
Aku tak pernah menyalahkan cinta, ataupun membencinya
Cinta datang tanpa bisa aku tolak kehadirannya
Mungkin aku yang tak mampu mengimbangkan cinta dengan logika
Saat merasakan cinta
Aku terlena, hingga lupa pada konsekuensi yang ada
Dan akhirnya yang kudapat hanyalah kecewa
~Hasan Fajrurraihan~
Faris yang melihat Aisha tengah berbincang dengan seseorang yang entah siapa itu karena tertutup oleh dahan pohon yang cukup lebat segera menghampiri istrinya.
“Sayang …,” panggil Faris menghampiri Aisha.
“Eh Abang,” jawab Aisha yang agak terkejut melihat siapa yang datang, ia takut suaminya akan salah paham.
Faris melebarkan senyumnya ketika mendekati Aisha.
“Mas kira siapa San yang lagi ngobrol sama Aisha, taunya kamu,” tutur Faris menyapa Gus Hasan.
“Ah ini Hasan cuma mau ngembaliin punya Mba Aisha Mas,” jawab Gus Hasan kikuk.
Faris hanya manggut-manggut mengiyakan.
“Abang sengaja ke sini atau mau kemana?” tanya Aisha.
“Oh Abang mau ke super market depan, taunya liat Ica di sini.”
Gus Hasan hanya tersenyum getir mendengar panggilan Faris pada istrinya.
“Loh kenapa nggak bilang sama Ica? Kan tadi bisa sekalian.”
“Nggak apa-apa, sekalian olahraga,” jawab Faris enteng.
“Ya udah ayo! Ica ikut,” tutur Aisha yang langsung diangguki Faris.
“Kita duluan ya San,” tutur Faris berpamitan pada Gus Hasan.
“Ah iya Mas, monggo.”
Ada sesak yang kembali melanda saat Gus Hasan harus kembali menyaksikan kebersamaan mereka, tapi ia cukup sadar diri.
“Jika bahagiamu bersama dia, tidak apa-apa. Biar luka ini menjadi urusanku,” gumam Gus Hasan saat Faris dan Aisha sudah menjauh.
***
__ADS_1
“Mba Sani kemana?” tanya Karina saat measuki kamar Rafa melihat Azka sendiri yang tengah asyik bermain dengan Rafa.
“Ini kan weekend,” jawab Azka tanpa menatap Karina.
“Memang. Terus?” tanya Karina bingung sambil meletakan barangnya di atas meja.
“Ya Mba Sani saya suruh libur.”
“Kenapa?” tanya Karina belum mengerti maksud pembicaraan Azka.
“Ya saya pengen jagain Rafa sendiri lah. Memangnya nggak boleh dekat sama anak sendiri?”
“Oh. Kenapa aku nggak disuruh libur juga?”
Kali ini Azka menoleh ke arah Karina dengan Rafa yang masih dalam gendongannya.
“Saya CEO, bukan dokter yang bisa ngurusin masalah gizi kayak kamu,” jawab Azka sambal menyerahkan Rafa ke gendongan Karina.
Allah memang Maha membolak balikan hati manusia, dulu sebelum bertemu dengan sosok Azka, wanita modis dan berkarir seperti Karina sama sekali tak menyukai anak kecil seperti Rafa, bahkan untuk sekedar menggendongnya pun ia tak bisa.
Tapi kini, sejak rasa penasarannya terhadap pria duda satu anak ini, untuk sekedar menggendong Karina sudah cukup pandai karena saking terbiasanya.
“Saya tunggu 10 menit di bawah, siapkan semua keperluan Rafa,” tutur Azka ketika melihat Karina yang sudah selesai mengurusi Rafa.
“Emangnya mau kemana?”
“Temani saya belanja,” jawab Azka tanpa menoleh.
“Mumpung saya lagi off, biar Rafa nggak bosen juga.”
Karina hanya ber ‘oh’ ria menanggapi Azka, lalu segera membaringkan Rafa untuk mempersiapkan keperluan yang akan dibawa.
“Baru gue nemu cowo kayak gini, udah dinginnya minta ampun, suka nyuruh-nyuruh seenak jidatnya pula,” gumam Karina di tengah aktivitasnya membereskan barang milik Rafa.
10 menit Karina benar turun dengan Rafa juga segala keperluannya yang sudah Karina siapkan. Azka yang sudah siap tengah menunggu di ruang tengah membuat Karina tercengang dengan penampilannya.
Azka yang biasanya tampil dengan segala kesempurnaan wibawanya, kini justru menggunakan dandanan casual dengan hoodie dan jeans soft blue yang senada.
“Sumpah! Nggak kayak duda yang udah punya anak nih orang.”
“Sampe kapan mau berdiri terus kayak gitu?” tanya Azka yang melihat Karina justru mematung di ujung tangga.
