Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Mecca, here we come


__ADS_3

Seperti biasa setelah pesawat benar-benar mengapung di udara menembus tebalnya awan, Aisha lagi-lagi menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami yang menjadi rutinitas favoritnya.


Kali ini ia tak memejamkan netranya, hanya menatap kosong hamparan langit dengan beberapa bintang yang tampak malu-malu menampakkan kilaunya.


Faris mengeratkan rengkuhannya di pundak sang istri, sedari tadi jemari mereka tak sedetik pun terpisah, kecuali ketika salah satunya harus ke kamar mandi, bahkan jika Aisha tak menolak pun suaminya tetap ingin menemani dirinya hingga masuk ke kamar mandi.


“Sayang?”


“Hmm.” Aisha hanya berdehem tanpa berniat mendongak.


“Ica kenapa? Pusing?” tanya Faris mencoba melihat wajah sang istri dengan mendongakkan dagunya lembut.


Dengan cepat Aisha menggeleng.


“Terus kenapa? Kok diem aja?”


Aisha mengeluarkan jemari mereka yang masih saling bertautan dari balik selimut, memandanginya lembut sambil sesekali mengusap jemari kekar dalam genggamannya pelan.


“Ica cuma masih nggak percaya aja bisa ke tanah suci lagi bareng suami Ica. Dulu Ica kemana-kemana selalu sama Ibu, bahkan beberapa kali perjalanan Indo-Turki pun sama Ibu.”


“Kapan terakhir kali Ica ziarah ke makam Ayah?”


“Em kayaknya pas awal-awal masuk kuliah deh, soalnya Ica kasian juga sama Ibu, kalo terlalu sering takutnya Ibu bakal keinget terus sama Ayah,” tuturnya masih menatap jemari keduanya.


“Sama Azka belum pernah trip bareng gitu?” goda Faris membuat Aisha seketika melepaskan dirinya dari pelukan Faris.


“Bisa digantung nanti Ica sama Paman kalo berani pergi cuma berdua aja,” jawabnya kembali merebahkan kepalanya seperti semula.


“Berarti Abang cowok pertama yang trip bareng Ica dong?”


“Iya dong,” ujar Aisha bangga.


“Makasih ya istriku ini udah jaga diri buat suaminya,” ujar Faris mengecupi puncak kepala Aisha, beruntung penumpang lain sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


“Emang Ica bukan cewek pertama yang trip bareng Abang?” tanya Aisha mendongak untuk mengetahui reaksi sang suami.


“Bukan,” jawab Faris santai.


“Terus?” Aisha kembali menegakkan tubuhnya.


“Sama cinta pertama Abang.” Lagi-lagi Faris menjawab dengan santainya, membuat Aisha seketika membulatkan netranya.


“Berarti Ica bukan cinta pertama Abang dong? Terus siapa? Mba Karina? Atau Mba Sofi? Atau ada mantan Abang yang nggak Ica tau?” Aisha bertanya tanpa jeda dengan suara yang cukup nyaring.


“Ssstt Sayang!”


Faris segera membekap mulut sang istri dan menariknya kembali dalam pelukan saat melihat penumpang lain di sekelilingnya menatap ke arah mereka.


“Ica pengen diomelin yang lain?” tanyanya saat sang istri terus saja memberontak.


“Makanya cepetan kasih tau Ica!” geramnya dengan tatapan yang membuat Faris merinding seketika.


Dasar wanita memang tak akan mampu menyembunyikan rasa cemburunya walau sesaat, padahal Aisha yang jelas-jelas mempunyai mantan kekasih saja Faris tetap tenang. Memang sudah menjadi hukum alam bahwa wanita akan selalu mengedepankan perasaannya sedangkan pria akan mendahulukan logikanya.


“Cinta pertama Abang ya Bunda. Tapi sekarang setelah Bunda pergi, Ica jadi satu-satunya cinta Abang di dunia ini, sama anak-anak kita juga nanti,” tutur Faris lembut membuat Aisha seketika merona dan kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.


“Bikin jantungan aja ih,” geram Aisha mencubit lengan Faris yang berada dalam genggamannya.

__ADS_1


Begitulah aktivitas mereka sepanjang perjalanan, saling bercanda ria dan memadu kasih tanpa merasa bosan, yang ada justru semakin bertambah setiap harinya.


