, nyatanya kecewalah yang aku dapat lagi dan lagi. Kamu harus tahu Mas adakalanya aku lelah, lelah pada hati yang ku biarkan patah berkali-kali.”


“Aku tahu aku salah Diana, tapi aku mohon sama kamu, setidaknya demi janjimu pada anak kita.”


“Kita pulang yah, demi anak kita,” ajak Azka menggenggam tangan Diana dengan tatapan memohon.


Sejujurnya hati Diana masih takut untuk kembali ke lubang yang sama, tapi demi calon bayinya ia rela jika memang nyatanya harus kembali terluka.


***


“Kamu yakin mau berangkat sendiri Sha?”


“Aku gak apa-apa ko Faris, kamu tenang aja.”


“Ibu gak bisa nemenin kamu?”


“Ibu masih banyak orderan, kasian dia.”


“Kalo gitu aku anterin kamu yah?”


“Gak usah ih, pasien di sini lebih membutuhkan kamu.”


“Aku cuma nganterin kamu doang, terus langsung balik lagi,” ucap Faris tetap memaksa, ia tidak tega jika harus membiarkan Aisha pergi sendirian.


“Ih dibilangin gak usah, aku kan bisa naik taksi,” jawab Aisha meyakinkan Faris.


“Tapi kalo ada apa-apa, kamu langsung hubungi aku yah? Janji?”


“Iya iya bawel,” jawab Aisha meledek.


“Aku serius Aisha,” jawab Faris seraya mengacak-acak jilbab Aisha gemas.


“Ih tuh kan berantakan,” gerutu Aisha sambal merapikan kembali jilbabnya.


“Cakep gak?” tanyanya setelah merapikan jilbabnya.


“Always,” jawab Faris memuji.


“Makasih ,” jawab Aisha berbinar.


“Aku berangkat yah, Assalamualaikum.”

__ADS_1


“Waalaikumsalam, hati-hati.”


Aisha segera memesan taksi online menuju alamat yang Diana kirimkan, sebenarnya masih ada perih karena harus menghadiri syukuran kehamilan Diana, Aisha takut benteng pertahanannya roboh jika dipertemukan lagi dengan Azka, tapi demi menghormati undangan Diana, ia harus tegar.


Taksi yang dinaiki Aisha berhenti di halaman rumah Diana, Aisha melangkah masuk ke rumah itu setelah lebih dulu mempersiapkan hatinya.


Diana segera menyambut kedatangan Aisha hangat, dan membawa Aisha ke tempat jamaah wanita.


Aisha baru bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa ternyata antara jamaah wanita dan pria disekat oleh hijab, jadi tidak ada alasan untuk dia bertemu dengan Azka.


Aisha duduk di shaf paling depan di samping Diana, keduanya duduk mendengarkan dengan khusyuk tausiyah yang di sampaikan oleh penceramah.


Pukul 21:00 waktu Indonesia setempat acara selesai, Aisha pamit kepada Diana setelah menikmati hidangan yang disuguhkan. Diana mengantar Aisha hingga ke depan.


“Kamu yakin gak mau nunggu di dalem Sha?”


“Gak apa-apa Di, aku tunggu di sini aja, bentar lagi juga dateng taksinya,” tolak Aisha, sejujurnya ia tengah menghindar dari Azka.


“Kamu masuk aja gih, kasian dedenya tau kalo nunggu di sini nanti kedinginan,” lanjut Aisha mengelus perut Diana yang membuncit.


“Beneran nih gak apa-apa?”


“Iya Diana, kamu masuk aja.”


“Ya udah aku masuk yah, makasih loh udah nyempetin dateng di tengah-tengah jadwal kamu yang super padet.”


“Apaan sih, biasa aja ko. Aku udah anggap kamu seperti saudaraku sendiri Di,” jawab Aisha ramah.


Tiba-tiba Diana memeluk Aisha erat.


“Makasih ya Sha, setelah semuanya yang terjadi kamu bukannya benci sama aku justru malah bersikap kayak gini sama aku, aku bersyukur banget bisa ketemu gadis berhati mulia kayak kamu,” tutur Diana terisak.


“Kamu gak perlu mikir kayak gitu Di, aku udah belajar ikhlas buat menerima semuanya. Sekarang tugas kamu hanya perlu menjaga baik-baik apa yang kamu punya sekarang,” jawab Aisha menenangkan.


“Sekarang kamu masuk yah, gak baik loh ibu hamil lama-lama kena angin malam.”


“Siap Bu Dokter, aku masuk,” jawab Diana yang diikuti kekehan keduanya.


Setelah Diana masuk, Aisha menunggu sendiri di depan halaman, meski sebenarnya banyak juga tamu-tamu yang berlalu-lalang untuk pulang.


Beberapa kali Aisha memesan ulang, tapi tak kunjung menemukan driver. Aisha bingung bagaimana caranya ia pulang.


Tidak mungkin ia menelepon Faris, Aisha takut mengganggunya. Setelah ia mencoba lagi, akhirnya ia mendapatkan driver, meski jaraknya masih lumayan untuk menunggu.


“Aisha!” panggil Azka yang segera menghampiri ketika melihat Aisha berdiri sendirian.


