
Seperti malam-malam sebelumnya, kini Faris hanya bisa merintih sendirian meratap pilu nasib rumah tangganya yang hingga saat ini belum ia temukan titik terangnya.
Dadanya kini sudah teramat sesak karena isak yang tak kunjung mereda sejak kata ‘usholli’ terucap hingga ‘assalamualaikum’ yang penuh harap. Malam-malam panjangnya sejak kepergian Aisha hanya ia habiskan untuk mengadu kepada sang pencipta.
Jika ditanya apakah Faris ikhlas? Tentu saja tidak jawabnya, ia hanya mencoba berdamai dengan kenyataan tanpa menyalahkan. Mungkin saat ini sudah bukan saatnya untuk ia bersikeras menolak kenyataan, sudah saatnya untuk logikanya berperan, bukan lagi mengedepankan perasaan yang melulu terasa menyakitkan. Meski di lubuk hatinya terdalam masih belum bisa sejalan.
Setelah menikmati hari-hari menyedihkan itu, kini Faris tersadar jika apa-apa yang tengah menimpa diri dan rumah tangganya tidak terlepas dari kuasa Tuhan.
Menyakitkan? Sungguh nikmat sekali tanpa Faris sendiri bisa jelaskan, tapi apalah daya dirinya yang hanya makhluk lemah tiada daya tanpa bantuan penciptanya.
Meski belum terbiasa, tapi Faris mencoba untuk lebih lapang terhadap segala kenyataan, meski sesak di dada benar-benar masih tak karuan.
“Jika memang hanya sampai di sini saja tugasku melindungiku istriku … tolong lindungi dia untukku … sebab aku yang tidak sempurna, maka aku berharap perlindungan-Mu yang sempurna untuk wanita yang selalu sempurna tiada cela di mataku. Aku serahkan semuanya kepada-Mu ya Rabbi … jika memang harus seperti ini akhirnya, buatlah hati ini baik-baik saja, karena aku yakin rencana-Mu tetap yang terindah.”
Setelah mengakhiri sujud panjangnya, Faris berniat untuk kembali merebahkan diri di atas pembaringannya. Hati yang nyeri, pikiran yang kalut, juga logika yang tak sejalan membuat tubuh Faris benar-benar kelelahan. Karenanya, hari ini saja ia ingin beristirahat dengan tenang, dan netranya benar-benar butuh terpejam.
***
Tok … tok … tok … Faisal yang baru saja memejamkan netranya sontak kembali terjaga saat seseorang mengetuk pintu ruang rawatnya.
“Masuk,” ujarnya tanpa berniat untuk bangkit.
Sesaat setelah pintu terbuka, seorang pwngawal yang tadi ia perintahkan untuk mengantar Aisha memasuki ruangannya.
“Maaf mengganggu istirahat anda, Tuan,” ujar pengawal itu dengan sopan.
Faisal yang masih terbaring hanya sedikit mengangguk, “Ada apa?”
“Saya menemukan dompet ini di mobil, Tuan. Mungkin milik wanita yang Tuan perintahkan untuk saya antar baru saja.”
“Kenapa tidak kamu kembalikan langsung kepada pemiliknya?”
“Mohon maaf Tuan, saya baru menyadarinya ketika sudah kembali ke Rumah Sakit.”
“Ya sudah, biar nanti saya sendiri yang memberikannya.”
“Baik, Tuan.”
__ADS_1
Pengawal itu langsung memberikan dompet yang ditemukannya di kursi penumpang kepada Faisal.
Faisal kembali berniat memejamkan netranya setelah meletakkan dompet itu asal, namun tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Sejak pertama bertemu, Faisal benar-benar penasaran terhadap identitas wanita itu sebenarnya.
Diraihnya dompet lipat yang baru saja ia letakkan, pikirnya pasti di dalam dompet itu ada berbagai jenis kartu identitas milik Aisha yang mungkin bisa sedikit mengurangi rasa penasarannya.
“Maaf Aisha, aku nggak ada niat jahat kok. Cuma penasaran aja siapa kamu sebenarnya sampe-sampe Hasan dan sepupunya mencintai gadis yang sama, yaitu kamu.”
Dan benar saja, Faisal langsung disuguhkan dengan berbagai jenis kartu identitas dan kartu kredit milik Aisha di sana, juga ada beberapa foto yang sengaja dipasang di bagian paling depan dari setiap slide.
Slide pertama menunjukkan potret pernikahan wanita itu dengan Faris yang sepertinya mengadopsi adat jawa. Tertulis di belakangnya kata ‘Syurgaku’ yang ditambah dengan gambar hati yang ditulis oleh pena.
Lantas pada slide kedua, ada potret Aisha bersama sang ibu yang mengenakan gamis dan khimar yang sama, keduanya sama-sama terlihat menawan meski berbeda usia. Di belakang foto itu pun tersemat kata ‘Malaikatku’.
Faisal melanjutkan penelusurannya, pada slide-slide berikutnya hanya ada berbagai macam jenis kartu yang memenuhi setiap slidenya.
“Apa wanita tadi ibunya Aisha? Tapi kok nggak ada foto sama ayahnya?” gumam Faisal yang memang tak mendapati foto lain selain dua foto yang dilihatnya baru saja.