***
Dalam perjalanan perdana ke Turki, Gus Hasan berangkat pagi-pagi buta bersama semua anggota keluarga, termasuk Faris dan Aisha yang memang sengaja menunda kepulangan mereka ke Surabaya demi untuk mengantar dulu adik sepupunya.
Penerbangan pukul 07:10 yang diambil memaksa Gus Hasan juga keluarga ndalem yang akan mengantarnya untuk sudah terjaga dan bersiap-siap ketika gelap bahkan belum sepenuhnya terangkat.
Mobil yang mereka kendarai baru saja berhenti di zona drop off terminal keberangkatan. Gus Hasan menurunkan kopernya sendiri dengan dibantu oleh Faris.
__ADS_1
Berat juga, pikir Gus Hasan. Memang sudah seharusnya berat, karena koper itu berisi segala keperluannya untuk di Turki yang entah berapa lama. Mungkin hingga lukanya cukup membaik.
Setelah menurunkan kopernya, di kursi penumpang Gus Hasan menggeledah tas ranselnya, pemeriksaan terakhir sebelum menuju tempat baru.
Mereka menghabiskan waktu dengan sarapan terlebih dahulu, duduk-duduk sampai disergap kebosanan, tapi sepertinya itu lebih baik dari pada harus sampai melewatkan jadwal penerbangan.
Di dalam bandara, berpasang-pasang mata bertemu pandang yang juga sama-sama tengah berjuang mengalahkan kantuk, menggeret koper dengan lesu setelah penerbangan yang cukup melelahkan, atau berjalan tergesa menuju ruang tunggu mengejar jadwal penerbangan tanpa banyak sisa waktu.
“Perhatian, para penumpang pesawat Turkish Airlines dengan nomor penerbangan GA328 tujuan Istanbul dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12.” Suara pengumuman pre-boarding terdengar jelas memenuhi ruang tunggu.
Gus Hasan bangkit mempersiapkan barang-barangnya, menyalami satu persatu keluarganya yang turut mengantarnya.
“Abah sama Umi baik-baik ya di sini, jaga kesehatan. Hasan janji pasti bakal selalu ngabarin kalian,” tutur Gus Hasan setelah mengurai pelukannya, tampak sesekali ia mengusap ujung netranya.
“Kamu jaga diri baik-baik yo Le, sering-sering kasih kabar buat kita,” tutur Kyai Safar melepas kepergian putranya. Sedangkan Nyai Hamidah justru bungkam, sibuk mengusap air mata yang semakin menderas.
“Hati-hati ya San.” Kini giliran air mata Ning Sabina yang semakin menderas.
“Iya Mba, pasti.”
“Fakih baik-baik ya di rumah, jangan nakal sama Umi,” lanjut Gus Hasan pada keponakannya yang berada di gendongan Ning-nya.
Gus Fakih hanya diam dengan tatapan yang sama sendu, seakan mengerti akan suasana saat itu.
Lalu Gus Hasan beralih memeluk kakak sepupunya, membuat Aisha yang sejak tadi menautkan jemari pada lengan suaminya harus melepaskannya lebih dulu. Terlihat ujung mata keduanya sama-sama basah.
Terakhir Gus Hasan menyapa Aisha, berharap kepergiannya kali ini benar-benar bias berdamai dengan ingatannya tentang Aisha.
Aisha hanya tersenyum, menatap bingung Gus Hasan yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kamu adalah kenangan yang hanya mampu kuingat tanpa bisa kudekap. Hanya bertamu dalam harapan, tanpa bisa jadi kenyataan.”
Sebenarnya ini bukan kali pertama bagi Gus Hasan ke luar negeri dan jauh dari keluarga. Empat tahun di Al-Azhar cukup membuat Gus Hasan terbiasa berjauhan dengan keluarga.
Tapi kepergiannya kali ini cukup terasa berbeda baginya, tepatnya alasan kenapa dia memilih pergi, tapi alasan itu saat ini justru hadir ikut melepas kepergiannya.
Terakhir sebelum Gus Hasan benar-benar pergi, ia kembali memeluk Uminya yang masih meneteskan air mata, Gus Hasan melepas pelukannya dan menghapus air mata yang berderaian di wajah Uminya. Sungguh bukan takdir seperti ini yang ia harapkan.
Pengumuman final boarding menggema, membuat Gus Hasan benar-benar harus melangkah. Gus Hasan mulai berjalan menjauh dari keluarganya, tersenyum dengan melambaikan tangan kepada mereka.
Keluarga Kyai Safar berjalan keluar dari bandara saat Gus Hasan sudah tak terlihat lagi. Mereka melihat pesawat menuju Istanbul terbang di udara.
Air mata masih terus membasahi wajah Nyai Hamidah. Dengan siapa nanti putranya di sana? Apa dia hidup dengan baik?, kekhawatiran terus saja berkelebat memenuhi pikirannya.
“Ya Allah jagalah putraku, dimana pun, dalam keadaan apa pun.”
***
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...