***


Hari ini Karina tengah membantu Azka membereskan persiapan apa saja yang akan Azka bawa ke Singapura, Karina sengaja pulang lebih awal dari Rumah Sakit untuk ini. Ya Azka memang akan melakukan perjalanan bisnis kurang lebih untuk sepekan ke depan.


Hubungan mereka memang kian membaik setiap harinya, Azka sendiri sedang berusaha untuk membuka hatinya, dan untuk ke sekian kali juga Karina kembali mencoba menerima Azka walau ia tahu Azka belum sepenuhnya beranjak dari masa lalunya.


“Kamu beneran nggak mau tinggal di sini aja selama aku pergi Rin?” tanya Azka sambil memilah memilih baju-bajunya untuk Karina masukkan ke dalam koper.


“Nggak ah, mau ngomong apa nanti tetangga-tetangga kamu,” tolak Karina membayangkan bagaimana reaksi para tetangga tentangnya, apalagi ia kini sudah berhijab, ia tidak mau jika sampai orang-orang beranggapan bahwa hijab yang dikenakannya hanyalah kedok semata.


“Ya kan akunya juga nggak ada di rumah, ada Mba Sani sama Bi Darmi juga kan.”


“Ya kan emang orang-orang tau kalo kamu lagi nggak ada di rumah? Terus aku harus jelasin kalo kamu nggak ada di rumah ke setiap orang yang nyinyirin aku gitu?”


“Iya iya deh terserah kamu aja. Yang penting kamu sama Rafa baik-baik di sini. Awas nanti aku pulang kamu udah nemu yang lain,” ancam Azka membuat kupu-kupu seketika seperti berkumpul di depan mata Karina, tanpa sadar lengkung indah terbentuk di bibirnya.


Memang sepele, tapi menurut Karina itu manis sekali.


“Yey kamu tuh, apalagi cewek-cewek Singapura kan bening-bening dari pada aku.”


“Cie yang takut kehilangan,” goda Azka tanpa sadar membuat rona di pipi Karina semakin kentara.


“Dih sono aja mau kalo mau sama bule-bule juga,” ketus Karina gengsi.


“Beneran nggak apa-apa?” Lagi-lagi Azka menggoda Karina, ia suka melihat wajah kesal Karina yang menurutnya menambah kadar kecantikannya.


“Aku buang nih baju-bajunya kamu sama kopernya,” ancam Karina hendak mengangkat koper di tangannya.


“Yes berhasil!” ujar Azka kegirangan.


“Azkaaa!” pekiknya saat Azka sudah lebih dulu berlari ke kamar mandi.


“Dasar bapak-bapak kecentilan,” gerutunya memasukkan asal baju-baju di tangannya karena kesal.


Sore itu Karina dan Azka turut mengantar Azka hingga ke Bandara, entah kenapa rasa rindu tiba-tiba menyeruak di dadanya, padahal Azka masih ada dalam jangkauan matanya.


“Papa pergi dulu ya Sayang, baik-baik di sini sama Tante Karin, jangan nakal yah,” tutur Azka berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang putra yang berada dalam gendongan Karina sambil mengacak gemas rambut Rafa yang sudah semakin dewasa.


“Iya Papa,” jawabnya cukup fasih untuk ukuran anak dua tahunan.


“God boy,” ujar Azka mengecup putranya dengan gemas.


“Aku titip Rafa ya, kalian baik-baik di sini.” Kini Azka beralih pada Karina.


“Kamu juga hati-hati ya, kabarin kalo udah landing,” jawab Karina dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


Entah kenapa ada perasaan tak rela ketika Azka pergi, mungkin jika dirinya masih Karina yang dulu, ia akan langsung menghambur memeluk Azka tanpa rasa malu. Tapi untuk saat ini ia telah paham batasan-batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom.


“Iya siap. Aku pamit ya, Assalamualaikum,” tutur Azka mengecup putranya sekali lagi lalu tersenyum manis pada Karina.


Andai saja Karina sudah halal untuknya, pasti kecupan itu bukan hanya ditujukan untuk putranya.


“Waalaikumsalam.”


“Da-da Papa,” pekik Rafa terbatas saat melihat sang ayah semakin menjauh.

__ADS_1


Azka turut melambaikan tangannya pada Karina dan Rafa yang masih setia di tempatnya hingga pesawat yang di tumpanginya benar-benar melayang meninggalkan landasannya.


