
Maaf ya readersku semua baru bisa up lagi hari ini ... kemarin-kemarin author lagi ada ujian semester jadi nggak sempet buat update ...
Sekali lagi terima kasih buat yang selalu menunggu kelanjutan novel ini ... love you ...
***
Faris melangkah gontai memasuki rumah dengan diikuti oleh Roger, tujuannya pulang hanya satu, membersihkan diri juga berganti pakaian lalu kembali ke Rumah Sakit. Sebanyak apapun Aisha ingin menghindarinya, Faris akan tetap di samping istrinya itu, tak peduli bagaimana Aisha akan menolaknya.
Pak Toni yang sejak tadi sudah menunggu kepulangan sang Tuan bersama istrinya pun langsung menghambur mendekap Faris yang kini terlihat begitu rapuh, tak lagi ada Faris sang dokter bedah terbaik atau pun sang CEO hebat, saat ini hanya ada Faris si lelaki yang tengah kacau hatinya.
Faris terdiam sejenak tak membalas pelukan Pak Toni, sejak tadi pikirannya benar-benar kosong takt ahu harus bagaiamana lagi.
“Tumpahkanlah semuanya … Bapak tau saat ini kamu sedang tidak baik-baik saja Ris.” Pak Toni mengusapi punggung Faris yang tetap tegak, suaranya terdengar parau seperti menahan sesuatu.
Beberapa saat hanya hening, Faris tak berkata apapun, namun ia pun tak menolak pelukan Pak Toni.
“Aku bener-bener berdosa banget sama Aisha juga calon anak kita Pak … aku takut Aisha sekarang bener-bener lelah dan justru milih nyerah buat tetap berdiri di sampingku. Dia terlalu berharga dalam hidupku … dan aku terlalu takut buat kehilangan dia …,” tutur Faris dengan parau dan mulai membalas pelukan hangat Pak Toni.
Pak Toni melepas rengkuhannya, “Kita obati dulu luka-lukamu,” ucap Pak Toni menggiring Faris untuk duduk di sofa, sedangkan Bi Asih sudah sigap dengan kotak P3K nya.
“Luka ini nggak ada apa-apanya dengan sakit yang sudah aku goreskan untuk istriku Pak ….” Lagi-lagi Faris menunduk, sebulir bening kembali menetes dari ujung netranya.
“Karena itu kamu harus baik-baik saja, istrimu butuh sandaran, jangan sampai dia malah memilih balik kanan,” tukas Pak Toni mulai membersihkan memar-memar di wajah Faris.
“Dimana Tasya?” Faris mencoba menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan.
__ADS_1
“Tasya sudah Bibi pulangkan ke rumahnya.” Bi Asih yang juga turut membersihkan luka pada buku di jari-jari Faris turut menimpali pertanyaan Tuan mudanya.
“Kenapa nggak bilang Faris dulu Bi?” Faris nampak gelisah mengetahui Tasya yang kini justru dipulangkan tanpa sepengetahuannya.
Plakkk … Pak Toni menepak lengan Faris dengan tangannya yang bebas. “Kamu belum kapok?” tanyanya.
“Kenapa?” Faris bertanya dengan polosnya.
“Sofia emang nggak berulah yang menyakiti fisik Aisha, Ris. Tapi dia berhasil mengguncang batin Aisha dengan kehadiran putrinya di rumah ini. Tanpa sadar kamu dan Aisha pun semakin berjarak sejak kehadiran Tasya,” ujar Pak Toni mengutarakan pemikirannya.
“Bibi tau istrimu selama ini kesulitan, tapi dia wanita yang hebat, Aisha bahkan tak pernah mengeluhkan apapun, padahal hampir setiap hari dia berjuang dengan rasa mualnya. Jika kebanyakan ibu hamil selalu ingin dimanja dengan ngidamnya yang menyusahkan, Aisha cuma minta pelayan yang belikan. Dia tau suaminya sudah terlalu lelah dengan pekerjaan, jadi dia nggak ingin menambah kadar kelelahanmu dengan permintaan-permintaannya, padahal jauh di lubuk hatinya, dia pasti berharap sosok suami yang selalu ada untuk mendengar apa yang dia keluhkan ….” Bi Asih tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya, suaranya turut parau karena mengingat kepedihan yang selama ini Nyonya mudanya pendam sendirian.
“Bibi tau kalo istriku hamil, tapi kenapa Bibi nggak bilang sama aku Bi? Aku ngerasa semakin berdosa karena nggak tau apa-apa tentang kehamilan istriku Bi ….”
