Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Senja yang tak lagi sama


__ADS_3

“Ica udah selesai Bang,” tutur Aisha yang sontak membuat Faris menoleh.


“Ah iya, Abang mandi dulu kalo gitu,” jawab Faris melangkah menuju kamar mandi.


“Iya, air hangat sama handuknya juga udah Ica siapin kok,” tutur Aisha sebelum Faris menghilang di balik pintu kamar mandi.


Tiba-tiba pintu kamar mandi kembali terbuka, Faris melongokan kepalanya dari balik pintu.


“Ada yang ketinggalan Bang?”


“Emmm, kita solat berjamaah yah? Ica belum solat kan?”


Aisha hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Faris, senyum yang terlihat aneh menurut Faris.


“Kenapa?” tanya Faris tampak menunggu jawaban Aisha.


“Ica lagi nggak solat,” jawab Aisha dengan senyum yang justru membuat Faris memijat pelipisnya. Bukan karena senyum Aisha, lebih tepatnya jawaban yang Aisha lontarkan.


“Serius?” tanya Faris memastikan.


Aisha tersenyum mengangguk-anggukan kepalanya.


“Subhanallah ….” Faris kembali menutup pintu dengan lesu.


Aisha tertawa kecil melihat reaksi Faris. Sebenarnya Aisha tidak tega melihat Faris harus berpuasa dulu di malam pengantinnya hingga beberapa hari ke depan.


Tapi apalah daya, ini bukanlah kehendaknya.


***


Sambil menunggu Faris menyelesaikan mandinya, Aisha menyiapkan segelas susu untuk Faris.


Aisha teringat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asma’ binti Yazid bin Assakan, saat Nabi SAW mendatangi ‘Aisyah di malam pertamanya, maka Nabi duduk di sampingnya. Susu pun dihidangkan dan Rasul meminumnya, setelah itu susu diberikan kepada ‘Aisyah. Dengan perasaan malu ‘Aisyah menundukan kepala. Kemudian Asma’ berkata “Ambilah gelas itu dari tangan Nabi.” Aisyah pun mengambil gelas itu dan meminumnya sedikit. (HR.Ahmad).


Selesai menyiapkan susu, Aisha kemudian menyiapkan perlengkapan solat untuk Faris, sedangkan dirinya menunggu di tepi ranjang dengan membaca buku.


Sudah hampir tengah malam, Aisha sendiri merasa kantuk menyerangnya, tapi dia ingin menunggu Faris hingga menyelesaikan solatnya.


Selesai solat dan wiridan pendek, Faris segera merapihkan kembali peralatan solatnya. Menghampiri istrinya di tepi ranjang yang masih setia menunggunya.


Aisha menghentikan kegiatan membacanya saat merasa sisi lain dari kasur yang didudukinya bergerak.


Aisha mengambil susu yang telah disiapkannya di sisi meja, lalu menyerahkannya pada Faris.


Faris justru menyodorkan susu yang telah diberikan Aisha untuk lebih dulu Aisha minum.


“Ica kan buatin buat Abang,” tutur Aisha mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Ica cobain juga dong.”


Setelah Aisha meneguk susunya, Faris lalu mengambilnya kemudian diminumnya susu itu di sisi yang sama bekas Aisha minum.


Blush … rona di pipi Aisha semakin terlihat saat menyaksikan perlakuan Faris.


Aisha segera memejamkan matanya saat Faris bergerak ke arahnya. Tapi setelah sepersekian detik Aisha tak merasakan apapun, penasaran dengan apa yang terjadi, Aisha membuka kembali matanya.


Ternyata Faris hanya melintasinya utuk meletakkan kembali susu di meja di samping Aisha. Betapa terkejutnya Aisha saat Faris justru berhenti di depan wajahnya, kini jarak keduanya hanya tinggal beberapa centi.


Aisha yang terkejut sontak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Ca,” panggil Faris membuat Aisha membuka tangannya.


“Hmmm.”


Tanpa Aisha duga, Faris mengambil tangan Aisha, menggenggamnya lalu mengecupnya.


Hening. Keduanya sama-sama terdiam.


Faris lalu menangkupkan tangannya di wajah Aisha, menepis jarak diantara mereka, mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Aisha yang sontak membuat Aisha memejamkan matanya kembali menikmati kehangatan itu.


Lirih terdengar Faris membacakan doa untuk Aisha sembari memegang ubun-ubunnya.