***


Tepat dini hari waktu setempat pesawat Saudia yang Faris dan Aisha tumpangi mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah.


Dengan hati yang membuncah, Aisha semakin mengeratkan pegangannya pada lengan sang suami.


Ia menghentikan langkah dan memejamkan netranya sebentar, menghirup dalam-dalam udara kota Rosululloh SAW.


Mereka langsung diarahkan ke bagian imigrasi guna melakukan pemeriksaan memasuki kota Jeddah dan sekitarnya yang ternyata antrian sudah cukup panjang di sana.


“Ica cape ya? Kita duduk dulu kalo gitu yuk,” ajak Faris saat melihat siratan kelelahan di wajah istrinya.


“Nggak apa-apa Bang, karena beginilah proses yang harus kita lalui buat masuk negara lain.”


Faris sontak tersenyum dengan jawaban sang istri.


Selesai pemeriksaan di bagian imigrasi dengan antrian yang cukup melelahkan, tim travel segera meminta agar semua jamaah mengenakan pakaian ihrom dan melakukan solat sunah ihrom karena mereka langsung mengambil miqot di Jeddah.


Setelahnya rombongan dibimbing untuk memasuki bus yang sudah menunggu yang akan membawa mereka meninggalkan Bandara Jeddah menuju ke Makkah.


Seketika suasana haru bacaan talbiyab mengiringi laju bus yang berjalan perlahan menyusuri padang pasir yang sangat sepi, hanya lampu-lampu yang tampak bersinar dari kejauhan.


Berbeda dengan Kota Surabaya tempat Faris dan Aisha tinggal, kota Metropolitan yang di sana hiruk pikuknya menyala dua puluh empat jam tak berbeda jauh dengan Ibukota.


Tapi di sini, negeri ini tampak sepi pada dini hari, sehingga semuanya terasa begitu syahdu.


Tanpa Aisha sadar pipinya terasa basah karena air mata yang sejak tadi mengiringi bibirnya yang bergetar mengucap kalimat talbiyah.


Ia mengerjapkan netranya saat jemari Faris perlahan mengusap air yang kian menderas di wajahnya. Faris tersenyum lembut lantas menyandarkan perlahan kepala istrinya ke bahunya.


Begitupun dengan Faris, getaran di dadanya tak bisa ia pungkiri ketika menatap ke luar jendela bus, menatap hamparan gurun pasir yang sunyi, seketika ia tersadar bahwa kini ia tengah berada di belahan bumi yang diberkati, bersama dengan wanita yang sangat ia cintai.


Di negeri ini, sejarah agama yang dianutnya bermula. Di tempat ini, manusia mulia utusan Allah memperjuangkan islam dari awal. Dengan cepat Faris mengusap ujung netranya yang terasa basah agar tak sampai jatuh mengenai istrinya.


Baru saja Aisha hendak memejamkan netranya ketika ia tak sengaja melihat pemandangan yang membuat hatinya kian tersentuh.


Seorang bocah laki-laki berumur sekitar lima tahunan yang duduk tepat di samping kursi Aisha tengah tertidur pulas sambil bersandar.


Netra Aisha kembali meremang memperhatikan bocah lima tahun yang tengah mengenakan pakaian ihrom itu.


Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah tentang kapan Allah akan mempercayakan sebuah nyawa tumbuh dari rahimnya, kapan Allah akan mengizinkan dirinya dan sang suami mengurus dan mendidik seorang putra dengan tangan mereka sendiri.


Lantunan talbiyah tampak seperti pengantar tidur bagi bocah yang nampak sangat damai dalam lelapnya.


Namun pria yang tampak cukup lanjut usia yang duduk di samping bocah itu membuat Aisha mengerutkan keningnya, tidak mungkin kakek itu adalah orang tua dari anak itu, pikirnya. Tapi dimana orang tuanya?.


***


Ciee makin sweet aja Babang Azka 🤩 ayo cepetan dihalalin deh 💪


Faris sama Aisha yang sabar yaa, semoga pulang honeymoon ada kabar gembira 🥰


Bersambung...


Makasii udah mau baca karya author yang penuh kekurangan ini🙏

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya ya buat nyemangatin author ya readers tersayang...


__ADS_2