“Aisha yang minta Bibi buat nggak bilang sama kamu, darahmu mengalir dalam janin di perutnya, Aisha ingin hal sepenting ini dia sendiri yang memberitahukannya sama kamu, karena dia benar-benar menghargai kamu sebagai kepala keluarganya, sebagai ayah dari janin dalam kandungannya. Selain itu, Bibi juga ingin kamu tau semuanya dengan hatimu, bukan hanya dengan mata atau telingamu.” Bi Asih kembali berujar dengan netra yang tak sanggup lagi menggenang bulir beningnya.
“Semua jawaban tergantung istrimu. Sekarang bersihkanlah dulu tubuhmu, istirahat barang sejenak, baru setelah itu kamu kembali temani istrimu, Bapak dan Bi Asih juga akan ikut,” ujar Pak Toni menyudahi kegiatannya.
***
Faris kini memilih melangkahkan kakinya ke kamar mandi, dari kaca buram pemisah terlihat siluet pria itu tengah duduk menekuk lututnya membiarkan air mengguyur seluruh tubuhnya, wajahnya tampak tertunduk dengan sesekali mengacak rambutnya frustasi, rasa perih kini mulai terasa di sekitar wajah dan buku jarinya yang sempat memukul dinding Rumah Sakit ketika kulitnya bersentuhan langsung dengan dinginnya air yang mengalir.
Dari luar terdengar samar-samar beberapa kali pria itu meninju dinding kamar mandi, luka di tangannya yang semula hanya memar kini bahkan sudah mengalirkan darah segar yang turut menderas bersamaan dengan air shower yang masih mengguyur tubuhnya.
Setelah menyelesaikan mandinya, Faris bergegas kembali ke Rumah Sakit, sesuai kesepakatan, kini dia kembali dengan Pak Toni dan Bi Asih.
__ADS_1
Begitu tiba di Rumah Sakit, Pak Toni dan Bi Asih segera menemui Nyonya muda mereka yang sudah dipindahkan ke ruang rawat, lain halnya dengan Faris yang hanya mampu menunggu di luar ruangan dan memperhatikan istrinya tanpa sepengetahuan wanita itu.
“Loh kok belum dimakan makanannya Nyonya?” Bi Asih bertanya dengan lembut ketika melihat semangkuk bubur yang masih utuh di tangan Maya.
“Saya sudah bingung bagaimana harus membujuknya Mba ….” Justru Maya yang menimpali pertanyaan Bi Asih karena Aisha hanya diam membisu dengan tatapan yang sedikitpun tak teralihkan, pandangannya kosong entah menerawang apa di depan sana.
“Untuk apa Bi? Lagi pula sudah tidak ada lagi nyawa di perut Aisha.” Tiba-tiba Aisha membuka suaranya, membuat seisi ruangan benar-benar perih mendengarnya.
“Apa sesakit itu yang kamu rasakan Sayang? Abang lebih sakit liat kamu kayak gini … Abang harus gimana biar mendapat maafmu?”
"Makan bukan hanya karena ada nyawa di perut kita, tapi memang tubuh ini perlu asupan Nak. Jangan menyiksa diri seperti ini." Maya mengusap bulir bening yang lagi-lagi mengalir dari ujung netra putrinya yang masih memantung.
Faris bersandar lemas di luar ruangan, melihat istrinya sesakit itu membuatnya benar-benar putus asa.
Pak Toni yang berada di sisi ranjang Aisha mengusap pelan kepala Nyonya muda yang sudah seperti putrinya itu yang tertutup khimar.
“Bersedih wajar … Sayyidah Aisyah yang mulia saja pernah bersedih dan mengeluh karena tak dikaruniai keturunan, beliau bahkan sampai mengadu kepada Rosululloh, tapi kesedihan itu tak pernah membuat beliau putus asa menjalani hidup, beliau tetap menjadi wanita yang mulia istri kecintaan Rosul. Jadi bersedihlah sewajarnya, mungkin Allah sedang merencanakan sesuatu yang lebih indah di depan. Lekaslah membaik, kembalilah pada suamimu … dia juga sama terpukulnya seperti Nyonya.” Pak Toni berujar dengan sangat lembut, seperti seorang ayah yang tengah menyemangati putri kesayangannya.
Namun begitulah manusia, jika tengah diselimuti hawa nafsu maka dia akan sulit untuk menerima nasehat yang datang, karena setan akan selalu menutup hati dan telinganya. Seperti Aisha yang kini masih betah dengan diamnya.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...