Menyadari akan kedatangan Azka, Aisha segera melangkah hendak pergi, tapi tiba-tiba lengannya di tahan oleh Azka.


“Kamu gak sama Faris?”


“Faris sibuk,” jawab Aisha singkat.


“Kalo gitu aku anterin kamu.”


“Gak perlu, sebentar lagi driver aku dateng ko.”


“Kamu gak lagi menghindar dari aku kan Sha?”


“Memang itu kan yang harus aku lakukan?”


“Kenapa harus begitu?”


“Setelah semuanya yang terjadi, sekarang kamu nanya alasan aku kenapa Mas?”


“Apa itu berarti kamu masih mencintai aku Sha? Kamu masih belum bisa melupakan aku? Karena aku juga sama Sha, aku masih tetap mencintai kamu.”


“Cukup Mas CUKUP! Kamu udah punya Diana dan calon anak kalian, jadi aku mohon jangan kamu lupakan tanggung jawab kamu mas.”


“Kalo kamu masih mencintai aku, aku mohon cintai juga Diana sebagaimana kamu mencintai aku, setidaknya demi calon anak kalian,” lanjut Aisha yang sudah berlinang air mata.


Belum sempat Azka menjawab, tiba-tiba taksi yang di pesan Aisha datang. Aisha segera berlari kea rah taksi dan meninggalkan Azka yang masih termangu sendirian.


Aisha belum cukup kuat untuk berlama-lama di dekat Azka. Hatinyapun masih teramat perih ketika harus menyerahkan cintanya demi wanita lain.

__ADS_1


Di dalam taksi Aisha terisak sendirian, ia tak memedulikan driver yang membawanya akan berpikir seperti apa.


Untung saja alamat yang dituju Aisha sudah tertera jelas di aplikasi, sehingga driver tak perlu banyak tanya pada Aisha.


Tiba-tiba di persimpangan jalan ada sebuah truk yang hilang kendali mengarah ke taksi yang ditumpangi Aisha.


“Awas pak!” teriak Aisha pada driver agar menghindar dari truk di depannya.


Namun sayang, Allah berkata lain. Sebuah mobil yang sama-sama menghindar dari truk di depannya menabrak taksi yang di tumpangi Aisha, menyebabkan taksi itu terpental hingga ke pembatas jalan.


Ramai orang berkerumun menyaksikan peristiwa kecelakaan beruntun itu. Sirene mobil polisi dan ambulans saling bersahutan turun ke lokasi kejadian untuk mengevakuasi korban.


***


“Hallo, Assalamualaikum nak Faris,” ucap Maya dari seberang telepon.


“Waalaikusalam, iya bu.”


“Apa Aisha mampir ke Rumah Sakit dulu nak?”


“Nggak ko bu, Faris baru aja keluar dari ruang operasi.”


“Loh masa iya jam segini belum pulang ya nak, dari tadi ibu coba telepon tapi gak nyambung.”


“Ibu tenang aja di rumah, biar Faris yang nyusulin Aisha ya bu.”


“Terimakasih ya nak, kabari ibu jika sudah bertemu Aisha.”


“Iya bu baik, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Sambungan telepon diputus dari seberang.


Tut ... Tut ... nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada ... tut. panggilan diputus oleh Faris, bahkan ia tak memberikan kesempatan operator menyelesaikan ucapannya.


“Kamu kemana sih Sha?” ucap Faris bermonolog.


Faris segera melepas jubah dokternya dan mengganti dengan jaket hendak menyusul Aisha. Ia berjalan cepat keluar ruangan. Namun langkahnya terhenti ketika seorang perawat berlari menghampirinya.


“Dokter Faris tunggu Dok!” tutur perawat yang terengah-engah karena berlari.


“Ada apa? Saya sedang buru-buru ini.”


“Tapi Dok ini darurat, ada kecelakaan beruntun di persimpangan depan. Kita disuruh bersiap menerima pasien selagi ambulans menuju ke sini.”


Mau tidak mau Faris mengurungkan niatnya untuk mencari Aisha, ia harus mendahulukan tugasnya sebagai seorang dokter.


Wiw ... Wiw ... suara sirene ambulans sudah terdengar jelas, semua dokter, residen, internship, koas dan para perawat segera berlari menghampiri ambulans yang tiba.


“Kamu tangani pasien di ambulans berikutnya,” ucap dokter senior pada Faris.


Ambulans berikutnyapun tiba. Petugas ambulans bergegas mengeluarkan pasien dengan brankar.


“Astaghfirulloh Aisha!” teriak Faris ketika mengetahui seseorang yang tengah berlumuran darah di atas brankar adalah wanita yang tengah dicarinya.


Seketika kakinya melemas, air matanya luruh sedemikian deras.


***


Aku yang melangitkan namamu dalam doa


Aku yang menjadikanmu harap yang kupuja


Aku juga yang hanya bias mendambakanmu dalam nestapa


Semesta memang tak pernah mengajariku cara mencintaimu


Namun setiaku tetap berirama tanpa semu


Benar, memang sehebat itulah dirimu menjelma


Hingga prajaku hanya berporos pada satu nama


Hingga aku mendamba surga yang tak lagi hanya sebuah cerita

__ADS_1


~Faris Zein Abdullah~


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ....


__ADS_2