Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Debar tak biasa


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)


___________


Berjalan cepat dari gedung fakultasnya, seorang gadis semakin merapatkan mantelnya saat melangkah menuju kantin kampusnya dan menghampiri konter makanan yang jarang sekali ia sambangi selama belajar di sini.


Mengambil baki dan mulai memilih beragam menu makan siang yang disediakan, gadis itu akhir-akhir ini tampak terlihat sendirian tak seperti biasanya yang selalu bersama teman-teman hedonisnya.


Dengan baki yang sudah terisi, gadis itu menyapukan pandangannya ke seisi ruangan mencari kursi kosong yang akan menemaninya menghabiskan makan siang.


Ayla tak tahu jika waktu makan siang seperti ini rupanya kantin dipenuhi mahasiswa-mahasiswa yang asyik menikmati makan siang mereka. Selama ini ia hanya tahu menghabiskan makan siang di café-café elit sekedar menikmati harta orang tua bersama teman-teman selevelnya. Tapi kini, gadis itu tampak jauh berbeda dari gaya hidup yang ia tekuni sebelumnya.


Rupanya benar, masalah memang mampu mendewasakan seseorang. Terkadang manusia-manusia kurang bersyukur memang sesekali harus mendapatkan tamparan hidup lebih dulu untuk sekedar menyadarkan dan membuka mata.


Cukup lama berdiri, netranya berbinar. Akhirnya Ayla menemukan bangku kosong di sudut ruangan yang menghadap ke jendela, tampak usang berbeda dengan yang lain. Gadis itu meletakkan baki makanan dan beberapa buku tebal yang sejak tadi dipegangnya.


Alih-alih menyantap makanannya, gadis itu justru mengambil headset dari dalam tas cangklongnya untuk menyumpal kedua telinganya. Sesekali netranya memejam menikmati alunan musik yang didengarnya.


Jauh dari tempatnya duduk, tampak seorang pemuda menatap ke arahnya dengan kedua sudut bibir terangkat membuat siapa saja yang melihatnya terpana. Cukup lama memandangi, pemuda itu melangkah menuju sang gadis yang masih tak sadar jika sedari tadi ia diperhatikan.


“Ssshh aw.” Refleks Ayla meringis dan membuka mata saat rasa dingin menyentuh permukaan pipi halusnya.

__ADS_1


Ia mendongak dan mendapati seorang pemuda menyodorkan sekaleng minuman yang rasa dinginnya sempat mengejutkannya.


“Kenapa cuma dianggurin makanannya?” sapa pemuda itu yang tak lain adalah kakaknya, Faisal.


Tanpa menjawab, Ayla justru segera bangkit dari duduknya, menubruk sang kakak yang hampir terhuyung karena pergerakannya yang tiba-tiba. Tanpa memikirkan sekeliling, Ayla memeluk kakaknya dengan erat. Rasa takut kehilangan tiba-tiba menyeruak, ia bahkan mungkin melupakan peringatan babanya yang selalu melarangnya bersentuhan fisik dengan sang kakak sejak keduanya beranjak dewasa.


Faisal menahan napasnya yang hampir tercekat. Ingin sekali ia membalas pelukan adiknya itu, tapi sebagai lelaki dewasa hal itu justru membuat hatinya gusar. Mereka memang kakak beradik, namun hanya diatas kertas tanpa ikatan darah. Bagaimanapun ia dilarang bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya. Tapi untuk sekedar menepis pelukan itu pun nyatanya Faisal tak mampu. Alhasil ia hanya membiarkan Ayla melepas rasa rindunya tanpa berniat membalas pelukannya.


“Mau beneran dinikahin sama Kakak nih meluk-meluk gini?” canda Faisal mengingatkan Ayla agar melepas pelukannya.


Sontak Ayla pun segera merenggangkan tubuhnya dengan gugup. Padahal dulu kapanpun ia mau ia bisa memeluk kakaknya dengan bebas.


Faisal menarik kursi kosong di sebrang kursi yang diduduki Ayla, tangannya cekatan meraih sendok yang masih tergeletak di baki makanan dan menyuapkannya ke mulut Ayla.


“Kakak udah nggak marah sama Ayla?” alih-alih membuka mulutnya, Ayla justru bertanya kepada Faisal.


“Kakak bukan marah, cuma kecewa sama sikap kamu waktu itu. Padahal Ayla adiknya Kak Isal yang Kakak kenal nggak kayak gitu sejak dulu. Yang Kakak kenal dia gadis yang ceria, gadis hebat dan pemberani, juga selalu bersikap ramah bahkan sama orang asing pun,” tukas Faisal kembali menyendok makanan dan kali ini menyuapkannya ke mulutnya sendiri.