“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”


(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.)


“Yahya bercerita padaku dari Malik, dari Zaid ibn Aslam, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketika salah seorang kalian menikahi perempuan atau membeli budak perempuan, maka peganglah ubun-ubunnya dan berdoalah meminta berkah (kebaikan)”


Parit di ujung mata Aisha menderas bersamaan dengan khusyuk nya  ucapan ‘amin’ yang terlontar. Meski jantungnya masih bergemuruh, Faris menatap mata Aisha yang masih dipenuhi air mata di pelupuk matanya.


Dada keduanya naik turun menikmati aroma nafas masing-masing, Faris tampak ragu untuk  menghapus air mata Aisha dengan ibu jarinya, namun akhirnya senyum di sudut bibir keduanya sama-sama tercipta.


“Sekarang kamu adalah duniaku, satu-satunya alasan aku hidup di arus waktu.” kalimat itu terdengar amat indah di pendengaran Aisha.


“Kita tidur yah, Abang tau Ica pasti cape,” tutur Faris lembut sembari membaringkan Aisha di sisinya.


Mendapat perlakuan manis dari lelaki yang kini sudah berstatus suaminya itu, Aisha seakan lupa pada semua rasa penasarannya yang sejak tadi ia tahan  sembari menunggu Faris menyelesaikan solatnya.


***


“Loh Azka?” tanya Karina yang melihat Azka tengah menggendong bayinya di kursi tunggu pasien.


Azka sontak mendongak mendengar namanya dipanggil. Ia menatap wanita di hadapannya heran.


“Kamu dokter di sini?” tanya Azka mengerutkan alisnya.

__ADS_1


“Kamu gak bisa liat aku pake seragam dokter?”


Azka hanya mengangkat bahunya acuh.


“Kenapa gak bilang kalo mau ke Rumah Sakit juga? Kan kita bisa barengan?”


“Harus?”


“Ya kan setidaknya ….”


“Saudara Rafa ….” panggil seorang perawat menghentikan kalimat Karina.


“Permisi ….” tutur Faris meninggalkan Karina yang masih mematung di tempatnya.


“Baru kali ini gue diginiin sama cowo!” gerutu Karina setelah Azka menghilang di balik pintu ruang periksa.


***


“Kamu yakin le?” tanya Nyai Hamidah.


“Doakan saja Hasan ya Mi, semoga Allah permudah jalan Hasan.”


“Apa ndak sebaiknya kamu bantu Abah ngurus pesantren saja di sini San?” kini Kyai Safar yang angkat bicara.


“Nyewun sewu Bah, bukannya Hasan ndak mau bantu Abah. Hasan hanya merasa kalo Hasan belum pantas untuk mendampingi Abah. Mohon ridhai Hasan, Hasan ingin memperbaiki diri lagi Bah,” tutur Hasan memberi penjelasan pada Umi dan Abahnya.


Nyai Hamidah tampak menghapus ujung matanya dengan jilbabnya.


“Mi, Hasan ingin menjadi lebih baik lagi, lebih bermanfaat bagi orang lain.” Kini Hasan bersimpuh di depan Nyai Hamidah.


“Umi ridha le, umi ridha ….” tutur Nyai Hamidah menahan sesaknya.


Ia raih putranya ke dalam rengkuhannya, menyalurkan kehangatan sebelum Gus Hasan benar-benar meninggalkannya.


***


“Kamu yakin hanya itu alasanmu pergi San?” Pertanyaan Ning Sabina sontak mengejutkan Gus Hasan yang tengah terduduk di tepi ranjangnya.


“Maksud Mba?” tanya Gus Hasan seakan tak mengerti pada arah pembicaraan Ning-nya.


“Mba rasa ada yang aneh dengan kepergianmu kali ini,” jawab Ning Sabina dengan tatapan menyelidik.


‘Benar, memang ada alasan lain yang tengah aku hindari di sini Mba. Dia, yang tak halal bagiku. Karena aku lebih merindukannya di setiap aku berada di sini. Aku takut aku malah akan kembali menemuinya’


“Hasan hanya ingin memperbaiki diri lagi Mba agar bukan hanya menjadi yang terbaik untuk Umi dan Abah, tapi juga untuk mereka, orang-orang di sekitar Hasan,” tutur Gus Hasan membuat Ning Sabina terdiam.


***

__ADS_1


Bersambung ….


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….


__ADS_2