“Aku kok kayak pernah liat wanita yang ada di foto Aisha ya? Tapi dimana?” Faisal kini mulai mengingat-ingat dimana gerangan ia pernah berjumpa dengan wanita itu, karena sepertinya wajah wanita itu tampak tak asing dalam benak Faisal.
“Ssshh … Argghh!” Seketika Faisal memercing karena kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat, seperti berusaha mengingat sesuatu namun tak mampu.
Tittt … tittt … dengan susah payah jemarinya mencoba meraih bel yang berada di samping ranjangnya untuk memanggil pihak Rumah Sakit maupun orang-orang yang berjaga di luar ruangannya.
“Arrgghh … to-tolong ….”
Kini Faisal benar-benar tak sanggup lagi menahan denyut yang semakin hebat terasa, hingga sesaat kemudian semuanya tampak mengabur lalu perlahan menggelap.
“Yee … beneran kita jadi liburan Bu?” Seorang anak laki-laki tampak bersorak gembira saat mendapat hadiah liburan ke Turki sebagai hadiah kejuaraannya di semester ini.
“Iya Sayang … makanya sini Kakak bantuin Ibu beresin baju-baju kita,” ujar wanita paruh baya yang tengah membenahi beberapa pakaian ke dalam koper, duduknya tampak sedikit tak nyaman karena terhalang perutnya yang semakin membuncit.
Dengan semangat anak lelaki itu mengangguk lantas turut bergabung bersama sang ibu, “Hai cantik … kita liburan nih.” Anak lelaki itu tak henti-hentinya mengusapi perut sang ibu yang pasalnya tengah mengandung calon adiknya di dalam sana.
“Jangan gitu dong Kak, gimana kalo nanti adiknya cowok? Masa dipanggilnya cantik terus,” gerutu sang ibu karena putranya yakin sekali jika calon adiknya adalah perempuan.
“Ihh Ibu … Isal yakin kok kalo adik Isal nanti perempuan.”
__ADS_1
“Tapi kan kita nggak tau Kak, kemaren aja terakhir kita liat kan malah terhalang, jadi nggak jelas deh.” Sang Ibu mencoba memberikan pengertian kepada putranya agar bisa menerima sang adik yang nanti lahir baik dalam wujud laki-laki maupun perempuan.
“Ada apa nih? Kok jagoan Ayah cemberut gitu sih?” Tiba-tiba seorang pria paruh baya yang baru saja kembali dari tempat kerjanya memasuki kamar.
“Eh kok aku nggak denger suara mobilmu ya Mas.” Sang istri langsung saja mencoba bangkit dan menyalami punggung tangan yang selama ini bertanggung jawab terhadap kehidupan keluarga mereka.
“Kalian sih fokus banget sampe nggak denger dari tadi Ayah ngucap salam.”
Anak lelaki yang masih terlihat merajuk langsung berlari memeluk sang ayah yang masih lengkap dengan seragam kerjanya.
“Yah … adik Isal nanti perempuan kan Yah?” ucap anak lelaki itu meminta pembelaan terhadap sang ayah.
“Kakak, siapapun nanti yang lahir, mau itu perempuan atau lelaki, Kakak harus terima ya. Ayah mau bilang perempuan takutnya nanti yang keluar laki-laki, mau bilang laki-laki takut yang keluar perempuan. Kemaren kan pas kita liat di Rumah Sakit malah nggak jelas karena kehalang sama tali pusarnya.” Sang ayah berujar dengan sabar sambil mengusapi punggung putranya.
“Tapi kan kalo laki-laki nggak asyik Yah, nanti ngerebutin barang-barang Isal terus mentang-mentang sama-sama cowok,” rengek bocah itu memasang wajah murungnya.
“Loh kata siapa? Justru kalo laki-laki, nanti bisa buat temen Isal main bola. Nggak bakal rebutan lah Sayang, kan nanti kalo beli apa-apa selalu Ayah beliin masing-masing buat kalian.”
“Tuh Kak dengerin Ayah … udah yuk sekarang bantuin Ibu lagi, katanya Kakak pengen cepet naik pesawat,” imbuh sang Ibu.
“Tuh yuk kita bantuin Ibu dulu, kasian tuh dedek di dalem perut Ibu udah capek lama-lama duduk.”
Sang bocah pun turut bergabung bersama Ayah dan Ibunya untuk menyiapkan segala keperluan yang akan mereka bawa.
“Kamu beneran nggak apa-apa Sayang perjalanan bawa perut segede ini? Ke Turki lumayan lama loh di pesawat,” tanya pria paruh baya itu ketika mereka sudah berada di atas pembaringan bersiap untuk terlelap.
“Nggak apa-apa Mas, aku baik-baik aja kok, dedek di dalem juga sehat. Kasian juga kan Faisal kalo sampe kita cancel liburan kali ini. Kemaren kata dokter kan aman-aman aja kalo aku perjalanan jauh.”
“Ya udah, tapi kalo ada apa-apa atau kamu ngerasa nggak nyaman sama perut kamu, bilang ke Mas ya. Jangan ditahan-tahan.”
Sang istri hanya mengangguk lantas semakin merapatkan tubuhnya dengan sang suami, mencari kenyamanan yang selalu ia dapatkan dengan berada di pelukan suaminya itu.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...