“Apa Ayla yang sekarang udah jauh beda dengan Ayla yang dulu, Kak?” Gadis itu bertanya dengan wajah yang sendu. Benarkah jika sosoknya kini bukan seperti dirinya yang dulu? itu yang saat ini terlintas di benaknya.


“Everything happen for a reason. Kamu pasti punya alasan untuk semua ini. Tapi Kakak harap jangan sampai alasan itu menyakiti orang lain.” Ayla hanya menunduk memutar-mutar kaleng minumannya bersama hening yang mendadak tercipta.


“Jangan sampe telat masuk kelas Kakak,” pesan Faisal mengusap puncak kepala adiknya sembari beranjak.


Bukan karena rasa sayangnya yang memudar untuk Ayla hingga Faisal bersikap seperti itu. Tidak, sedikitpun rasa sayang itu tak pernah berubah darinya sejak dulu, bahkan meski kini ia sudah menemukan adik kandungnya. Kini Faisal hanya sedikit memberi ruang agar Ayla merenungkan perilakunya. Seberapapun sayangnya ia kepada Ayla bukan lantas ia pun akan turut membenarkan perilaku adiknya itu. Salah tetaplah salah, tidak ada pembenaran hanya karena Ayla adiknya.

__ADS_1


_____


“Yah cuma sisa satu, Gus. Yo wes sampean duduk saja, biar saya cari tempat lain,” tukas Jaya pada Gus Hasan saat hanya melihat satu kursi kosong yang tersisa di kantin kampus, itupun di sebrang seorang gadis yang tampak tak menyadari kehadiran mereka karena kedua telinganya disumpal dengan benda kecil berwarna putih. Sedangkan Gus Hasan hanya bisa mematung saat menyadari jika gadis itu adalah Ayla. Seseorang yang saat ini begitu ingin ia hindari.


Tanpa mereka sadari pula, rupanya sejak tadi Ayla mendengar perbincangan keduanya. Gadis itu segera membereskan makanannya dan beranjak dari tempatnya.


“You can sit down here. I’m done. Kalian bisa menghabiskan makan siang kalian di sini,” ucap Ayla seraya melewati keduanya.


“Thank you so much,” ucap Jaya sedikit berteriak karena Ayla sudah semakin menjauh dari tempatnya berdiri.


“Ndak nyangka masih ada juga orang baik ya, Gus.” Tampaknya Jaya sedikit kagum dengan kebaikan Ayla, terlebih gadis itu berbicara dengan bahasa Indonesia yang fasih, padahal wajahnya tampak seperti gadis-gadis eropa kebanyakan.


“Gus!” Jaya menyenggol lengan Gus Hasan saat pria itu tampak tak menggubris ucapannya.


Ya, Gus Hasan tiba-tiba membeku saat menyadari sikap Ayla baru saja. Di luar dugaannya, Ayla justru melewatinya begitu saja, tanpa menyapa maupun menatapnya. Mereka seolah memang orang asing yang belum saling mengenal sebelumnya.


Ia paham dengan kejadian tempo hari yang mungkin membuat Ayla seperti itu. Tapi apa sudah tidak ada kesempatan untuk mereka bisa kembali berteman seperti sebelumnya? Sungguh Gus Hasan tak menginginkan silaturahmi mereka harus terputus begitu saja hanya karena mereka sudah mengetahui perasaan satu sama lain. Ia pun tak ada niat untuk menyakiti siapapun.


Sejak kecil orang tuanya selalu mengajarkan untuk tidak menyakiti sesama, itulah prinsip yang ia pegang hingga saat ini. Tapi apa benar keputusannya sudah tepat? Bukankah urusan hati memang tidak bisa dipaksakan? Ia pun tidak mungkin memberikan Ayla harapan di saat hatinya hanya terisi oleh nama lain, ia tidak mau menjadikan Ayla sebagai pelampiasan yang mungkin hanya akan semakin menyakiti keduanya.


“Sampean mau berdiri terus disitu, Gus? Ndak mau duduk?” tanya Jaya kembali. Kali ini Jaya merampas baki di tangan Gus Hasan dan meletakkannya di meja.


“Oh iya, tadi lagi mikirin saya sudah ngerjain tugas apa belum.”


“Saya ndak nanya kok sampean lagi mikirin apa,” tukas Jaya polos  membuat Gus Hasan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal sebelum akhirnya menarik kursi yang bersebrangan dengan Jaya yang sudah hampir separuh menghabiskan makanannya.

__ADS_1


__________


Bersambung ...


__ADS_2